NovelToon NovelToon
Rahasia Di Balik Perpustakaan: Cinta Tanpa Izin

Rahasia Di Balik Perpustakaan: Cinta Tanpa Izin

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen School/College / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Harem / Dark Romance
Popularitas:333
Nilai: 5
Nama Author: Khang Adhie

Kesempurnaan adalah ilusi.
Dan Tasya Andarini hidup dari ilusi itu.

Sebagai mahasiswi teladan dengan masa depan yang sudah tersusun rapi, Tasya percaya bahwa disiplin dan kendali adalah segalanya. Sampai dosen pembimbing memaksanya berpasangan dengan Dimas Ramadhan—playboy kampus dengan reputasi buruk, kecerdasan tersembunyi, dan masa lalu yang tak pernah benar-benar ia tinggalkan—untuk mengerjakan skripsi eksperimental yang menentukan kelulusan mereka.

Sejak awal, mereka saling membenci.
Tasya muak dengan sikap Dimas yang sembrono, tatapan tajam yang terlalu berani, dan cara bicaranya yang selalu menguji batas.
Dimas, sebaliknya, terganggu oleh sikap Tasya yang dingin dan perfeksionis—namun tak bisa mengabaikan ketegangan yang muncul setiap kali ia berdiri terlalu dekat.

Di antara deadline, aturan, dan hasrat yang tak lagi bisa disangkal, Tasya harus memilih: mempertahankan kesempurnaan yang rapuh, atau mempertaruhkan segalanya demi cinta tanpa izin.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khang Adhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Drama Di Perpustakaan

“Kami hanya akan menggunakan referensi yang ada di sini. Kalau Non Tasya mau cari referensi sendiri, silakan,” ucap salah seorang dari mereka datar.

Tasya membalas dengan senyum tipis. Ada rasa lega yang menyelinap di dadanya ketika dua orang menyebalkan itu tak mengikuti langkahnya menuju basement. Ia segera menuruni tangga dan masuk ke ruangan bawah. Di sana, seorang penjaga perpustakaan terlihat duduk di dekat rak buku, sibuk dengan catatannya.

“Permisi, Pak. Saya mau cari judul Dampak Budaya Luar terhadap Masyarakat Indonesia: Penetrasi Budaya Asing yang Merusak Cara Pandang,” ujar Tasya sambil menyapu ruangan dengan pandangannya.

“Silakan cari sendiri di rak yang ada, ya, Mbak. Saya lagi mencatat ulang buku-buku lama yang akan dilaporkan ke universitas,” jawab pria itu tanpa menoleh.

Tasya berjalan menyusuri rak paling ujung. Langkahnya perlahan, matanya sigap memeriksa setiap sudut.

“Tasya…”

Sebuah bisikan terdengar dari balik rak di belakangnya. Tasya refleks menarik salah satu buku, mengintip ke sela rak.

“Nina,” bisiknya terkejut. Mereka saling bertatapan dari balik rak, tak berani mendekat.

“Di belakang lo,” bisik Nina sambil mengarahkan telunjuk ke sisi lain rak.

Tasya menoleh. Dimas sudah berdiri di sana.

“Kenapa lo nggak bilang kalau selama ini lo ada di sini?” bisik Tasya tajam, matanya menuntut.

“Gue udah ninggalin catatan di makalah yang sempat gue kasih bulan lalu. Kenapa lo nggak nyadar?” jawab Dimas.

“Harusnya lo tulis jelas, bukan pakai kode segala,” Tasya sedikit menaikkan suara. “Gue bukan Ethan Hunt yang jago mecahin kode!”

“Lo berdua bener-bener, ya. Bukannya ngobrol baik-baik malah berantem,” sela Nina pelan, berusaha mencairkan suasana.

Tasya langsung mengatupkan mulutnya, begitu pula Dimas. Entah dorongan apa yang membuat mereka berdebat di situasi segenting ini.

“Setiap hari gue sama Nina nungguin lo di sini,” ujar Dimas kemudian. “Kalau lo mau ketemu gue atau Nina, lo bisa datang ke basement.”

Ia menyodorkan tesis yang sedang ia pegang.

“Terus… nasib kita gimana?” Tasya menatap Dimas lekat-lekat, ada harapan yang disimpannya dalam diam.

“Gue udah ajuin Bab Satu buat seminar,” jawab Dimas. “Pokoknya lo harus buru-buru beresin. Biar Pak Sasongko bisa cepat ngasih keputusan.”

“Data gue berantakan semua, Dim. Mana bisa gue setor ke dia,” keluh Tasya sambil mengernyit. “Yang ada gue digombalin lagi.”

“Pokoknya, apa pun yang terjadi, lo harus cepat serahin draf lo ke Pak Sasongko,” tegas Dimas.

Tiba-tiba, suara pintu berderit. Dua orang anak buah Andreas masuk tanpa peringatan. Dimas dan Nina segera menjauh, bergerak ke rak paling ujung, memberi isyarat agar Tasya membawa mereka keluar dari ruangan.

“Heh! Ngapain lo berdua ke sini?” teriak Tasya dari ujung lorong, sengaja menarik perhatian.

