Ketika aku membuka mata, aku tiba di tempat yang tidak ku kenal.
Cukup yakin, ini novel yang pernah aku baca.
[Freedom The Continent]
[Freedom The Continent] adalah novel yang berpusat pada petualangan beberapa karakter dalam perjalanan mereka membebaskan benua dari kegelapan.
Ada dua tokoh sentral dalam cerita ini. Seorang mage wanita yang diangkut dari dunia lain dan seorang pendekar pedang yang terlahir kembali.
Tapi cukup, abaikan tentang mereka.
Karena aku tidak datang ke dunia ini menjadi salah satu dari mereka!
Aku menjadi bagian dari novel itu sebagai seorang penjahat kejam, mantan tunangan pangeran yang telah diasingkan!
Bahkan namaku hanya muncul beberapa baris dalam paragraf novel itu.
Tipikal Novel abad pertengahan, dimana gadis biasa menjadi saint, dinikahkan dengan pangeran dan mantan tunangan sang pangeran—seorang putri Duke yang menjadi penjahat untuk mendorong perkembangan cinta mereka.
Dan aku, adalah penjahat itu.
"... sial, ini mengerikan."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DancingCorn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 22 - Dungeon: Rumah Hantu (2)
Clae menghela nafas dalam penyesalan. Melihat kembali tempat duduk hantu tadi, dia akhirnya mengerti.
"Lantai 7 ini... Sepertinya lebih sulit."
Rumah Berhantu.
Sepertinya itulah tempat ini, lagipula dia baru saja melihat monster semacam wraith muncul. Meski tidak agresif dan menyerang, jelas mahluk tadi merupakan wraith (hantu/monster menyerupai hantu berupa mahluk astral).
Clae tiba-tiba ingat sesuatu.
Rumah Hantu adalah rumah yang ada setelah seseorang meninggal dengan kematian yang tidak terduga dan tidak wajar.
Legenda mengatakan bahwa jika seseorang meninggal dengan cara seperti itu, mereka akan marah karena hidup mereka yang ditakdirkan belum selesai sudah diakhiri. Jiwa dari tubuh meraka akan menetap di lingkungan itu. Jiwa mereka perlahan-lahan akan berubah menjadi hantu.
Saat mereka tinggal sangat lama dan mampu menyimpan sedikit energi. Mereka menjadi semakin padat, sehingga mampu dilihat oleh manusia biasa. Merekalah yang disebut Wraith.
Mereka hanya bisa dimusnahkan dengan sihir suci dari seorang pendeta atau sihir cahaya.
Tapi pada novel [Freedom The Continent], Rumah Hantu tidak seperti itu.
Rumah Berhantu adalah rumah yang telah mengalami trauma di dalamnya, trauma nyata yang dimiliki penghuninya atau sisa-sisa perbuatan jahatnya. Sebuah kematian alami umumnya tidak akan menyebabkan terjadinya rumah hantu.
Kematian horizontal, itu merupakan frasa yang relatif populer pada jaman-jaman kegelapan, jaman yang membawa pahlawan datang dan memusnahkan seorang pengganggu dunia (Raja Iblis) pada masanya.
Umumnya, kematian horizontal merujuk pada kematian yang tidak wajar, seperti kecelakaan mengerikan, bunuh diri, pembunuhan, dll. Orang yang mati dengan cara ini dikatakan tidak mau menuju alam baka karena masih memiliki urusan di dunia.
Biasanya, karena hantu tidak akan pergi, sebagian besar rumah hantu memiliki beberapa hal aneh terjadi. Bahkan jika tidak ada hal aneh terjadi, rumah hantu akan menjadi semakin misterius karena dibicarakan dari mulut ke mulut.
Dalam novel itu, Rara Kusuma menghentikan Lucas dari memurnikan Wraith. Dia mengatakan banyak hal, menenangkan amarah hantu dan mendapat rekan Lich.
Jika itu masalahnya, Clae tidak perlu takut dengan hantu.
Selama urusan dunia mereka selesai, mereka akan kembali ke alam baka.
Selain lich atau skeleton, sulit bagi jiwa mati untuk menyakitinya. Bahkan Clae percaya bisa menghadapi zombie tanpa otak.
Meskipun Clae tidak terlalu religius, dia masih menghormati orang yang sudah meninggal. Karena itu, dia merasa pendekatan Rara sangat cocok untuknya.
