Zivanya Aurelia Wardana (20) pergaulan bebas membuatnya mengalami mimpi terburuk dalam hidup. Menjadi ibu diusia yang masih begitu muda
Amarah Keluarga membuatnya mengambil keputusan besar untuk mengakhiri hidupnya. Namun hal itu bisa dicegah oleh seorang dokter tampan bernama Zionathan (24)
Ziva memberontak, memberi syarat pada Zio untuk mencarikan ayah bagi bayinya, menggantikan sang kekasih yang pergi entah kemana
Tak disangka jika Zionathan menjadikan dirinya sendiri sebagai ayah untuk bayi itu sekaligus suami untuk Zivanya
Bagaimana pernikahan atas dasar tanggung jawab itu dapat bertahan? dan bagaimana Zio bertindak saat ayah kandung bayi itu datang dan meminta Zivanya serta anaknya kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon e_Saftri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Semakin Cinta
"Kakak mau ngapain?" Tanya Ziva panik saat tubuhnya melayang karena suaminya
Pria itu tak menjawab, Zio diam hingga kini keduanya berada didalam kamar pria itu
Zio meletakkan tubuh sang istri dengan perlahan diatas tempat tidur, seolah Ziva adalah barang yang mudah pecah
Dengan tergesa Zio melepas kaosnya hingga dada bidang serta perut kotak-kotak milik dokter tampan itu terpampang jelas
Ziva meneguk ludahnya berat, entah apa yang akan terjadi padanya karena telah memancing seekor singa yang tengah tertidur
Zio mengukung tubuh sang istri, tatapan keduanya bertemu. Malam ini tatapan Zio terlihat berbeda. Tajam dan penuh minat seolah siap menerkam mangsanya
"Kak Zio" lirihnya
Ziva menahan napasnya saat jemari besar suaminya melepas satu persatu kancing piyama nya
"Kamu hanya milikku Zivanya!" Suara pria itu terdengar serak
***
Manik indah berwarna hitam itu terbuka, Zivanya mengerjap menyesuaikan cahaya yang masuk melalui celah gorden kamar mewah milik Zionathan
Wanita cantik itu melenguh, sekujur tubuhnya terasa remuk. Ia tak sadar jam berapa aktifitas keduanya berhenti
"Sayang!" Sapa Zio, pria tampan itu masuk dengan membawa nampan berisi sarapan untuk istrinya
"Kak Zio!" Wanita cantik itu beringsut bangun, ia bersandar pada headboard sembari mengeratkan selimutnya
"Kamu butuh sesuatu?" Zio duduk disisi tempat tidur berhadapan dengan istrinya
Zio tersenyum hangat, setelah malam ini cintanya pada wanita itu semakin besarnya
"Badan Ziva sakit semua!" Rengek wanita cantik itu membuat suaminya tersenyum
"Maaf yaa!" Zio tersenyum hangat, ia usap lembut puncak kepala wanitanya itu
"Kamu sarapan dulu! Setelah itu kita kerumah sakit!" Titah Zio
"Rumah sakit? Ngapain?"
"Kakak takut kamu kenapa-napa, kemarin kita mainnya kan..!
"Kak"
Ucapan Zio terhenti begitu suara istrinya memotong. Ziva merasa malu jika mengingat kejadian semalam
Zio terkekeh, wajah cantik itu terlihat menggemaskan jika tengah malu seperti ini
***
Keduanya kini tengah berada di rumah sakit, Zio ingin memastikan jika bayinya dalam keadaan baik
Zio telah mengabari Laura sebelumnya jadilah istrinya itu lansung mendapat tindakan
"Gimana dok? Bayinya baik-baik aja kan?" Tanya Zio
Ia memang seorang dokter, tapi ia tampak bo doh jika itu menyangkut anaknya yang belum lahir
"Semuanya baik, bayinya sehat!" Dokter Laura tengah sibuk melihat layar monitor
"Syukurlah!"
Zionathan lebih dulu membantu sang istri untuk turun dari ranjang pasien setelahnya sepasang suami istri itu duduk didepan sang dokter kandungan
"Ini saya resepkan vitamin yaa dok! Apa nona Ziva masih mual?" Tanya dokter Laura terdengar profesional
"Udah enggak sih dok!" Jawab Zivanya dan dokter cantik itu mengangguk
"Oh iya dok, semalam kami melakukan itu?"
