"Status 'Ayah' itu sudah mati. Mulai hari ini, aku adalah suamimu."
Kehilangan ibu sekaligus kebebasan dalam satu malam membuat dunia Gladies runtuh. Dipaksa menikahi Arkan, pelindung keluarganya yang berubah menjadi sosok asing yang dominan, Gladies terjebak dalam pernikahan tanpa cinta. Ia percaya Arkan hanya menginginkan hartanya, sementara Arkan percaya hanya ketegasan yang bisa menyelamatkan Gladies. Mampukah mereka berlayar di samudra rumah tangga yang penuh amarah, ataukah mereka akan hancur sebelum mencapai dermaga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
Gladis bangkit dari tempat tidur dan segera ke kamar mandi.
Setelah mencuci muka, ia lekas mengganti pakaiannya
Melihat Gladis yang sudah selesai dari kamar mandi.
Gantian Arkan yang ke kamar mandi dan mengganti pakaiannya
"Kita makan di restoran saja, Arkan." Ucap Gladis.
Pilihan Gladis untuk makan di restoran umum sedikit mengejutkan Arkan, namun ia tahu ini adalah cara gadis itu untuk mencari udara segar sekaligus membuktikan bahwa ia tidak akan terus-menerus bersembunyi di balik ketiaknya.
"Baik, jika itu maumu. Tapi ingat satu hal, Gladis," Arkan mengenakan kemeja santai berwarna biru navy yang tetap terlihat berwibawa meski tanpa tanda pangkat.
"Di depan mereka, kamu adalah tanggung jawabku. Jangan memancing keributan lagi seperti tadi sore atau aku tidak akan segan-segan menyeretmu kembali ke kabin ini di depan mata semua orang."
Gladis tidak menjawab perkataan suaminya, ia hanya memoles sedikit lipstik untuk menutupi wajahnya yang pucat.
Setelah selesai berdandan, Arkan mengajak istrinya keluar dari kabin.
Restoran The Grand Horizon di dek empat sangat ramai malam itu.
Alunan musik jazz lembut dan aroma steak premium memenuhi ruangan.
Saat Arkan masuk bersama Gladis, suasana seketika berubah.
Beberapa pasang mata langsung tertuju pada sang Kapten yang jarang terlihat makan di area umum, apalagi dengan gadis yang sama yang tadi sore menghebohkan dek lima.
Mereka duduk di meja pojok yang menghadap langsung ke jendela besar.
Arkan memesan menu dengan tenang, sementara Gladis hanya memandang ke arah laut yang gelap gulita.
"Kenapa? Masih memikirkan pria itu?" tanya Arkan dingin sambil menyesap air mineralnya.
"Aku hanya berpikir, betapa bodohnya aku selama ini," bisik Gladis tanpa menoleh.
Tiba-tiba, suasana di pintu masuk restoran sedikit riuh.
Alex masuk dengan hidung yang masih sedikit diperban, menggandeng wanita yang sama.
Langkah Alex terhenti saat melihat Arkan dan Gladis duduk di sana.
Alih-alih menghindar, Alex justru menunjukkan seringai sinisnya.
Ia merasa aman karena berada di tempat umum. Ia sengaja berjalan melewati meja Arkan dengan angkuh.
"Wah, lihat siapa ini. Si anak asuh Kapten yang emosional," sindir Alex dengan suara yang cukup keras hingga meja tetangga menoleh.
"Masih berani muncul setelah bikin keributan, Nona?" ejek Alex.
Gladies mengepalkan tangannya di bawah meja, namun sebelum ia sempat meledak, tangan Arkan mendarat di atas tangannya, menahannya dengan kekuatan yang stabil.
Arkan tidak beranjak dari kursinya. Ia bahkan tidak menoleh ke arah Alex.
Ia hanya meletakkan garpunya dengan bunyi denting yang halus.
"Alex, bukan?" suara Arkan sangat rendah, namun sanggup membungkam kebisingan di sekitar mereka.
"Iya, Kapten. Kenapa? Mau membela dia? Hati-hati, Kapten. Jangan sampai reputasimu rusak gara-gara mengurusi anak kecil yang gagal move on ini."
