Lahir dari keluarga islami, dituntut untuk selalu taat, memiliki saudara perempuan dan ternyata menjadi bahan perbandingan. Aluna gadis 20 tahun yang baru saja lulus kuliah dan memiliki banyak cita-cita harus menerima takdirnya saat dijodohkan oleh kedua orang tuanya dengan seorang pria yang tidak dia kenal.
Aluna tetap pada keputusannya untuk mengejar karirnya, membuat Aluna harus meninggalkan pernikahannya untuk memenuhi janji kepada seseorang yang telah menunggunya.
Tetapi siapa sangka ternyata Aluna justru mendapatkan penghianatan dengan penuh kebohongan. Aluna harus menerima takdirnya atas kesalahan besar yang telah ia lakukan.
Setelah beberapa tahun meninggalkan pernikahannya. Aluna kembali terjerat dengan pria yang harus dia nikahi beberapa tahun yang lalu.
Bagaimana kelanjutan hubungan Aluna? apakah pria yang harusnya menikah dengannya membencinya dan ingin membalasnya?"
Jangan lupa untuk terus mengikut novel ini.
follow Ig ainunharahap12.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ainuncepenis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 21 Suami Jahil
Aluna melihat kepergian suaminya itu terlebih dahulu memasuki perusahaan, kemudian matanya tertuju pada hansaplast tersebut.
Air mata Aluna kembali jatuh dan langsung dihapusnya ketika mengingat bagaimana perkataan nenek dari suaminya sangat kasar kepadanya.
"Kenapa harus menangis Aluna, kamu memang bersalah dan sepantasnya mendapatkan semua itu. Kamu di sini bukan korban dan berhenti merasa jika kamu adalah korban. Mereka adalah korban yang sebenarnya," ucap Aluna mencoba untuk menenangkan dirinya dan menerima atas apa yang terjadi.
Aluna mengambil Hansaplast tersebut dan kemudian mengambil ponselnya dan menutupi luka tersebut.
"Lumayan perih juga," gumam Aluna merasa sakit pada pipi itu. Bagaimana wajahnya cantiknya harus terluka karena Rami yang sudah lama ingin memberikan pelajaran pada Aluna.
*****
Aluna seperti biasa sudah berada di mejanya dengan memulai pekerjaannya pada umumnya.
"Aluna, kamu sudah menyelesaikan laporan kemarin?" rekan yang berada di segalanya tiba-tiba bertanya kepadanya.
"Oh sudah, kamu coba cek ulang dulu dan siapa tahu ada yang salah," jawab Aluna memberikan dokumen berwarna merah.
"Baiklah," rekannya itu langsung memeriksa dengan membolak-balikkan dokumen tersebut.
"Olivia? Apa kamu sudah lama bekerja di perusahaan ini?" tanya Aluna.
"Baru 4 tahun, memang kenapa?" jawab Olivia.
"4 tahun tetapi masih dibilang baru," sahut Aluna.
"Jelas masih baru dibandingkan orang-orang yang sudah bekerja lebih lama lagi daripada aku," jawab Olivia.
"Pengalaman kamu pasti sudah sangat banyak sekali berada di Perusahaan ini," ucap Aluna.
"Pengalaman seseorang bukan berdasarkan berapa lama dia bekerja di perusahaan, tetapi bagaimana cara dia mendapatkan pengalaman itu," jawab Olivia.
"Pantas saja aura di wajah kamu terlihat positif, ternyata kamu sangat bijak dan kamu juga sangat ramah. Aku masih mengingat orang yang pertama kali mengajakku kenalan di saat aku pertama kali datang ke perusahaan ini," ucap Aluna.
"Kamu berbicara terlalu berlebihan," sahut Olivia dengan geleng-geleng kepala.
Mata Olivia tiba-tiba saja melihat ke ruangan atasan mereka dengan tirai bambu tersebut dibuka.
"Kenapa Pak Ravindra sejak tadi terus saja melihat ke arah kita?" tanya Olivia membuat Aluna juga tertuju pada mata tersebut.
Aluna mengangkat kedua bahunya juga kebingungan dengan ekspresi suaminya.
"Hmmm, kamu mendapatkan pekerjaan dan belum diselesaikan?" tanya Olivia membuat Aluna menjalankan kepala.
"Lalu kenapa matanya sampai seperti itu?" tanya Olivia.
"Aku juga mana tahu," jawab Aluna.
"Aneh sekali," ucap Olivia.
"Hmmmm, membicarakan tentang atasan. Menurut kamu beliau pemimpin yang seperti apa?" tanya Aluna penasaran tentang suaminya itu ketika berada di kantor karena memang Aluna baru saja berada di perusahaan itu.
"Kamu bisa melihat sendiri, pak Ravindra merupakan orang yang sangat serius dalam bekerja, tidak suka melihat karyawan malas-malasan. Jika waktunya kerja maka dipakai untuk bekerja dan jika waktunya istirahat juga untuk istirahat dan bukan untuk bekerja. Meski kelihatan begitu galak tetapi menurutku dia atasan yang sangat bijaksana, tidak suka memakan waktu karyawan dan jika karyawan lembur juga maka akan diberikan dispensasi yang baik. Menurutku bekerja di perusahaan ini setimpal dengan apa yang didapatkan," jelas Olivia
"Lalu apa dia pernah marah kepada kamu?" tanya Aluna.
