Dikhianati dan dipermalukan, Nafiza Azzahra, wanita bercadar yang lembut, mendapati pernikahannya hancur berantakan. Dipaksa memulai hidup baru, ia bertemu Zayn Al Malik, CEO muda yang dingin dan tak tersentuh, Namun, sesuatu dalam diri Nafiza menarik Zayn, membuatnya mempertanyakan keyakinannya. Di tengah luka masa lalu, benih-benih asmara mulai bersemi. Mampukah Zayn meluluhkan hati Nafiza yang sedang terluka? Dan bisakah mereka menemukan cinta sejati di tengah badai pengkhianatan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riniasyifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
Nafiza berjalan menuju toilet yang berada di ujung lorong. Setelah selesai, ia keluar dari toilet dan tanpa sengaja berpapasan dengan Riana dan satu temannya yang hendak masuk ke toilet.
Riana yang melihat Nafiza sendirian menyeringai licik. "Upzz! Ada nyonya bos!" ejek Riana dengan nada merendahkan. "Gue heran kenapa Pak Zayn bisa tertarik ya sama wanita kampungan kayak kamu? Jangan-jangan setelah di campakkan Farhan, lo frustasi lalu menggoda Pak Zayn ya?" tuduh Riana dengan kejam sambil berjalan mengelilingi Nafiza lalu dengan sengaja mendorong bahu Nafiza.
Nafiza menghela napas, berusaha mengendalikan diri untuk tidak membuat keributan di perusahaan suaminya. "Riana, saya tidak punya waktu untuk meladeni ucapan sampahmu!" Balas Nafiza, dengan suara tenang namun jelas menunjukkan ketidaksukaannya.
Riana membulatkan matanya tak percaya jika Nafiza yang selama ini ia anggap lemah dan kampungan. Kini dengan tenang menentangnya. "Wah! Sekarang jadi sok berani ya. Mentang-mentang udah jadi istri CEO." sindir Riana lalu tersenyum miring.
"Eh Ri! Kita cabut yuk! Jangan cari masalah sama istri si bos!" peringat temannya mencoba menarik tangan Riana.
"Santai aja Luna! Pak Zayn gak bakalan peduli mau kita ngapain nih cewek udik!" cetus Riana yakin lalu tatapannya kembali beralih pada Nafiza yang masih berdiri tegak di hadapannya.
"Gue tahu tahu, lo nikah sama Zayn cuma buat bikin Farhan nyesel kan? Biar dia tahu, lo juga bisa dapetin yang lebih kaya dan berkuasa dari dia." lanjut Riana dengan nada ejekan.
Nafiza menatap Riana dengan tatapan dingin yang selama ini ia sembunyikan. "Riana, kamu salah besar. Hidup saya tidak berputar di sekitar Farhan. Pernikahan saya dengan Mas Zayn adalah pilihan saya, dan saya tidak perlu membuktikan apapun padamu."
"Alah, sok bijak! Gue tahu, lo itu masih cinta sama Farhan. Makanya lo berusaha merayu Zayn, biar Farhan cemburu dan balik sama lo," Riana terus memprovokasi, berusaha memancing emosi Nafiza.
Nafiza mendekat selangkah pada Riana, sebuah senyum tersungging di balik cadarnya. "Kamu salah besar, Riana. Cinta saya pada Mas Zayn tulus. Tidak ada kebencian, tidak ada dendam, tidak ada masa lalu. Yang ada hanyalah cinta dan komitmen untuk membangun masa depan bersama."
Dan kini Nafiza menatap Riana dengan tatapan merendahkan. "Dan yang pasti, saya tidak seperti kamu, yang bisanya merebut kebahagiaan orang lain. Saya tidak perlu merendahkan diri saya untuk mendapatkan apa yang saya inginkan. Saya memiliki harga diri dan prinsip yang tidak akan pernah saya langgar."
"Maksud lo apa?" tanya Riana dengan nada bergetar menahan emosi.
Nafiza tersenyum sinis. "Maksud saya, saya tidak perlu menjadi seorang pelakor untuk mendapatkan cinta seorang pria. Saya tidak perlu menghancurkan hubungan orang lain untuk mendapatkan kebahagiaan. Karena saya tahu, kebahagiaan yang didapatkan dengan cara yang salah tidak akan pernah bertahan lama! Sampai sini paham, kan?"
Nafiza kembali maju selangkah lebih dekat ke arah Riana. Lalu berbisik dengan suara tenang tapi menusuk. "Jadi, nikmatilah hasil rebutanmu itu, Riana. Tapi ingatlah, karma itu nyata. Apa yang kamu tanam, itu yang akan kamu tuai."
Setelah itu ia langsung menjauhkan diri dari Riana, menatapnya dengan tatapan yang penuh dengan rasa kasihan. "Semoga Allah memberikanmu hidayah, Riana. Semoga kamu bisa menemukan kebahagiaan sejati tanpa harus menyakiti diri sendiri dan orang lain."
