NovelToon NovelToon
Ketulusan Yang Nyata

Ketulusan Yang Nyata

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Percintaan Konglomerat / Mafia / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:202
Nilai: 5
Nama Author: dtf_firiya

Freya Rodriguez seorang wanita cantik anggun dan dewasa dijodohkan oleh orang tuanya dengan pria misterius yang dingin bahkan tak seorangpun tau kehidupannya dengan jelas. Pria itu bernama Pablo Xander seorang pria yang hidup sendirian setelah kakeknya meninggal, kakeknya menjodohkan dia dengan freya yang mau tak mau harus menurut karena kakeknya adalah kesayanganya.

_
Tanpa disadari mereka berdua telah saling mencintai satu sama lain setelah pertemuan pertama. Freya yang menerima semua kekurangan Pablo begitupun sebaliknya membuat mereka berdua sangat bahagia dengan keluarga kecilnya bersama dengan anak Pablo yang selama ini di rahasiakan dari publik.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dtf_firiya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Alessia Xander

Hari itu, New York seolah memberikan sambutan yang paling agung bagi penghuni barunya. Salju yang tadinya turun lebat kini telah berhenti, menyisakan pemandangan kota yang putih bersih di bawah langit biru yang jernih. Di depan pintu utama Rumah Sakit Mount Sinai, iring-iringan mobil SUV hitam yang mengkilap sudah bersiaga. Namun, di dalam kamar VVIP, suasana justru penuh dengan ketenangan yang sakral.

Pablo Xander berdiri di dekat jendela, mematikan ponselnya sepenuhnya—sebuah tindakan langka bagi pria yang mengendalikan kerajaan bisnis bernilai miliaran dolar. Baginya, hari ini hanya ada satu prioritas: membawa pulang istrinya, Freya, dan putri kecil mereka, Alessia Rodriguez Xander, ke tempat di mana mereka akan memulai hidup baru sebagai keluarga berempat.

Meninggalkan Rumah Sakit

Freya duduk di kursi roda, sebuah prosedur wajib rumah sakit, sambil mendekap Alessia yang terbungkus bedong kasmir berwarna putih bersih. Nael berdiri di samping ibunya, tangannya tidak lepas dari pegangan kursi roda, seolah ia adalah pengawal pribadi yang paling setia.

"Semua sudah siap, Pablo?" tanya Freya dengan suara yang masih sedikit lemah namun penuh kebahagiaan.

Pablo mengangguk, lalu membungkuk untuk mengecup kening Freya dan puncak kepala Alessia. "Semua sudah siap, Baby girl. Jalanan sudah dikosongkan oleh tim keamanan. Kita pulang sekarang."

Saat mereka keluar dari lobi, puluhan wartawan yang sudah menunggu di seberang jalan mencoba mengambil foto, namun barikade keamanan yang ketat memastikan privasi keluarga itu tetap terjaga. Pablo membantu Freya masuk ke kursi belakang limusin yang telah dimodifikasi dengan suhu udara yang diatur sempurna untuk bayi baru lahir. Nael duduk di antara mereka, matanya tidak berkedip menatap adik perempuannya yang sedang tertidur lelap.

Selama perjalanan melintasi Manhattan, suasana di dalam mobil begitu sunyi namun hangat. Freya menatap keluar jendela, melihat gedung-gedung tinggi yang lewat, dan menyadari betapa perspektifnya telah berubah. New York yang dulu ia lihat sebagai medan perang bisnis, kini ia lihat sebagai taman bermain tempat anak-anaknya akan tumbuh besar.

"Mommy, apakah Alessia akan suka kamarnya?" tanya Nael memecah keheningan. "Aku sudah menaruh boneka astronotku di dekat tempat tidurnya agar dia tidak takut gelap."

Freya tersenyum haru dan mengusap pipi Nael. "Dia pasti akan sangat suka, Sayang. Apalagi karena Kakak Nael yang menyiapkannya."

Pablo menggenggam tangan Freya dengan tangan kanannya, sementara tangan kirinya menyentuh jari-jari mungil Alessia yang menyembul dari bedong. "Dulu, aku membawa Nael ke rumah ini dalam keadaan penuh rahasia dan ketakutan," bisik Pablo pelan agar tidak membangunkan Alessia.

"Hari ini, aku membawa kalian pulang dengan kebanggaan. Ini adalah hari terbaik dalam hidupku."

Saat mobil memasuki gerbang besar mansion Xander, Freya tertegun. Gerbang itu dihiasi dengan karangan bunga lili putih dan mawar merah muda yang megah. Di sepanjang jalan masuk (driveway), seluruh staf rumah tangga berdiri rapi dalam barisan, menundukkan kepala dengan penuh rasa hormat.

Namun, kejutan sesungguhnya ada di depan pintu utama. Kakek Alan, Joice, dan Anne sudah berdiri di sana. Mereka tidak ingin menunggu di dalam; mereka ingin menjadi orang pertama yang menyambut Alessia di rumah barunya.

Mobil berhenti perlahan. Pablo turun lebih dulu, kemudian membantu Freya keluar dengan sangat hati-hati. Saat Freya berdiri sambil menggendong Alessia, Anne Rodriguez langsung melangkah maju dengan mata berkaca-kaca.

"Selamat datang di rumah, Alessia kecil," bisik Anne, suaranya parau oleh emosi.

Joice Rodriguez berdiri di samping istrinya, menatap cucu perempuannya dengan binar kebanggaan yang tak tertutupi. "Dia terlihat seperti seorang ratu sejak hari pertama," gumam Joice, lalu menepuk bahu Pablo dengan keras. "Kau telah membangun benteng yang luar biasa untuk mereka, Pablo."

