Sepuluh tahun yang lalu, sebuah ledakan di tepi Sungai Adige menghancurkan kejayaan keluarga Moretti dan meninggalkan Elena Moretti sebagai satu-satunya pewaris yang menanggung noda pengkhianatan. Kini, Elena kembali ke Verona bukan untuk menuntut warisan, melainkan untuk mengubur masa lalunya selamanya.
Namun, Verona tidak pernah melupakan.
Langkah Elena terhenti oleh Matteo Valenti, pria yang kini merajai langit Verona. Matteo bukan lagi pemuda yang dulu pernah memberikan mawar di balkon rumahnya; ia telah berubah menjadi sosok berdarah dingin yang memimpin bisnis gelap di balik kemegahan kota kuno itu. Bagi Matteo, kembalinya Elena adalah kesempatan untuk menuntaskan dendam keluarganya.
Elena dipaksa masuk ke dalam kehidupan Matteo—sebuah dunia yang penuh dengan aturan tanpa ampun, pertemuan rahasia di gedung opera, dan darah yang tumpah di atas batu jalanan yang licin. Namun, saat "gema" dari masa lalu mulai mengungkap kebenaran yang berbeda tentang kematian orang tua mereka,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SHEENA My, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
kutukan di Balik Kabut Adige
Langit di atas Verona tidak pernah benar-benar hitam. Malam ini, warna ungu tua yang pekat berpadu dengan semburat jingga sisa senja, menciptakan gradasi yang menyerupai memar di kulit. Kabut tipis merayap dari permukaan Sungai Adige, menyelinap di antara celah-celah bangunan kuno, membawa aroma lumut basah dan besi tua yang berkarat. Di bawah bayang-bayang lengkungan batu Ponte Scaligero, sebuah sosok berdiri dalam diam, seolah-olah menjadi bagian dari arsitektur abad pertengahan yang dingin itu.
Elena Moretti menarik napas panjang, membiarkan udara musim gugur yang tajam menusuk paru-parunya. Jemarinya yang terbungkus sarung tangan kulit hitam meremas tali koper kecil yang dibawanya. Sepuluh tahun adalah waktu yang lama untuk melupakan, namun aroma kota ini—perpaduan antara wangi roti panggang dari kedai tersembunyi dan debu sejarah—langsung membangkitkan memori yang seharusnya terkubur dalam-dalam.
Mata Elena menyapu sekeliling. Piazza Bra di kejauhan masih nampak gemerlap dengan lampu-lampu kafe yang kuning keemasan, namun di tempatnya berdiri sekarang, hanya ada kegelapan yang menekan. Suara gemericik air sungai terdengar seperti bisikan ribuan orang mati yang menuntut penjelasan.
"Kau terlambat, Elena."
Suara itu rendah, berat, dan memiliki getaran yang membuat jantung Elena seolah berhenti berdetak sesaat. Tanpa perlu menoleh, sang wanita tahu siapa pemilik suara itu. Gema langkah kaki yang berat namun teratur terdengar mendekat. Sepatu kulit buatan tangan itu menghantam batu jalanan dengan irama yang dominan, sebuah deklarasi kekuasaan yang tak terucapkan.
Matteo Valenti keluar dari balik pilar batu yang gelap. Cahaya rembulan yang pucat jatuh tepat di wajah pria itu, mempertegas garis rahang yang keras dan sepasang mata kelam yang tak menyisakan ruang untuk belas kasihan. Matteo mengenakan mantel panjang berwarna abu-abu arang yang berkibar ditiup angin, membuatnya tampak seperti predator yang baru saja keluar dari sarangnya.
"Sepuluh tahun tidak mengubah kebiasaan burukmu untuk selalu mengawasi orang dari balik bayangan, Matteo," balas Elena, suaranya tetap tenang meski di dalam dadanya ada badai yang sedang mengamuk.
Pria itu berhenti hanya dua langkah di depan Elena. Jarak yang terlalu dekat untuk dua orang yang seharusnya saling membunuh. Aroma kayu cendana yang mahal dan sisa tembakau dari pakaian Matteo langsung menginvasi indra penciuman Elena, memicu memori tentang masa kecil yang hancur dalam sekejap.
"Verona adalah rumahku. Di rumah sendiri, seseorang tidak mengawasi, melainkan memastikan tidak ada hama yang masuk tanpa izin," sahut Matteo dingin. Senyum tipis yang meremehkan muncul di bibirnya. Tatapan pria itu turun ke arah koper kecil yang dipegang Elena. "Hanya itu yang kau bawa untuk membayar hutang darah keluargamu?"
Elena mendongak, menantang tatapan intimidatif tersebut. "Aku tidak membawa uang, dan kau tahu itu. Aku membawa apa yang tidak bisa dibeli oleh seluruh emas keluarga Valenti: Kebenaran tentang malam di sungai ini."
