Lanjutan pewaris dewa pedang
Jian Wuyou yang sedang melawan langit dan utusannya harus mengalami kegagalan total dalam melindungi peti mati istrinya.
Merasa marah dia mulai naik ke alam yang lebih tinggi yaitu langit, tempat di mana musuh-musuh yang mempermainkannya berada.
Tapi sayang dia kalah dan kembali ke masa lalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25: Perisai Sang Ayah di Balik Badai
Retakan di langit dimensi saku semakin menganga, memuntahkan ribuan pendekar dari Sekte Dewa Abadi yang turun seperti hujan meteor emas.
Tekanan yang mereka bawa begitu besar hingga rumput-rumput di lembah mulai layu secara instan.
Jian An melesat maju dengan keberanian yang meluap-luap. "Kalian tidak boleh menginjakkan kaki di rumah kami!" teriaknya. Ia mengayunkan pedangnya, melepaskan kilatan petir ungu yang berhasil memukul mundur barisan depan murid sekte tersebut. Di sampingnya, Jian Han bergerak dengan tenang, setiap tebasannya mematahkan senjata lawan yang mencoba mengepung mereka.
Namun, Jian Wuyou yang berdiri di udara menyadari kenyataan pahit itu. Lawan yang turun bukan hanya murid biasa, melainkan para Tetua yang berada di Ranah Transformasi esensi dan bahkan Ranah domain kehendak.
"Mundur! Jian An, Jian Han, kembali ke belakangku!" raung Jian Wuyou.
Baru saja Jian Wuyou memperingatkan, seorang Tetua Sekte berbaju emas melepaskan serangan "Telapak Penghancur Bintang" ke arah Jian An yang terlalu jauh maju ke depan. Serangan itu adalah energi murni yang sanggup meratakan sebuah gunung.
"Anak haram, matilah!" teriak Tetua itu.
Wajah Jian An pucat pasi. Ia merasakan tubuhnya terkunci oleh tekanan gravitasi yang luar biasa. Ia mencoba mengangkat pedangnya, namun tangannya bergetar hebat. Di saat maut tinggal beberapa inci dari wajahnya, sebuah bayangan putih-ungu muncul di depannya.
BOOOOOMM!
Jian Wuyou menangkap serangan telapak tangan raksasa itu hanya dengan satu tangan. Ledakan energinya merobek tanah di bawah mereka, namun Jian Wuyou tidak bergeming sedikit pun. Punggungnya tetap tegak, menjadi perisai yang tak tertembus bagi putranya.
"Ayah..." bisik Jian An, suaranya bergetar karena takut sekaligus kagum.
"Han, tarik adikmu ke dekat ibumu! Sekarang!" perintah Jian Wuyou tanpa menoleh. Suaranya rendah dan penuh otoritas yang tak terbantahkan.
Jian Han segera berlari, menarik Jian An yang masih syok menuju posisi Li Hua dan Mei Lian yang sudah menyiapkan formasi pertahanan terakhir di depan rumah mereka.
Jian Wuyou menatap ribuan musuh di atasnya. Ia tahu, meskipun ia berada di Tahap Puncak Domain Kehendak, ia tidak bisa memenangkan perang ini sendirian sambil melindungi keluarganya.
Musuh terlalu banyak, dan mereka memiliki formasi tempur yang dirancang khusus untuk menekan pengguna Domain.
"Kau sangat kuat, Jian Wuyou," ucap Ketua Sekte Dewa Abadi dari atas kapal. "Tapi kau hanya satu orang. Dan di belakangmu adalah beban. Berapa lama kau bisa menahan ribuan serangan yang ditujukan pada istri dan anak-anakmu?"
Seketika, ribuan pemanah langit melepaskan anak panah cahaya yang melengkung di udara, semuanya mengincar Li Hua dan anak-anak, bukan mengincar Jian Wuyou.
Jian Wuyou menggeram. Ia melepaskan "Tarian Ribuan Bayangan Kehendak". Sosoknya terbelah menjadi ratusan bayangan ungu yang melesat ke segala arah, menangkis setiap anak panah sebelum menyentuh tanah. Ia bergerak dengan kecepatan cahaya, namun setiap tangkisan menguras energinya secara drastis.
"Ayah tidak bisa bertahan selamanya..." gumam Jian Han yang menyadari bahwa napas Jian Wuyou mulai tidak teratur.
Jian An mengepalkan tangannya hingga berdarah. Ia merasa sangat tidak berguna. Selama sepuluh tahun ia merasa hebat, namun di hadapan musuh yang sesungguhnya, ia hanyalah beban bagi ayahnya.
Jian Wuyou mendarat di depan mereka dengan napas terengah. Darah mulai menetes dari telapak tangannya. Ia menoleh ke arah Li Hua, menatap istrinya dengan tatapan yang penuh luka dan permintaan maaf.
"Aku akan membuka jalan," bisik Jian Wuyou. "Aku akan memicu ledakan inti Domain untuk menciptakan celah ruang baru. Kalian harus pergi ke dimensi yang lebih dalam. Aku akan menahan mereka di sini."
"Tidak! Kami tidak akan meninggalkanmu lagi!" teriak Li Hua sambil memeluk Jian An dan Jian Han.
Jian Wuyou tersenyum pedih. Ia membelai wajah Li Hua untuk terakhir kalinya. "Li Hua, mereka tidak menginginkanku. Mereka menginginkan Jian An karena mereka takut dengan kekuatannya. Selama kalian bersamaku, kalian tidak akan pernah aman. Biarkan aku menjadi tembok terakhir kalian."
Mata Jian Wuyou kembali berubah menjadi hitam pekat. Ia bersiap untuk melakukan pengorbanan terakhir, mengubah seluruh kultivasi sepuluh tahunnya menjadi satu ledakan penghancur yang akan mengakhiri armada langit tersebut, meski itu berarti ia harus kehilangan nyawanya sendiri.