Michelle Valen seorang seniman muda terkenal yang meninggal karena penghianatan sahabat dan tunangannya, ia berpindah jiwa kedalam tubuh Anita Lewis.
Diberikan kesempatan hidup kedua ditubuh orang lain, ia memulai pembalasan dendam dan merebut kembali identitas dirinya yang telah direbut oleh mereka.
Pernikahan dadakan dengan Dion Leach sang CEO gila yang terkena racun aneh, menjadikannya batu loncatan demi bertahan hidup, keduanya sama-sama saling memanfaatkan dan menguntungkan.
Mau tau kelanjutan dan keseruan ceritanya?
Silahkan mampir guys....
Happy reading, semoga cukup menghibur...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratu Darah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
Morning Kiss
Mata Anita Lewis tampak berbinar ketika ia tersenyum lembut dan berkata, “Hehe, syukurlah kalau enak. Makanlah lagi.”
Dion Leach mengangguk pelan, meletakkan telur goreng yang baru saja digigitnya, lalu mulai menikmati semangkuk mie yang masih mengepulkan aroma harum. Namun begitu mie itu menyentuh lidahnya, ia langsung merasakan sesuatu yang aneh seperti sebagian terlalu matang, sebagian lagi masih setengah mentah, dan rasa asamnya begitu tajam hingga tubuhnya refleks menggigil.
Anita memiringkan kepala, menatapnya penuh rasa ingin tahu. “Kenapa? Ada yang salah?”
Dengan wajah datar penuh perjuangan, Dion menelan mi itu dengan susah payah lalu menjawab tenang, “Tidak apa-apa. Hanya saja... terlalu enak sampai aku hampir menggigit lidahku sendiri.”
Anita tampak senang mendengarnya. “Kalau begitu, makanlah lagi yang banyak,” katanya polos, tanpa curiga sedikit pun.
Dion hanya bisa menatap semangkuk mie itu dengan bingung. Mengapa tampilannya begitu menggugah, tapi rasanya seperti bencana kuliner? Ia kemudian bertanya dengan nada hati-hati, “Anita, apa kau... pernah memasak sebelumnya?”
Anita terdiam sejenak, tampak berpikir, lalu menggeleng pelan. “Tidak.”
Sebenarnya, ia memang pernah mencoba memasak sekali di masa lalu ketika masih menjadi Michelle Valen namun itu hanya satu kali, dan hasilnya juga tak lebih baik dari malam ini. Jadi, secara teknis, malam ini adalah pertama kalinya ia benar-benar memasak sebagai Anita Lewis.
Anehnya, mendengar pengakuan itu justru membuat suasana hati Dion membaik. Entah mengapa, perasaan hangat menyelimuti dirinya. Ini adalah masakan pertamanya dan ia, bukan Joshua Hodges ataupun siapa pun, yang mendapat kehormatan mencicipinya.
Maka dengan tekad bulat, Dion kembali menyantap mie itu dengan tenang, seolah tidak ada yang salah. Warna kuahnya yang buram dan rasa asam yang menusuk hanya bisa ia terima dengan senyum pahit. Setiap suapan membuatnya mempertanyakan keputusan hidupnya. Namun di hadapan Anita, ia tidak menunjukkan sedikit pun penyesalan.
Setelah meneguk suapan terakhir dari sup mie yang menantang iman itu, Dion akhirnya menatap istrinya dan berkata lembut tapi tegas, “Mulai sekarang, jangan masak lagi.”
Anita menatapnya dengan bingung. “Hmm.......?”
Menahan rasa getir yang masih tertinggal di lidahnya, Dion mengatur napas dan berbicara dengan serius, “Mulai hari ini, aku yang akan memasak untukmu seumur hidupku.”
Kata-kata itu begitu tulus dan hangat hingga pipi Anita merona. Ia memalingkan wajah, pura-pura sibuk dengan sendoknya, meski sebenarnya jantungnya berdebar lebih cepat dari biasanya.
Setelah makan, Dion dengan tenang membawa piring-piring kotor ke dapur. Ia melihat panci di atas kompor yang masih berisi setengah porsi mie yang belum tersentuh. Setelah berpikir sejenak, ia menatap anjing keluarga mereka yang sedang duduk di sudut, dan dengan nada bercanda, berkata, “Nah, kau juga lapar, kan? Ini hadiah dari nyonya rumah.”
Anjing itu tampak senang, ekornya bergoyang cepat. Ia mencium aroma mie itu, menunduk, dan langsung melahapnya. Namun baru satu suapan, matanya mendelik, lidahnya terjulur, dan ia menjatuhkan diri di lantai dengan ekspresi yang nyaris dramatis.