Tawa Matteo terdengar singkat dan hambar, tanpa sedikit pun rasa humor. "Kebenaran adalah kemewahan yang tidak bisa dinikmati oleh orang mati, Elena. Ayahmu mati sebagai pengkhianat, dan kau kembali ke sini hanya untuk menyerahkan lehermu ke tiang gantungan yang sama."
Tangan Matteo bergerak cepat, nyaris tak tertangkap mata. Jemarinya yang kuat mencengkeram dagu Elena, memaksanya untuk terus menatap mata kelam itu. Cengkeraman itu tidak menyakitkan, namun penuh dengan penekanan yang mutlak. Elena bisa merasakan panas dari kulit Matteo merambat ke wajahnya, menciptakan sensasi aneh yang seharusnya tidak ia rasakan terhadap musuh bebuyutannya.
Di kejauhan, lampu-lampu mobil patroli melintas di jembatan utama, sirinenya meraung pelan sebelum menghilang di balik tikungan. Di tempat yang tersembunyi ini, hanya ada mereka berdua dan gema masa lalu yang kian keras berteriak.
"Lepaskan aku," desis Elena, tangannya mencoba menyentak tangan Matteo, namun sang pria justru semakin mempererat kunciannya.
"Kau akan ikut denganku ke Palazzo," perintah Matteo, suaranya kini tidak lagi sekadar bicara, melainkan sebuah titah yang tidak bisa dibantah. "Bukan sebagai tamu, tapi sebagai tawanan sampai aku menemukan apa yang kau sembunyikan di balik mata cantikmu itu."
Luca, tangan kanan Matteo yang sejak tadi berdiri dalam kegelapan beberapa meter di belakang mereka, berdehem pelan. Sosok Luca yang tinggi besar dengan setelan jas rapi nampak seperti robot yang tidak memiliki emosi.
"Kendaraan sudah siap di ujung jalan, Tuan," lapor Luca singkat.
Matteo akhirnya melepaskan dagu Elena, namun matanya tetap mengunci wanita itu. Pria itu memberi isyarat dengan kepalanya agar Luca mengambil alih koper milik Elena. "Verona sudah berubah, Elena. Langit yang dulu kau kagumi kini dipenuhi oleh mata-mataku. Jangan coba-coba lari, atau kau akan menemukan dirimu berakhir di dasar Adige sebelum fajar menyingsing."
Elena terdiam, menatap punggung lebar Matteo yang mulai menjauh menuju mobil hitam yang menunggu di kegelapan. Wanita itu tahu, melangkah masuk ke dalam mobil itu berarti menyerahkan kebebasannya. Namun, lari bukanlah pilihan. Gema di langit Verona telah memanggilnya pulang, dan ia tidak akan pergi sebelum semua api dendam ini padam—atau membakarnya hingga menjadi abu.
Dengan langkah yang berat namun pasti, sang pewaris keluarga Moretti mengikuti sang penguasa Verona masuk ke dalam mulut singa. Di atas sana, bulan mulai tertutup awan hitam, seolah-olah alam semesta pun enggan menyaksikan apa yang akan terjadi selanjutnya di kota penuh kutukan ini.
Mobil hitam itu melaju membelah keheningan jalanan berbatu Verona. Di dalam kabin yang kedap suara, atmosfer terasa begitu menyesakkan, lebih berat daripada kabut yang menyelimuti Sungai Adige di luar sana. Elena duduk di kursi belakang, menjaga jarak sejauh mungkin dari Matteo yang duduk di sisi lain. Aroma interior mobil yang merupakan campuran antara kulit asli berkualitas tinggi dan parfum maskulin yang tajam seolah merantai indra penciuman Elena, mengingatkannya bahwa ia kini berada di wilayah kekuasaan pria itu.
Matteo tidak menoleh sedikit pun. Pria itu menyandarkan punggungnya dengan santai, satu tangannya mengetuk-ngetuk lutut dengan irama yang konstan dan mengintimidasi. Tatapannya lurus ke depan, memperhatikan jalanan melalui kaca depan, namun Elena bisa merasakan bahwa setiap gerak-geriknya sedang dipantau melalui pantulan kaca jendela.
"Kau melihat keluar seolah-olah mengharapkan seseorang akan datang menyelamatkanmu," suara Matteo memecah kesunyian, dingin dan tajam seperti mata pisau. "Biar kuberi tahu satu hal, Elena. Di kota ini, bahkan polisi pun menoleh ke arah lain saat mobilku lewat. Tidak ada pahlawan di Verona. Yang ada hanyalah mereka yang bertahan hidup dan mereka yang menjadi sejarah."
Elena mengepalkan tangannya di atas pangkuan, kuku-kukunya menekan telapak tangan untuk mengalihkan rasa takut menjadi amarah. "Aku tidak mencari pahlawan, Matteo. Aku kembali karena aku tidak bisa membiarkan namaku terus dikaitkan dengan dosa yang tidak pernah dilakukan keluargaku. Kau menyebut ayahku pengkhianat, tapi kau sendiri tahu siapa yang paling diuntungkan dari kematiannya. Lihatlah dirimu sekarang, duduk di atas takhta yang dibangun dari abu rumahku."
