Zivaniel Maxton de Luca adalah sosok yang ditakuti dunia bawah. Di balik wajah tampannya, ia menyimpan darah dingin dan tangan yang tak pernah ragu menumpahkan nyawa. Dengan topeng penyamaran, ia membantai musuh-musuhnya tanpa ampun, menegakkan hukum versinya sendiri dalam lingkaran mafia kelas kakap yang diwariskan padanya sejak lahir.
Tak seorang pun mengetahui identitas aslinya. Bagi dunia luar, Zivaniel hanyalah pria biasa dengan aura dingin yang sulit ditembus. Namun bagi mereka yang mengenalnya di dunia gelap, namanya adalah teror—legenda yang hidup, bengis, dan tak pernah gagal.
Hingga satu nama mampu meretakkan kekokohan hatinya.
Cherrin.
Gadis yatim piatu yang tumbuh dalam kesederhanaan setelah diadopsi oleh sang nenek. Lembut, polos, dan jauh dari dunia hitam yang melingkupi hidup Zivaniel. Sejak kecil, Cherrin adalah satu-satunya cahaya dalam hidupnya—alasan mengapa ia masih mengenal rasa ragu, takut dan cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Julia And'Marian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 5 "Melihat"
Kalimat terakhir Zivaniel menggantung di udara perpustakaan.
Ia tidak suka Cherrin berdekatan dengan pemuda mana pun.
Namun ia tidak mengatakannya dengan kata-kata. Tidak pernah. Perasaan itu tinggal di dadanya, bersembunyi di balik ekspresi datar dan bahu yang selalu tegap.
Cherrin merasakan perubahan kecil itu—ketegangan yang nyaris tak terlihat. Ia menggeser posisi duduknya, menutup bukunya perlahan.
“Aku… mau balik ke kelas,” ucapnya pelan.
Zivaniel mengangguk. “Aku antar sampai koridor.”
Mereka berjalan berdampingan, jarak mereka cukup dekat untuk saling merasakan keberadaan, namun cukup jauh untuk tetap aman. Tidak ada sentuhan. Tidak ada janji. Hanya langkah yang selaras.
Di ujung lorong, mereka berpisah.
Zivaniel berbelok ke arah ruang OSIS.
Cherrin kembali ke kelas—namun pikirannya sudah tidak ada di sana.
Hari berjalan lambat hingga akhirnya bel pulang berbunyi.
Siswa-siswi berhamburan keluar, suara tawa dan obrolan kembali memenuhi udara. Cherrin berjalan sendiri. Icha tidak ada. Elran sudah dijemput lebih dulu. Dan entah kenapa, Cherrin memilih jalan yang berbeda hari itu.
Bukan jalan utama.
Bukan yang ramai.
Ia ingin cepat sampai rumah.
Ia ingin menjauh dari sekolah, dari bisik-bisik, dari rasa tidak nyaman yang terus mengikutinya sejak pagi.
Langkahnya membawanya ke jalan kecil di belakang kompleks sekolah—jalan pintas yang jarang dilewati siswa lain. Di sana, sebuah jembatan beton membentang di atas sungai kecil yang airnya keruh dan tenang.
Cherrin berhenti sejenak.
Langit mulai berubah warna. Awan kelabu menggantung rendah. Angin bertiup lebih dingin dari biasanya.
Ia menuruni tangga kecil menuju bawah jembatan—bukan karena ingin lewat sana, melainkan karena mendengar sesuatu.
Suara.
Bukan suara air.
Bukan suara angin.
Suara orang berbicara—terpotong, tertahan.
Cherrin memperlambat langkahnya.
Jantungnya berdetak lebih cepat.
Ia seharusnya berbalik.
Ia tahu itu.
Namun kakinya tidak mau bergerak.
Di bawah jembatan, bayangan menari di dinding beton. Dua sosok. Satu berdiri tegak. Yang lain terdorong mundur, suaranya gemetar.
Cherrin bersembunyi di balik pilar beton.
Tubuhnya menegang.
Napasnya tertahan di tenggorokan.
Sosok yang berdiri itu mengenakan pakaian gelap. Wajahnya tertutup topeng hitam polos—tanpa ekspresi, tanpa celah untuk emosi.
Di tangannya, sebuah pisau.
Cahaya redup memantul di bilahnya.
Cherrin membeku.
Sosok bertopeng itu tidak berbicara banyak. Gerakannya tenang. Terukur. Seolah ini bukan pertama kalinya ia melakukan hal seperti ini.
Orang di hadapannya—seorang pria yang tidak Cherrin kenal—terdengar memohon. Kata-katanya tidak jelas. Suaranya bergetar oleh ketakutan.
Cherrin ingin menutup telinganya.
Namun ia tidak bisa bergerak.
Pisau itu terangkat.
Gerakannya cepat.
Tidak ada jeritan panjang.
Hanya suara napas yang terputus, dan tubuh yang perlahan kehilangan kekuatan.
Cherrin menutup mulutnya dengan kedua tangan.
Matanya melebar.
Air mata menggenang tanpa ia sadari.
Ia menyaksikan semuanya—tanpa bisa berteriak, tanpa bisa lari.
Sosok bertopeng itu berdiri beberapa detik, menatap tubuh yang tergeletak di hadapannya. Tidak ada emosi. Tidak ada penyesalan.
Lalu ia membersihkan pisaunya dengan kain gelap, memasukkannya kembali ke dalam sarung, dan berbalik.
