Dalam setiap imaji tentang masa depan, Summer tidak menemukan gambaran selain Denver dan mata cokelat gelapnya yang hangat. Hidupnya dijejali dengan fantasi manis bahwa kehidupan tentram, jauh dari carut-marut dan kutukan, hanya bisa ia dapatkan jika Denver bersamanya.
Namun, Summer lupa satu hal: Obsesi selalu berkelindan erat dengan kemuakan. Denver akhirnya menemukan cara untuk lepas dari tali kekang Summer, mengesampingkan harga yang harus perempuan itu tanggung agar Denver bisa bernapas dengan leluasa.
Sayangnya, kalkulasi Denver agak meleset kali ini. Summer memang terperosok ke penjara lembap dan dingin, namun di tempat itu pula ia menjelma menjadi iblis yang melafalkan syair pembalasan dendam setiap malam. Dan agar bisa berdiri di podium pemenang, tersenyum congkak layaknya mimpi buruk, Summer harus bisa memenangkan hati Archilles Meridian, sang wali kota.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wen Cassia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21 | KEKELIRUAN INTERPRETASI
Senyum Summer spontan mengembang saat melihat seseorang yang baru muncul dari balik pintu dapur. Chunky sneakers yang mengesalkan itu tidak lagi datang Sabtu malam ini, melainkan sepasang sepatu oxford hitam.
Archilles telah kembali.
“Kau menungguku?”
Suara dengan sekelumit serak rendah itu kembali menyapa telinga Summer, membuatnya segera meletakkan piring yang selesai dilapnya ke kabinet, lantas berjalan mendekat. Ia melirik jam yang tergantung di dinding sebelum menatap Archilles. “Tiga belas hari, dua puluh dua jam, dan delapan menit. Kita tidak bertemu selama itu.”
Tawa kecil Archilles mengalun mengisi dapur. “Dan kau kelihatannya baik-baik saja meski sudah menunggu selama itu.”
“Kau mengharapkanku bergelesotan di lantai dengan menyedihkan sambil menangis darah?” Summer pura-pura berdecak kesal. “Pak Wali Kota yang super sibuk bahkan tidak memiliki waktu untuk mengabariku. Kalau tidak bisa menulis pesan di ponsel, kau kan bisa mengirimiku surat. Jangan mencoba berdalih!”
Tudingan jari Summer membuat Archilles meringis. “Baiklah, kau mau aku minta maaf dengan cara apa?”
Bibir mengerucut Summer menjelma menjadi senyum lebar. Ia berjalan menuju lemari penyimpanan, mengambil sebuah paper bag ukuran sedang, lantas menyerahkannya pada Archilles.
“Pakai ini, setelah itu baru kuberi tahu apa yang aku inginkan.”
Archilles membuka paper bag, mengernyit. “Kau serius ingin aku memakai ini?”
Summer tersenyum geli. “Tentu saja!”
Helaan napas panjang Archilles menjadi tanda menyerah. Ia berbalik, berjalan menuju kamar mandi untuk berganti pakaian. Sementara Summer menatap punggungnya yang menjauh sembari melipat tangan di dada, bersandar pada meja.
“Berapa kali pun aku melihatnya, perasaan janggal ini tidak kunjung hilang.” Summer memicing ke arah dinding di ujung kelokan menuju toilet karyawan. “Seorang pria yang mengancamku tiba-tiba berubah seperti orang lain begini. Kau pikir aku bodoh dengan memercayaimu begitu saja? Sebenarnya apa yang dia rencanakan? Membuat jengkel saja!”
Summer sudah mencoba memetakan latar belakangnya sendiri dan segala relasi yang ia punya, mempertimbangkan sekecil apa pun kemungkinan yang membuatnya terhubung dengan Archilles atau keluarga Meridian, namun hasilnya nihil. Tidak ada garis penghubung antara dirinya dan Archilles kecuali melalui jalur Allura.
Namun, menggunakan Allura sebagai jalan tengah juga rasa-rasanya tidak cukup meyakinkan. Ambil kemungkinan Denver diam-diam memberi tahu Allura tentang ancamannya, kemudian Allura memberi tahu Archilles bahwa reputasi mereka terancam oleh rekaman di tangan Summer bocor ke publik, tentu Archilles akan langsung bertindak untuk mencegah kemungkinan buruk terjadi.