"Sudah pasti aku sering mendapatkan teguran darinya, namanya juga manusia pasti tidak luput dari kesalahan, tetapi kesempatan yang diberikan beliau cukup baik dan mungkin jika aku melakukan kesalahan yang fatal. Tanpa ada kesempatan aku pasti sudah ditendang dari perusahaan ini," jawab Olivia.
"Begitu," sahut Aluna dengan mengangguk-anggukan kepala.
"Tetapi aku cukup heran dengan orang yang begitu mapan, punya wajah sempurna tetapi pasti jarang sekali memiliki kekasih. Beliau orangnya cukup misterius dan tentang privasi kehidupan pribadinya juga tidak tersorot, semua orang hanya mengenal orang tuanya, tapi tidak tahu apakah beliau sudah memiliki istri atau belum," ucap Olivia.
"Dia sudah memiliki istri," jawab Aluna dengan cepat.
"Dari mana kamu tahu?" tanya Olivia kebingungan.
"Hmmmm, maksudku aku hanya menduga-duga saja. Aku bisa melihat dari wajahnya jika dia tipe laki-laki yang sudah menikah," Aluna dengan cepat mengklarifikasi jawabannya.
"Benarkah!" sahut Olivia antara percaya dan tidak.
****
Tok-tok-tok.
Aluna mengetuk ruangan pintu atasannya
"Masuk!" suara dingin itu terdengar membuat jantung Aluna berdebar dengan kencang bagaimana tidak suaminya itu jika berbicara maka hawa-hawa menakutkan akan sudah mulai merasuki dalam pikirannya.
Aluna menarik nafas panjang dan kemudian membuang perlahan ke depan. Aluna memasuki ruangan tersebut dan melihat Ravindra tanpa membuka dokumen dengan posisi berdiri tepat di dekat dinding kaca yang bisa melihat ke arah luar dan begitu juga karyawan bisa melihat ke arah dalam jika tirai tidak ditutup.
"Apa kau datang ke ruanganku hanya diam begitu saja?" tegur Ravindra tanpa menoleh ke arahnya.
"Tidak!" jawab Aluna kemudian langsung melangkah mendekati Ravindra.
"Ini saya meminta tanda tangan," ucap Aluna sedikit gugup dan memberikan dokumen tersebut kepada atasannya.
Mata Ravidnra langsung melihat dokumen tersebut dan matanya tertuju kepada Aluna.
"Ini!" Aluna menegaskan dokumen tersebut bukan matanya yang dilihat.
Ravindra menarik nafas panjang dan kemudian mengambil dokumen itu dan langsung menandatangani.
Saat sudah selesai Ravindra memberikan kepada Aluna dan Aluna langsung mengambilnya, tetapi Ravindra sungguh begitu jahil mengelakkan dokumen tersebut membuat Aluna mengerutkan dahi tidak mengerti apa maksud suaminya itu.
"Ada apa?" tanya Aluna panik.
Tangan Ravindra tiba-tiba saja memencet salah satu tombol di dekatnya dan semua tirai di ruangan tertutup dan tidak ada lagi yang bisa melihat mereka dari luar. Kepala Aluna berkeliling penuh dengan kebingungan, wajah cantik itu tidak lepas dari kepanikan.
"Apa-apaan ini?" tanyanya dengan gugup.
"Kenapa kamu tiba-tiba menjadi takut seperti itu? Apa yang kamu pikirkan?" tanya Ravindra menatap dalam-dalam istrinya itu membuat Aluna menggelengkan kepala.
Wanita mana yang tidak meleleh dan gugup ketika tatakan penuh arti yang diperlihatkan kepadanya.
"Aku harus melanjutkan pekerjaanku. Kembalikan dokumennya," ucap Aluna tidak berani menatap Ravindra.
"Bukankah aku adalah atasan di perusahaan ini dan segala sesuatu adalah berdasarkan perintahku," ucap Ravindra.
"Iya aku tahu itu, tetapi aku harus melanjutkan pekerjaanku dan lagi pulang kamu tidak memberikan perintah apapun kepadaku," ucap Aluna.
"Kamu!" Ravindra mengambil satu kata yang terlontar dari mulut istrinya.
"Hey, apa kita seakrab itu, sehingga harus memanggil kamu. Aluna ini adalah kantor dan panggilan itu tidak pantas diucapkan," ucap Ravindra.
"Maksudku. Pak Ravindra, aku harus melanjutkan pekerjaanku jadi tolong berikan dokumen tersebut," ucap Aluna mencoba untuk senang mungkin walau hatinya seperti sedang dipermainkan Ravindra.
"Ini!" Ravindra benar-benar jahil yang tiba-tiba saja menaikkan dokumen tersebut di ujung tangannya.
"Ambilah!" ucap Ravindra.
"Apa-apaan ini," sahut Aluna kebingungan.
"Jika kamu menginginkannya maka ambillah," ucap Ravindra membuat Aluna melotot.
Tetapi karena menurutnya dokumen tersebut sangat penting dan dia harus melanjutkan pekerjaan yang membuat Aluna mengambil secara paksa dengan berjinjit.
Ravindra benar-benar mempermainkan istrinya itu dan terus saja mengelakkan dokumen tersebut sampai membuat Aluna berusaha semakin keras.
Sehingga akhirnya tubuh mereka semakin berdekatan dengan jarak wajah yang semakin dekat dengan tatapan mata Ravindra sedikit turun melihat sang istri.
Keduanya menatap semakin dalam, tatapan penuh arti dengan mata yang tidak lepas sama sekali.
Bersambung.....