NovelToon NovelToon
Nyonya Dibalik Tahta Alexander

Nyonya Dibalik Tahta Alexander

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Action / Dark Romance / Nikah Kontrak
Popularitas:134
Nilai: 5
Nama Author: Rizky Handayani Sr.

Lucane Kyle Alexander CEO muda yang membangun kerajaan bisnis raksasa dan memiliki pengaruh mengerikan di dunia bawah. Dingin, tak tersentuh, dan membuat banyak orang berlutut hanya dengan satu perintah.

Tidak ada yang berani menentangnya.

Di sisi lain, ada Jema Elodie Moreau mantan pembunuh bayaran elit yang telah meninggalkan dunia senjata.
Cantik, barbar, elegan, dan berbahaya.

Keduanya hidup di dunia berbeda, hingga sebuah rahasia masa lalu menghantam mereka:

kedua orang tua mereka pernah menandatangani perjanjian pernikahan ketika Lucane dan Jema masih kecil. Perjanjian yang tak bisa dibatalkan tanpa menghancurkan reputasi dan nyawa banyak pihak.

Tanpa pilihan lain, mereka terjerat dalam ikatan yang tidak mereka inginkan.

Namun pernikahan itu memaksa mereka menghadapi lebih dari sekadar ego dan luka masa lalu.
Dalam ikatan tanpa cinta ini, hanya ada dua jalan, bersatu melawan dunia... atau saling menghancurkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rizky Handayani Sr., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17

Jema mulai melangkah. Anggun… sampai dia bergumam pelan:

“Kalau aku jatuh karena sepatu ini, mungkin ini menjadi pernikahan sial.”

Para pengiring di belakangnya panik.

Tapi musik tetap berjalan anggun.

Di depan altar…

Lucane berdiri menunggu, tampak tenang dan tampan dengan jas hitamnya.

Tapi matanya jelas mengikuti setiap langkah Jema.

Saat Jema akhirnya sampai di depannya, ia berhenti, memandang Lucane dari atas ke bawah.

“Astaga… kau benar-benar berpakaian seperti pengusaha kaya yang arogan.”

Lucane menaikkan alis dan datar.

“Wah ternyata kau juga sangat pendiam?” Jema menyipitkan mata.

Pendeta yang sudah menunggu batuk kecil.

“Kita… bisa mulai?”

Jema dan Lucane sama-sama berdeham, memalingkan wajah seolah tidak saling memusuhi.

Prosesi sakral dimulai

Pendeta mulai membacakan doa, melantunkan kata-kata indah.

Para tamu ikut terharu.

Nyonya Lexa bahkan mengusap matanya dengan tisu.

Namun Jema pelan-pelan membalas gumaman Lucane.

“Jangan sampai kau Injak Gaunku.” peringatan Jema

Lucane hanya memandang Jema datar,

“Apa kau tidak bisa diam,” jawab Lucane datar.

“Ck!! dasar pria arogan” bisik Jema kesal.

Pendeta kembali batuk. “Tolong… sedikit lebih pelan.”

Pendeta “Nona Jema, apakah Anda bersedia menerima Tuan Lucane sebagai suami..”

“Ya ya… aku bersedia. Cepat saja,” potong Jema.

Semua tamu tersentak.

Lucane bahkan menutup mata sebentar.

Pendeta terdiam beberapa detik, lalu menatap Lucane.

“Baiklah… Tuan Lucane, apakah Anda bersedia menerima..”

“Ya,” jawab Lucane cepat.

Pendeta kembali terpaku.

“Kalian… benar-benar tidak mau membuat saya selesaikan kalimatnya?”

setelah itu pendeta pun mundur, dan membiarkan mereka memasang cincin.

Lucane mengambil cincin dan memegang tangan Jema.

Tangannya hangat… tapi saat ingin memasangkan cincin,

“Ah cincin yang indah, tapi tidak dengan pernikahan nya” gumam nya

Lucane tidak bereaksi apa pun.

Saat cincin terpasang sempurna, tamu-tamu berseru pelan.

Lalu tiba giliran Jema memasangkan cincin ke Lucane.

Saat ia memegang tangan Lucane, Jema bergumam:

“Tanganmu besar sekali… benar-benar seperti tangan orang yang suka bikin masalah.”

“Dan kau sangat cerewet sejak subuh,” balas Lucane santai.

Jema pun memandang lucane dengan malas.

“Kalian sah sebagai suami-istri.” ucap pendeta

Tamu-tamu bertepuk tangan.

Lampu kristal bersinar lebih terang.

Lucane menatap Jema.

Jema menatap balik, melipat tangan di dada.

“Apa? Jangan cium aku.”

“Aku tidak ada niat, ini hanya formalitas” jawab Lucane dingin.

Jema mendekat sedikit. “Bagus.”

Lucane menahan pinggangnya, mendekatkan wajahnya cukup dekat untuk tradisi.

Dahi mereka hampir bersentuhan.

Seketika seluruh ruangan hening.

Ciumannya hanya sekilas, lembut, formal…

Tidak berlebihan.

Namun saat mereka menjauh, Jema berbisik,

“Lain kali jangan dekat-dekat, aku bisa refleks memukul.”

Lucane membalas pelan

“Kalau mukul, aku gendong kau keluar dari sini di depan semua tamu.”

Mata Jema melebar sedikit.

“…Berani sekali.”

Lucane tersenyum tipis senyum yang jarang terlihat.