Selain itu... Clae, bukan, Faninda Ruan Nada pernah menemui hal yang lebih mengerikan dari hantu.
Clae melihat tulisan pada kertas di atas meja. Tulisan itu sepertinya jatuh dari buku yang di pegang hantu wanita tadi.
[Permainan rumah hantu: Escape from Haunted House]
"Tentu saja ini permainan lain."
Clae menggeleng pelan sebelum melanjutkan.
[Rumah yang menyeramkan ini dipenuhi dengan teka-teki dan objek tersembunyi. Tujuan utama pemain game ini adalah menemukan cara keluar dari rumah hantu dan menyelamatkan teman yang diculik]
Clae mengerutkan kening. Lalu mengendurkannya.
"Haah. Pantas saja."
Clae bersandar pada kursi. Pikirannya melayang pada kucing hitam sombong dengan harga diri tinggi yang sebelumnya bersama dia.
Bukan berarti Clae tidak menyadari Baibai menghilang tepat setelah mereka dipindahkan. Dia masih ingat suara meminta tolong sebelumnya.
Dia tidak tau apa yang terjadi, tapi dia tidak mungkin bersikap tergesa-gesa. Dia hanya bisa memikirkannya perlahan dan tenang.
Namun sebelum dia menemukan petunjuk, sebuah Wraith muncul di depannya. Sekarang...
Sesuatu memberitahunya.
"Tapi... Keluar dari rumah ini..."
Senyum percaya diri tersungging di wajah Clae.
Clae berdiri dan mulai menuju pintu lain yang tertutup. Dia memutar kenop pintu namun tidak ada yang terjadi.
Sebuah kertas didorong dari balik pintu lain. Membuat Clae mengangkat alisnya.
[Silahkan menemukan kunci lebih dulu]
‘Ada apa dengan permainan anak-anak ini.’
Clae tidak menuruti apa yang tiba-tiba tertulis di atas meja. Dia dengan tenang berjalan ke jendela.
Ada sebuah jarum panjang tertancap di meja kecil dekat jendela. Sepertinya itu adalah jarum yang digunakan untuk menjahit atau menenun.
‘Pemilik rumah ini sepertinya suka menjahit, sangat membantu.’
Clae mengambil dua jarum dan dan kembali ke tempat pintu terkunci. Clae dengan tenang menggunakan jarum dan membuka pintu.
Klik klik
Pintu itu tiba-tiba terbuka setelah kuncinya terbuka. Clae memiliki senyum sinis di bibirnya.
“Aku tidak curang. Aku menemukan kunci ku sendiri.”
‘Persetan dengan permainan teka-teki. Dibawah keahlian semua itu percuma.’
Clae melihat jarum yang telah dia gunakan dan memasukkannya ke dalam tas.
“… Yah, meskipun ini bukan kekuatan yang begitu berharga.”
Clae berjalan lurus ke depan. Ini adalah kamar mandi. Clae melihat tubuhnya dan tersenyum.
Ya, dia berpikir untuk membilas tubuhnya yang sudah tidak bisa dikenali, namun mengingat rumah ini merupakan rumah berhantu. Dia mengurungkan niatnya.
Dia belum menikah, mengapa dia harus mengijinkan makhluk astral melihat seluruh tubuhnya.
Clae melihat ruangan itu dan sebuah tulisan semerah darah keluar dari kaca.
[Temukan jalan keluar.]
“… Huh? Apakah kalian kesal?”
Kata-kata itu sangat singkat. Seperti orang yang sedang merajuk.
Clae dengan tenang berbalik melihat pintu. Tertutup. Kali ini tidak ada lagi pegangan pintu. Pintu itu terlihat polos seperti dinding disekitarnya.
“Haaa, bukankah hantu seharusnya menakuti ku sekarang. Mengapa kalian hanya bermain tebak-tebakan.”
Sebuah bola bulu merah muda tiba-tiba keluar dari keran. Dia memiliki telinga kelinci yang panjang di kepalanya.
Clae sedikit merinding melihat itu. Ekspresinya berubah menjadi tabah saat dia bertanya.
“Hantu macam apa kamu?”
[Aku bukan hantu~ aku disini untuk bermain]
“Apa kamu yang baru saja bicara?”
[Um, benar. Siapa kamu? Tamu?]