Laura mengangkat wajahnya, jujur saja ia terkejut mendengar ucapan pria idamannya itu
Ada rasa sakit mendengar jika Zio telah menyentuh istrinya. Ia pikir pernikahan karena terpaksa ini tak akan menimbulkan rasa
"Tidak akan jadi masalah kan dok?" Tanya Zio lagi karena sahabatnya itu tak menjawab
"Tidak masalah dokter Zio, asalkan posisinya aman bagi ibunya!" Jawab dokter Laura
Ia berusaha menutupi rasa cemburunya, berusaha untuk terlihat baik-baik saja
Zio keluar dari ruangan tersebut, Ziva menunggu dikursi sementara sang suami lebih dulu menebus resep obat
"Mama" Sapa Ziva begitu melihat Mala datang
Wanita setengah baya itu hanya menatap menantunya tanpa membalas sapaan dari istri putranya itu
"Dokter Mala!" Laura yang melihat kedatangan ibu dari pria yang ia cintai segera mendekat
Laura memeluk wanita itu dan Mala membalasnya. Ziva yang melihat itu hanya menatap iri
Ibu mertuanya itu menatap nya dengan begitu dingin sementara pada wanita lain begitu hangatnya
"Apa kabar dokter?" Tanya Laura, wanita itu bahkan menyempatkan diri melirik Ziva dibelakangnya
Ada senyuman mengejek dari tatapannya, seolah menunjukkan jika dirinya diterima dengan baik oleh ibu dari Zio
"Baik sayang! Kamu apa kabar?" Zivanya tersenyum kecut, sungguh perlakuan Mala terhadap Laura sangat jauh berbeda dari perlakuan wanita itu terhadapnya
"Baik kok dok! Dokter ada perlu apa kesini? Tumben?"
"Tante ada pasien! Tadi sudah buat janji!" Ucap Mala "Ziva"
Yang dipanggil segera menatap kearahnya. Sejak tadi Ziva hanya menunduk
"Ya Mah?" Laura memutar bola matanya malas mendengar Ziva yang menyebut Mala dengan sebutan Mama
"Dimana Zio?"
"Tadi lagi nebus resep!" Jawab Ziva apa adanya
Tak lama Zio datang, ia cukup terkejut melihat sang ibu ada disana. Pria itu melirik istrinya yang jelas terlihat canggung. Terlebih ada Laura yang menempel pada Mama
"Mama disini?" Tanya Zio lalu menyalami ibunya itu
"Ya, mama ada pasien!" Zio hanya mengangguk saja
"Kalau gitu aku sama Ziva pulang dulu ya mah, kasian Ziva lagi hamil takut kecapean!" Ujar Zio
Zionathan mengerti jika istrinya tidak nyaman dalam keadaan seperti ini
"Ayo sayang!" Zio menggenggam tangan sang istri dengan mesranya membuat Mala menatap tak suka
Memang ia mengizinkan putranya itu untuk menikahi Ziva, tapi sepertinya Mala masih enggan untuk memberi restu karena kondisi Ziva
"Ziva duluan yaa mah!" Zivanya mengulurkan tangannya, beruntung Mala mau menerima uluran tangan itu dari menantunya
Dimobil Ziva diam saja, Zio yang mengerti segera menggenggam tangan sang istri lalu tersenyum hangat
"Gak usah dipikirin!" Ujar Zionathan lalu membawa tangan sang istri dan mengecupnya
"Kenapa Mama gak bisa nerima Ziva aja sih kak? Ziva tau kalau mama Mala itu orang yang penyayang!"
Ada raut kesedihan yang terlihat dari tatapan Ziva hari ini dan Zio menyadarinya
Zio tau jika pernikahan ini tak akan mudah, menikah tanpa restu memanglah sesuatu yang sulit
Tapi, ia telah memilih Ziva dan itu adalah keputusan yang tepat. Tak peduli apapun, Zio tetap akan mempertahankan pernikahannya bersama Ziva
"Kita akan berusaha lagi sayang! Asalkan kita tetap bersama maka semuanya akan jauh lebih mudah!"
Zionathan berusaha meyakinkan wanita yang telah ia nikahi itu
Ziva memandang suaminya, wajah tampan itu selalu terlihat teduh, ucapan Zio juga selalu mampu menenangkan nya
"Kalau kak Zio mau, kakak bisa meninggalkan Ziva. Ziva janji akan baik-baik saja!"
Ziva tak ingin mengikat suaminya dalam hubungan pernikahan ia ini, bagaimanapun Zio berhak menentukan kebahagiaan nya
"Dengar Ziva!" Zio menatap wajah cantik istrinya "Setelah kakak memutuskan untuk menikahi kamu, maka kakak gak pernah berpikir tentang wanita lain!"
Zivanya diam, mencoba memikirkan lagi ucapan suaminya itu. Zio pria yang baik dan jelas pria itu tak setara dengannya
"Dokter Laura baik, dia juga cantik. Mama Mala juga kayaknya sayang banget sama dokter Laura!"
Zionathan mengalihkan pandangannya, mencoba fokus kedepan. Ia tak ingin menanggapi ucapan sang istri yang melantur