Bintang Anastasya tidak pernah menyangka lulus SMA berarti harus menyerahkan kebebasannya. Atas perintah sang Ayah, ia harus kuliah di luar kota dan—yang paling buruk—tinggal di kediaman keluarga Atmaja. Keluarga konglomerat dengan tiga putra yang memiliki reputasi luar biasa.
Bagi Yudhoyono Atmaja, Bintang adalah permata yang sudah dianggap anak sendiri.
Bagi Andreas (26), sang dokter tampan, Bintang adalah adik perempuan manis yang siap ia manjakan.
Bagi Gading (16), si bungsu, Bintang adalah teman seru untuk membuat keributan di rumah.
Dan bagi Lingga (21), sang senior di kampus, Bintang adalah gangguan yang tak terduga. Sifat Bintang yang blak-blakan dan tingkahnya yang usil mengusik ketenangan Lingga. Ia bertekad membuat Bintang jera dan tidak betah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Sabrina Rasmah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
misi dua bocah tengil
"Ayo pulang, Mer! Cabut sekarang sebelum mood gue makin hancur," ajak Bintang sambil memakai helmnya dengan gerakan kasar.
"Yok! Tapi Bin, gue laper banget sumpah. Bakso dulu yuk? Di depan sana ada yang enak," tawar Mery sambil menyalakan mesin motornya.
Mendengar kata bakso, perut Bintang langsung berbunyi. "Ayolah! Gue juga laper banget dari tadi tenaganya abis cuma buat ngadepin si Lingga. Butuh asupan micin biar otak gue nggak meledak!"
Mery tertawa lalu tancap gas. Tak butuh waktu lama, mereka berhenti di depan sebuah gerobak bakso yang aromanya sangat menggoda di pinggir jalan.
"Mang, baksonya dua porsi ya! Komplit!" seru Bintang sambil mencari tempat duduk plastik yang kosong.
Baru saja Bintang ingin menuangkan sambal ke mangkuknya, suara deru mesin motor besar terdengar melambat tepat di samping gerobak. Bintang dan Mery otomatis menoleh.
Di sana, di atas motor sport mahalnya, ada Lingga yang sedang membonceng Dea. Dea tampak berpegangan erat pada pinggang Lingga, sementara kepalanya bersandar manja di bahu cowok itu.
"Eh, liat deh sayang, itu kan si asisten baru kamu?" ucap Dea dengan nada mengejek saat melihat Bintang dari balik kaca helmnya yang terbuka.
Lingga menghentikan motornya sejenak. Matanya yang tajam menatap Bintang yang sedang memegang botol sambal. "Makan bakso pinggir jalan? Pantesan kelakuan lo mirip cabe-cabean," cetus Lingga tanpa perasaan.
"Apa lo bilang?!" Bintang hampir saja berdiri kalau saja Mery tidak menahan lengannya.
"Udah, sayang, jangan dilayanin. Nanti kita telat ke mall-nya," rengek Dea sambil mengelus lengan Lingga. "Bintang, jangan lupa ya besok pagi bawain aku kopi latte sebelum ospek mulai. Jangan telat!"
Lingga tidak menjawab, dia hanya menatap Bintang sekilas dengan tatapan dinginnya yang khas, lalu menarik gas motornya dalam-dalam hingga menimbulkan suara bising yang memekakkan telinga.
BRUUMMM!
Bintang terbatuk-batuk karena asap knalpot motor Lingga tepat mengenai wajahnya. "Sialan! Uhuk! Bener-bener ya itu kucing garong sama betinanya! Gue sumpahin ban motornya kempes tujuh turunan!" teriak Bintang sambil mengibaskan tangan di depan mukanya.
"Sabar, Bin... sabar..." Mery mengelus dada. "Duh, makin berat deh kayaknya hidup lo besok."
"Bodo amat! Gue mau makan bakso ini pake sambal sepuluh sendok biar tenaga gue kuat buat nendang mereka besok!" seru Bintang dengan mata berapi-api.
Setelah menghabiskan baksonya, Bintang segera pulang. Begitu kakinya melangkah masuk ke dalam rumah, ia melihat Gading yang tengah asyik bermain ponsel di ruang tengah. Sifat "tengil" Bintang yang sejak tadi dipendam akibat ulah Lingga, kini meledak. Ia butuh sekutu.
Bintang berjalan cepat menghampiri Gading, wajahnya masih tampak mendung. "Ding, gue mau ngomong bentar di belakang. Ikut gue sekarang," ajak Bintang tanpa basa-basi.
Gading yang melihat raut wajah kakaknya yang tampak kacau pun langsung bangkit. "Waduh, bau-bau masalah nih. Ayo, Mbak!" sahut Gading penuh semangat sambil mengikuti Bintang ke arah taman belakang dekat kolam renang.
