NovelToon NovelToon
MASALALU YANG MENGANTAR KEBAHAGIAAN

MASALALU YANG MENGANTAR KEBAHAGIAAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Mertua Kejam / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Penyesalan Suami
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: zanita nuraini

Naya percaya cinta cukup untuk mempertahankan pernikahan.

Namun tekanan dari ibu mertua yang terus menuntut keturunan, ditambah kemunculan masa lalu suaminya dengan sebuah kenyataan pahit, membuat hidup Naya perlahan runtuh.
Ini bukan kisah perempuan yang kalah, melainkan tentang Naya—yang pergi, bangkit, dan menemukan bahagia yang benar-benar ia pilih.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zanita nuraini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30 – Retakan yang Mulai Terasa

Setelah perkenalan singkat yang terasa canggung, suasana di depan restoran itu berubah perlahan. Aluna yang sejak tadi berdiri dekat Naya akhirnya ditarik pelan oleh Salma.

“Luna, ayo kita lanjut dulu,” kata Salma lembut, meski matanya masih sempat menatap Naya sekali lagi, seolah ingin memastikan sesuatu.

Aluna menoleh ke arah Naya, lalu ke Adit. Matanya tampak ragu, seperti menyimpan banyak pertanyaan kecil yang belum menemukan jawaban. Namun pada akhirnya ia hanya mengangguk dan berjalan mendekat ke ayahnya.

“Abi,” ucapnya pelan sambil menggenggam tangan Sagara, “nanti Luna boleh ketemu Tante Naya lagi?”

Sagara terdiam sejenak. Langkahnya melambat, lalu kembali berjalan seperti biasa.

“Kita lihat nanti,” jawabnya singkat.

Tidak ada penjelasan tambahan.

Naya dan Adit berdiri di tempat mereka semula, memperhatikan keluarga itu menjauh di antara keramaian mall. Tidak ada kata yang terucap di antara mereka, namun perasaan yang tertinggal sama-sama terasa ganjil—seperti udara yang mendadak berubah suhu tanpa alasan jelas.

Setelah itu, mereka melanjutkan rencana awal. Menyelesaikan belanja, berjalan menyusuri lorong mall, lalu kembali ke parkiran. Namun obrolan ringan yang biasanya mengalir hari itu terasa lebih pendek. Keduanya sama-sama sibuk dengan pikirannya sendiri.

*****

Di rumah, suasana baru benar-benar berubah.

Begitu pintu ditutup dan mereka masuk ke ruang keluarga, Adit meletakkan kunci mobil di meja, lalu menoleh ke arah Naya. Nada bicaranya datar, tetapi jelas menyimpan rasa penasaran.

“Nay… tadi itu,” katanya, “kamu kenal Pak Sagara dari mana?”

Naya menoleh. “Pak Sagara?”

“Iya,” lanjut Adit. “Dia pemilik perusahaan tempat Mas kerja.”

Kalimat itu membuat Naya terdiam sesaat. Wajahnya menunjukkan keterkejutan yang tidak bisa ia sembunyikan.

“Pemilik perusahaan?” ulangnya pelan.

“Iya,” jawab Adit. “Mas juga baru tahu tadi pas lihat langsung. Selama ini Mas cuma kenal dari rapat dan laporan.”

Naya menarik napas dalam. “Aku nggak tahu sama sekali, Mas,” katanya jujur. “Aku ketemu Aluna itu nggak sengaja. Beberapa kali di mall. Aku bahkan nggak pernah tanya siapa orang tuanya.”

Adit menatap istrinya, mencoba membaca ekspresinya. Tidak ada kegelisahan berlebihan di sana, hanya kejujuran yang polos.

Naya lalu menceritakan semuanya. Tentang pertemuan pertama dengan Aluna. Tentang bagaimana anak itu memanggilnya ummi. Tentang rasa tidak nyaman yang membuatnya memilih menjaga jarak. Tentang kunjungan singkat Aluna ke rumahnya bersama sang oma.

“Makanya aku juga kaget,” tutup Naya pelan, “pas tahu ternyata ayahnya Aluna itu atasan Mas.”

Adit mengangguk pelan. “Mas ngerti sekarang.”

Tidak ada nada curiga. Tidak ada nada menyalahkan. Hanya keheningan singkat yang menyusup di antara mereka—keheningan yang tidak berbahaya, tapi cukup untuk menandai sesuatu yang mulai bergeser.

******

Di tempat lain, di rumah keluarga Pramudya, Sagara duduk sendiri di ruang kerjanya.