Mobil itu tiba-tiba mengerem sedikit lebih keras saat berbelok memasuki gerbang besi raksasa yang dihiasi lambang keluarga Valenti—dua singa yang saling mencabik. Palazzo Valenti berdiri dengan megah, sebuah monumen batu yang telah bertahan selama ratusan tahun, namun bagi Elena, bangunan itu tampak seperti peti mati raksasa yang dihiasi lampu-lampu kristal.
Luca turun lebih dulu, membukakan pintu untuk Matteo dengan kepatuhan yang mekanis. Matteo keluar, lalu berdiri di samping pintu, menunggu Elena dengan sabar yang memuakkan. Saat Elena melangkah keluar, angin malam kembali menyapu wajahnya, membawa hawa dingin dari dinding-dinding batu Palazzo yang lembap.
"Selamat datang kembali di neraka yang kau rindukan," bisik Matteo saat mereka melangkah menaiki tangga marmer menuju pintu utama.
Di dalam, kemewahan Palazzo itu sungguh menyilaukan. Lantai mosaik yang menggambarkan pertempuran-pertempuran kuno, lukisan minyak berukuran raksasa di dinding, dan pelayan-pelayan yang berdiri kaku dalam seragam mereka. Namun, perhatian Elena tertuju pada sosok wanita yang berdiri di puncak tangga melingkar.
Isabella Valenti. Ibu Matteo.
Wanita itu mengenakan gaun sutra hitam panjang, rambutnya yang mulai memutih disanggul dengan rapi dan kencang. Wajahnya adalah topeng porselen yang sempurna, namun matanya memancarkan kebencian murni saat melihat Elena.
"Matteo, untuk apa kau membawa kotoran ini masuk ke dalam rumah kita?" suara Isabella menggema di aula utama yang luas, menciptakan pantulan suara yang dingin.
"Dia bukan kotoran, Ibu," sahut Matteo tanpa menghentikan langkahnya, menuntun Elena melewati aula seolah-olah sedang memamerkan barang rampasan perang. "Dia adalah kunci untuk menemukan apa yang dicuri keluarga Moretti dari kita sepuluh tahun lalu. Dia akan tinggal di sini, di bawah pengawasanku secara langsung."
Elena merasa harga dirinya tercabik-cabik diperbincangkan seperti itu di depan para pelayan. Ia berhenti melangkah, menyentak lengannya dari jangkauan Matteo. "Aku bukan tawananmu yang bisa kau pamerkan kepada ibumu! Jika kau menginginkan informasi itu, kau harus memperlakukanku dengan hormat."
Matteo berbalik perlahan. Aura di sekitarnya berubah menjadi sangat gelap. Ia melangkah mendekat hingga Elena terdesak ke sebuah pilar marmer yang dingin. Pria itu menumpukan satu tangannya di pilar, mengunci pergerakan Elena.
"Hormat adalah sesuatu yang kau dapatkan, bukan kau minta," bisik Matteo, suaranya kini begitu rendah hingga hanya Elena yang bisa mendengarnya. "Di rumah ini, kau hanyalah bayangan. Kau akan makan saat kusuruh, bicara saat kutanya, dan bernapas hanya karena aku mengizinkannya. Jangan pernah lupa bahwa satu kata dariku bisa membuatmu lenyap dari muka bumi ini tanpa ada satu orang pun yang berani bertanya ke mana perginya Elena Moretti."
Isabella memperhatikan interaksi itu dari atas dengan senyum tipis yang licik. Ia tahu putranya memiliki obsesi yang berbahaya, dan ia berencana menggunakan obsesi itu untuk menghancurkan Elena sekali dan untuk selamanya.
"Luca, bawa dia ke kamar di sayap utara," perintah Matteo tanpa melepaskan pandangannya dari mata Elena. "Kunci pintunya dari luar. Aku tidak ingin ada 'gema' yang mencoba melarikan diri malam ini."
Luca mengangguk dan memberi isyarat agar Elena mengikutinya. Elena menatap Matteo untuk terakhir kalinya malam itu—sebuah tatapan yang menjanjikan perlawanan, bukan kepasrahan. Saat ia berjalan menyusuri lorong panjang menuju sayap utara, ia memperhatikan setiap detail Palazzo: posisi kamera pengawas, jumlah penjaga di setiap pintu, dan jendela-jendela tinggi yang terkunci rapat.
Verona mungkin adalah sangkarnya sekarang, tapi Elena bukan lagi gadis kecil yang melarikan diri sambil menangis sepuluh tahun lalu. Jika ia harus menjadi bagian dari bayang-bayang kota ini, maka ia akan menjadi bayangan yang paling mematikan.