Arkan perlahan mendongak dengan sorot matanya begitu tajam hingga Alex secara tidak sadar mundur satu langkah.
"Dengar, anak muda. Di kapal ini, aku adalah hukum. Aku tahu setiap inci dari latar belakangmu, termasuk alasan mengapa kamu bisa membeli tiket kelas satu ini dengan uang yang sebenarnya bukan milikmu," ucap Arkan dengan nada yang sangat tenang namun penuh ancaman.
Wajah Alex seketika pucat pasi saat mendengar perkataan dari Arkan.
"A-apa maksudmu?"
"Kamu pikir aku tidak tahu soal penggelapan dana di perusahaan paman Gladis? Kamu pikir aku tidak tahu kamu adalah alasan mengapa Dayu berani mengkhianati keluarganya sendiri?" Arkan berdiri perlahan, tubuh tegapnya menjulang tinggi, menciptakan aura intimidasi yang luar biasa.
"Pergi dari sini sebelum aku memerintahkan petugas keamanan untuk menaruhmu di sel bawah karena penipuan dokumen perjalanan. Dan satu hal lagi..."
Arkan melangkah satu kali, memangkas jarak antara dia dan Alex.
"Jangan pernah berani menatapnya lagi, atau aku sendiri yang akan memastikan kamu tidak akan pernah melihat daratan lagi seumur hidupmu."
Alex gemetar hebat. Wanita di sampingnya pun ketakutan dan langsung menarik lengan Alex untuk pergi.
Mereka lari terburu-buru keluar dari restoran tanpa sepatah kata pun.
Suasana restoran kembali tenang, namun kini semua orang menatap Arkan dengan rasa segan yang luar biasa.
Arkan kembali duduk, wajahnya kembali datar seolah tidak terjadi apa-apa.
"Makanlah, Gladis. Makanannya sudah datang," ucap Arkan sambil memotong steak-nya dengan tenang.
Gladis menatap Arkan dengan pandangan yang sulit diartikan.
Ia baru saja melihat bagaimana Arkan menghancurkan harga diri Alex hanya dengan beberapa kalimat tanpa perlu mengeluarkan tenaga.
"Kenapa kamu membantuku? Padahal kamu bisa saja membiarkanku dipermalukan agar aku semakin tunduk padamu," tanya Gladis pelan.
Arkan berhenti mengunyah. Ia menatap Gladis dengan tatapan yang sedikit lebih lembut dari biasanya.
"Karena tidak ada seorang pun di dunia ini yang boleh menyakitimu, Gladis. Kecuali aku," jawab Arkan lugas.
Gladis tertegun mendengar kalimat yang terdengar kejam, namun di telinganya, itu adalah bentuk perlindungan yang paling nyata yang pernah ia rasakan sejak ayahnya meninggal.
Malam itu di tengah deburan ombak yang menghantam kapal, Gladis mulai menyadari bahwa ia bukan hanya sekadar tawanan bagi Arkan.
Ia adalah sesuatu yang akan dijaga Arkan dengan seluruh otoritas dan nyawanya.
"Terima kasih, Ayah," bisik Gladis, kembali menggunakan sebutan itu sebagai tameng egonya, meski di dalam hatinya, status Arkan mulai bergeser menjadi sesuatu yang lebih rumit dari sekadar wali.
"Habiskan makananmu. Malam ini akan menjadi perjalanan yang panjang."
Gladis kembali menikmati makanannya sambil sesekali melirik ke arah Arkan.
Setelah menghabiskan makan malam dalam keheningan yang sarat akan ketegangan, Arkan berdiri lebih dulu.
Ia tidak membiarkan Gladis berjalan sendirian menuju kabin.
Dengan posesif, ia menuntun istrinya kembali ke kabin pribadi melalui jalur kru yang lebih sepi untuk menghindari kasak-kusuk penumpang.
Sesampainya di depan pintu kabin yang kokoh, Arkan berhenti.
Ia memegang gagang pintu, namun belum membukanya.
Ia memutar tubuhnya, menatap Gladis dengan raut wajah yang kembali ke mode "Kapten" yang sangat disiplin.
"Dengarkan aku, Glaids. Masuklah ke dalam. Kunci pintu dari dalam. Jangan pernah buka pintu untuk siapa pun kecuali suaraku, dan jangan berani-berani keluar dari kamar ini sampai aku kembali menjemputmu besok pagi. Paham?"
