NovelToon NovelToon
TELEKINESIS ASCENDANT: THE EDITOR'S GATE ODYSSEY

TELEKINESIS ASCENDANT: THE EDITOR'S GATE ODYSSEY

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Mengubah Takdir / Fantasi Timur / Fantasi Isekai
Popularitas:98
Nilai: 5
Nama Author: Karma Danum

Kang Ji-hoon, seorang editor webnovel yang hidupnya biasa-biasa saja, tewas dalam sebuah kecelakaan. Namun, alih-alih mati, ia terbangun di tubuh Kang Min-jae, seorang pemuda di dunia paralel di mana "Gerbang" ke dimensi lain telah muncul, dan "Hunter" dengan kekuatan khusus bertugas menghadapi monster di dalamnya.

Terjebak dalam identitas baru dengan misteri ayah yang hilang dan tekanan untuk menjadi Hunter, Ji-hoon harus beradaptasi dengan dunia yang berbahaya. Dibantu oleh "sistem" misterius di dalam benaknya dan kekuatan telekinesis yang mulai terbangun, ia memasuki Hunter Academy sebagai underdog. Dengan pengetahuan editornya yang memahami alur cerita dan karakter, Ji-hoon harus menguasai kekuatannya, mengungkap konspirasi di balik transmigrasinya, dan bertahan di dunia di mana setiap Gerbang menyimpan ancaman—dan rahasia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Karma Danum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 27: Latihan Presisi

Pagi-pagi benar, bahkan sebelum ayam berkokok—atau versi interdimensinya yang mungkin berbentuk burung berapi—Ji-hoon sudah duduk bersila di kamar asramanya. Di depannya, terhampar selembar kain hitam dan di atasnya, seratus jarum jahit tersusun rapi dalam sepuluh baris. Ujung-ujungnya yang tajam menangkap cahaya lampu kamar yang redup, berkilauan seperti bintang-bintang kecil yang bermusuhan.

Ini adalah tantangan baru dari Guru Choi. Setelah seminggu berjuang dengan kerikil, air, dan daun—dengan hasil yang masih jauh dari sempurna—sang guru memberikan ujian presisi yang lebih menuntut.

"Jika kau bisa memahami kerikil sebagai satu kesatuan, sekarang pahamilah seratus objek yang berbeda sebagai satu kesatuan *dan* sebagai individu-individu yang terpisah," begitu penjelasan Guru Choi kemarin malam, dengan ekspresi datar yang selalu menyembunyikan tingkat kesulitan sebenarnya. "Kontrol terbagi. Itulah intinya."

Ji-hoon menarik napas panjang, menghembuskannya perlahan. Dia mencoba mempraktikkan pelajaran "pemahaman" dari bab sebelumnya. Dia tidak boleh hanya memaksa jarum-jarum itu terangkat. Dia harus memahami mereka.

*Baja bermata tajam,* pikirnya, matanya menyapu barisan jarum. *Ringan. Memiliki pusat massa yang rendah karena kepalanya yang bulat. Permukaannya halus, licin. Mereka bisa berguling, bukan hanya terangkat.*

Dia mengulurkan jari-jari psikisnya, merasakan setiap jarum. Awalnya, itu seperti mencoba mendengar seratus bisikan berbeda dalam kerumunan yang ramai—hanya kebisingan yang kacau. Tapi dia berusaha tenang. Satu per satu. Jarum di sudut kiri atas. Rasakan beratnya, teksturnya, *keberadaannya*.

Jarum itu bergoyang, lalu terangkat setinggi satu sentimeter.

*Bagus. Sekarang, yang di sebelahnya.*

Jarum kedua terangkat. Tapi begitu perhatiannya beralih, jarum pertama jatuh dengan suara *tik* yang halus di atas kain.

Ji-hoon mengerang. Ini jauh lebih sulit. Ini seperti mencoba menulis seratus cerita berbeda secara bersamaan dengan masing-masing tangan—mustahil bagi pikiran yang belum terlatih.

Dia mencoba pendekatan lain. Alih-alih fokus pada satu jarum, dia mencoba merasakan semuanya sekaligus sebagai sebuah *medan*. Seperti merasakan angin yang bertiup melalui pepohonan—dia tidak merasakan setiap daun, tapi merasakan keseluruhan gerakannya.

Jarum-jarum itu bergoyang bersama, seperti rumput ditiup angin. Lalu, dengan konsentrasi yang menyiksa, mereka mulai terangkat—semua seratus sekaligus.

Tapi hanya selama dua detik.

