NovelToon NovelToon
LOVE SON OF THE RULER

LOVE SON OF THE RULER

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Action / Contest / Mafia / Tamat
Popularitas:221.6k
Nilai: 4.9
Nama Author: kan

Lanjutan novel SON OF THE RULER (S 1 & 2).



Cinta mempersatukan mereka untuk menjalani kehidupan yang disebut rumah tangga.


Kisah cinta romantis empat putra penguasa yang memiliki sisi gelap, yang sama sekali tidak di ketahui oleh masing-masing pasangan mereka.



"Kehidupanku penuh dengan rahasia, dan hanya bisa diketahui oleh beberapa orang tertentu. Aku tidak akan membuat keluarga kecilku ikut didalamnya, cukup aku saja," Revan Li.


"Jauh dari istri membuat aku belajar akan pentingnya kepercayaan, berbeda dengan orang yang LDR. Saling mempercayai adalah bagian penting untuk sebuah hubungan bertahan hingga maut memisahkan." Revin Li.



"Kehidupan, kematian dan rejeki, ditentukan oleh tuhan. Tapi hubungan yang bertahan hingga maut memisahkan hanya bisa ditentukan dengan kepercayaan satu sama lain." Carlos Sia.



"Penantian membuahkan hasil, jika kita sabar dan teguh dalam menjalaninya. Selesaikanlah masalah itu dengan kepala dingin dan hadapi masalah itu dengan keberanian yang kuat, maka kehidupan yang baik akan selalu bersamamu." Reon Sang.

***

Kisah rumah tangga yang sering kali membawa tawa bagi mereka.


Penasaran yuk liat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SAAT YANG SULIT

Revan menjauhkan wajahnya dari wajah putranya, menatap sang Dokter yang tersenyum kecil padanya dan mempersilahkannya untuk masuk ke ruang bersalin, menemui Rania yang masih terbaring lemah di atas brankar.

Revan melangkah perlahan, memasuki ruang rawat sambil mengendong tubuh mungil putranya. Ia tersenyum kecil pada Rania yang kini menatap sendu padanya, dapat ia lihat jelas rasa bersalah dari tatapan mata wanita itu padanya.

Ia melangkahkan kakinya perlahan, berhenti tepat di samping kanan Rania. Revan meletakkan perlahan tubuh mungil putranya di samping istrinya, menempelkan keningnya dan kening Rania.

Tangis Rania pecah, ia merasa bersalah pada suaminya. Harusnya Revan telah tiba di Negara A tadi, jika bukan karena dirinya mungkin Revan tidak akan ada di sini sekarang.

"Maafkan aku, maafkan aku." ucap Rania, dengan derai air mata di pipinya.

Revan mengeleng pelan, masih dengan menempelkan kening mereka. Ia mengangkat tangannya yang bebas, mengusap pipi basah istrinya dan menatap iris mata Rania yang berkaca-kaca.

"Kau tidak salah, sayang. Jangan menyalahkan diri sendiri, kalaupun aku ke sana, aku tidak akan sempat melihat kakek sebelum menutup mata." jelas Revan, mencoba menenangkan Rania.

"Ini bukan salahmu. Harusnya aku yang meminta maaf karena tidak bisa menemanimu di saat-saat penting tadi, dan malah menunggu di luar ruang bersalin seperti orang bodoh. Maafkan aku," ucap Revan, kini mengelengkan kepalanya.

"Tidak apa-apa. Aku mengerti," ucap Rania, membelai lembut pipi suaminya dengan tangannya yang bebas.

"Terima kasih, terima kasih telah berjuang untuk melahirkan buah hati kita, terima kasih untuk semuanya." ucap Revan, mencium singkat bibir istrinya.

"Aku berjanji akan melindungi kalian, aku berjanji." ucap Revan, mencium berulang-ulang bibir Rania, menghilangkan perasaan bersalah dan sedih di hati istrinya yang telah berjuang melahirkan buah hati mereka.

***

Esoknya.

Tepat pukul 10 pagi di Negara S, pemakaman yang dilakukan berjalan lancar dengan hujan rintik yang turut menyertai hal itu. Houyang di makamkan di samping sang besan, permintaan terakhirnya sebelum menutup mata. Revin hanya menatap kosong hal itu, dua orang yang sangat berarti telah pergi ke sisi Tuhan, meninggalkan mereka dengan tangisan yang mungkin akan dilupakan beberapa hari ke depan, tapi membekas selamanya di dalam hati.

