Keluarga Arini dan Rizky tampak sempurna di mata orang lain – rumah yang nyaman, anak yang cerdas, dan karir yang sukses. Namun di balik itu semua, tekanan kerja dan harapan keluarga membuat Rizky terjerumus dalam hubungan selingkuh dengan Lina, seorang arsitek muda di perusahaannya. Ketika kebenaran terungkap, dunia Arini runtuh berkeping-keping. Novel ini mengikuti perjalanan panjang mereka melalui rasa sakit, penyesalan, dan usaha bersama untuk memulihkan kepercayaan yang hancur, serta menemukan makna cinta yang sesungguhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elrey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ARINI TINGGAL BERSAMA IBU
Sudah hampir dua bulan Arini dan Tara tinggal di rumah ibu nya, Bu Siti.
Rumah yang cukup luas dengan pekarangan yang rindang ini mulai terasa seperti rumah kedua bagi mereka – tempat di mana mereka menemukan ketenangan dan dukungan saat menghadapi masa-masa sulit dalam hidup mereka.
Setiap pagi, Arini bangun jam 05.00 untuk memulai persiapan kue-kue untuk pesanan hari itu.
Bu Siti selalu bangun bersamanya, membantu mengocok adonan atau memotong hiasan buah untuk kue.
Mereka bekerja bersama dalam suasana yang tenang, terkadang berbincang ringan tentang hal-hal sehari-hari, terkadang hanya menikmati suara alat masak yang beroperasi dan aroma kue yang mulai mengembang di oven.
"Hari ini ada pesanan tiga buah kue ulang tahun dan sepuluh kotak kue bolu untuk acara perusahaan," ujar Arini sambil melihat daftar pesanan yang ada di ponselnya.
"Saya perlu menyelesaikan semuanya sebelum jam 12.00 siang agar bisa mengantarnya tepat waktu."
Bu Siti mengangguk sambil menaruh adonan kue ke dalam loyang. "Saya bantu kamu mengemasnya nanti ya sayang. Kalau perlu, kita bisa memanggil Rina untuk membantu mengantar pesanan yang jauh."
Arini tersenyum melihat perhatian ibu nya. Sejak dia dan Tara tinggal di sini, Bu Siti telah menjadi tulang punggungnya – selalu ada untuk memberikan dukungan moral dan bantuan praktis setiap saat.
Tidak hanya membantu dengan bisnis kue nya, Bu Siti juga selalu ada untuk menemani Tara saat Arini harus keluar atau bekerja lembur.
"Saya sangat berterima kasih atas segalanya Bu," ujar Arini dengan suara yang penuh rasa terima kasih. "Tanpa kamu, saya tidak akan bisa melewati semua ini dengan baik."
Bu Siti mendekat dan menepuk bahu anak perempuannya dengan lembut. "Kamu adalah anak saya, Arini. Tentu saja saya akan selalu ada untukmu dan cucu saya. Kita keluarga, dan keluarga harus saling membantu satu sama lain dalam suka maupun duka."
Setelah menyelesaikan persiapan kue, Arini mandi dan bersiap untuk menganta pesanan. Tara sudah bangun dan sedang sarapan bersama nenek nya di ruang makan.
Anak itu mengenakan baju sekolahnya yang rapi, rambutnya sudah diikat rapi oleh Bu Siti.
"Mama, setelah sekolah bolehkah saya main dengan teman saya Aisyah di rumahnya?" tanya Tara dengan mata yang penuh harapan. "Kakaknya punya mainan baru yang bisa kita mainkan bersama."
"Kalau nenek tidak keberatan mengantar dan menjemput kamu ya boleh," jawab Arini sambil mencium dahi anaknya. "Tetapi kamu harus berperilaku baik ya dan tidak boleh mengganggu keluarga teman kamu."
Setelah mengantar Tara ke sekolah dan menyelesaikan pengantaran pesanan kue, Arini memutuskan untuk mengunjungi klinik konseling Dr. Sari sendirian.
Dia merasa perlu untuk berbicara tentang perasaan yang sedang dia alami – bagaimana dia merasa lebih tenang tinggal bersama ibu nya, namun juga merindukan kehidupan bersama Rizky dan Tara di rumah lama mereka.
"Saya merasa seperti berada di antara dua dunia," ujar Arini saat duduk di ruangan konseling yang nyaman. "Di satu sisi, saya merasa aman dan terlindungi tinggal bersama ibu saya. Di sisi lain, saya merindukan kehangatan rumah saya sendiri dan ingin memberikan Tara lingkungan keluarga yang utuh."
Dr. Sari mengangguk dengan penuh pengertian. "Itu adalah perasaan yang sangat normal, Arini. Kamu sedang menghadapi situasi yang sulit dan memiliki hak untuk merasa bingung atau ragu. Yang terpenting adalah kamu membuat keputusan yang terbaik untuk dirimu sendiri dan untuk anak kamu."
Dia menjelaskan bahwa tinggal bersama keluarga bisa menjadi dukungan yang sangat berharga selama masa pemulihan, namun penting bagi Arini untuk juga mulai membangun kepercayaan diri dan kemampuan untuk berdiri sendiri.
Dia menyarankan agar Arini mulai merencanakan langkah-langkah untuk kembali ke rumah lama mereka secara bertahap, mulai dari menghabiskan waktu lebih banyak di sana bersama Rizky dan Tara.
Setelah sesi konseling selesai, Arini pergi ke pasar untuk membeli bahan makanan untuk makan malam.