Karena tanpa kontrol individu, mereka mulai berputar tak terkendali, saling bertabrakan, dan berhamburan seperti hujan logam kecil. Ji-hoon dengan cepat mengendurkan cengkeraman psikisnya sebelum ada yang melukai matanya.

"Tidak," gumamnya pada diri sendiri, memijat pelipisnya yang sudah mulai berdenyut. "Harus ada keseimbangan. Kesadaran luas *dan* fokus sempit."

Dia mengingat konsep "pikiran yang terbagi" dari literatur pelatihan psikis yang pernah dia baca sepintas di perpustakaan. Bukan tentang memiliki banyak pikiran, tapi tentang memiliki satu pikiran yang bisa dengan cepat beralih perhatian di antara banyak titik, seperti lampu sorot yang bergerak cepat sehingga memberi ilusi menerangi seluruh panggung.

Dia menutup matanya, membayangkan peta mental dari seratus jarum itu. Setiap jarum adalah sebuah titik cahaya. Dia akan menyinari satu titik, mengangkatnya, lalu dengan cepat memindahkan sinar itu ke titik berikutnya—tapi begitu sinarnya pergi, titik sebelumnya harus tetap stabil di posisinya, *seolah-olah* masih disinari. Itu membutuhkan mekanisme "kunci" psikis.

*Seperti mengetik,* bisik naluri editornya. *Kau tidak terus menekan tombol 'A' untuk membuat huruf A tetap muncul di layar. Kau tekan sekali, lalu lepaskan, dan huruf itu tetap ada. Kekuatan telekinesisku harus seperti itu—memberi impuls, bukan tekanan terus-menerus.*

Dia membuka mata, mencoba. Fokus pada jarum pertama. Angkat. Rasakan keseimbangannya. Lalu, alih-alih terus "menggenggamnya" dengan pikirannya, dia "menguncinya" di tempatnya—memberikan perintah psikis yang stabil dan mandiri, seperti meletakkan batu di atas meja.

Jarum itu tetap melayang.

Ji-hoon tidak percaya. Dia dengan cepat beralih ke jarum kedua. Proses yang sama. Angkat, kunci. Jarum kedua melayang di samping yang pertama. Lalu ketiga. Keempat.

Di jarum kelima, kunci psikis pada jarum pertama mulai goyah dan jatuh. Ji-hoon menghela napas. Konsentrasinya masih terlalu lemah untuk menahan banyak "kunci" sekaligus.

Tapi ini kemajuan. Setidaknya dia menemukan sebuah metode.

Dia berlatih selama satu jam penuh sebelum bel pagi berbunyi. Capaian terbaiknya: dua belas jarum melayang secara bersamaan, sebelum semuanya runtuh seperti menara kartu.

Saat sarapan di kantin, tatapan kosongnya dan gerakan tangannya yang sesekali menggaruk udara menarik perhatian Na-rae, yang duduk di mejanya dengan wajah penuh keheranan.

"Ji-hoon? Kau baik-baik saja? Terlihat seperti zombie."

"Latihan," jawab Ji-hoon singkat, menyendok bubur tanpa semangat. Pikirannya masih memetakan seratus titik cahaya.

"Latihan apa yang membuatmu seperti kehilangan jiwa?" tanya Na-rae, sekarang khawatir.

Ji-hoon tersadar, mengingat janji kerahasiaannya pada Guru Choi. "Ah, tidak. Hanya… latihan konsentrasi. Untuk telekinesis."

Na-rae mengangguk, meski masih tidak sepenuhnya yakin. "Hati-hati, ya. Jangan sampai overstrain. Aku dengar ada hunter psionic yang burnout karena latihan berlebihan."

Nasihat itu masuk ke telinga kanan dan keluar ke telinga kiri. Ji-hoon terlalu fokus pada masalah jarum-jarum itu. Bagaimana jika dia mengelompokkannya? Daripada seratus titik terpisah, buat sepuluh kelompok yang masing-masing berisi sepuluh jarum? Atau susun mereka dalam pola geometris sehingga saling menopang secara alami?

Ide-ide itu berputar-putar di kepalanya sepanjang kelas pagi tentang Sejarah Gate, membuatnya hampir tidak mencatat apa pun.

Malamnya, di Taman Batu, Guru Choi menyaksikan upayanya yang semakin membaik. Dua puluh jarum sekarang bisa diangkat sekaligus.

"Kau menemukan metode 'kunci impuls'," kata Guru Choi, menyetujui. "Itu baik. Tapi masih kasar. Kuncimu seperti gembok berkarat—butuh banyak usaha untuk mengaturnya, dan mudah lepas."