Lampu meja menyala temaram. Berkas-berkas kerja masih terbuka, tetapi pandangannya kosong. Pikirannya kembali pada pertemuan singkat di mall siang tadi.

Wajah itu.

Cara bicara itu.

Cara menundukkan kepala dengan sopan.

Sagara memejamkan mata sejenak.

“Kenapa harus mirip…” gumamnya pelan.

Bukan hanya wajah. Sikap Naya pada Aluna, cara ia mendengarkan, cara ia tersenyum tanpa dibuat-buat—semuanya mengingatkannya pada Alya.

Istri yang sudah meninggal bertahun-tahun lalu.

Bahkan gaya berpakaian mereka nyaris sama. Tertutup, longgar, tidak mencolok. Alya selalu begitu. Sagara dulu tidak pernah memintanya. Itu pilihan Alya sendiri.

Dan kini, perempuan lain muncul dengan kesan yang sama.

Sagara menghela napas panjang. Dadanya terasa berat, bukan semata karena rindu, melainkan karena rasa bersalah yang mengikutinya ke mana-mana.

“Apa aku egois…” batinnya, “membiarkan Aluna berharap pada sosok yang bukan ibunya?”

Ia membuka laci meja, menatap foto kecil Alya yang masih ia simpan. Lama. Dalam diam.

Malam datang tanpa banyak suara.

Naya sudah menyelesaikan pekerjaannya. Adit duduk di ruang keluarga, sesekali membuka ponsel, sesekali menatap televisi tanpa benar-benar memperhatikan isinya. Setelah makan malam sederhana, mereka duduk berdampingan.

Tidak ada jarak, tidak pula terlalu dekat.

Adit mulai bercerita tentang kantornya. Tentang proyek yang sedang dikejar, tentang tekanan pekerjaan, tentang Pak Sagara yang dikenal tegas tapi adil.

“Mas kadang nggak nyangka bisa kerja di perusahaan sebesar itu,” katanya sambil tersenyum kecil. “Apalagi pemiliknya jarang turun langsung.”

Naya mengangguk, mendengarkan. Ia menimpali dengan candaan ringan agar suasana tetap hangat. Sesekali mereka tertawa kecil, percakapan mengalir seperti biasa.

Namun entah sejak kapan, pandangan Naya mulai menetap terlalu lama pada wajah suaminya.

Pada cara Adit tersenyum.

Pada lekuk bibir itu.

Pada sorot mata yang menyipit ketika ia tertawa kecil.

Ada sesuatu yang terasa… familiar. Tapi bukan dari kebiasaan yang ia kenal selama ini.

Adit tertawa lagi, kali ini karena leluconnya sendiri. Naya tidak ikut tertawa. Ia justru terdiam, menatap wajah itu lebih lama, mencoba menepis pikiran yang tiba-tiba muncul tanpa diundang.

“Kenapa, Nay?” tanya Adit akhirnya menyadari tatapan istrinya.

“Hah?” Naya tersentak. “Nggak, Mas. Nggak apa-apa.”

Adit mengangguk, mengira istrinya hanya lelah, lalu kembali fokus pada ponselnya.

Namun Naya tidak lagi mendengarkan.

Di kepalanya, wajah lain muncul.

Wajah Rafi.

Anak kecil yang terbaring di rumah sakit.

Cara Rafi tersenyum malu-malu.

Cara matanya menatap dengan polos.

Naya menelan ludah. Dadanya terasa mengencang.

Ia kembali menatap Adit. Kali ini lebih saksama. Lebih teliti.

Bentuk hidung itu.

Garis rahang itu.

Bahkan senyum kecil yang muncul di sudut bibir.

Perlahan, potongan-potongan ingatan itu saling bertaut. Bukan satu dua kemiripan, tapi terlalu banyak untuk diabaikan.

Naya memalingkan wajahnya. Jantungnya berdetak tidak beraturan. Tangannya mengepal tanpa sadar di atas pangkuan.

“Ini nggak mungkin,” bisiknya dalam hati.

Ia mencoba menertawakan pikirannya sendiri. Mencari alasan logis. Meyakinkan diri bahwa ia hanya kelelahan.

Semakin ia mencoba menyangkal, semakin kuat rasa ganjil

itu menekan dadanya.

Naya menutup mata sejenak.

Lalu sebuah pertanyaan muncul, pelan tapi tajam

jangan-jangan…

...****************...

Selamat pagi readers selamat membaca like komennya dong terimakasih

Follow tiktok author @zanitanuraini

1
sherapine
bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!