Di mata orang banyak, Arini dan Adrian adalah sepasang potret yang sempurna dalam bingkai emas. Adrian dengan wibawanya, dan Arini dengan keanggunan yang tak pernah luntur oleh waktu. Namun, rumah mereka sesungguhnya dibangun di atas tanah yang mulai bergetar.
Kehadiran sebuah surat usang yang tiba-tiba, perlahan mengikis cat indah yang membungkus rahasia masa lalu. Arini mulai sadar bahwa selama ini ia tidak sedang memeluk seorang suami, melainkan sebuah rencana besar yang disembunyikan di balik senyum yang paling manis.
Baginya, air mata adalah sia-sia. Di balik keanggunannya yang tetap terjaga, Arini mulai menggeser bidak-bidak catur dengan jemari yang tenang. Kini, ia bukan lagi seorang istri yang dikhianati, melainkan sutradara dari akhir kisah suaminya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dya Veel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Makam
Mobil hitam yang membawa Arini dan Vino melambat saat memasuki kawasan Oud-Zuid, salah satu perumahan elit di Amsterdam yang dikenal dengan deretan bangunan bata merah bergaya klasik dan jalanan yang tenang.
Pohon-pohon elm yang berjejer rapi di sepanjang kanal memberikan nuansa sejuk saat mobil akhirnya berhenti tepat di depan sebuah rumah bergaya herenhuis yang elegan.
Begitu pintu mobil terbuka, aroma udara Amsterdam yang dingin dan segar langsung menyambut Arini. Namun, rasa dingin itu segera sirna ketika pintu utama rumah terbuka lebar. Seorang wanita paruh baya dengan senyum hangat melangkah keluar dengan tergesa.
"Non Arini!" seru Bibi Aliyah.
Arini langsung menghambur ke pelukan kepala ART di kediaman tersebut. Keduanya berpelukan erat, melepaskan rindu yang telah tertahan lama.
"Bibi apa kabar? Arini kangen sekali," bisik Arini tulus.
Sambil masih merangkul bahu Arini, Bibi Aliyah tersenyum. "Bibi pasti baik dong, non!"
Meski wanita itu sudah setengah parubaya, namun sorot mata dan senyumnya masih sama seperti dulu.
Sementara itu, Vino masih sibuk di belakang mobil. Ia menurunkan koper-koper besar milik Arini satu per satu, memastikan tidak ada barang yang tertinggal dengan cekatan.
Bibi Aliyah kemudian menuntun Arini menuju dapur yang cukup luas tergabung dengan ruang makan dengan nuansa vintage, namun terasa sangat homey. Masih sama seperti dulu, tak banyak yang berubah.
Begitu melangkah masuk, mata Arini langsung berbinar melihat pemandangan di atas meja kayu besar.
Berbagai hidangan sudah tersaji dengan rapi, namun satu piring yang paling mencolok perhatiannya, tumpukan Stroopwafel yang masih segar.
"Bibi masih ingat kesukaan Arini?" tanya Arini dengan wajah ceria.
"Tentu saja, Non. Semuanya Bibi siapkan khusus untuk menyambut kedatangan Non Arini," jawab Bibi Aliyah sambil menarikkan kursi untuk Arini.
Arini duduk di sana sendirian, sementara Bibi Aliyah berdiri di dekat meja dan Vino baru saja masuk membawa tas terakhir.
Secara normal, sebagai majikan, Arini memang seharusnya makan sendiri sementara para staf melayaninya. Namun, Arini merasa suasana itu terlalu kaku.
"Bi, Vino... sini duduk. Kita makan bareng-bareng," ajak Arini sambil menepuk kursi di sisi kiri dan kanannya.
Bibi Aliyah dan Vino saling berpandangan sejenak, tampak segan. "Waduh, jangan Non, bibi di dapur saja nanti," tolak Bibi Aliyah halus.
Vino pun hanya terdiam, merasa tidak enak hati melangkahi batasan profesional mereka.
"Ayo, ini perintah majikan, lho," goda Arini sambil tertawa kecil namun matanya menunjukkan kesungguhan.
"Aku tidak mau makan sendirian di meja sebesar ini setelah perjalanan jauh."
Melihat ketulusan Arini, rasa sungkan mereka akhirnya luluh. Bibi Aliyah dan Vino pun menarik kursi dan duduk bersama.
Suasana di ruang makan itu perlahan mencair. Denting sendok yang beradu dengan piring porselen berpadu harmonis dengan tawa kecil Arini. Ia baru saja menggigit stroopwafel yang karamelnya masih terasa lumer, mengingatkannya pada masa kecil di rumah ini.
"Bi, rasa masakan Bibi tidak pernah berubah. Padahal di Jakarta banyak yang jual, tapi tidak ada yang rasanya persis seperti ini," puji Arini tulus.
