NovelToon NovelToon
Menjebak Jodoh

Menjebak Jodoh

Status: sedang berlangsung
Genre:Berondong / One Night Stand / Hamil di luar nikah / Pernikahan Kilat / Romansa
Popularitas:436.2k
Nilai: 5
Nama Author: Yutantia 10

Jodoh dicari ✖️

Jodoh dijebak ✔️

Demi membatalkan perjodohan yang diatur Ayahnya, Ivy menjebak laki-laki di sebuah club malam untuk tidur dengannya. Apapun caranya, meski bagi orang lain di luar nalar, tetap ia lakukan karena tak ingin seperti kakaknya, yang menjadi korban perjodohan dan sekarang mengalami KDRT.

Saat acara penentuan tanggal pernikahan, dia letakkan testpack garis dua di atas meja yang langsung membuat semua orang syok. ivy berhasil membatalkan pernikahan tersebut sekaligus membuat Ayahnya malu. Namun rencana yang ia fikir berhasil tersebut, ternyata tak seratus persen berhasil, ia dipaksa menikah dengan ayah janin dalam kandungan yang ternyata anak konglomerat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yutantia 10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 34

Ivana, perempuan itu nyengir melihat penampilan Inara yang baru keluar kamar. Bisa-bisanya, ibu tirinya itu berdandan jauh lebih cetar dari pada Ivy, pengantinnya. Kebaya merah mudanya begitu mewah, bling-bling dengan hiasan swarovski, berbanding terbalik dengan kebaya putih Ivy yang simpel. Potongan bagian dadanya rendah, memperlihatkan asetnya yang montok. Sampai-sampai, Wahyu yang duduk di sebelahnya terlihat menelan ludah beberapa kali.

"Wow, luar biasa," puji Wahyu, berjalan mendekati Inara sambil berdecak kagum dan geleng-geleng. "Lo emang juaranya, Ra. Ups, sorry!" ia cepat-cepat menutup mulut dengan telapak tangan. "Udah gak boleh manggil lo gue ya. Ibu," ia meraih tangan Inara, mencium takzim.

Ivana yang duduk bersama Ivy di sofa, muak melihat itu. Ia bangkit, mendekati suaminya dan Inara. "Gak udah lebay deh, Mas," menarik tangan Wahyu yang belum juga melepaskan tangan Inara, menatapnya kesal.

"Lebay apaan, aku cuma salim sama Ibu kamu, bukannya begitu seharusnya menantu pada mertuanya. Benarkan, Ibu mertua?" tersenyum, menatap Inara mesum.

Inara hanya senyum-senyum sembari merapikan selendangnya.

Ivana membuang nafas berat melihat tataan Wahyu yang fokus pada dada Inara. Entah sudah berapa kali suaminya itu ia lihat membasahi bibirnya. Sudahlah, ia tak mau ambil pusing mengenai dua manusia yang sama-sama gila itu. Daripada sakit hati, ia kembali menghampiri Ivy, menuntunnya keluar. Sebenarnya sejak tadi, mereka memang tinggal menunggu Inara yang dandannya lama. Papa mereka ada di ruang tamu bersama saudara lainnya, sibuk memamerkan calon besannya.

"Jaga mata lo!" Inara menunjuk mata Wahyu sambil tersenyum simpul.

"Lo terlalu menarik untuk dilewatkan, Inara," Wahyu membuang nafas kasar.

"Gue Ibu mertua lo," tekan Inara.

"Halah, gak usah sok jaim gitu," cibir Wahyu. "Gue ngerti kok, cewek kayak apa lo. Kapan-kapan, cobain sama gue, dijamin puas." Ia mere mas pantat Inara, lalu pergi begitu saja.

"Dasar menantu kurang ajar," maki Inara pelan, namun sambil tersenyum. Kalau ada kesempatan sama yang muda, kenapa enggak. Sejujurnya ia memang kurang puas dengan Agung, suaminya itu tak bisa bertahan lama, bahkan jarang sekali membuat ia sampai mendapat puncak.

Setelah Inara keluar, semuanya langsung masuk ke dalam mobil masing-masing. Ivy ikut dalam mobil Papanya dan Inara.

"Sayang, aku udah cantikkan?" tanya Inara pada Agung yang duduk di sebelahnya, di bangku belakang. Sejak tadi, ia sibuk sekali dengan penampilannya, mengalahkan pengantin yang justru terlihat santui.

