NovelToon NovelToon
Dikhianati Guru, Dicintai Pengusaha

Dikhianati Guru, Dicintai Pengusaha

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / Romansa / Nikah Kontrak / Balas Dendam
Popularitas:6.4k
Nilai: 5
Nama Author: muliyana setia reza

Satu pria menghancurkannya hingga tak bersisa. Pria lain datang untuk memungut kepingannya.

Hati Alina Oktavia remuk redam ketika kekasihnya memilih perjodohan demi harta. Ia merasa dunianya kiamat di usia 25 tahun. Namun, semesta bekerja dengan cara yang misterius. Di puncak keputusasaannya, takdir mempertemukannya dengan Wisnu Abraham duda dingin pengusaha tekstil yang telah lama menutup hatinya.

Akankah pertemuan dua jiwa yang sama-sama terluka ini menjadi awal penyembuhan, atau justru bencana baru?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muliyana setia reza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bisnis di Atas Gengsi

Bunyi ting dari notifikasi m-banking di ponsel Sisca pagi itu terdengar seperti nyanyian malaikat.

Angka dua miliar rupiah terpampang jelas di layar, dana segar yang baru saja mendarat dari rekening Tante Vina di Australia. Sisca memejamkan mata sejenak, menghirup napas lega. Darah kehidupannya telah kembali.

"Ren! Transfer sekarang ke bank! Bayar tunggakan bunga dan cicilan tiga bulan ke depan!" perintah Sisca sambil melempar ponselnya ke arah Rendy yang sedang sarapan roti tawar.

Rendy menangkap ponsel itu dengan sigap. "Oke, Sayang. Rumah aman, mobil aman."

Dalam hitungan jam, teror telepon dari penagih utang berhenti. Aset-aset mewah keluarga Santoso selamat dari penyitaan. Pak Budi yang kemarin terbaring lemas, kini sudah bisa duduk tegak sambil menghisap cerutunya lagi, meski wajahnya masih menyiratkan kecemasan akan masa depan bisnis kardusnya yang sudah di-blacklist.

"Sekarang kita punya sisa modal sekitar satu setengah miliar," kata Sisca sambil menghitung di kalkulator tabletnya. Ia duduk di meja makan, memimpin rapat keluarga dadakan. "Kita nggak bisa ngarepin bisnis kardus Papa lagi. Abraham Group memblokir akses kita ke pabrik-pabrik besar lain. Kita butuh bisnis baru."

"Papa ada kenalan bisnis tambang pasir..." usul Pak Budi.

"Kelamaan, Pa! Dan kotor," potong Sisca cepat. "Sisca mau bisnis yang cepat putarannya, cashflow-nya harian, dan tetap bergengsi. Sisca nggak mau bisnis yang bikin kuku Sisca rusak."

Sisca mengetuk-ngetukkan jarinya yang lentik di meja kaca.

"Kuliner," cetus Sisca tiba-tiba. Mata-matanya berbinar. "Orang butuh makan tiap hari. Dan teman-teman sosialita Sisca suka banget nongkrong."

"Kuliner?" Rendy mengerutkan kening. "Tapi kita nggak ada yang bisa masak, Sis. Bisnis makanan itu ribet. Harus belanja pasar, urus dapur..."

"Aduh, Rendy! Pola pikirmu itu loh, mental karyawan banget!" cibir Sisca. "Kita ini owner, bukan koki. Kita bayar orang buat masak! Kita bayar konsultan buat bikin menu! Tugas kita cuma branding dan marketing."

Sisca berdiri, berjalan mondar-mandir dengan penuh semangat. Bayangan kejayaan mulai menari di kepalanya.

"Aku mau buka restoran sekaligus katering premium. Namanya... 'Royal Spoon'. Konsepnya healthy catering buat orang-orang kantoran elit dan kafe cantik buat ibu-ibu arisan."

"Sewa tempatnya mahal, Sis," Rendy mengingatkan dengan hati-hati.

"Harus mahal! Kalau tempatnya murah, siapa yang mau datang? Aku incar ruko di daerah HR Muhammad atau Mayjen Sungkono. Kita renovasi yang instagramable. Teman-temanku pasti mau bantu promosiin di sosmed mereka."

Pak Budi tampak ragu, tapi melihat tekad putrinya yang menggebu-gebu, ia mengangguk saja. "Ya sudah kalau kamu yakin. Papa dukung. Tapi ingat, ini uang pinjaman Tante Vina. Jangan sampai rugi."

"Nggak bakal rugi, Pa. Sisca tahu selera orang kaya Surabaya. Makanan nomor dua, yang penting tempatnya bagus buat foto," jawab Sisca enteng.