"Bagaimana cara membuatnya lebih halus, Guru?"

"Bayangkan kau bukan 'mengunci' jarum di tempatnya," kata Guru Choi. "Bayangkan kau memberikan mereka *tujuan*. Seperti melemparkan bola ke udara dengan rotasi sempurna—bola itu akan mengikuti jalur yang telah ditentukan oleh impuls awalmu, tanpa perlu kau kendalikan terus-menerus. Beri jarummu tujuan yang sederhana: 'tetaplah di ketinggian ini, dengan orientasi ini'. Lalu, percayalah bahwa mereka akan melakukannya."

Itu adalah konsep yang lebih abstrak, tetapi Ji-hoon mencoba. Alih-alih mencoba "memegang" setiap jarum, dia memberi mereka "instruksi" yang jelas dan lalu melepaskannya.

Hasilnya mengejutkan. Usahanya berkurang drastis, dan stabilitasnya meningkat. Tiga puluh jarum. Empat puluh.

Jarum-jarum itu melayang di udara, membentuk formasi bergerak perlahan seperti kawanan ikan perak yang tenang. Ji-hoon merasa seperti seorang konduktor orkestra yang tidak perlu menggerakkan setiap pemain, hanya memberi isyarat pada bagian-bagian yang berbeda, dan musiknya mengalir dengan sendirinya.

"Lima puluh," bisik Guru Choi, suaranya mengandung sedikit kekaguman yang jarang.

Ji-hoon terus mempertahankannya, keringat mengucur di pelipisnya. Lima puluh lima. Enam puluh. Setiap tambahan sepuluh jarum terasa seperti menambah beban mental sepuluh kali lipat.

Di tujuh puluh jarum, kepalanya berdenyut-denyut sakit. Di delapan puluh, penglihatannya mulai kabur. Tapi dia terus bertahan, menggigit bibirnya hingga berdarah.

Sembilan puluh.

Sembilan puluh lima.

Ji-hoon menjerit kecil di dalam hatinya. *Satu lagi!* Dia meraih jarum keseratus, yang terakhir, tersembunyi di sudut kain. Dengan dorongan terakhir dari jiwanya yang terkoyak, dia mengangkatnya.

**Seratus jarum.**

Mereka semua melayang, bergetar halus seperti sekawanan capung logam yang membeku di udara. Cahaya bulan menyentuh ujung-ujung mereka, menciptakan hujan cahaya mini di ruang gelap taman.

Ji-hoon menahannya selama sepuluh detik yang terasa seperti sepuluh tahun. Kemudian, dengan napas terakhir yang terkuras, dia perlahan menurunkan mereka semua, satu per satu, kembali ke atas kain hitam dengan hati-hati yang luar biasa.

Dia terjatuh ke belakang, berbaring di atas kerikil taman, dada naik turun dengan cepat, matanya menatap langit berbintang. Kelelahan psikisnya begitu dalam hingga terasa seperti kepalanya dikosongkan dengan sendok.

Tapi di balik kelelahan itu, ada kepuasan yang membara.

Dia berhasil.

Guru Choi berdiri di atasnya, memblokir beberapa bintang. Wajah tua itu tersenyum—senyuman sungguhan, hangat, dan penuh pengakuan.

"Luar biasa, Ji-hoon. Tidak hanya dalam jumlah, tapi dalam *kendali*. Kau menurunkannya dengan lembut, tidak membiarkannya jatuh. Itu menunjukkan presisi yang nyata." Dia membungkuk, memberikan segelas air yang tidak tahu dari mana asalnya. "Minum. Besok, kita akan mulai dengan dua ratus butir pasir."

Ji-hoon, yang masih tergeletak lemas, hampir tersedak. *Dua ratus?*

Tapi di dalam hati, di balik rasa sakit dan kelelahan, ada api kecil yang menyala—api kebanggaan, dan keinginan untuk melihat sejauh mana batas "pemahaman"-nya bisa dikembangkan.

Dia mengangkat tangannya, melihatnya gemetar di cahaya bulan. Tangan yang sama yang dulu hanya memegang pulpen merah untuk mengoreksi naskah, kini bisa mengendalikan seratus jarum di udara.

*Mungkin,* pikirnya, sambil menutup mata, *editor tidak hanya bisa mengedit kata-kata.*

*Mungkin… editor juga bisa mengedit realitas.*

Dan dengan pikiran itu, dia tertidur lelap di taman kerikil, dikelilingi oleh seratus guru baja kecil yang bisu, yang telah mengajarinya pelajaran pertama tentang skala.

---

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!