'Kenapa kakak pergi, padahal Vivian belum melahirkan cicit kakek. Bahkan kakek tidak melihat wajah cicit pertama kakek, kenapa harus pergi secepat ini?' batin Revin, menyeka kasar wajahnya yang kembali dibasahi oleh air mata.

Di sisi lain, di waktu yang bersamaan.

Revan memakaikan baju bayi berwarna biru pada putra kecilnya, sesekali melamun kala mengingat jika hari ini adalah pemakaman sang kakek yang bahkan tidak bisa dihadiri.

Vivian yang berdiri sejak tadi di hadapan Revan, menatap apa yang tengah dilakukan oleh kakak iparnya itu, hanya diam lalu mengusap pelan pundak sebelah kanan kakak iparnya.

Ia tersenyum kecil saat Revan mendongak menatapnya, yang dibalas senyuman pula oleh Revan. Meski sebenarnya terlihat sangat kecil di bibirnya, saking kecilnya hingga membuat Vivian berfikir jika Revan tidak tersenyum sama sekali.

Hari haru diselimuti dengan kesedihan mendalam, mungkin suatu saat nanti hal yang terjadi hari ini akan membuat putra kecilnya sulit untuk merayakan hal yang di sebut ulang tahun layaknya anak pada umumnya.

"Duduklah, Vivi. Tidak baik jika ibu hamil berdiri terlalu lama," nasehat Revan, mengendong tubuh mungil putranya setelah memakaikan kain bedong berwarna hijau muda.

"Baik, kak." jawab Vivian, berbalik melangkah mendekati sofa ruang rawat VVIP itu. Sedang Revan berbalik menghampiri Rania dengan Jayden di gendongannya, menghampiri istrinya dengan senyum kecil menahan tangis.

"Aku keluar dulu, aku harus menelfon Revin dan memastikan keadaan di sana." ucap Revan, berpura-pura kuat di hadapan istrinya.

Rania mengangguk, seketika Revan berjalan keluar untuk menelfon Revin dengan sesekali menyeka sudut matanya yang kembali ingin meneteskan air mata.

Revan menelfon Revin mengunakan ponselnya, tidak alam berdering seseorang di seberang telfon mengangkat telfonnya.

"Halo kak."

"Bagaimana keadaan di sana?" tanya Revan, mencoba untuk tetap kuat.

"Ya, begitulah. Semua orang masih menangis, air mataku sudah habis menetes kemarin, jadi tidak bisa lagi mengeluarkannya hari ini."

Revan hanya diam mendengar candaan garing adiknya.

"Kak, tolong jaga Vivian di sana untuk sementara waktu, ya? Aku akan tinggal di tempat ini selama beberapa hari ke depan, aku janji akan kembali dengan cepat. Aku minta tolong, ya kak." mohon Revin di seberang telfon.

"Iya, kamu bereskan semua pekerjaan di sana. Maaf karena tidak bisa membantumu, aku titip salam dan maaf pada Daddy dan Mommy. Begitupun dengan kakek, nenek dan lainnya. Maaf karena tidak bisa hadir meski hanya sehari," ucap Revan, menahan isaknya.

Revin diam di seberang telfon, menghela nafas sejenak lalu tersenyum kecil seolah Revan melihatnya di seberang telfon.

"Iya kak, akan aku pastikan. Aku titip salam untuk jagoan kecilmu, semoga kelak ketika dia dewasa, dia bisa menjadi anak yang pandai dan patuh pada ucapan kedua orang tuanya. Dan semoga dia dilindungi dari segala hal buruk yang akan terjadi."

"Iya, terima kasih Revin. Jaga dirimu di sana," ucap Revan dan memutuskan panggilan saat mendapat sahutan dari sang adik di seberang telfon.

"Ya, semoga ke depannya tidak terjadi masalah." lirih Revan, menyeka air matanya sebelum masuk ke ruang rawat istrinya.

Di tempat lain, tidak jauh berbeda dengan kondisi Revan. Carlos tidak bisa bergerak atau pergi dari rumahnya di Negara C. Kondisi istrinya yang tengah hamil tua membuat ia tidak bisa bergerak bebas, bahkan ia tidak hadir di pemakaman Houyang.

