Follow fb : mumuyaa
ig : @tulisanmumu
Zaidan tidak tahu, apakah ini cinta pada pandangan pertama, atau hanya rasa kasihan hingga rasa ingin melindungi saja karena dirinya yang merupakan seorang polisi. Namun yang ia tahu, ia ingin melindungi wanita itu.
“Saya berjanji. Saya akan pastikan pria bajingan ini pasti akan menerima hukuman yang berat. Dia tidak akan pernah lolos, tidak akan pernah merasakan dunia luar lagi. Jadi… jangan buat hati ibumu patah lagi."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mumu.ai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PPPL 5
“Zahra…”
Zahra dan seorang polisi pria menghentikan langkah mereka. Wanita itu membalikkan badannya dan melihat Zaidan berjalan ke arahnya.
“Nanti saya saja yang akan membawanya ke sel,” ucap Zaidan pada polisi yang pangkatnya berada dibawahnya.
“Siap, Ndan.” Polisi itu akhirnya pergi meninggalkan Zahra bersama dengan Zaidan.
“Ikut ke ruangan saya,” ucap Zaidan. Ia kemudian melangkah terlebih dahulu, disusul dengan Zahra yang mengikutinya dari belakang.
Mereka masuk ke dalam ruangan yang di pintunya bertuliskan Kanit Opsnal Subdit Narkoba.
Hal pertama yang Zahra lihat adalah, ruangan itu sangat rapi. Walaupun diatasnya ada banyak kertas, buku dan juga laptop, namun semua tersusun sangat rapi. Walau demikian, rasa was-was dan tidak tenang masih menggerogotinya.
“Duduk,” perintah Zaidan.
Dengan gerakan pelan Zahra duduk di sebuah kursi yang berada di depan sebuah meja kerja. Di atasnya terdapat sebuah papan yang bertuliskan Iptu Zaidan….
“Maaf berantakan,” sela Zaidan yang baru saja duduk di mejanya. “Saya lagi selesaikan skripsi.”
Melihat tidak ada respon dari Zahra, Zaidan menjadi salah tingkah sendiri. Dirinya seakan baru sadar, kenapa dirinya harus menjelaskan sedetail itu pada Zahra.
“Ada apa ya, Pak?” Suara Zahra kembali membuat Zaidan pada modenya.
“Tunggu sebentar,” jawab Zaidan. Dan tak lama setelah itu, pintu diketuk dari luar dan muncul sosok perempuan berumur yang datang sambil membawa nampan makanan.
“Ini Pak Zaidan pesanannya.” Ibu tua itu meletakkan satu per satu bawaannya ke atas meja Zaidan.
“Terima kasih, Bu,” ucap Zaidan sopan.
“Sama-sama, Pak Zaidan.”
Ibu itu lalu keluar, dan menutup rapat pintu kembali.
Di atas meja itu terhidang semangkuk soto panas serta air putih hangat. Ada nasi putih dan juga sebungkus cabai disana.
“Di makan dulu.”
Ucapan Zaidan itu tentu saja membuat Zahra sedikit kebingungan.
“Saya tahu kalau di rumah sakit tadi kamu tidak makan dengan layak. Jadi sekarang… makan dulu. Setidaknya, perut kamu itu harus diisi dulu. Saya tidak tahu kamu suka soto atau tidak. Tapi—”
Zaidan sedikit mencondongkan tubuhnya ke depan, kedua telapak tangannya bertumpu di atas meja kerjanya. Tatapannya lurus, tak berkedip.
“Kamu harus makan.”
Nada suaranya tegas. Bukan marah, tapi sama sekali tidak memberi celah untuk dibantah.
Zahra tercekat.
Semangkuk soto ayam mengepul hangat di hadapannya, dengan kuah kuning bening, suwiran ayam, taburan bawang goreng yang aromanya samar tapi menggoda. Perutnya yang sejak tadi hanya diisi kecemasan, tiba-tiba berkontraksi pelan.
“Saya… nggak lapar, Pak,” ucap Zahra pelan, nyaris berbisik.
Zaidan mendengus kecil. Ia lalu merapatkan kursinya ke depan.
“Bohong,” katanya singkat. “Orang yang belum makan dari pagi nggak mungkin nggak lapar.”
Zahra menunduk. Jarinya kembali memilin ujung bajunya.
“Saya nggak biasa makan kalau lagi begini,” ujarnya lirih. “Rasanya… mual.”
Zaidan menghela napas pelan, lalu suaranya melunak namun masih tegas, tapi tak lagi mengintimidasi.
“Dengar ya,” ucapnya. “Sebentar lagi kamu masih harus diperiksa lagi. Saya nggak mau kamu pingsan di ruang pemeriksaan cuma karena perut kosong.”
Ia mendorong mangkuk soto itu sedikit lebih dekat.
“Makan. Pelan-pelan juga nggak apa-apa.”
Zahra mengangkat wajahnya. Tatapan mereka bertemu. Ada sesuatu di mata Zaidan. Bukan sekadar kewajiban sebagai polisi, melainkan kepedulian yang jujur dan tanpa pamrih.
Dengan ragu, Zahra mengambil sendok itu.
Suapan pertama masuk ke mulutnya dengan canggung. Ia mengunyah perlahan, menunggu rasa mual yang ia khawatirkan.
Namun… tidak ada.
Kuah sotonya hangat, ringan, dan entah kenapa menenangkan. Ayamnya empuk. Aromanya mengingatkannya pada pagi-pagi sederhana di rumah, saat ibunya masih kuat berdiri lama di dapur.
Zahra menelan suapan itu.
Lalu suapan kedua.
Zaidan tidak berkata apa-apa. Ia hanya menyandarkan punggungnya di kursi, kedua lengannya terlipat, matanya tetap mengawasi Zahra seolah memastikan gadis itu tidak berhenti.
“Makanannya enak?” tanyanya akhirnya.
Zahra mengangguk kecil. “Iya…”
Ia kembali menyendok. Kali ini lebih cepat. Entah karena memang lapar, atau karena perutnya akhirnya menyerah. Atau mungkin… karena ada sepasang mata yang terus mengawasi, memastikan ia benar-benar menjaga dirinya sendiri.
Beberapa menit berlalu.
Sendok Zahra bergerak makin lancar. Napasnya yang sejak tadi pendek-pendek mulai lebih teratur. Bahunya tak lagi setegang sebelumnya.
Hingga akhirnya, mangkuk itu kosong tanpa terasa.
Zahra menatap sisa kuah terakhir di dasar mangkuk dengan sedikit terkejut.
“Habis,” gumamnya, lebih pada dirinya sendiri.
Zaidan mengangguk puas. “Bagus.”
Zahra meletakkan sendok, lalu mendongak.
“Terima kasih, Pak,” ucapnya tulus. “Sudah… maksa saya makan.”
Sudut bibir Zaidan terangkat tipis. Hampir seperti senyum, meski cepat ia sembunyikan.
“Kadang orang harus dipaksa,” jawabnya ringan. “Terutama kalau lupa caranya peduli sama diri sendiri.”
Zahra terdiam.
Kalimat itu sederhana, tapi lagi-lagi menghantam tepat di dadanya. Baru pertama bertemu, namun hari ini, entah sudah berapa kali polisi muda yang memakai baju polo hitam itu berhasil menusuk dadanya dengan kata-kata yang seolah ingin membangkitkan sesuatu yang telah lama terkubur.
*****
Malam-malam yang jual soto ada nggak ya? Jadi pengen soto deh 😆😆
Jangan lupa like, komentar dan kopi bunga nya ya biar author semakin semangat 🥰🥰