"Maaf Nan, gue enggak bisa."
Devi Zaruna menggeleng dengan pelan yang berhasil membuat Agnan Frendo kehilangan kata-kata yang dari tadi sudah dia siapkan.
Keheningan menyelimuti kedua insan yang saling mencintai itu, ini bukan permasalahan cinta beda agama atau cinta yang tidak direstui.
"Bukankah cinta tidak harus memiliki?"
Devi Zaruna, wanita cantik pekerja keras dengan rahang tegas serta tatapan tajam layaknya wanita pertama dengan beban di pundak yang harus dia pikul. Jatuh cinta merupakan kebahagiaan untuknya tetapi apa yang terjadi jika dia harus berkoban untuk cintanya itu demi ibunya?
"Kebahagiaan ibu paling penting."
Devi dan Agnan sudah menjalin hubungan selama tiga tahun tetapi hubungan itu harus kandas ketika ibunya juga menjalin hubungan dengan ayah Agnan.
Bagaimana kelanjutan kisah cinta Devi serta hubungannya dengan Agnan? apakah ibu Devi akan menikah dengan ayah Agnan atau malah Devi yang menikah dengan Agnan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lujuu Banget, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Apartemen Agnan
Devi meminta mereka untuk melanjutkan karaoke dan tidak usah mempedulikan dirinya, Yaya kembali asik bernyanyi bahkan sengaja memberi kode agar Aldi dan Nanda tidak mempedulikan Devi.
Walau masih suka melirik Devi dan Agnan, dua orang itu tetap asik bernyanyi dengan Agnan yang menangis di pundak Devi, kepala pria itu sengaja dia jatuhkan ke atas pundak wanita itu sehingga Devi hanya bisa mengelus rambut Agnan dengan lembut.
"Kenapa?" tanya Devi dengan lembut.
"Gue capek," adu Agnan masih dengan air mata yang mengalir.
Tidak ada ucapan lagi, Devi masih mengelus rambut Agnan dengan suara karaoke dan kebisingan empat orang itu, Devi dan Agnan seakan mempunyai dunia mereka sendiri sehingga tidak mempedulikan keributan tersebut.
Setengah jam berlalu begitu saja, Yaya bahkan menyerah untuk bernyanyi dan sekarang tengah asik bersandar di bahu Herry karena penyanyi diambil alih oleh Nanda walau beberapa menit kemudian pria itu juga tidak sanggup dan mengangkat tangan sebagai tanda sudah menyerah.
Tidak ada yang bernyanyi lagi, Devi sendiri menatap Agnan yang sudah mengangkat kepalanya. Tangan wanita itu bergerak menghapus air mata Agnan, dia tau pasti terjadi sesuatu yang berat dan sangat menguras energi sehingga Agnan menangis seperti ini.
Agnan menangis hanya beberapa kali selama mereka berpacaran, biasanya pria itu selalu bersikap dewasa tetapi siapa sangka pria dewasa itu juga membutuhkan bahu untuk bersandar.
"Udah makan?" tanya Devi yang dibalas gelengan oleh Agnan.
"Mau makan di sini?"
Agnan kembali menggeleng membuat Devi menghela napas waktu sudah menunjuk tengah malam dan beberapa restoran mungkin sudah tutup apalagi dia besok harus kembali bekerja.
"Terus mau ke mana?"
"Pulang," lirih Agnan sambil menggenggam jemari Devi seperti anak kecil.
Devi mengganguk, wanita itu berpamitan kepada keempat orang yang sedang ngobrol santai. Sebenarnya Nanda dan Aldi ingin bertanya tetapi dengan cepat diberikan isyarat untuk tidak usah bertanya, setelah berpamitan Devi melangkah keluar bersama Agnan.
"Devi dan Agnan seriusan saudara tiri? Mereka kayak bukan saudara tiri tetapi sepasang kekasih. Dekat banget," ucap Nanda setelah kepergian Devi.
Yaya menghela napas, dia menatap Herry lalu kembali menatap Nanda dan Aldi secara bergantian, wajah dua orang itu jelas memberikan isyarat bahwa mereka sangat penasaran.
"Mereka memang saudara tiri, ibu Devi menikah dengan ayah Agnan. Tapi ... Dulu mereka itu memang pacaran, udah mau tunangan tetapi terpaksa dibatalkan karena pernikahan orang tua mereka, makanya hubungan mereka kayak gitu," jelas Yaya membuat Nanda dan Aldi saling menatap seakan tidak menyangka.