Dion membeku sejenak, menatap pemandangan itu dengan bingung. “Oh tidak…” gumamnya pelan, “bahkan anjing pun menyerah.”
Sementara itu, Anita masih duduk di ruang makan. Ia mendengar suara air mengalir dari dapur—Dion sedang mencuci piring dan di luar, terdengar gonggongan lemah si anjing yang seolah menuntut keadilan.
Namun di tengah keheningan itu, Anita justru tersenyum. Entah kenapa, ia merasa aneh namun damai. Suara langkah Dion di dapur, aroma sabun pencuci piring, dan kehadiran rumah yang hangat itu membuatnya teringat pada sesuatu yang dulu hanya menjadi impian , sebuah kehidupan tenang dan penuh cinta seperti ini.
---
Keesokan paginya, saat sarapan, Tuan Leach tua duduk di meja makan bersama mereka. Ia mengangkat wajahnya sambil menyeruput bubur dan menatap cucunya dengan penasaran. “Dion, kudengar Anita yang memasakkanmu makan malam tadi?”
Gerakan tangan Dion yang sedang memegang sumpit seketika terhenti. Ia melirik ke arah Anita, lalu mengangguk pelan. “Ya, benar.”
Wajah tua itu menyipit, penuh rasa ingin tahu. “Bagaimana rasanya? Enak?”
Dion kembali menatap Anita di seberang meja. Tatapan mata mereka bertemu sesaat. Ia bisa melihat harapan di sana tatapan lembut yang menunggu pujian. Maka, dengan tekad sekeras baja, Dion kembali mengangguk. “Enak sekali, kakek.....”
Senyum puas mengembang di wajah Tuan Leach tua. “Bagus! Kalau begitu, nanti buatkan makanan untuk Kakek juga, ya? Kakek ingin mencicipi masakanmu.”
Anita hampir menjawab ya, tetapi sebelum sempat membuka mulut, Dion langsung memotong cepat, “Tidak!”
Keduanya, Anita dan sang kakek langsung menatapnya heran.
Dion menghela napas, lalu menatap kakeknya dengan ekspresi serius namun lembut. “Kakek, Anita adalah ratuku, bukan juru masak. Jika ingin makan enak, mintalah pada koki.”
Suara Dion begitu tulus hingga Tuan Leach tua hanya bisa tertawa puas. “Hohoho... bagus! Akhirnya kau tahu cara menghargai istrimu.”
Dion tersenyum lega dalam hati. Setidaknya, ia baru saja menyelamatkan lidah kakeknya dari penderitaan yang tak perlu.
---
Setelah sarapan, Dion bersiap untuk pergi ke kantor. Namun sebelum berangkat, ia berdiri di depan Anita sambil membawa dasinya.
Anita mengangkat alis. “Ada apa?”
Tanpa banyak bicara, Dion menyodorkan dasinya padanya, sedikit mengangkat dagu, dan menundukkan kepala, menunggu dengan ekspresi tenang namun penuh makna.
Anita menatapnya beberapa detik, kemudian mendengus pelan. “Huh... kau kekanak-kanakan sekali,” gumamnya sambil tersenyum tipis namun tangannya tetap terulur, dengan gerakan lembut mulai merapikan dasi di leher pria itu.
Dan di antara keheningan pagi yang lembut, Dion hanya bisa menatapnya dengan tatapan yang tidak lagi sekadar kagum tetapi jatuh cinta sepenuhnya.
Dion menatap Anita dengan wajah yang nyaris memohon, meski nada suaranya tetap tenang dan tegas.
“Aku akan terlambat kalau begini terus. Dan Kakek ada di sini, tolong bantu aku pasang dasi.”
Anita melirik sekilas ke arah Kakek Leach, yang langsung pura-pura memalingkan wajah. Namun, dari caranya sedikit memiringkan kepala, jelas lelaki tua itu sedang mengintip diam-diam.
Menarik napas pelan, Anita akhirnya berdiri dan berjinjit untuk mengikat dasi Dion.
Pria itu tinggi, dan meski ia sudah berjinjit, jarak mereka masih belum cukup dekat.
Belum lagi, ini pertama kalinya Anita mencoba memasang dasi, gerakannya tampak canggung, namun penuh kesungguhan.
Dion menunduk, memperhatikan wajah istrinya yang serius.
Aroma lembut dan segar khas tubuh Anita menguar samar, mengingatkannya pada obat herbal yang menenangkan bercampur wangi bunga yang lembut.
Tatapannya lalu turun, menelusuri leher putih halus di bawah kerah baju wanita itu, kulitnya tampak bening dan lembut, memantulkan cahaya pagi dengan indah.