Penjaga perpustakaan langsung menatapnya.

“Maaf, Pak. Teman saya masuk tanpa bilang-bilang,” ucap Tasya cepat sambil melangkah keluar ruangan. “Ayo ikut gue. Tesisnya udah dapet,” lanjutnya, lalu menarik salah seorang dari mereka menjauh.

“Fiuh… lemes gue, Dim,” desah Nina sambil bersandar di dinding. Seluruh tubuhnya gemetar, baru menyadari betapa tipis jarak antara aman dan celaka barusan.

Tasya kembali ke kursi yang tadi ia tempati. Bab tiga terbuka di layar laptopnya, penuh coretan hasil komparasi dan analisis yang ia dalami sejak siang. Hingga pukul empat sore, Tasya masih tenggelam mengutak-atik draft bab satunya, sementara tim olah data sudah lama menyelesaikan tugas mereka.

“Kalau lo mau balik duluan, silakan. Gue masih mau ngerapihin semua ini,” ucap Tasya tanpa mengalihkan pandang dari layar.

“Kita nungguin lo aja, Non. Lagian perpustakaan juga tinggal setengah jam lagi tutup, kan,” sahut salah satu dari mereka santai.

Tasya cuma mendecak pelan lalu kembali fokus bekerja. Sampai akhirnya, petugas perpustakaan datang dan meminta mereka segera meninggalkan ruangan. Bertiga, mereka berjalan keluar menuju kendaraan yang sudah siap mengantar Tasya pulang ke apartemen.

“Mau sampai kapan kita main petak umpet kayak gini, Dim?” ucap Nina sambil mengalungkan lengannya ke lengan Dimas.

“Andreas nggak pernah bercanda soal ancaman, Na. Mending kita ngalah daripada jadi sasaran empuk keparat itu,” jawab Dimas, matanya mengikuti sosok Tasya yang menjauh.

“Lo anterin gue balik, kan?” tanya Nina pelan.

Dimas mengangguk, lalu melangkah ke parkiran motor setelah situasi dirasa aman. Sepanjang jalan, mereka nyaris tak berbicara apa-apa—deru knalpot terlalu bising untuk sekadar obrolan ringan. Hingga akhirnya, motor Dimas berhenti di depan kostan Nina.

“Lo mau mampir dulu, Dim?” tanya Nina sambil menyerahkan helm.

“Ada kopi item, kan?” balas Dimas.

“Gampang. Gue ke warung bentar,” jawab Nina. Ia menyerahkan kunci kamarnya pada Dimas. “Masuk duluan aja.”

Di dalam kamar kostan Nina, beberapa foto kebersamaan Nina dan Tasya terpajang di dinding. Sebagian lain menempel di pinboard. Dimas mengamati satu per satu, berhenti lebih lama di foto-foto yang menampilkan wajah Tasya.

“Awas, lama-lama lo malah jatuh cinta.”

Nina sudah berdiri di ambang pintu, menenteng kopi dan beberapa makanan kecil.

“Lo sama Tasya udah lama temenan?” tanya Dimas sambil melepas satu foto dari pinboard.

Foto itu memperlihatkan mereka masih berseragam putih abu-abu, rambut dikepang dengan tali rafia biru.

“Gue kenal dia nggak sengaja,” jawab Nina sambil menuang air panas ke gelas. “Awalnya tuh anaknya songong banget.” Ia tersenyum kecil. “Tapi suatu hari gue liat dia nangis sendirian di lorong deket dekanat.”

Gelas kopi disodorkan ke Dimas.

Dimas menatap Nina serius, jelas ingin tahu lebih jauh.

“Waktu itu Tasya bener-bener kecewa. Nyokapnya nggak bisa nerima kalau dia masuk jurusan yang sekarang,” lanjut Nina sambil mendorong cemilan ke arahnya.

"Dari semenjak itu, Tasya selalu cerita soal keluarganya sama gue," lanjut Nina Akhirnya.

“Hm… ternyata keluarga Adibrata sekejam itu,” gumam Dimas sambil menyeruput kopi.

“Ngomong-ngomong, lo sendiri kenapa bisa turun dua tingkat?” tanya Nina penasaran.

“Gue kerja jadi debt collector. Bokap gue udah nggak sanggup biayain sekolah,” jawab Dimas datar.

“Katanya cewek-cewek genit itu pernah lo tidurin ya, Dim?” Nina menaikkan alisnya, setengah bercanda sambil mengalihkan pembicaraan karena dia tahu jika Dimas tidak suka di usik masalah keluarganya.

Dimas cuma menyeringai, lalu kembali menyeruput kopi hitamnya.

“Tapi gue denger gosip dari kakak tingkat, dulu lo punya pacar yang cinta mati sama lo. Terus dia ngundurin diri, dan pindah kampus, gara-gara katanya lo hamilin dia,” celetuk Nina ringan.

Pffft!

Kopi di mulut Dimas langsung menyembur.

“Jangan sok tau,” hardiknya. “Sejak kapan gue hamilin anak orang terus kabur dari tanggung jawab?”

Otot di lehernya menegang, jelas terusik oleh gosip murahan yang sama sekali nggak pernah ia lakukan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!