Saat dia sedang memilih sayuran segar di kios kesayangannya, dia melihat seorang wanita yang sedang berdiri di dekatnya – wanita itu mengenakan jilbab warna biru muda dan sedang memilih buah untuk anaknya yang sedang bermain di dekatnya. Arini langsung mengenalnya sebagai Lina.
Lina juga melihatnya dan langsung merasa sedikit canggung. Dia mendekat dengan hati-hati dan memberikan senyum yang penuh rasa minta maaf. "Bu Arini... saya tidak sengaja bertemu denganmu di sini."
Arini merasa hati sedikit berdebar, namun dia tetap tenang dan memberikan senyum balik yang ramah. "Tidak apa-apa, Lina. Apa kabarmu?"
"Saya baik-baik saja Bu," jawab Lina dengan suara lembut. "Saya sudah mulai kuliah di universitas lokal di Surabaya dan bekerja paruh waktu di sebuah perusahaan arsitektur kecil di sana. Saya datang ke kota ini untuk mengunjungi nenek saya yang sedang sakit."
Mereka berdiri sebentar berbicara tentang hal-hal sehari-hari. Lina mengatakan bahwa dia benar-benar telah berubah dan sedang berusaha untuk membangun hidup baru yang lebih baik.
Dia mengucapkan maaf sekali lagi atas semua masalah yang dia timbulkan dan berharap bahwa Arini dan keluarga nya bisa menemukan kebahagiaan kembali.
"Saya sangat menyesal atas apa yang telah saya lakukan, Bu Arini," ujar Lina dengan mata yang berkaca-kaca. "Saya tidak pernah bermaksud untuk menyakiti kamu atau keluarga kamu. Saya hanya berharap kamu bisa memberinya kesempatan kedua untuk menjadi suami dan ayah yang baik."
Arini mengangguk perlahan. "Saya sudah memberinya kesempatan itu, Lina. Dan saya melihat bahwa dia benar-benar berubah. Semoga kamu juga bisa menemukan kebahagiaan yang kamu cari dalam hidupmu."
Setelah berpisah dengan Lina, Arini merasa hati nya menjadi lebih ringan. Melihat bahwa Lina sudah benar-benar bergerak maju dengan hidup nya dan tidak memiliki niat untuk mengganggu keluarga mereka lagi membuatnya merasa lebih tenang dan yakin dengan keputusannya untuk memberi Rizky kesempatan kedua.
Sore hari, Arini menjemput Tara dari sekolah dan membawa dia ke rumah lama mereka untuk melihat perkembangan yang telah dilakukan Rizky.
Saat mereka tiba, Tara langsung berlari ke taman belakang dengan sangat senang melihat ayunan baru yang telah dipasang Rizky. Rizky sendiri sedang berada di taman, menyiram tanaman baru yang telah dia tanam.
"Saya sudah menanam bunga matahari, mawar putih, dan beberapa jenis bunga lain yang kamu suka lho sayang," ujar Rizky saat mendekat untuk menyambut Arini. "Saya juga sudah memperbaiki taman bermain kecil untuk Tara dan merencanakan untuk membuat kolam ikan kecil di sudut taman."
Arini melihat sekeliling taman yang sudah sangat berbeda dari sebelumnya – lebih rapi, lebih indah, dan penuh dengan warna-warni bunga yang cantik.
Di dalam rumah, dia melihat bahwa semua ruangan sudah dibersihkan dengan rapi, lantai sudah dipoles, dan beberapa perabotan baru telah ditambahkan untuk membuat rumah terasa lebih nyaman.
"Saya juga sudah memperbaiki semua peralatan rumah tangga yang rusak," ujar Rizky sambil menunjukkan kompor baru di dapur dan mesin cuci baru di ruang cuci. "Saya ingin memastikan bahwa ketika kamu dan Tara kembali tinggal di sini, kamu tidak perlu khawatir tentang apa-apa."
Mereka makan malam bersama di rumah lama itu – makanan yang dibuat Rizky sendiri dari bahan-bahan segar yang dia beli dari pasar.
Tara makan dengan sangat senang dan terus bercerita tentang hari nya di sekolah dan tentang teman-temannya.
Setelah makan malam, mereka duduk bersama di ruang tamu menonton film kartun kesukaan Tara, seperti yang mereka lakukan dulu.
Saat Tara tertidur di pangkuan Arini, Rizky mengambil tangannya dengan lembut. "Saya tahu bahwa kamu masih membutuhkan waktu untuk benar-benar siap untuk kembali tinggal di sini," ujarnya dengan suara yang lembut.
"Tapi saya ingin kamu tahu bahwa saya akan selalu menunggu kamu. Saya akan terus memperbaiki diri dan membuat rumah ini menjadi tempat yang lebih baik dari sebelumnya untuk keluarga kita."
Arini melihat ke arah suaminya dengan mata yang penuh dengan cinta dan harapan. "Saya melihat semua usaha yang kamu lakukan, Rizky. Dan saya sangat menghargainya. Saya tidak tahu kapan saya akan benar-benar siap untuk kembali tinggal di sini, tapi saya merasa bahwa hari itu semakin dekat."
Malam itu, Arini dan Tara kembali ke rumah Bu Siti. Namun saat dia tidur, Arini tidak bisa berhenti memikirkan rumah lama mereka dan tentang semua usaha yang telah dilakukan Rizky untuk memperbaiki diri dan rumah mereka.