Begitu sampai di tempat yang dirasa aman dari kuping Om Yudho atau Andreas, Bintang langsung berkacak pinggang. "Lo tahu nggak? Tadi gue dirusuhin abis-abisan sama abang lo di kampus!"
Gading mengerutkan kening, namun sejurus kemudian sebuah cengiran jahil muncul di wajahnya. "Siapa? Kak Lingga? Pasti dia berulah lagi, kan? Dia emang suka gitu kalau ada 'mainan' baru di rumah."
"Bukan suka gitu lagi, Ding! Gue dijadiin asisten pribadi pacarnya yang alay itu! Disuruh bawain tas lah, beliin kopi lah. Gila nggak sih?" adu Bintang dengan nada berapi-api.
Gading tertawa kencang sampai memegangi perutnya. "Hah?! Sumpah? Lo jadi babu Kak Dea? Wah, keterlaluan sih itu. Bang Lingga beneran cari perkara sama lo."
Gading kemudian menoleh ke kanan dan kiri, memastikan tidak ada orang. Ia mendekat ke arah Bintang dan membisikkan sesuatu dengan senyum penuh rencana. "Tenang, Mbak. Daripada lo kesel sendiri, gimana kalau kita rusuhin balik aja?"
Mata Bintang seketika berbinar. Sifat tengilnya langsung aktif kembali. "Caranya? Lo punya ide?"
Gading tersenyum miring. "Gue tahu kelemahan Kak Lingga kalau di rumah. Dia itu paling nggak suka kalau barang-barang di kamarnya dipindah-pindah atau disembunyiin. Dan gue tahu kode akses kamarnya. Lo mau kerja sama sama gue buat bikin dia 'darah tinggi' malam ini?"
Bintang langsung menjabat tangan Gading dengan erat. "Deal! Kita kasih paham si kucing garong itu kalau Bintang Anastasya nggak bisa ditindas gitu aja!"
Dua orang paling jahil di rumah itu pun tertawa bersama, merencanakan sebuah "balas dendam" kecil yang pastinya akan membuat Lingga Atmaja kehilangan ketenangannya malam ini.
Bintang dan Gading segera melancarkan aksi "bedah kamar" mereka. Setelah memindahkan beberapa barang penting milik Lingga—mulai dari kunci motor cadangan sampai sepatu favoritnya—mereka buru-buru kabur dan bersembunyi di kamar Bintang.
"Kita karaokean aja, Mbak. Pura-pura nggak tahu apa-apa!" bisik Gading sambil menahan tawa.
"Cerdas lo, Ding! Ayo, setel volumenya!" Bintang dan Gading pun melakukan TOS dengan penuh kemenangan.
Tak lama kemudian, suara musik dari speaker Bluetooth di kamar Bintang menggema kencang. Mereka berdua bernyanyi bersama, lebih tepatnya berteriak tidak jelas mengikuti irama lagu, seolah-olah dunia hanya milik mereka berdua.
“BIARLAAAAH SEMUAAAA BERLALUUUUU…!” teriak Bintang sambil memegang sisir sebagai mik.
Tepat saat itu, Lingga baru saja sampai di rumah. Dengan wajah lelah setelah kencan dengan Dea, ia melangkah masuk ke kamarnya. Namun, saat pintu terbuka, matanya membelalak. Kamarnya yang biasanya rapi kini berantakan, dan beberapa barang koleksinya tidak ada di tempat.
Rahang Lingga mengeras. Ia tidak perlu jadi detektif untuk tahu siapa pelakunya. Suara tawa dan nyanyian sumbang dari kamar sebelah adalah bukti yang paling nyata.
"GADING! KELUAR LO!" teriak Lingga menggelegar, namun suaranya kalah saing dengan volume musik Bintang.
Lingga berjalan cepat dan menggebrak pintu kamar Bintang dengan keras. BRAKK! BRAKK!
"GADING! GUE TAHU LO DI DALEM KAMAR KURCACI KAN?! KELUAR LO SEKARANG SEBELUM GUE DOBRAK!" teriak Lingga dengan emosi yang sudah di ubun-ubun.
Di dalam kamar, Bintang dan Gading saling lirik. Gading menutup mulutnya menahan tawa yang hampir meledak, sementara Bintang justru sengaja makin mengeraskan suaranya.
"Waduh, Ding, ada kucing garong ngamuk di depan pintu. Takut nggak?" goda Bintang dengan nada tengil yang sengaja dikencangkan agar terdengar sampai luar.
"Hajar aja, Mbak! Wleeee!" sahut Gading sambil ikut mengejek.
Lingga yang ada di luar kamar benar-benar merasa darahnya mendidih. "BINTANG! BUKA PINTUNYA! LO BERDUA BENER-BENER MAU MATI YA?!"