Hanya saja, jika Archilles merasa harus membekuk Summer agar tidak macam-macam dengan istri dan reputasinya, kenapa harus memakai jalan berbelit melalui hubungan rahasia ini? Ia bisa mengancam Summer dengan hal-hal mengerikan—jika opsi membunuh dirasa terlalu riskan—lalu menghapus rekaman itu hingga ke akarnya. Masalah teratasi, Summer praktis tidak punya apa-apa lagi untuk mengancam mereka.
“Sial, kepalaku jadi sakit lagi.” Summer memijat pangkal hidungnya yang terasa berdenyut. Topik tentang motif tersembunyi Archilles Meridian selalu berhasil membuat otaknya mengepulkan asap, kekalahan seolah telah menunggunya sambil tertawa mengejek.
Gema pelan langkah di lorong depan membuat Summer buru-buru memasang gestur tenang, melemaskan ekspresinya. Archilles muncul sesaat kemudian.
“Astaga, kau cocok sekali memakai itu—tidak adil! Kau tetap tampan dalam pakaian apa pun.” Summer pura-pura memberengut saat Archilles mengedikkan bahu dengan ekspresi angkuh dibuat-buat.
Pada akhirnya Summer tertawa.
“Dengan memberiku pakaian seperti ini sepertinya kita tidak akan memasak kali ini. Katakan, kau mau membawaku ke mana.”
Hoodie, celana kargo, dan sneakers. Tampilan yang sangat berbeda dari gaya seorang Archilles Meridian yang serbaberkelas, rapi, dan formal.
“Sebelum itu ….” Summer melangkah sekali hingga jaraknya dan Archilles hanya beberapa senti. Ia berjinjit dengan tangan terangkat, memasangkan sebuah topi bisbol hitam pada pria itu. “Sekarang sempurna.” Ia melangkah mundur, tersenyum puas.
Kerutan laten masih menghiasi kening Archilles, matanya menuntut jawaban.
“Pernah menonton film di bioskop tengah malam begini—ah, lupakan. Kau terlihat seperti spesies yang bahkan tidak mengerti basic trend; apa yang sedang populer dan digemari orang-orang. Kalau menonton film pun, paling-paling film lama seperti Godfather, Schindler’s List, Deer Hunter—astaga, sepertinya aku harus mengajarimu apa itu bersenang-senang.”
“Penilaiannya semena-mena sekali ….”
Summer sudah melangkah menjauh untuk memakai cropped jacket-nya dan mengambil tas. Ketika kembali berhadapan dengan Archilles, dia mengetuk pelan topi pria itu dua kali. “Karena Pak Wali Kota kita ini sangat terkenal, kau harus selalu memastikan wajahmu tidak terlihat sepenuhnya atau besok pagi wajahmu akan tertera besar-besar di bawah headline surat kabar dan berita. Mengerti?”
“Baiklah. Sekarang kemarikan tanganmu,” ucap Archilles tenang.
“Apa? Kenapa dengan tanganku?”
“Kemarikan saja.”
Ragu, Summer mengulurkan tangan kanannya. Ia terkesiap sedetik setelahnya saat Archilles menggenggam tangannya lembut.
“Aku juga harus memastikan kau tidak meninggalkanku kalau nanti kita ketahuan wartawan.” Archilles tersenyum miring.
“Astaga, pintar sekali kau mengarang alasan.” Summer meliriknya sembari berdecak pendek beberapa kali. “Kali ini kubiarkan.”
“Haruskan aku berterima kasih untuk kebaikanmu ini?” Mereka mulai melangkah keluar dari dapur, melewati meja-meja pelanggan yang temaram.
“Belikan popcorn kalau begitu,” ucap Summer sembari menyengir, “dengan ekstra karamel.”
Archilles mendorong pintu restoran, membiarkan Summer menguncinya dengan tangan yang bebas, lantas melangkah menuju mobilnya yang terparkir di samping restoran.
“Tanganmu dingin.” Archilles menoleh pada Summer sebelum membuka pintu mobil. Ia mendadak menyeringai kecil. “Menutupi kegugupan dengan pura-pura bertingkah ceria … tidak buruk. Pemula dengan strategi, itu cukup menjanjikan.”
Summer melangkah mendekat, berjinjit, lantas berbisik di samping telinga Archilles, “Aku pernah belajar aikido, jangan sampai aku menjungkirbalikkanmu di sini.”
Suara tawa Archilles beradu dengan derak ranting di belakang mereka yang baru diterpa angin malam.
...****...
“Denver ….”
Penggilan Allura itu membuat Denver mengerjap cepat beberapa kali, mengembalikan fokusnya yang sempat melayang ke mana-mana. Sejenak, ia melirik jam yang tergantung di dinding, menunjukkan pukul satu dini hari. Sabtu telah digantikan hari Minggu.