Bibi Aliyah tersenyum lebar, wajahnya yang mulai dihiasi kerutan halus tampak berseri-seri. "Itu karena Bibi buatnya pakai bumbu rindu, Non."
Vino, yang biasanya sangat kaku dan formal, akhirnya ikut tersenyum tipis sambil menyesap teh hangatnya.
"Iya, Non. Bibi hampir setiap hari menanyakan jadwal keberangkatan Anda ke Amsterdam."
Mereka pun berbincang tentang banyak hal, tentang perubahan cuaca di Amsterdam yang mulai memasuki musim dingin, hingga cerita-cerita kecil tentang tanaman di taman belakang yang dirawat Bibi Aliyah.
Kehangatan itu membuat Arini sejenak lupa akan rasa lelahnya setelah terbang belasan jam melintasi benua.
Melihat mata Arini yang mulai tampak sayu karena jet lag, Bibi Aliyah menyentuh punggung tangan Arini dengan lembut.
"Non, sebaiknya Non Arini istirahat dulu di atas. Kamarnya sudah Bibi rapikan, penghangat ruangannya juga sudah dinyalakan. Perjalanan Jakarta-Amsterdam itu jauh sekali, Non," saran Bibi Aliyah penuh perhatian.
Arini terdiam sejenak, menatap sisa teh di cangkirnya. Ia memberikan senyum tipis yang sarat akan kerinduan yang berbeda. "Terima kasih, Bi. Tapi... sebelum istirahat, Arini ingin pergi ke satu tempat dulu. Vino, tolong antar saya ya?"
Vino langsung sigap berdiri. "Tentu, kak. Ke mana?"
"Antar aku bertemu mereka ya?"
...****************...
Mobil yang dikemudikan Vino membelah jalanan kota menuju pinggiran sungai Amstel. Mereka tiba di Zorgvlied salah satu pemakaman indah Amsterdam. Suasana di sana sangat tenang, dikelilingi oleh pepohonan besar yang meranggas dan nisan-nisan tua yang tertata artistik.
Begitu mobil berhenti di dekat gerbang masuk, Arini menatap ke luar jendela.
"Vino, kamu tunggu di sini saja ya. Aku ingin masuk sendiri," ucap Arini lembut saat Vino hendak membukakan pintu untuknya.
"Baik, kak. Saya tunggu di sini. Jika ada apa-apa, silakan hubungi saya," jawab Vino patuh.
Arini turun dari mobil, merapatkan mantel wolnya untuk menghalau angin dingin yang menusuk. Ia melangkah perlahan di atas jalan setapak berkerikil yang berderak setiap kali dipijak. Langkahnya terhenti di sebuah sudut yang asri, di depan sebuah nisan ganda yang terawat sangat bersih.
Di sanalah mereka beristirahat, jauh dari tanah kelahiran, namun menyatu dengan kedamaian Amsterdam. Arini berlutut di depan makam kedua orang tuanya. Ia mengusap permukaan nisan yang dingin itu dengan jemarinya yang gemetar.
"Papa... Mama... Arini pulang," bisiknya lirih.
Ia terdiam sejenak, namun perlahan tangisnya pecah. Air matanya jatuh dengan deras tanpa henti. Arini tak kuasa menahan kesedihannya.
"Papa... Mama... Arini kangen sama kalian,"
"Pah, maaf, Arini ngga bisa nepatin janji Arini dulu,"
"Semuanya hancur, pah,"
"Arini ngga bisa mempertahankan pernikahan Arini... Maaf, pah."
"Arini gagal... "
Ia menangis sejadi-jadinya. Ia mengeluarkan semuanya, dirinya tak bisa menahan semua beban yang ia simpan selama ini.
Angin berhembus pelan, membuat beberapa helai rambutnya berterbangan. Udara dingin menyeruak masuk, namun ia tak mempedulikannya.
Tiba-tiba seseorang menaruh jaket tebal pada punggung Arini. Ia merasakan kehangatan pada tubuhnya. Wanita itu mengangkat wajahnya, ia lalu menoleh.
Seorang yang tampak tak asing kini sudah berdiri disampingnya. Seorang pria dengan rambut pirang, kulitnya putih dan hidungnya mancung, aroma parfumnya khas.
"Sepertinya kamu sekarang banyak berubah ya, Arini." ucap laki-laki itu.
"Ryan?"
Arini terkejut melihat pria itu disampingnya. Ia hendak berdiri namun pria itu menahannya.
Ryan lalu ikut berlutut di samping wanita itu, ia menaruh sebuah buket bunga melati diatas makam itu. Ia lalu beralih menatap Arini
"Kamu kalau mau nangis lanjutin aja, aku ngga bakal ngejek kok," ucap Ryan.