Upacara sakral itu berakhir dengan haru, tepuk tangan panjang…

dan dua pengantin yang masih tetap perang dingin elegan seperti hanya mereka yang bisa lakukan.

* * * *

Musik lembut kembali mengalun, para tamu bergerak ke arah pengantin baru.

Namun yang pertama kali menerobos kerumunan, tentu saja,

Demien, Ethan, dan Marcus.

Ethan langsung merentangkan tangan lebar-lebar seperti ingin memeluk Lucane.

“PENGANTIN BARUUU!” teriak Ethan terlalu keras sampai beberapa tamu menoleh kaget.

Lucane mengerutkan dahi. “Jangan sentuh aku”

Ethan mengabaikan, malah menepuk keras bahu Lucane.

“Jadi ini wanita yang sangat sangat tidak...hmmm maksudnya sangat beruntung ”

Jema mendelik. “Wanita beruntung?!”

Marcus buru-buru mundur sedikit.

Demien tertawa sambil mengangkat gelas.

“Selamat, kalian berdua. Serius. Ini hari bersejarah.”

Marcus ikut bicara dengan senyum nakal.

“Kami pikir kau akan kabur sebelum upacara, Lucane. Ternyata kau bertahan.”

“Andai kau lihat raut muka kalian tadi di altar…” Ethan menambahkan.

“Seperti dua orang yang dipaksa duduk bersama di ruang BK.”

Jema mendengus. “Karena memang begitu.”

Lucane menatap ketiga sahabatnya dingin.

“Kalian sudah selesai?”

Ethan mendekat ke Jema dan membungkuk dramatis, seolah memperkenalkan diri seperti gentleman Eropa.

“Selamat bergabung di dalam neraka kecil yang kami sebut ‘persahabatan dengan Lucane’.

Jika kau butuh pertolongan… hubungi kami.

Dia keras kepala.”

Jema menyeringai. “Bagus. Aku juga.”

Demien tertawa. “Kalian berdua… benar-benar cocok. Cara yang aneh, tapi cocok.”

Di belakang, Marcus sampai mengusap air mata entah haru atau terlalu banyak tertawa.

“Selamat, Luc. Selamat, Nona Jema.”

Mereka bertiga memberi salam kecil yang rapi namun penuh energi.

Trio paling berisik itu akhirnya mundur setelah membuat suasana meledak dengan canda.

* * * *

Saat keramaian mereda, Liam mengantar Nyonya Lexa mendekat.

Wanita tua itu berjalan pelan, elegan, kedua susternya mengikuti di belakang.

Ketika sampai di depan Jema dan Lucane, seluruh tamu otomatis memberi ruang lebih besar karena semua tahu siapa wanita ini.

Nyonya Lexa tersenyum hangat pada pengantin baru.

Tangan tuanya gemetar sedikit saat menyentuh lengan Lucane.

“Nak…” suaranya bergetar.

“Akhirnya. Hari yang Nana tunggu… hari terwujud dengan nyata.”

Lucane menunduk sedikit, lembut hal yang hanya ia lakukan pada wanita ini.

“Nana… terima kasih untuk restu nya.”

Nyonya Lexa lalu menatap Jema.

Tatapannya lembut, penuh rasa syukur, tapi juga penuh penilaian yang dalam sebagai seorang matriark sejati.

“Jema,” ucapnya pelan, “terima kasih sudah menerima cucu Nana yang keras kepala ini.”

Jema hampir terdiam.

Untuk pertama kalinya hari itu, wajah barbar-nya sedikit luluh.

Nana menyentuh pipi Jema.

“Kau cantik sekali hari ini, Nak.

Jalan hidup kalian panjang… Nana hanya berharap kalian saling menjaga.”

Jema membuka mulut, agak gelagapan.

“Eh… t-tentu… Nana. Saya akan… mencoba tidak merugikan cucu Nana.”

Lucane hampir terbatuk.

Nyonya Lexa justru tersenyum lebih lebar.

“Nana tahu kau punya nyali. Itu bagus. Lucane butuh seseorang yang tidak takut padanya.”

Liam berdiri tegak di belakang bangga sekaligus lega melihat suasana lembut itu.

Nana menggenggam kedua tangan mereka.

“Selamat, anak-anak.

Mulai hari ini, kalian bukan lagi berjalan sendiri. Kalian berjalan berdua.”

Kata-kata itu sederhana, tapi membuat ruangan hening beberapa detik.

Musik kembali mengalun.

Jema menunduk sedikit.

“…Terima kasih, Nana,” ucapnya dengan nada tulus jarang sekali terdengar dari Jema.

Lucane menaruh tangan di pinggang Jema.

Gerakan kecil, tapi melindungi.

Nyonya Lexa mengangguk bangga pada keduanya.

Lalu ia berbalik, berjalan perlahan menuju kursinya, meninggalkan sepasang pengantin baru yang kini menjadi pusat perhatian.

Melihat Nana pergi Jema pun mulai bereaksi "Itu hanya formalitas sekarang lepaskan tangan mu" bisik Jema

Lucane pun melepaskan tangan nya.

"Bagus, mulai sekarang kita sah menjadi fatner bisnis. semoga kau fatner yang menyenangkan" lanjut Jema

"Ok" jawab Lucane setuju

"sudah lah, aku mau duduk dulu kau bisa menyapa semua tamu mu sendiri kan" ucap Jema lagi

Lucane hanya berdehem, dia tau Jema tidak nyaman dengan gaun nya.

"Hm"

* * * *

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!