Bagaimana jika kita tiba-tiba menjadi ibu dari anak calon suami kita sendiri ,apa yang akan kita lakukan ?Memutuskan hubungan begitu saja ?atau tetap lanjut . Aku akan berusaha menjadi ibu yang baik untuk nya ,Rara Aletta Bimantara . Akan ku usahakan semua nya untuk mu ,Terimakasih Sudah mau menjadi istri dan ibu dari anak Ku _Rama Alexandra Gottardo.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ega Sanjana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hari Ujian Dan Harapan
Setelah sukses peluncuran majalah, seminggu penuh kegembiraan melampaui. Setiap hari, Lila dan Siti—yang sekarang sudah masuk kelas 7 SMP dan sering ke SMA untuk mengikuti klab sastra—ditemani Dina dan teman-teman klab membahas rencana buku baru. Halaman sekolah SMA menjadi tempat mereka berkumpul setiap sore, dengan meja yang dipenuhi catatan, buku referensi, dan camilan yang selalu dibawa Siti.
"Hari ini, kita akan bagi tugas! Siti, kamu bisa bikin bab tentang kenangan kita main di taman musim semi kemarin," ujar Lila sambil membuka buku catatan baru yang lebih tebal.
Siti mengangguk dengan antusias, tapi tiba-tiba ragu. "Kak, aku baru SMA, apakah tulisanku cukup bagus untuk buku yang akan dipublikasikan?"
Dina segera memeluk bahunya. "Tentu saja! Cerita kamu yang paling menyentuh di majalah, loh. Banyak orang bilang mereka nangis baca bagian kamu melindungi Kak Lila!"
Di saat itu, Bu Rina datang membawa berkas. "Hei semuanya, aku sudah bicara dengan penerbit lokal—mereka tertarik untuk mempublikasikan buku kita! Tapi mereka minta kita selesaikan naskah dalam dua bulan dan tambahkan setidaknya 5 bab lagi."
Semua teriak senang. "Yey! Makasih Bu Rina!" seru mereka bersama.
Mulai hari itu, jadwal mereka makin padat. Lila harus mengimbangi pelajaran SMA yang semakin sulit dengan menulis dan memimpin diskusi klab. Siti, meskipun baru masuk SMA, selalu tiba paling awal—dia sering menulis di ruang kelas saat menunggu teman-teman selesai pelajaran. Suatu sore, ketika dia sedang menulis tentang burung yang terbang di taman, seorang siswa baru bernama Rian mendekati.
"Hai, aku baru pindah ke SMA ini. Boleh tahu apa yang kamu tulis? Kelihatannya menarik," tanya Rian dengan senyum.
Siti dengan percaya diri menunjukkan buku catatannya. "Ini bagian dari buku kita tentang keluarga dan persahabatan. Kamu mau ikut bantu?"
Rian terkejut tapi senang. "Beneran? Aku suka menulis juga, tapi takut orang tidak suka."
"Semua orang punya cerita yang layak diceritakan!" jawab Siti, lalu memanggil Lila dan teman-teman untuk memperkenalkan Rian. Sejak itu, Rian juga bergabung di klab dan membantu menyusun alur bab baru tentang persahabatan yang tiba-tiba datang.
Selama satu minggu, mereka sibuk menulis. Lila menulis bab tentang bagaimana dia dan Siti belajar bersama malam hari, Dina menulis tentang perubahannya yang sulit tapi berharga, dan Rian menulis tentang bagaimana dia merasa diterima di sekolah baru. Siti, di sisi lain, menulis bab tentang hari ketika mereka semua membuat kue bersama di ruang klab untuk merayakan ulang tahun Bu Rina.
"Kak Lila, lihat ini! Aku tambahin ceritanya tentang kue yang terjatuh, tapi kita bikin lagi bersama. Biar orang tahu bahwa kesalahan tidak masalah, yang penting kita bersama," ujar Siti sambil menunjukkan tulisannya.
Lila tersenyum dan memeluknya. "Kamu benar banget, Sayang. Itu yang membuat cerita kita hidup."