Ia menelan ludah. Tenggorokannya terasa kering.
Tanpa berpikir panjang, Dion melingkarkan satu lengannya di pinggang Anita, menariknya lebih dekat.
Suara beratnya keluar dalam bisikan rendah, “Anita…”
Namun belum sempat ia melanjutkan, dasi di lehernya tiba-tiba dikencangkan kuat-kuat.
“Ugh...... kau… kau mau membunuh suamimu sendiri, hah?” keluhnya dengan wajah memerah.
Anita menatapnya datar, kemudian melonggarkan ikatan dasi itu sedikit dan merapikannya dengan dingin.
“Kalau begitu, belajarlah bersikap baik,” ularnya tenang.
Dion hanya bisa mengusap lehernya, sementara matanya kini terpaku pada bibir Anita yang lembut, merah muda, dan tampak sedikit lembap.
Godaan itu begitu nyata.
“Nyonya Leach,” panggilnya tiba-tiba, dengan nada serius tapi mengandung niat tersembunyi.
Anita mendongak sedikit. “Ya? Apa.......”
Sebelum kalimatnya selesai, bibir Dion sudah menempel di bibirnya.
Ciuman singkat, cepat, tapi cukup membuat Anita kehilangan napas sejenak.
Dion kemudian menarik diri, menatapnya sambil tersenyum tipis.
“Itu tadi ciuman selamat pagi,” katanya ringan sebelum berbalik pergi dengan langkah cepat, jelas ia melarikan diri sebelum istrinya sempat bereaksi.
Anita masih terpaku.
Bibirnya masih hangat, dan rasa Dion masih tertinggal di sana.
Ia menggigit pelan bibir bawahnya, antara kesal dan gugup.
Pria ini semakin berani saja.
Ketika menoleh ke ruang makan, matanya bertemu dengan Kakek Leach yang sedang menutupi matanya menggunakan tangan… tapi jari-jarinya terbuka sedikit, memberi ruang bagi sepasang mata tua itu untuk mengintip.
Begitu tatapan mereka beradu, sang kakek buru-buru menghadap ke arah lain sambil berkata,
“Philip, aku… terlalu tua untuk melihat dengan jelas.”
Anita menahan diri untuk tidak menghela napas. Wajahnya mulai bersemu merah.
Baru saja ia hendak naik ke atas, ponselnya berdering.
Nama yang tertera di layar: Nenek.
Nada itu membuatnya diam sejenak.
Dalam ingatan Anita, sang nenek adalah satu-satunya sosok di keluarga Lewis yang benar-benar menyayanginya tanpa pamrih.
Wanita tua itu selalu melindunginya dari kemarahan keluarga, meskipun sering kecewa oleh kebodohan cucunya sendiri.
Namun setelah berbagai masalah yang terjadi, neneknya kini memilih tinggal di rumah lama, jauh dari hiruk-pikuk.
Anita menekan tombol jawab dan berkata lembut,
“Hallo, Nenek, ada apa?”
Suara di seberang terdengar serak tapi lembut.
“Anita, datanglah ke rumah sakit. Ayahmu dirawat, dan Nenek ingin kau datang untuk membantu mengurus beberapa hal.”
“Baik, Nek,” jawab Anita pelan, menutup telepon setelahnya.
Ia menatap Kakek Leach, menjelaskan panggilan itu dengan singkat, lalu segera bersiap.
Beberapa menit kemudian, Anita sudah berangkat ke rumah sakit, membawa sekeranjang buah tangan.
---
Rumah Sakit – Bangsal Ortopedi
Saat tiba, suasana di bangsal terasa hening dan berat.
Nenek duduk di sisi ranjang rumah sakit, menunduk sambil menyeka air mata.
Udara di ruangan itu dipenuhi kesedihan dan kecanggungan.
Orang pertama yang menyadari kedatangan Anita adalah Selene.
Ia menatap Anita dengan senyum lembut namun penuh makna.
“Nenek sedang tidak enak badan,” ucapnya halus. “Tolong jangan membuat beliau sedih lagi, ya.”
Anita menatap Selene dengan pandangan datar, lalu mengalihkan matanya ke sekeliling ruangan.
Di sana ada Suzanne, Gerry , dan seorang pria berjas rapi yang memegang tas kerja hitam.
Wajahnya tidak dikenalnya.
Kening Anita sedikit berkerut.
Siapa pria itu? pikirnya dalam hati.
Suasana di ruangan itu terasa tegang.
Anita bisa merasakan, akan ada sesuatu yang penting dan mungkin tidak menyenangkan, yang sebentar lagi akan terungkap.
---
Bersambung......