Viera menikah dengan Damian selama bertahun-tahun dalam pernikahan yang terlihat sempurna. Hingga suatu hari, ia tahu suaminya berselingkuh.
Lebih kejam lagi, kehamilan yang ia perjuangkan lewat bayi tabung bukan berasal dari suaminya. Sp*rma itu milik Lucca, suami dari perempuan yang menjadi selingkuhan Damian.
Dalam kehancuran, Viera tidak memilih menangis... ia memilih berdiri tanpa goyah.
Ketika cinta baru datang tanpa paksaan, dan pembalasan berjalan tanpa teriakan... siapa yang benar-benar menang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter — 11.
Calista selalu percaya satu hal—orang yang pernah ia hancurkan, tidak akan pernah cukup kuat untuk bangkit dan melawan.
Keyakinan itulah yang membuatnya ceroboh.
Pagi itu Calista duduk di restoran tempat dia temu janji bersama Damian. Sebuah email baru masuk, laporan keuangan internal yang seharusnya tidak ia miliki akses penuh.
Ia tersenyum tipis.
“Dasar bodoh,” gumamnya, merujuk pada Damian.
Damian terlalu mudah dibaca. Terlalu yakin bahwa kekuasaan, status, dan jalur hukum akan selalu berpihak padanya. Dan Calista tahu persis bagaimana menekan pria seperti itu, dengan memancingnya merasa benar.
Tak selang berapa lama, Damian muncul dengan langkah mantap. Wajahnya terlihat lebih tenang dibanding beberapa waktu setelah perpisahan dengan Viera.
“Aku sudah konsultasi dengan pengacara yang kau rekomendasikan, aku bisa menekan Viera. Aku akan ajukan gugatan pembatalan pernikahan sekaligus tuntutan ganti rugi.”
Calista mengangkat alis. “Pembatalan?”
“Kehamilan itu, kalau terbukti bukan anakku... posisiku akan jauh lebih kuat.”
Calista menahan senyum.
Inilah kesalahan fatal pertama pria itu, Damian terlalu cepat ingin menang.
“Damian, pastikan semua langkahmu bersih,” ucap Calista dengan nada seolah peduli. “Jangan sampai ada celah yang bisa Viera gunakan untuk bisa menang melawanmu.”
Damian menyeringai seolah meremehkan Viera. “Dia terlalu lembut untuk bermain kotor, pikirannya tak akan terlalu jauh.”
Kalimat itu menggantung di udara.
Dan Calista tersenyum penuh kemenangan, itu adalah kesalahan fatal kedua yang Damian lakukan.
Viera duduk di sudut kafe kecil yang tenang, tangannya menggenggam cangkir teh hangat tanpa benar-benar meminumnya. Matanya tertuju ke jalan di luar kaca, tapi pikirannya bergerak cepat, menyusun potongan-potongan yang selama ini ia abaikan.
Panggilan dari pengacara pagi tadi masih terngiang di kepalanya.
“Nyonya Viera, kami mendapat salinan awal gugatan dari pihak suami Anda. Ada beberapa kejanggalan yang cukup serius.”
Kejanggalan—Damian menuduhnya melakukan penipuan pernikahan. Menyebut kehamilan sebagai alat manipulasi, bahkan berani menyinggung kompensasi finansial.
Viera menghela napas pelan, dia tidak mengerti kenapa Damian tak menyerah saja.
Ia membuka ponsel, menatap folder tersembunyi berisi dokumen yang selama ini ia kumpulkan diam-diam. Rekam medis, percakapan, laporan keuangan yang anehnya mudah ia dapatkan akhir-akhir ini.
Semua itu berasal dari Pelindung tak terlihat, dan Viera tidak tahu siapa. Tapi ia tahu satu hal—seseorang sedang membersihkan jalan untuknya. Dan kali ini karena serangan Damian… ia tidak ingin menolak bantuan itu.
“Damian, kalau kau ingin perang... aku tidak akan datang dengan tangan kosong.”
Ia mulai menyusun strategi, ia akan membiarkan Damian masuk ke jebakan hukumnya sendiri. Karena hukum, jika dimainkan dengan tepat bisa jauh lebih kejam daripada amarah.
Tak jauh dari seberang kafe itu, Lucca berdiri mengamati Viera. Jasnya rapi, wajahnya dingin, mata kelamnya menatap ke arah kursi sudut tempat Viera duduk.
Lucca sudah tahu wanita itu akan berada di sana, dia bisa saja berjalan masuk tapi kakinya tidak bergerak.
Viera belum tahu bahwa David, lelaki miskin yang dulu pergi tanpa pamit dan Lucca—Ayah biologis dari anaknya adalah orang yang sama. Dan Lucca belum siap bertemu perempuan yang masih ia cintai dengan cara paling sunyi.
“Belum,” ucapnya pelan pada dirinya sendiri.
Ia berbalik pergi, memilih kembali menjadi bayangan... untuk sekarang.
Damian menandatangani dokumen gugatan dengan tangan mantap. Ia tidak melihat keganjilan apa pun ketika pengacaranya menyodorkan berkas tambahan—permintaan akses data keuangan bersama dan klaim kerugian emosional.
Ia merasa menang.
Yang tidak ia sadari, Calista sudah memastikan satu detail kecil. Pada tanggal, saksi, dan jalur hukum yang ia pilih—semuanya akan bisa dipatahkan.
Calista berdiri di balik meja, menyaksikan Damian pergi dengan senyum puas.
Dan Viera sedang membaca dokumen yang sama, dan menemukan satu kesalahan administratif yang bisa menjatuhkan seluruh gugatan.
Kesalahan kecil, tapi fatal.
Malam itu, Viera berdiri di balkon apartemennya yang baru. Angin malam mengibaskan rambutnya, perutnya yang mulai membesar terasa hangat di balik mantel tipis.
Ia meletakkan tangan di sana.
“Kita tidak akan kalah, sayang. Dia terlalu meremehkan Mama...“
Di kejauhan, lampu kota berkelip seperti papan catur raksasa. Dan di antara semua bidak itu, seseorang sedang bergerak di luar pandangan—menunggu waktu yang tepat untuk muncul, sebagai pria yang akan mengakhiri permainan ini.