NovelToon NovelToon
Dinikahi Duda Perjaka

Dinikahi Duda Perjaka

Status: sedang berlangsung
Genre:Pengganti / CEO / Cinta setelah menikah / Pengantin Pengganti / Cinta Seiring Waktu / Duda
Popularitas:4.8k
Nilai: 5
Nama Author: Lidya Amalia

Hari yang seharusnya menjadi hari yang paling bahagia, tapi nyatanya tidak.
Hari yang seharusnya berganti status menjadi seorang istri dari lelaki bernama Danish, kini malah berganti menjadi istri dari lelaki bernama Reynan, tetangga barunya. Yang katanya Duda.
Dia adalah Qistina Zara, bagaimana kisahnya? kemana Danish? kenapa malah menjadi istri dari lelaki yang baru dikenalnya?
yuk, ikuti kisah Zara di sini😉

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lidya Amalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kejadian Tak Terduga

“Ish … kalian ngomong apa sih?” kilah Zara seraya berjalan mendahului Dian dan Cia.

“Dia malu. Di,” goda Cia.

“Hooh,” sahut Dian dengan senyum jahilnya. “Lo penasaran gak, gimana si Zara malam pertama?” tanya Dian pada Cia.

“Enggak. Malah aku takut, suaminya duda.” Cia bergidik ngeri.

“Ish … justru duda itu lebih … menggoda,” kata Dian dengan ucapan lirih diakhir.

Cia kembali bergidik. “Iiiyyy … gak mau aku. Gak bisa aku bayangin. Aaaaa … takut …” Cia menutup telinganya, ia tidak membayangkan hal-hal itu.

Sedangkan Dian, ia terkikik geli. Namun Zara, ia menatap Dian dengan tajam.

“Sorry, Za.” Dian meringis, ia agak takut-takut melihat Zara seperti itu.

“Otak lo harus dicuci, Dian. Sangat-sangat kotor,” ucap Zara seraya menarik telinga Dian.

“Eee … Za. Ya ampun, Za. Jangan ditarik. Malu, lah. Apalagi kalo sampai di lihat sama crush gue,” kata Dian seraya mencoba melepaskan tangan Zara dari kupingnya.

Cia tertawa, melihat tingkah dua temannya itu. Sudah biasa, bahkan ini bukan hal aneh lagi, melihat tingkah Zara dan Dian.

Sedangkan dengan Zara, ia merasa bahwa diantar Reynan bukan pilihan yang baik. Malah membuat satu temannya itu, terus menggodanya.

“Kalo jadinya gini, lebih baik tadi gue berangkat sendiri,” gumam Zara.

Namun gumaman itu terdengar oleh Dian, dan ia pun kembali tertawa.

“Gue doain, lo nanti kecintaan sama duda itu,” kata Dian.

“Udah, stop ya, Di. Nanti gue bilangin si Arman, kalo lo udah pengen dikawinin,” ucap Zara.

“Ah Bang Arman, ayo kawinin gue. Ah, ayo Bang.” Dian berucap dengan gaya centilnya, tidak lupa dengan mengibaskan rambutnya, seraya menyelipkan anak rambut ke sela-sela telinganya.

“Dian … jijik gue,” ujar Zara.

“Ish … kalian ini. Udah Stop ya, jam kerja udah mulai.” Cia melerai kedua temannya.

“Teman lo, Ci. Amit-amit, gue.” Zara bergidik geli. Namun Dian tertawa dengan begitu puas.

***

Sedangkan Reynan, ia di rumah tengah memantau para pekerja dari laptopnya.

“Benar-benar ya, orang ini.” Reynan bergumam dengan mengepalkan tangan kanannya.

“Gak bisa nunggu lama lagi kalo seperti ini,” lanjutnya. “Yang ada, bisa gulung tikar dan gak sudi, tempat usaha dipakai berbuat dosa,” sambungnya.

Lekas Reynan mengambil ponsel, lalu mengotak-atiknya sebentar.

“Hallo, Hen?”

“Iya, bos.”

“Saya gak bisa menunggu terlalu lama lagi, Hen. Yang ada semua barang habis dan nantinya akan gulung tikar.”

“Saya mengerti, bos. Lalu kapan bos akan menampakkan diri?” tanya Hendri.

“Besok. Besok saya akan ke gudang. Kamu urus semuanya,” kata Reynan.

“Kira-kira, jam berapa? Supaya saya bisa memanage waktu.”

“Mungkin sore. Ya sesudah dzuhurlah kira-kira,” ujar Reynan.

“Oke, bos. Saya akan persiapkan semuanya dan saya pastikan, dzuhur sudah siap.”

“Ya bagus.”

***

Di kediaman Hanung.

“Kenapa Ibu diam saja?” tanya Hanung pada Sofa.

Mengingat semua orang di sana cukup sibuk dan terlihat berbahagia, untuk mempersiapkan pesta besok.

Tetapi berbeda dengan Sofa, wanita berusia senja itu tampak muram. Hanya duduk dengan tatapan mata yang kosong.

“Bu …” panggil Hanung lagi.

“Gak tau Ibu harus apa. Apa kamu, istri dan anakmu tidak merasa bersalah pada Budi, Lia dan Zara?” tanya Sofa.

Hanung terdiam sebentar.