Seminggu kemudian, kesibukan baru dimulai.

Sisca menyewa sebuah ruko tiga lantai di kawasan elit Surabaya Barat. Harga sewanya mencekik leher, memakan hampir separuh dari sisa modal mereka, tapi Sisca tidak peduli. Ia terobsesi dengan image.

Rendy, yang seharusnya mengajar di sekolah, kini diseret untuk menjadi "manajer operasional" dadakan. Ia yang harus mengurus tukang bangunan, mengurus izin usaha, dan mencari supplier bahan baku.

"Ren, cat temboknya jangan putih biasa! Aku mau warna cream yang estetik!" teriak Sisca dari lantai dua ruko yang sedang direnovasi. "Terus lampunya ganti yang kristal gantung! Jangan pelit-pelit!"

Rendy menyeka keringat di dahinya yang bercampur debu semen. Ia lelah. Sangat lelah.

"Sis, budget renovasi udah bengkak dua ratus juta," lapor Rendy sambil menunjukkan catatan pengeluaran. "Kita belum beli peralatan dapur lho. Belum gaji koki."

"Pakai kartu kreditmu dulu bisa kan? Nanti diganti kalau restoran udah buka," jawab Sisca acuh tak acuh sambil sibuk memilih desain seragam pelayan di iPad-nya.

Rendy menelan ludah. Kartu kreditnya sudah hampir limit. Tapi membantah Sisca sama saja mengajak perang dunia ketiga.

"Oke..." gumam Rendy pasrah.

Di tengah hiruk pikuk persiapan itu, motivasi Sisca bukan sekadar mencari uang. Di dalam hatinya, ada api kompetisi yang membara terhadap Alina.

Ia mendengar kabar bahwa Alina semakin sukses di Abraham Group. Ia melihat foto-foto Alina mendampingi Wisnu di berbagai acara bergengsi. Itu membuatnya panas.

"Tunggu saja, Alina," gumam Sisca sambil menatap desain logo Royal Spoon yang berwarna emas.

"Kamu boleh jadi kacung berkelasnya Wisnu Abraham. Tapi aku akan jadi Business Owner. Aku akan buktikan kalau aku bisa kaya tanpa harus jadi bawahan siapa pun."

Sisca membayangkan skenario di kepalanya: Restorannya sukses besar, menjadi tempat nongkrong paling hits di Surabaya. Lalu suatu hari, Alina lewat dan melihat kesuksesan itu. Sisca akan tertawa melihat wajah iri Alina.

"Rendy!" panggil Sisca lagi.

"Ya, Sayang?"

"Pastikan kita bikin paket katering makan siang khusus buat gedung-gedung perkantoran di pusat kota. Termasuk ke Abraham Tower," perintah Sisca dengan senyum licik.

"Kamu mau jualan ke kantor Alina?" tanya Rendy kaget.

"Kenapa enggak? Kalau makanan kita enak dan packaging-nya mewah, karyawan di sana pasti beli. Aku mau Alina makan masakanku dan sadar kalau dia nggak bisa lepas dari bayang-bayangku."

Sisca merasa idenya brilian. Ia tidak sadar bahwa memasuki kandang singa dengan modal gengsi semata adalah tindakan bunuh diri.

Bisnis kuliner bukan hanya soal dekorasi cantik dan packaging mahal. Bisnis kuliner adalah tentang rasa, konsistensi, dan pelayanan—hal-hal yang tidak dimiliki oleh Sisca yang manja dan Rendy yang tidak punya pengalaman.

Namun hari itu, di tengah debu renovasi ruko barunya, Sisca Angela merasa seperti ratu yang sedang membangun kembali istananya yang sempat retak. Ia yakin uang Tante Vina adalah tiket emasnya untuk kembali ke puncak dan mengalahkan Alina.

"Bangkit, Sisca. Tunjukkan siapa yang sebenarnya pemenang," bisiknya pada diri sendiri.

1
kalea rizuky
lanjut banyak donk
kalea rizuky
lanjut thor
kalea rizuky
hahaha kapok di jadiin babu kan lu
kalea rizuky
murahan baru pcrn uda nganu
Dede Dedeh
lanjuttttt.. .
Dede Dedeh
lanjuttt....
Evi Lusiana
klo aku jd alina skalian aj pindah tmpat kos,
Evi Lusiana
bnyk d kehidupan nyata ny thor,cinta org² tulus hny berbalas kesakitan krn penghianatan
PENULIS ISTIMEWA: iya ya kak, miris sekali 🥲
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!