“Apa suamimu tahu kau tidak di rumah?” tanya Denver kemudian.
“Setiap Sabtu hingga Minggu pagi Archilles tidak di rumah.” Allura menekuk bibirnya, bertanya dengan suara ragu, “Jawabanmu … apa aku boleh tahu apa jawabanmu?”
Tangan Denver terangkat untuk mengusap pelipisnya, kantuk tiba-tiba lenyap begitu saja. Dengan gerakan pelan ia mempertemukan tatapannya dengan Allura.
“Kau mencintai suamimu?”
Allura dibekukan oleh pertanyaan Denver. Kebimbangan pekat terlihat di wajahnya, membuat kulitnya yang seperti porselen itu sedikit memucat. Seharusnya jawaban “tidak” bisa meluncur dengan mudah dari bibirnya, namun entah mengapa saat ada orang yang bertanya, ia jadi meragukan seluruh jawabannya.
Apa ia mencintai Archilles? Allura tidak pernah memikirkannya baik-baik. Sejak awal, pernikahan mereka terlalu asing dengan kata “cinta”. Allura menggunakan pernikahan ini demi kepuasan hatinya, untuk melihat kakak angkatnya, Melody, menangis darah melihat calon tunangannya direbut perempuan rendahan yang selalu ia pandang sehina serangga.
Selama dua tahun pernikahannya berjalan, dengan Allura yang tertatih dan merangkak untuk menyesuaikan diri dengan kehidupan keluarga Meridian, ia tidak punya nama untuk perasaannya. Yang ia lihat hanya benang kusut yang terjalin melingkar dan saling sengkarut, tidak ada cara untuk menguraikannya. Anggapan bahwa Archilles hanyalah alat balas dendam terasa menghibur selama ini.
Allura selalu meyakinkan diri sendiri bahwa Archilles adalah jaminan pelindung yang sempurna, reputasi keluarganya adalah jalan menuju kehidupan yang bermartabat utuh, hingga tidak ada lagi yang akan ingat tentang masa lalunya yang menyedihkan. Untuk itu, Allura memakai puluhan topeng sekaligus, menampilkan dirinya sebaik mungkin, sesempurna mungkin untuk merebut hati Archilles, agar setidaknya pria itu tidak memiliki alasan untuk mencampakkannya. Rasa-rasanya terlalu picik untuk menyebutnya sebagai perasaan cinta.
“Ragu?” tanya Denver setelah membiarkan lengang cukup lama, memburai lamunan Allura. “Aku paham kau membutuhkan ‘Meridian’ untuk mengubah kehidupanmu. Tapi, seharusnya kau pun tahu jika setelah bercerai dengan suamimu, kehidupan menakutkanmu yang dulu tidak akan pernah kembali. Orang-orang tidak akan lagi melakukan tindakan merendahkan pada mantan istri dan menantu Meridian yang terkenal dengan reputasi setinggi langit itu. Mereka masih punya cukup otak untuk tidak mencari masalah dengan keluarga itu biarpun kau sudah tidak lagi menjadi bagian dari mereka.”
Diam-diam Allura meneguk ludah, merasa tenggorokannya kering tiba-tiba.
“Bukankah sekarang kau terlihat seperti berdalih? Kau selalu bisa meninggalkan rumah besar itu dengan tunjangan yang lebih dari cukup untukmu—bahkan jika seharian kau hanya mengayunkan kaki tanpa melakukan apa pun. Kau tidak perlu bersusah payah mencoba menyesuaikan diri dengan kehidupan mereka yang terasa seperti berada di dunia lain itu. Jika kau melakukannya sampai sejauh ini, maka hanya ada satu jawaban yang tersisa.”
Napas Allura memberat, jantungnya berdentam melebihi batas yang seharusnya. Ia tidak siap mendengar kelanjutan penjelasan Denver, namun tidak bisa pergi ke mana pun.
“Suamimu adalah alasan sebenarnya kau bertahan. Kau tidak ingin kehilangan dia, sehingga kau berusaha keras untuk menyetarakan dirimu dengan kelasnya, berharap suatu saat dia akan menerimamu dengan cara ini. Aku tidak tahu sudah seberapa dalam kau sudah terjatuh, tapi aku tahu satu hal.” Denver menatap Allura sungguh-sungguh, sekelebat ironi melintas di matanya. “Kau akan mempertaruhkan segalanya demi suamimu. Kau tidak akan pernah melepaskannya, sampai mati pun tidak akan.”
...****...