NovelToon NovelToon
Kilatan Waktu

Kilatan Waktu

Status: sedang berlangsung
Genre:Kutukan / Misteri / Horor / Hantu / Time Travel / Reinkarnasi
Popularitas:50
Nilai: 5
Nama Author: Ami Greenclover

Bagaimana rasanya kembali ke masa lalu?Mia dan Dania kembali ke masa lalu, namun... cerita mereka sedikit berbeda... Makam kuno yang mereka lihat membawa mereka kembali ke masa kejayaan Dinasti Song. Dinasti yang kala itu berdiri dengan megah yang menjadi tonggak kemajuan zaman.
"Dimana ini?"
Kalimat yang sering Mia dan Dania ucapkan setelah menjadi target "Kilatan Waktu"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ami Greenclover, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rumah Angker

Mia telah kembali ke kamar, dia berbaring. Dia menatap langit-langit. Dia termenung.

“Ganteng ya,dia.”

Dia, sebenarnya siapa yang ia maksud?

“Siapa yang ganteng?”

Dania menoleh ke arahnya.

“K-kau salah dengar.”

Mia mengelak.

“Pasti itu Zhang Wei.”

Dania langsung duduk.

“Bukan!”

Mia mengelak lagi.

“Kau yakin?”

Dania menggodanya, wajah Mia memerah.

“Wajahmu memerah hahaha.”

“Apasih?!”

Mia menutup wajahnya dengan selimut, dia tampak malu-malu.

“Oh… ternyata Zhang Wei…”

“Sudahlah, ayo tidur.”

Mereka berdua tertidur dengan lelap.

“Selamat pagi!”

Dania meregangkan tubuhnya.

“Pagi…”

Mia mengusap matanya.

Mereka turun dari tempat tidur. Mereka kemudian keluar dari kamar. Mereka mengitari kediaman itu. Mereka pergi ke halaman belakang tampak Zhang Rui dan Zhang Lin sedang berlatih. Mia dan Dania memperhatikan mereka dari tepi lapangan.

“Mereka akan pergi ke perbatasan, lalu apa yang harus kita lakukan?”

Dania bingung.

“Kau benar juga, kita tidak mungkin akan mengikuti mereka kesana. Namun… kita juga tak mungkin terus berada disini, benar ‘kan?”

“Itu yang selama ini aku pikirkan.”

“Lebih baik kita memulai rencana kita lebih awal agar kita mendapatkan modal untuk bertahan hidup disini.”

“Oh, iya. Aku punya pertanyaan untukmu.”

“Apa itu?”

“Antara Zhang Rui dan Zhang Wei siapa yang kau pilih?”

Mia tampak bingung.

“Aa? Maksudmu?”

“Saat pertama kali bertemu Zhang Rui kau tampak menyukainya, sekarang saat bertemu Zhang Wei kau juga tampak menyukainya, jadi…”

“Sttt! Diamlah, aku tak menyukai mereka berdua. Aku hanya terpesona dengan ketampanan mereka.”

“Kau ini, tidak pernah berubah.”

“Aku tak akan pernah berubah, aku akan selalu menyukai pria-pria tampan hehe.”

“Ada baiknya kita pergi mencari rumah yang bisa kita hubungi untuk sementara waktu.”

“Ide bagus.”

Kedua sahabat itu lantas pergi mencari rumah untuk mereka tempati, mereka tidak ingin bergantung pada keluarga Zhang. Seharian mereka melakukan survei terhadap rumah-rumah kosong di dekat kediaman Zhang. Sampailah mereka pada sebuah rumah tua yang tak berpenghuni jaraknya sekitar 35 menit jika ditempuh dengan jalan kaki dari kediaman Zhang.

“Rumah ini nyaris roboh.”

“Kau benar.”

“Namun, rumah ini masih layak di tempati walaupun atapnya bolong, dindingnya bolong, lantainya tanah, jendelanya rusak, ka-”

Dania belum selesai berbicara Mia sudah menutup mulutnya dengan tangannya.

“Kita akan menempati rumah ini.”

“Eee? Kau yakin?”

Hanya rumah ini yang sepertinya benar-benar terbengkalai, artinya rumah ini memang bukan milik siapapun.”

“Kau benar juga…”

“Tapi, untuk memastikannya kita harus bertanya pada para tetangga.”

“Tetangga? Mia… apa kau buta? Dimana ada tetangga disini? Kau lihat, sekeliling tempat ini hutan bambu. Terakhir kali kita melihat rumah...itu sekitar 500 meter dari tempat ini.”

“Jika begitu, kita kembali saja ke tempat tadi dan bertanya langsung mengenai rumah ini pada mereka.”

“Baiklah.”

Mereka kembali ke perumahan yang mereka lewati tadi. Disana ada anak-anak yang sedang bermain dan seorang ibu yang sedang mengeringkan obat herbal.

“Permisi nyonya, bolehkah kami bertanya?”

“Ya, silahkan…”

“Nyonya, rumah yang berada di ujung jalan sana itu apakah ada yang memiliki?”

Mia menunjuk ke arah rumah terbengkalai itu.

“Rumah mana yang kalian maksud? “Apakah rumah yang terbengkalai itu?”

“Ya, rumah yang itu.”

“Oh, rumah itu tidak milik siapapun. Rumah itu telah lama ditinggalkan pemiliknya.”

“Mengapa?”

Tiba-tiba wanita itu mengecilkan suaranya.

“Apa kalian warga baru disini?”

Mereka berdua mengangguk.

“Rumah itu angker, sebenarnya bukan rumah itu yang angker tapi hutan bambu di sekelilingnya yang angker.”

“Angker?”

“Ya, tempat itu sangat angker. Beberapa orang sering melihat sosok mengerikan disana.”