“Kenapa harus merasa bersalah? Ini keinginan anak-anak dan mungkin, Lea pilihan Danish. Bukan Zara,” jawab Hanung dengan santai.

Sofa membuang muka. “Ya … setidaknya jangan dibulan yang sama. Bahkan ini, jaraknya cuma satu minggu.”

“Sudahlah, Bu … jangan Ibu pikirkan,” ucap Hanung.

“Atau … Jangan-jangan, anakmu hamil duluan, Han?” tanya Sofa dengan wajah penuh tanya.

Seketika wajah Hanung memucat, ia pun menelan ludahnya dengan kasar.

“Jawab Ibu, Hanung!” Sofa bicara dengan nada naik dua oktaf.

“Sudahlah, Bu. Jangan dibesar-besarkan. Intinya si Danish bertanggung jawab dan mereka saling mencintai,” jawab Hanung.

Sofa membuang wajahnya, ia beranjak dari duduknya, lalu berbalik membelakangi Hanung.

“Ibu tidak menyangka, jika kamu dan keluargamu menjadi orang licik, tidak punya perasaan. Apalagi yang kalian sakiti itu, Adik dan ponakanmu, Han.”

“Sudahlah, Bu. Untuk masalah ini, tentu aku memikirkan keluargaku juga, Bu. Aku tidak mau anakku hamil tanpa adanya seorang suami. Aku juga tidak mau, bayi itu lahir tanpa adanya seorang Ayah. Dan tentu, aku tidak mau orang lain tau tentang Lea hamil diluar nikah,” ujar Hanung.

Sofa tersenyum getir. “Demi anak, kamu rela menjadi seperti ini? Apa jangan-jangan, pernikahan Zara dan Danish gagal, karena permainan kalian?” tanya Sofa.

“Iya, Bu.” Hanung menjawab tanpa ragu sedikitpun.

“Astagfirullah … Hanung …” Sofa bicara lirih seraya memegangi dadanya.

“Bu … Bu … Ibu kenapa?” tanya Hanung dengan panik. Ia pun segera mendekat pada sang Ibu.

Sofa masih memegangi dadanya, napasnya tersendat, tubuhnya pun perlahan melemah dan—

Bruk!

Sofa terhuyung, Hanung segera menangkapnya. Namun … karena berat, keduanya pun terjatuh.

“Ibu …” teriak Hanung.

Mendengar suara jatuh dan teriakan Hanung. Orang-orang yang tengah bekerja untuk berlangsungnya acara besok pun, berdatangan.

“Ada apa Pak Hanung?”

“Ayah … kenapa?”

“Ayah …”

“Om.”

“Nenek …”

Semua berdatangan dengan berbagai panggilan.

“Panggil ambulans. Ayo, panggil ambulans sekarang!” titah Hanung dengan cepat. Wajahnya tampak begitu khawatir, dengan rasa bersalah juga.

“Kabari Haris, segera datang ke sini.”

“Budi juga,” lanjutnya.

Sarah langsung menghubungi suaminya (Haris), ia memberi tahu keadaan Sofa yang tidak sadarkan diri.

Setelah itu, Sarah juga langsung menghubungi Budi, Adik iparnya. Mengingat tidak mungkin jika Hanung apalagi Frida yang menghubunginya.

“Astagfirullah … iya, iya. Aku segera kesana Mbak,” jawab Budi dari balik telepon.

Tidak lama, ambulans datang dan Sofa pun langsung dilarikan ke rumah sakit.

Di tempat lain.

Budi langsung mengajak Lia untuk pergi ke rumah Hanung.

Saat melewati rumah Reynan, bersamaan dengan itu, Reynan tengah berada di halaman rumah sedang menyapu daun kering.

Budi memberi tahu jika ia akan ke rumah Hanung. Tidak lupa, Budi pun memberi tahu Reynan dengan keadaan Sofa sekarang.

“Apa saya juga kesana, Yah?” tanya Reynan.

“Tidak perlu. Nanti kalo ada apa-apa, Ayah kabarin.”

“Oh … ya sudah kalo begitu. Semoga tidak apa-apa dan Nenek baik-baik saja,” kata Reynan.

“Iya, aamiin. Ayah dan Ibu pergi dulu.”

“Iya, hati-hati.”

Reynan menghela napas kasar seraya menatap perginya mobil sang mertua.

“Ada … saja …” gumamnya.

“Zara kabarin enggak, ya?” tanyanya pada diri sendiri.

“Ah, nanti aja. Takutnya mengganggu konsentrasi saat bekerja. Toh belum tau juga, kondisi Nenek gimana,” sambungnya.

Lekas Reynan pun kembali membersihkan daun-daun kering yang berserakan di halaman rumahnya.

***

“Tenang, Yah. Ibu pasti baik-baik saja,” ucap Lia seraya mengusap bahu sang suami.

Tidak ada sahutan dari Budi, tapi bibirnya tersungging tipis.

Namun, setelah sampai di rumah Hanung. Sarah mengabarkan jika Sofa sudah dibawa ke rumah sakit.

Lekas Budi pun, putar balik menuju rumah sakit.

“Bagaimana, Mas? Keadaan Ibu gimana?” tanya Budi pada Hanung. Dengan begitu khawatir.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!