Pablo mengambil alih Alessia dari gendongan Freya saat mereka melangkah melewati ambang pintu. Ini adalah tradisi yang Pablo ciptakan sendiri: sebagai kepala keluarga, ia ingin menjadi orang yang membawa putri mereka masuk ke rumah untuk pertama kalinya.

Lobi utama mansion yang biasanya terasa minimalis dan maskulin, kini telah berubah. Freya telah merenovasinya beberapa bulan lalu, namun hari ini, ruangan itu dipenuhi dengan balon-balon kasmir dan aroma kue vanila yang dipanggang oleh koki pribadi.

Mereka membawa Alessia menuju kamar bayi yang telah disiapkan. Nael berlari lebih dulu, membuka pintu ganda kamar tersebut dengan bangga. Kamar itu adalah sebuah mahakarya: langit-langitnya dilukis dengan rasi bintang yang lembut, pencahayaan yang temaram, dan sebuah tempat tidur bayi dari kayu jati ukiran tangan—hadiah dari Kakek Alan—yang berdiri megah di tengah ruangan.

Kakek Alan meminta bantuan Joice untuk mendekati tempat tidur bayi. Ia menatap Alessia yang baru saja diletakkan oleh Pablo. Sang patriark tua itu melepaskan cincin stempel keluarga Rodriguez dari jarinya—sebuah simbol kekuasaan yang telah ia pakai selama lima puluh tahun—dan meletakkannya di dalam kotak kecil di samping bantal Alessia.

"Ini bukan untuk dipakai sekarang," ucap Kakek Alan dengan suara berat yang memenuhi ruangan. "Tapi ini adalah pengingat. Bahwa darah yang mengalir di nadinya adalah darah para pemimpin. Dia akan tumbuh dengan mengetahui bahwa dunia ini ada untuk ia taklukkan, namun hatinya harus tetap selembut ibunya."

Freya memeluk kakeknya, merasa bahwa lingkaran keluarga ini kini telah benar-benar menutup dengan sempurna. Segala perselisihan masa lalu, segala keraguan tentang perjodohan, semuanya menguap digantikan oleh satu tujuan: menjaga masa depan Alessia dan Nael.

Setelah para tetua kembali ke ruang tengah untuk menikmati jamuan teh, Pablo dan Freya tetap berada di kamar bayi bersama Nael. Ini adalah momen yang mereka nantikan—saat mereka benar-benar sendirian sebagai satu keluarga utuh.

Nael duduk di kursi goyang di samping ranjang Alessia, mengamati adiknya dengan penuh kekaguman. "Daddy, dia punya hidung seperti Daddy," celetuk Nael.

Pablo tertawa kecil, merangkul bahu Freya yang bersandar padanya. "Dan dia punya mata yang indah seperti Mommymu. Dia akan menjadi sangat cantik, Nael. Itu berarti tugasmu untuk menjaganya akan sangat berat di masa depan."

"Aku tidak takut," sahut Nael dengan gaya berani yang mirip Pablo. "Siapapun yang mengganggunya harus berhadapan denganku."

Malam pun tiba. Setelah kesibukan sambutan berakhir dan mansion kembali tenang, Pablo dan Freya duduk di sofa kecil di sudut kamar bayi. Alessia tertidur lelap setelah disusui, tampak begitu damai dalam buaian kayu jatinya.

"Dua hari yang lalu, hidup kita terasa sangat berbeda," gumam Freya, menyandarkan kepalanya di bahu Pablo. "Sekarang, melihatnya di sini, di rumah ini... aku merasa segalanya sudah lengkap. Tidak ada lagi yang kurang."

Pablo mencium puncak kepala Freya. "Dante Valerius mencoba menghancurkan kita dengan rahasia tentang Nael. Tapi lihatlah kita sekarang. Kita tidak hanya bertahan, kita berkembang. Kita menciptakan kehidupan baru dari cinta yang awalnya mereka paksa untuk ada."

"Cinta ini tidak dipaksa, Pablo," balas Freya sambil menatap suaminya dengan tulus.

"Mungkin perjodohan itu yang mempertemukan kita, tapi pilihan untuk saling mencintai adalah milik kita sepenuhnya."

Hari pertama Alessia di mansion Xander ditutup dengan suasana yang penuh magis. Di luar, New York kembali berdenyut, namun di dalam dinding-dinding kokoh mansion tersebut, sebuah sejarah baru sedang ditulis.

Nael yang sudah tertidur di kamarnya sendiri setelah berjanji akan bangun pagi-pagi untuk melihat adiknya, Pablo yang kini memiliki tanggung jawab baru sebagai ayah dari seorang putri, dan Freya yang telah bertransformasi menjadi ibu yang tangguh dan bijaksana.

Alessia Rodriguez Xander bukan hanya seorang bayi; ia adalah simbol perdamaian antara dua dinasti, bukti kemenangan atas skandal, dan perwujudan dari cinta yang tulus. Saat lampu kamar bayi diredupkan, Pablo dan Freya melangkah keluar dengan perlahan, meninggalkan putri mereka di bawah penjagaan sistem keamanan tercanggih dan, yang lebih penting, di bawah naungan cinta yang tak terbatas.

Mansion Xander bukan lagi sekadar rumah mewah di New York; hari itu, ia resmi menjadi sebuah istana bagi keluarga yang telah memenangkan perang demi kebahagiaan mereka sendiri.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!