Gladis melihat sorot mata Arkan yang tidak menerima bantahan.
Kejadian dengan Alex tadi membuatnya sadar bahwa kapal ini penuh dengan orang-orang yang mungkin berbahaya, dan Arkan adalah satu-satunya dinding pelindung yang ia miliki.
"Iya, aku mengerti," jawab Gladis pelan sambil menganggukkan kepalanya.
Arkan menatap Gladis sejenak, memastikan tidak ada lagi sisa tangis di wajah istrinya.
Setelah merasa situasi di lorong aman dan tidak ada kru yang melihat, Arkan melakukan sesuatu yang membuat jantung Gladis hampir melompat.
Ia menarik pinggang Gladis sedikit mendekat, menundukkan kepalanya, dan mendaratkan sebuah ciuman yang dalam dan hangat di kening Gladis.
Ciuman itu berlangsung cukup lama, seolah Arkan sedang menyalurkan kekuatannya pada gadis itu.
"Tidurlah. Aku harus kembali ke anjungan. Badai kecil sedang mendekat, tapi jangan takut. Kapal ini dalam kendaliku," bisik Arkan tepat di depan wajah Gladis.
Arkan kemudian melepaskannya dan segera berbalik menuju tangga anjungan dengan langkah lebar yang tegas.
Gladis segera masuk ke dalam kabin dan mengunci pintu dengan bunyi klik ganda.
Setelah mengunci pintu ia bersandar di balik pintu, dadanya naik turun tak beraturan.
Ia menyentuh keningnya yang masih terasa hangat bekas kecupan Arkan.
Di satu sisi, ia merasa terlindungi, namun di sisi lain, otoritas Arkan yang begitu besar membuatnya merinding.
"Hii, serem," gumam Gladis lirih sambil memeluk dirinya sendiri.
"Dia bisa sangat baik, tapi dalam sekejap bisa jadi sangat menakutkan."
Ia berjalan menuju jendela besar dimana di luar sana, kegelapan laut lepas mulai terlihat mencekam.
Awan hitam pekat mulai menutupi bulan, dan kilat sesekali menyambar di cakrawala, menerangi ombak yang semakin tinggi.
Getaran mesin kapal terasa lebih kuat sekarang. Gladis bisa merasakan kapal pesiar raksasa itu sedikit bergoyang saat menghantam ombak yang mulai ganas.
Sementara itu, Arkan sudah berada di kursinya. Suasana di anjungan sangat tegang.
Lampu merah redup menerangi instrumen navigasi.
"Lapor, Kapten. Tinggi gelombang mencapai 4 meter. Angin bertiup dari arah Barat Laut dengan kecepatan 40 knot," lapor mualim satu dengan nada waspada.
Arkan menatap layar radar yang menunjukkan gumpalan merah besar di jalur mereka.
Ia menggenggam kemudi cadangan dan memberikan instruksi dengan suara baritonnya yang tenang namun mematikan.
"Ubah haluan 10 derajat ke arah lambung kanan. Pertahankan kecepatan. Kita akan membelah pusat badai ini. Pastikan seluruh penumpang tetap berada di dalam kabin masing-masing," perintah Arkan.
Matanya yang tajam menembus kegelapan badai di luar kaca depan.
Pikirannya terbagi dimana ia harus memastikan ribuan nyawa di kapal ini selamat, namun hatinya juga tertuju pada satu orang yang kini meringkuk ketakutan di dalam kabinnya.
Bagi Arkan, badai di luar sana bukanlah apa-apa, karena badai yang sesungguhnya adalah bagaimana ia harus menaklukkan hati Gladis yang masih membeku, sementara ia sendiri terjebak dalam janji yang ia buat pada mendiang sahabatnya.
Malam itu, di tengah Samudera Hindia yang mengamuk, Ocean Empress terus melaju.
Di bawah kendali tangan dingin sang Kapten, kapal itu membelah ombak, membawa dua jiwa yang terikat pernikahan paksa menuju takdir yang tak terduga.
lanjut💪💪
karakter tokohnya sama sama menonjol
ceritanya bagus banget