"Udah cantik kok," Agung merapikan sedikit rambut Inara yang disanggul modern.

"Hari ini pertama kali aku dengan status baru sebagai istri kamu, jadi gak mau malu-maluin kamu."

Ivy yang duduk di depan bersama Rian, pengen muntah dengernya. "Gak pengen Papa malu, atau gak pengen kelihatan jelek pas ketemu mantan."

Inara terlihat tak peduli sama sekali dengan ucapan Ivy.

"Mantan?" Bukan Agung, tapi justru Rian yang kepo.

"Gak usah ngomong yang enggak-enggak kamu, Vy," tegur Inara. Sebenarnya tak masalah juga kalau Agung tahu dia mantan kekasih Kakaknya Yasa, toh sudah mantan, dan memang tak ada hubungan apapun sekarang.

Ivy cuma nyengir. Sudahlah, ia tak mau hari ini rusak, jadi mending diam, meski sebenarnya pengen nyinyirin Inara.

Di rumahnya, sambil terus menatap jam, jantung Yasa berdebar kencang. Menghitung menit demi menit menuju ijab kabul. Saking groginya, kakinya sampai terus bergerak saat duduk di sofa. Ia bahkan sudah habis minum beberapa botol air mineral untuk menenangkan diri namun tetap masih tegang juga. Di luar sudah ramai, tamu mulai berdatangan sejak 30 menit yang lalu. Kalau sesuai jadwal dan tidak macet, keluarga Ivy akan tiba sekitar 15 menit lagi.

"Yas, jangan minum terus, nanti beser," Mama Sani mengambil botol air mineral di tangan Yasa, meletakkan ke atas meja.

"Mah, Abang dulu kok kayaknya santai, gak nervous gini."

"Ya sama aja, semua laki-laki yang mau nikah pasti nervous, terutama yang benar-benar, dan sungguh-sungguh faham apa itu pernikahan." Sani duduk di sebelah Yasa. "Menikah itu, mengambil alih tugas ayah, tanggung jawabnya gede. Tanggung jawab yang dulunya dipundak Papa Ivy, pindah ke kamu setelah ijab kabul nanti."

"Aku takut kalau ngulang, Mah," Yasa menggenggam tangan Mamanya.

"Ngulang gak dosa kok, gak apa-apa. Wajar, namanya juga grogi. Takut itu, kalau gak bisa komitmen dengan pernikahan. Ijab kabul itu cuma gerbang, karena yang selanjutnya akan lebih berat daripada itu."

"Seberat itu ya, Mah, nikah?" Yasa menatap kedua mata Mamanya. Mungkinkah ini yang ditakutkan Ivy, batinnya.

"Berat kalau salah milih, kalau enggak ya enjoy. Mama cuma bisa berdoa, semoga kamu dan Ivy nantinya bisa menjadi keluarga yang samawa."

Alih-alih mengaminkan, Yasa malah salfok dengan ekspresi Mamanya. "Mama kok kayak gak yakin gitu raut wajahnya?"

Sani tersenyum simpul, ternyata pura-pura itu tidak mudah, butuh skill. Ya kalau harus jawab jujur, ia memang kurang yakin dengan Yasa dan Ivy. "Yakin kok," ia mengusap punggung tangan Yasa, menatap matanya. "Mama yakin anak Mama bisa jadi kepala rumah tangga yang baik, yang bertanggung jawab," matanya mulai berkaca-kaca. "Meski orang sering bilang, kalau sesuatu yang diawali dengan keburukan, akan berakhir buruk juga, tapi Mama tetep yakin, kamu dan Ivy bisa mengubah yang buruk menjadi lebih baik, dan semakin baik lagi."

"Aamiin."

Yasa menarik nafas dalam, membuangnya perlahan, melakukan itu beberapa kali untuk mengurangi tegang.

"Mom," panggil Luth yang baru masuk. Bocah itu terlihat terengah-engah meski hanya lari dari halaman ke ruang tengah. "Pengantinnya sudah datang."

Sani langsung berdiri, merapikan kebaya dan hijabnya. "Ayo, Yas!"

"Keluar nanti aja lah, Mah."

Sani menghela nafas berat. "Emang kamu pengantin perempuan, mau ngumpet di dalam. Ayo keluar. Pengantin laki-laki udah harus siap di tempat ijab saat pengantin perempuan datang."