Dua minggu sebelum batas waktu naskah, sekolah memasuki masa ujian tengah semester. Lila dan teman-teman SMA harus fokus belajar, sedangkan Siti juga menghadapi ujian pertama di SMA. Ini membuat jadwal menulis menjadi semakin sulit—mereka hanya bisa berkumpul di pagi hari sebelum pelajaran dimulai atau di malam hari setelah belajar.
Suatu malam, Lila, Siti, dan Dina belajar bersama di ruang tamu rumah Lila. Meja dipenuhi buku pelajaran dan naskah buku. Siti mengerjakan soal matematika dengan ragu, lalu menoleh ke Lila. "Kak, aku tidak ngerti soal ini. Apa yang harus aku lakukan?"
Lila mendekati dan menjelaskan dengan lambat. "Begini, Sayang. Kamu harus kalikan angka ini dulu, lalu kurangi dengan angka itu. Coba deh coba sendiri dulu."
Sementara itu, Dina sedang membaca naskah bab yang ditulis Rian. "Wah, tulisan Rian ini bagus banget. Tapi mungkin kita bisa tambahin bagian tentang bagaimana dia membantu kita menyelesaikan bab ketika kita semua sibuk ujian. Itu menunjukkan persahabatan yang sesungguhnya."
Lila mengangguk. "Baik deh. Besok kita bicarakan dengan dia."
Hari ujian tiba. Pagi itu, Lila membangun Siti yang masih tidur. "Ayo, Sayang. Hari ini ujianmu. Jangan khawatir, kamu pasti bisa."
Siti bangun dan memakai baju sekolah. Dia melihat cermin dan mengelus ikat rambut yang dibeli Lila. "Kak, aku takut gagal."
"Jangan takut. Kamu sudah belajar banyak. Yang penting kamu coba sebaik mungkin," jawab Lila sambil memeluknya.
Ketika mereka tiba di sekolah, halaman sudah dipenuhi siswa yang sedang belajar bareng. Rian mendekati dan menyapa. "Hai! Semoga ujian kita semua lancar."
"Terima kasih, Rian. Semoga kamu juga," jawab Siti.
Ujian berjalan dengan lancar. Setelah selesai ujian terakhir pada hari Jumat, Lila, Siti, Dina, Rian, dan teman-teman klab berkumpul di taman sekolah. Mereka meminum jus alpukat dan membicarakan naskah.
"Kita sudah selesai 8 bab! Cukup tinggal 2 bab lagi untuk memenuhi permintaan penerbit," ujar salah satu anggota klab.
"Bagus! Mari kita selesaikan dalam seminggu lagi. Bab terakhir bisa tentang hari ini—hari ujian dan harapan kita untuk masa depan," usulkan Lila.
Siti tersenyum dan berdiri tegak. "Aku mau nulis bagiannya! Aku mau ceritakan bahwa meskipun kita sibuk ujian, kita tidak pernah meninggalkan satu sama lain. Dan bahwa hari ini adalah langkah ke masa depan yang lebih cerah untuk kita semua."
Semua memberi tepuk tangan. Dina memegang tangan Siti. "Kamu benar, Siti. Kita sudah melewati banyak hal bersama di sekolah ini—dari kesulitan sampai kebahagiaan. Semua itu membuat kita lebih kuat."
Lila melihat langit yang mulai gelap. Dia menyadari bahwa sekolah yang dulunya menjadi tempat kesusahan bagi dia, sekarang telah menjadi tempat di mana dia menemukan keluarga, persahabatan, dan tujuan hidup. Dengan naskah buku yang hampir selesai, dia merasa bahwa semua usaha mereka akan memberikan harapan kepada banyak orang.
"Terima kasih, semuanya. Tanpa kalian, aku tidak akan bisa mencapai ini. Mari kita selesaikan buku ini dan bagikan cerita kita ke dunia!" ujar Lila dengan suara penuh semangat.
"Ya! Kita selalu bersama!" seru semua bersama, sambil teriak senang di taman sekolah yang sudah menjadi tempat kedua bagi mereka.