Setelahnya gegas berbalik dan berjalan santai, seolah tak terjadi apa-apa. Ia meninggalkan Riana yang masih membeku di tempat, terbungkam oleh kata-kata Nafiza yang telak menghantam dadanya. Ia merasa sangat malu, marah, dan takut. Ia tahu, Nafiza benar. Ia telah melakukan kesalahan besar, dan ia akan menanggung akibatnya. Tapi ia masih berusaha mengenyahkan kata-kata Nafiza, mencoba mempertahankan egonya. Tapi sekeras apapun ia mencoba hatinya tetap teriris.
_______&&______
Sementara itu, di ruang CEO, Zayn yang menyadari jika di kantor ini ada mantan suaminya Nafiza, ia jadi khawatir dengan sang istri apalagi setelah tahu bahwa Riana juga berada di kantor. Ia takut Riana akan melakukan sesuatu yang buruk pada istrinya.
Tak ingin mengambil resiko ia memilih diam-diam memantau istrinya melalui kamera CCTV perusahaan.
"Dav! Coba buka rekaman CCTV di sekitar sini!" pinta Zayn tegas.
"Hah! Untuk apa?"
"Buka aja gue pengen lihat istri gue!"
David menggeleng pelan lalu terkekeh. "Dasar bucin!"
"Oke-oke, tapi jika Nafiza marah karena kamu mantaui dia, jangan bawa-bawa gue!"
Zayn menghela napas. "Gue tahu, Dav. Tapi gue nggak bisa tenang kalau nggak lihat sendiri kondisi Nafiza. Gue cuma pengen mastiin dia baik-baik aja," jawab Zayn tegas.
David mengangguk mengerti. Ia tahu Zayn sangat mencintai Nafiza. Ia pun akhirnya membuka rekaman CCTV yang diminta Zayn.
Zayn terpaku di depan layar, matanya terpaku pada sosok Nafiza yang sedang berjalan bersama Riri, sekretarisnya. Terlihat Nafiza sangat menikmati suasana kantor sesekali bertanya sama Riri dan Riri menjelaskan dengan sabar dan sopan. Zayn tersenyum tipis melihat pemandangan di hadapannya.
Tak lama terlihat Nafiza izin ke toilet semua nampak normal namun, saat Nafiza keluar dari arah toilet. Jantung Zayn berdegup kencang saat melihat sosok Riana tiba-tiba menghadang langkah Nafiza. Ia bisa melihat dengan jelas ekspresi sinis di wajah Riana.
Zayn mengepalkan tangannya, siap untuk berlari keluar dan melindungi Nafiza jika terjadi sesuatu yang buruk. Namun, David menahannya.
"Tunggu, Zayn. Jangan gegabah. Kita lihat dulu apa yang akan terjadi," kata David dengan nada tenang.
Zayn dengan berat hati menuruti perkataan David. Ia terus memantau layar CCTV dengan tatapan cemas. Ia bisa mendengar dengan jelas setiap kata yang diucapkan Riana, setiap hinaan dan cercaan yang dilontarkan pada Nafiza.
Amarahnya semakin memuncak saat melihat Riana mendorong bahu Nafiza. Ia sudah tidak tahan lagi, ia ingin segera menghampiri Nafiza dan memberikan pelajaran pada Riana.
Namum sejurus kemudian, ia kembali tertegun saat melihat Nafiza berdiri tegak dengan tatapan yang penuh dengan keyakinan. Ia bisa merasakan aura kekuatan dan ketegasan yang terpancar dari diri istrinya, meskipun sebagian wajahnya tertutup cadar.
Zayn terkejut mendengar kata-kata telak Nafiza yang begitu tenang tapi tepat sasaran. Ia tidak menyangka istrinya yang selama ini terlihat lembut dan pendiam bisa berubah menjadi wanita tangguh.
Ia tersenyum puas melihat Riana terdiam membisu, terbungkam oleh kata-kata Nafiza. Ia semakin terpesona dengan istrinya, semakin kagum dengan kekuatan dan kecerdasannya.
"Lo lihat kan, Dav? Istri gue memang luar biasa," ujar Zayn dengan nada bangga.
David menepuk bahu Zayn dengan senyum lebar. "Gue udah bilang kan. Lo sangat beruntung punya istri paket komplit kayak Nafiza. Cerdas, berani, cantik, dan sholehah. Kurang apa lagi coba?"
Zayn mengangguk samar, senyumnya semakin lebar. "Pilihan gue emang nggak pernah salah." Ia lalu mematikan layar CCTV dan menghela napas lega. Ia tahu, Nafiza bisa menjaga dirinya sendiri. Ia percaya, istrinya adalah wanita yang kuat dan hebat. Dan ia sangat bangga menjadi suaminya.
Bersambung ...
farhan semoga tdk ada kebahagiaan buat mu. gedek banget laki tukang selingkuh dan wanita pelakor. hhh.
menjijikan