"Akh! Sial!" ucap Carlos dengan air mata di pelupuk matanya, mengebrak keras meja kerjanya.

Tanpa Carlos sadari, Felicia berdiri sejak tadi di luar pintu ruangannya, menunduk sedih sambil mengusap perutnya.

'Di hari yang sedih ini, kita bahkan tidak bisa pergi dari rumah untuk sekedar menghadiri pemakaman kakek Houyang.' batin Felisia, menunduk sedih.

Di Negara F pun tak jauh berbeda, Reon tak bisa bergerak leluasa sama seperti Carlos. Mengingat ucapan sang Dokter jika lahirnya sang buah hati mereka hanya tinggal menghitung hari, membuat ia harus mempersiapkan semuanya dengan matang, hingga ia benar-benar tak bisa apa-apa selain menjaga Liona.

"Maaf kakek Houyang, maaf." lirih Reon, mengusap wajahnya kasar di dalam ruang kerjanya yang tertutup rapat. Tak ingin Liona mendengar kesedihannya, karena bisa salah istrinya merasa bersalah akan itu. mengingat jika ibu hamil teramat sensitif dan bisa ternganggu dengan segala kecil yang terjadi di sekitar.

***

Dua Minggu kemudian.

Semuanya mulai kembali normal, meski masih merasa sedih di saat-saat tertentu kalah mengingat kenangan lama.

Arian dan Ana berserta kedua putra dan menantunya tengah duduk di ruang tamu mansion besar keluarga Li. Menikmati pagi indah di hari Minggu.

Ana mengendong cucu pertamanya dengan senyum di wajahnya, lalu sedikit mendogak menatap Vivian yang duduk dengan sebuah benda di tangannya.

"Kamu dapat itu dari mana, Vi?" tanya Ana, membuat semua pasang mata menatap ke arah Vivian, begitupun dengan Revin yang seketika melotot sempurna menatap benda yang memiliki kenangan buruk diingatannya.

1
Salsha Bila Maharani
pingin kisan rhena thor
ningnong
judulnya apa thor
Wita Arym
Apakah it reana
Umi Rahmawati
pas baca eps ini,,,, ya allah sedih banget ,, sampek nangis,,,,, untung bacanya di kamar,,,, jdi kagak tahu p. suami kalau lagi nangis
Ita Nusta Mega
noveltoon dong thor
Ita Nusta Mega
Aku ga sanggup ngebacanya thor...aku ga ikhlas Ana meninggal...😭😭😭... sedikit kecewa...
Ita Nusta Mega
makin lucu ... guemmmeeeessss Ama author nya...😅😅😅💪
onalis
kasih tau dong thor judul nya ap
Nurul84837058
msh blm ikhlas anna meninggal suka gamon kalo liat arian:(
Erlin
jadi baper.. habis dech tissue 1 kotak.. mantul thoor sdh bikin baper
Erlin
wkwkwk
Defe
udah ad belum novel Jaydennya thor???
Yu Ye
Kok ra ia mcm kurang perhatian sama anak ya ya tor
Jepilopez
Jgn di tamatin thor
KOHAPU: maaf mengganggu klo sempet mampir ya ke novel q judulnya

"Asisten Nona Muda"

thanks 🌸🌸🌸🍀🍀🍀🍀
total 1 replies
Maria Ina Tapo
thor novel jayden judulnya apa yah
Herfina Fina: authornya nggak mau jawab kayaknya... kita jadi pensaran
total 1 replies
Lyn
ok siap Thor. mari kita ke novel Jayden.
KOHAPU: maaf mengganggu klo sempet mampir ya ke novel q judulnya

"Asisten Nona Muda"

thanks 🌸🌸🌸🍀🍀🍀🍀
total 1 replies
Nayra Syafira Ahzahra
ok thor.... makasih
Herfina Fina
judulnya apa thor? aku penasaran gimana jayden setelah dewasa... please thor kasih tahu.. aku ngikutin cerita ini dari awal 🙏
Amel Otiek
knp ana mesti di buat mati gk asik
Nadia Farah Dini
cerita nya ini nyambung ya ko aku bingung bacanya yang mana duluan yang disebalah udah punya anak disini baru punya anak jaid bingung aku harus baca yang mana duluan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!