"Pantes kayak gitu, kasihan ya," ujar Nanda yang dibalas anggukan oleh Yaya.
"Mereka udah pacaran sejak masa kuliah, sayang banget enggak nikah. Gue aja patah hati pas tau kabar itu."
"Ayo pulang!" ajak Herry tiba-tiba.
Yaya awalnya mau protes tetapi saat Herry mengatakan lagi bahwa mereka masih harus bekerja mau tidak mau Yaya menurut, keempat orang itu berpisah di perkiraan. Aldi pergi bersama Nanda sedangkan Yaya bersama Herry.
Sedangkan Devi, wanita itu turun dari motor Agnan, melangkah bersama Agnan menuju ke apartemen pria itu, Devi sendiri juga baru tau jika Agnan membeli apartemen.
"Lo tinggal di sini?" tanya Devi.
Agnan mengangguk, dia lalu meminta Devi untuk duduk dulu, Devi menurut, dia menatap sayu beberapa foto yang terpajang di sana, foto kenangan mereka berdua.
"Mau mienas?" tawar Agnan.
Awalnya Devi mau menolak karena dia sudah kenyang apalagi sejak tadi siang dia sudah banyak makan tetapi melihat wajah Agnan mau tidak mau akhirnya Devi menurut, menatap Agnan yang sudah mengeluarkan semua bahan-bahan.
Devi tersenyum tipis melihat Agnan yang sudah sibuk memasak, harusnya ini dia lihat di masa depan, ketika mereka menikah lalu Agnan memasak ... Sudahlah, itu hal yang mustahil.
Kurang dari satu jam, mienas masakan Agnan sudah tersedia di atas meja membuat Devi tersenyum lebar, dia mencicipi masakan Agnan lalu mengacungi jempol.
"Sejak dulu memang enak," ucap Devi karena beberapa kali Agnan sempat memasak untuknya, baik itu nasi goreng atau mie goreng bahkan kadang Agnan malah memasak makanan laut untuknya.
"Ayo makan, yang banyak!" Agnan mengacak rambut Devi dengan gemas lalu ikut makan di samping Devi.
"Ada masalah?" tanya Devi seraya menatap Agnan yang sejenak terdiam lalu menggeleng.
"Cuma capek aja memikirkan hidup, apalagi hidup tanpamu."
Devi memutar bola matanya dengan malas, Agnan jika tidak mau menceritakan masalahnya pasti selalu mengajak bercanda seperti itu sehingga kadang Devi kesal, di saat dia serius Agnan malah bercanda.
"Serius, kenapa? Emosi terus nangis."
"Entah, gue takut Lo suka sama orang lain terus nikah sama dia."
Devi tidak berkomentar apa-apa lagi, dia menghabiskan mienas di piring lalu meletakan piring ke wastafel.
"Antar gue pulang," ucap Devi setelah Agnan selesai makan, jam sudah menunjuk angka setengah satu.
"Tidur di sini aja," ujar Agnan membuat Devi membalasnya dengan pelolotan, yang benar saja dia tidur di sini.
"Enggak bakal terjadi apa-apa, percaya sama gue," lanjut Agnan.
Devi jelas sekali sangat bimbang dengan ucapan Agnan barusan walau akhirnya dia mengangguk. Untuk pertama kalinya dia tidur bersama Agnan, hanya berdua seperti ini. Dulu mereka pernah tidur bersama tetapi dengan teman-teman yang lain tidak seperti ini.
"Di atas kasur aja, gue nanti tidur di sini," ujar Agnan yang dibalas anggukan oleh Devi, wanita itu juga sudah sangat lelah sehingga dia tidak memiliki tenaga untuk berdebat dengan Agnan.
Devi dengan cepat menutup mata, meninggalkan Agnan yang asik bermain ponsel sampai akhirnya Devi terbawa ke alam mimpi.
Agnan meletakan ponsel di atas meja, dia melangkah mendekati Devi seraya menatap wanita itu, tangan Agnan bergerak menyentuh pipi lalu mengelus rambut wanita itu.
"Vi, gue sayang sama Lo."
"Gue enggak bisa bayangin gue nikah sama orang lain," lirih Agnan dengan pelan sembari mengecup kening wanita yang dia sayang itu.
"Semoga benar ada akhir bahagia untuk kita berdua."
...***...