“Sosok seperti apa yang mereka lihat, nyonya?”

“Sosok seperti seorang kakek tua, namun kakek tua itu seperti membawa sebuah kapak.”

Mendengar itu Dania mulai gemetar. Dia menarik pelan baju Mia. Dia berbisik.

“Mia… yakin kita mau tinggal disitu?”

“Gak ada cara lain.”

“Kalian ingin tinggal disana?”

Wanita itu tampak tak percaya dengan apa yang ia dengar.

“Ya, kami ingin menempati rumah itu.”

“Aku menyarankan kalian jangan tinggal disana, tempat itu sangat angker.Selain orang-orang dari kediaman gubernur Wang tidak ada yang berani pergi ke tempat itu.”

“Baiklah, terima kasih nyonya atas informasinya.”

Mereka kemudian berjalan untuk kembali ke kediaman Zhang. Di jalan mereka mendiskusikan lagi mengenai rumah itu.

“Mia, tu rumah angker, gile lu ya mau tinggal disitu.”

“Lah, gimana lagi? Kita kan gak punya uang untuk nyewa rumah.”

“Aduh…kita cari rumah yang lain ajah.”

“Rumah yang lain itu rumah yang mana? Gak ada rumah yang kita temuin sepanjang jalan. Tu rumah-rumah udah ada yang ngisi semua.”

“Gini amat hidup miskin.”

“Kalau mau nyari rumah yang bisa kita sewa, kita perlu duit.”

“Duit? Gimana kita bisa dapat duit?”

Dania mulai kehilangan kesabaran.

“Ayolah kita pergi ke pasar.”

“Ngapain?”

“Cari duit lah.”

“Gimana caranya?”

“Udah, kita ke pasar ajah dulu.”

Mia menarik lengan Dania.

Mereka pergi ke pasar, banyak orang-orang sedang berbelanja disana.

“Kita udah di pasar terus kita ngapain?”

“Kita duduk di tepi jalan.”

“Aaa?Kita ngemis?”

“Bukan woi!”

“Terus?”

“Jadi, aku akan menawarkan solusi untuk permasalahan para warga.”

“Emang ini cara ampuh?”

“Ya gak tau, mangkanya kita coba dulu.”

“Baiklah.”

Mia menyuruh Dania untuk berteriak mempromosikan jasa Mia. Perlahan orang-orang mendekati.

“Kalian punya masalah?! Ayo,kemari!hanya dengan satu taek kalian bisa mendapatkan jawaban dari setiap pertanyaan yang kalian ajukan!”

“Apa kau yakin? Kau tidak menipu kan?”

Salah seorang pria meragukan.

“Jika apa yang ku katakan tidak benar, kalian boleh mengambil kembali uang kalian!”

Mendengar itu para warga berbondong-bondong ingin bertanya pada Mia.

“Harap antre!”

Dania merapikan barisan.

Pelanggan pertama datang.

“Tuan, apa masalahmu?”

“Akhir-akhir ini badanku terasa gatal.”

“Sudah pergi mencari tabib?”

“Nona, kau pikir aku kemari karena apa? Aku kemari karena aku tak dapat menemukan tabib di tempat ini. Lagipula jika memanggil tabib, pasti akan membutuhkan banyak uang.”

“Hehe”

Mia tertawa.

“Kenapa kau malah tertawa, kau harusnya membantuku mencari solusi untuk penyakit gatal-gatalku.”

“Baiklah, sejak kapan kau merasa gatal-gatal?”

“Sejak 4 hari yang lalu.”

“Di bagian mana di tubuhmu yang terasa gatal?”

“Semua bagian tubuhku terasa gatal.”

“Apa yang kau lakukan akhir-akhir ini?”

“Tidak ada hal yang berbeda, hanya saja beberapa hari ini aku mengikuti anakku pergi mencari ikan di laut.”

“Mencari ikan?”

“Ya, aku bermalam di tepi laut selama beberapa hari.”

“Apakah rasa gatal ini mulai terasa saat kau bermalam di pantai?”

“Ya, nona. Kau benar.Apakah aku terkena kutukan laut?”

“Tidak, kau tidak terkena kutukan laut.”

“Lantas, mengapa tubuhku gatal-gatal?”

“Apa yang kau makan sebelum pergi mencari ikan di laut?”

“Hmm, aku hanya makan nasi, rebung dan tumis sawi.”

“Saat kau mencari ikan, apa yang kau makan?”

“Aku hanya memakan nasi dan ikan.”

“Selama menginap di sana apakah yang kau makan hanya ikan?”

“Ya, hanya ikan.”

“Baiklah, bisa disimpulkan bahwa kau alergi terhadap daging ikan.”

Mendengar itu para warga sedikit kebingungan.

“Nona, apa itu alergi?”

“Alergi itu adalah reaksi tubuh yang berlebihan terhadap suatu hal yang tidak berbahaya.”

“Tapi, jika kau alergi ikan, mengapa beberapa bulan yang lalu aku tidak merasa gatal-gatal?”

“Itu bisa terjadi karena biasanya sistem imun dalam tubuh kita keliru dalam mengenali zat yang ada pada makanan.”

“Oh, jadi begitu…lalu, apakah bisa sembuh?”

“alergi sulit untuk sembuh total, namun kita dapat menghindari makanan atau apapun itu yang membuat kita alergi. Jadi, tuan harus berhenti makan ikan dulu untuk sementara waktu hingga tubuh tuan bisa kembali beradaptasi lagi.”

“Oh, ternyata begitu. Baiklah! Ini satu tael untukmu.”

“Terima kasih, tuan!”

Mia memberikan senyumnya.

Tampaknya bisnis yang Mia kelola dapat berkembang dengan pesat.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!