“Kamu bisa menyebutku seperti itu."
Clae mengangguk acuh, malas menjelaskan.
Clae memilih panggilan sesuai benda yang tergantung di leher makhluk itu. Merah muda dengan telinga kelinci. Itu cukup lucu, namun Clae dengan preferensi berbeda hanya menganggapnya biasa.
Katakan saja, Clae bahkan tidak suka hal-hal manis.
"Hei pinky, apa kamu tau dimana seekor kucing hitam di sembunyikan.”
[Kucing hitam? Apakah dia memiliki garis bulu putih.]
“Itu perak, tapi ya. Apa kamu tau?”
[Aku tau, ikuti aku]
Clae melihat bola bulu itu melayang dan menembus langit-langit udara. Ada sebuah persegi yang bentuknya berbeda dari langit-langit lainnya.
Senyum kecil muncul di wajah Clae. Dia bertanya-tanya, apakah orang yang membuat rumah berhantu ini benar-benar memiliki niat membuat Escape Room.
[Hei, hei, hei. Kamu tahu, semua hantu sepertinya bersembunyi karena ada manusia yang tidak takut~]
“Benarkah?”
[Ya, ya, ya. Ini membuatku tidak bisa bermain.]
Clae merasa sedikit bersalah dihatinya. Dia sepertinya mengenal orang yang mereka bicarakan.
“Ternyata begitu, apakah hantu di tempat ini tidak jahat dan memakan manusia?”
[Tidak. Mereka hanya menakut-nakuti manusia yang datang. Meski itu sudah ratusan tahun yang lalu]
“Oh? Kenapa?”
[Agar manusia tidak berakhir terjebak bersama mereka.]
“Hmm?”
[Meskipun banyak hantu abstrak yang baik disini. Ada tiga jenis penjaga jahat yang bisa melukai orang-orang. Tengkorak yang menggunakan sihir, Kesatria tanpa kepala yang mengendarai hantu kuda, dan Anak kecil pembawa boneka.]
“Anak kecil?”
[Ya, jika kamu bertemu dengannya. Kamu harus segera lari. Tengkorak dan Kesatria bukan masalah besar. Anak kecil itu masalah yang sebenarnya.]
Clae belum sempat mendengar penjelasan Pinky saat seorang anak kecil perempuan dengan boneka beruang muncul di lorong yang berada di bawah mereka.
Clae bisa merasakan pinky berhenti dan diam. Clae tentu tidak bodoh, dia juga melakukan hal yang sama. Mereka melihat dari celah langit-langit.
Seorang hantu dengan topi bajak laut dan pedang usang ditangannya berada di jalan anak itu.
“Paman, ayo bermain, ayo bermain, ayo bermain, ayo…….”
“Diam.”
Suara itu akhirnya berhenti. Clae bisa melihat anak itu mulai menangis.
Boneka yang ada di tangannya tiba-tiba menjadi besar. Boneka adalah seekor beruang. Ada topi kecil di kepalanya. Matanya terdiri dari dua kancing baju yang berbeda warna. Ada banyak jahitan di tubuhnya, dan jaitan terbesar ada pada perutnya.
Boneka itu tiba-tiba bergerak memegang hantu bajak laut dan memakannya. Jahitan di perutnya terbuka memperlihatkan deretan gigi tajam dan runcing.
Boneka beruang yang mendengar anak kecil itu masih menangis kemudian memukulnya. Dia memukul anak itu sampai tubuh anak itu terpisah-pisah.
Tubuh anak itu bukanlah manusia, tubuh itu juga berisi kapas dan penuh benang bekas jahitan di setiap potongannya.
“Beary!!”
Gadis itu menjerit. Bonekanya kembali menjadi kecil dan tubuhnya kembali menyatu. Dia memukul kepala boneka itu dengan kesal.
“Beary, kamu nakal. Bagaimana kamu bisa memukulku, bagaimana kamu bisa memakan paman bajak laut!”
Meskipun gadis itu memarahi boneka. Dia bisa melihat gadis itu tersenyum lebar saat bicara.
Seorang tengkorak tiba sesudahnya. Gadis itu melihat tengkorak dengan tidak tertarik.
“Aku tidak mau bermain denganmu.”
“Hoo, bukan itu. Aku memiliki seekor kucing. Mungkin kamu mau membuatnya menjadi boneka baru?”
“Kucing??”