Menerima laki-laki yang di kenalkan oleh sosok yang bernama Ayah itu seperti membuka pintu derita bagi Maura. Apakah Maura menderita karena perlakuan sang laki-laki atau perasaan bersalah pada keluarganya....
Yuk lanjut episode baru cerita aku....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Meitania, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Persiapan
Semenjak malam lamaran itu Lala di buat sibuk menyiapkan segala macam perintilan pernikahannya walaupun hanya acara intimate saja namun Keluarga Priawan ingin yang terbaik. Dan Lala selalu di libatkan oleh calon mertuanya untuk memilih apa saja yang di mau Lala. Ada sedikit perasaan aneh mengapa Saka tak di libatkan juga namun Lala selalu berfikir positif bahwa Aska tenaga sibuk di perusahaan milik keluarga Priawan.
Walaupun acara akan di adakan di hotel milik keluarga Priawan namun semuanya begitu tertutup. Bahkan jika di lihat hotel tersebut tidak menampakkan akan menggelar hajat besar. Aska benar-benar tidak menginginkan adanya sorot kamera lain.
Hingga persiapan pernikahannya hampir usai Lala dan Aska hanya dua kali saja bertemu. Pertama saat akan fitting baju pengantin mereka dan yang ke dua pas acara makan malam yang di adakan keluarga priawan. Selebihnya tidak ada komunikasi apapun di antara mereka. Bahkan satu sama lain tak ada yang memiliki no ponsel masing-masing.
Besok lusa acara pernikahan Lala akan di gelar. Namun tak ada acara apapun di rumah. Hanya akan ada pengajian sederhana yang di adakan keluarga itu pun dengan perdebatan yang lumayan dengan pihak Aska. Lala merasa banyak keanehan yang terjadi dalam persiapan pernikahannya. Namun, lagi-lagi Lala terus mencoba positif thinking saja.
"Kak, lu yakin kan nikah besok? Lu ga mau batalin aja Kak?" Tanya Lida yang semakin mendekati hari H semakin khawatir.
"Do'akan yang terbaik ya De." Lala.
Lida memeluk erat Lala. Malam ini Lida akan tidur bersama Lala hingga usai pesta nanti. Mereka berdua memang begitu dekat. Tak satu pun Lida menyimpan rahasia pada Lala. Begitupun Lala pada Lida. Bahkan sang Ibu yang selalu menjadi pusat mereka berdua.
Namun, entah mengapa Lida selalu merasa ada yang salah dari pernikahan Lala. Tak ingin membuat Lala bersedih Lida pun selalu mensugesti dirinya jika apa yang du rasakannya hanyalah perasaan seorang adik yang takut di tinggalkan oleh Kakaknya.
Lida pun mendengar jika Lala akan di ajak honeymoon ke laur negeri oleh calon kakak iparnya. Sedikit terselip rasa bahagia karena Lala benar-benar akan di ratukan oleh suaminya nanti terbukti dengan akan di bawanya Lala ke negara yang terkenal dengan keromantisannya.
"Lida,,, kenapa kamu nempel Kakak kamu terus dari tadi?" Tanya Hana yang heran kepada keponakannya.
"Kan nanti Kakak di bawa suami nya Tan. Lida sendirian deh." Keluh Lida.
"Kamu masih bisa main ke tempat Lala loh Da. Kan mereka masih tinggal di kota yang sama dengan kita." Hana.
"Beda dong Tan. Nanti kan ada Kakak ipar. Masa Lida nempelin Kakak." Lida.
"Masih ada Ibu loh Dek." Protes Bu Tias.
"Nah, denger tuh. Yas juga ada loh." Ucap Hana menawarkan putri bungsunya yang usianya hanya terpaut beberapa bulan saja dengan Lida.
"Yaaah,,, Yas mah di kekepin Bang Ilyas terus." Protes Lida.
"Gw Kakak nya ya asal lu tau." Ilyas.
"Wleee..."
"Apa sih kok malah jadi berantem." Lerai Lala.
Ilyas lelaki satu-satunya dari persepupuan mereka. Ilyas memilih berkarir di polri seperti kakeknya dari sang Ayah. Sementara Ayah Ilyas berprofesi sebagai dokter. Hana yang semula bekerja di bank pun memilih resign dan mendampingi suami saja seperti Ibu Tias.
"Kak,, deg-degan ngga sih?"
Lanjut lagi ....