Yasa mengusap wajah dengan kedua telapak tangan, mengucap bismillah lalu berdiri, merapikan jas dan kopiahnya.

Di luar, Papa Yusuf, Nuh, dan Om Yuka yang memakai batik seragam, menjadi terima tamu. Kakek Fatur absen karena sudah susah jalan, beliau duduk di dalam bersama keluarga lainnya. Meski pernikahan sederhana, semua keluarga inti memakai pakaian seragam, termasuk Sani, Yasmin, Nenek Farah, juga Tante Yumi, minus Alice yang tak datang meski sudah mendapatkan kebaya seragam.

Setelah semua rombongan datang dan berkumpul, Ivy berjalan paling depan, digandeng Agung dan Ivana. Sementara di belakang mereka, ada Inara dan Wahyu, yang lebih cocok disebut pasangan daripada Inara dan Agung.

Nuh, pria itu mengucek matanya, takut salah lihat. Wanita yang berjalan di belakang pengantin, mirip sekali dengan mantan pacarnya, Inara. Tapi gak mungkin itu Inara, mungkin hanya mirip saja.

"Selamat datang, silakan masuk," diantara para penerima tamu, hanya Om Yuka yang terlihat melakukan perannya dengan baik.

Papa Yusuf tak bisa menyembunyikan perasaan kurang senangnya pada Agung, terlihat malas-malasan menyambut tamu. Sementara Nuh, dia malah asyik bengong, menatap wanita berkebaya pink super seksi yang mirip sekali dengan Inara.

Kesal Nuh malah bengong, tak menyalami tamu, Om Yuka menyenggol lengannya. Buru-buru, Nuh menyalami Agung dan Ivana. Saat giliran bersalaman dengan wanita yang mirip Inara, ia kembali bengong, menatap lama, baru tersadar saat jemari wanita itu menggelitik telapak tangannya.

"Apa kabar, Nuh?" sapa Inara pelan, sedikit mencondongkan badan ke arah Nuh.

Deg

Jantung Nuh serasa mau copot. Fix, bukan lagi mirip, wanita itu memang Inara, mantan kekasihnya.

1
Ayla Anindiyafarisa
😅😅😅ganggu aja temen kamu y yas
Zuriana Nisa
bagus banget
Humaira
astagaaaa yasa... sakitnya tak seberapa, tapi malunya ini.... 😂😂😂😂😂🤭
Ass Yfa
ya ampun Yas....ada2aja ..kentang kan🤭🤭🤭harusnya dibriefing dulu😄😄
enungdedy
gk suka karakter ivy yg skg...kan dia duluan yg jebak yasa smpe dia hamil dan nikahin dia
tp skg mlaah dikit2 ngambek sm yasa...hrusnya bersyukur si yasa mau nikahin dia mau tanggung jawab
ini mlh kyak nuntut ini itu
Hani Ekawati
Habis kau Yas di Cengin sm teman teman 🤣🤣🤣
Hani Ekawati
Buahahahahaha.....asem 🤣🤣🤣
Hani Ekawati
Ternyata hikmah dari KKN nya Yasa, Ivy jadi semakin dekat dengan mama mertua
Hani Ekawati
Setelah telponan pada bentol 😁
Hani Ekawati
Entar pas pulang banyak tanda dari nyamuk 🤭
Hani Ekawati
Owh KKN nya di Bogor
Hani Ekawati
Wkwkwkwkwkwk.. ampun si gemoy Luth 🤣
Hani Ekawati
🤣🤣🤣🤣🤣
itu mah detak jantung mama nya 🤣
Hani Ekawati
Ivana otw jadi janda kaya raya ☺️
Hani Ekawati
Bagus Iv
Hani Ekawati
Biarin aja ivana, jangan pedulikan perusahaan bapakmu toh kamu tidak bisa menikmati karena bapakmu lebih mementingkan sama gundiknya apalagi sekarang gundiknya di nikahi.
Hani Ekawati
Ternyata sedang sakit keras
Hani Ekawati
Owalah pantesan Wahyu kaya gitu
Hani Ekawati
Ibu mertuanya kira kira judes ngga sih? jadi takut
Rahmawati
usil bgt temen temenannya, yasa pasti malu bgt tuh😂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!