Langkahnya berhenti.
Kepalanya sedikit menoleh.
Ke arah Cherrin.
Cherrin tersentak mundur, kakinya menghantam batu kecil. Suara itu terdengar terlalu keras di keheningan.
Sosok itu menatap ke arah pilar tempat Cherrin bersembunyi.
Waktu berhenti.
Dunia seakan runtuh ke satu titik.
Mata mereka bertemu—meski terhalang topeng.
Namun Cherrin merasa…
Ia merasa dilihat.
Dilihat sepenuhnya.
Sosok itu tidak mendekat.
Tidak juga pergi.
Ia hanya berdiri diam, menatap.
Lalu, perlahan, ia mengangkat satu jari ke bibir topengnya.
Isyarat diam.
Kemudian ia menghilang ke balik bayangan, meninggalkan Cherrin sendirian—bersama tubuh tak bernyawa dan rasa takut yang menjerat seluruh sarafnya.
Cherrin jatuh terduduk.
Tangannya gemetar hebat.
Napasnya tersengal, seolah paru-parunya lupa cara bekerja.
Ia tidak tahu berapa lama ia duduk di sana.
Menit.
Atau jam.
Yang ia tahu hanyalah satu hal—
Hidupnya baru saja berubah.
Malam turun dengan cepat.
Di mansion de Luca, lampu-lampu menyala terang. Segalanya terlihat normal. Terlalu normal.
Zivaniel berdiri di kamar mandi, air mengalir deras dari shower. Air dingin menghantam kulitnya, namun tidak menghapus apa pun.
Di lantai, di dalam tas hitam tersembunyi, topeng itu tergeletak.
Pisau sudah dibersihkan.
Tangannya masih terasa dingin.
Ia memejamkan mata.
Wajah Cherrin muncul di pikirannya.
Tatapan terkejut.
Napas tertahan.
Ia mengerang pelan, satu tangannya mencengkeram dinding kamar mandi.
“Brengsek…” gumamnya.
Ia tidak menyangka.
Ia memastikan area itu sepi.
Ia selalu memastikan.
Namun hari ini—
Hari ini Cherrin melewati jalur yang salah.
Zivaniel memukul dinding sekali—pelan, terkendali, namun cukup untuk melampiaskan kemarahan yang ia tujukan pada dirinya sendiri.
Ia mengenakan pakaian bersih, lalu keluar kamar.
Cherrin belum pulang.
Jam di dinding berdetak pelan.
Terlalu pelan.
Zivaniel menuruni tangga, mendapati Varla duduk di ruang tamu dengan teh sore. Wanita itu meliriknya.
“Cherrin belum pulang?” tanya Varla ringan.
Zivaniel tidak menjawab. Ia mengambil ponselnya, menelepon supir.
Tidak diangkat.
Dadanya mengencang.
Beberapa menit kemudian, pintu utama terbuka.
Cherrin masuk.
Wajahnya pucat.
Matanya kosong.
Tasnya hampir terlepas dari bahunya.
Zivaniel berdiri seketika.
“Cherrin.”
Gadis itu menoleh.
Saat mata mereka bertemu, Cherrin gemetar hebat.
Ia berlari.
Tanpa peduli Varla.
Tanpa peduli siapa pun.
Ia menabrak dada Zivaniel dan mencengkeram bajunya, seolah hidupnya bergantung pada itu.
“Ada apa?” Zivaniel bertanya cepat, suaranya rendah, tegang.
Cherrin tidak bisa bicara.
Tubuhnya bergetar hebat, napasnya tersengal.
Varla berdiri. “Apa yang terjadi?”
Zivaniel menoleh tajam. “Masuk kamar.”
Ia menggendong Cherrin tanpa menunggu persetujuan, membawanya ke atas. Pintu kamar Cherrin ditutup rapat.
Cherrin duduk di ranjang, lututnya ditarik ke dada.
“Aku…” suaranya pecah. “Aku lihat…”
Zivaniel berlutut di hadapannya.
Matanya menatap wajah itu—wajah yang masih dipenuhi teror.
“Apa yang kamu lihat?” tanyanya pelan.
Cherrin menatapnya.
Dan tanpa ia sadari—
Ia berkata, “Orang bertopeng. Di bawah jembatan.”
Jantung Zivaniel berhenti berdetak sesaat.
Tangannya mengepal.
“Dia…” suara Cherrin nyaris hilang. “Dia bunuh orang.”
Hening.
Panjang.
Mencekik.
Zivaniel meraih tangan Cherrin—hangat, gemetar.
“Kamu aman sekarang,” ucapnya perlahan. “Aku di sini.”
Cherrin menangis.
Dan untuk pertama kalinya…
Black Wolf menyadari satu hal yang membuatnya takut—
Bukan hukuman.
Bukan musuh.
Melainkan kemungkinan…
bahwa gadis yang ia lindungi bisa saja hancur oleh kebenaran tentang dirinya sendiri.
*
#berita.news. @Pengusaha terkenal Bazoka di temukan meninggal dunia dengan luka yang teramat sangat mengenaskan. Beberapa luka sayatan di leher, di pipi dan juga di tangan. Bahkan perutnya di tusuk berulangkali.
#Berita. @Foto di blurb. Bazoka di temukan tewas mengerikan. Polisi masih mendalami pelaku pembunuhannya.
Beberapa artikel banyak yang mencuat, tentang kematian seorang pengusaha terkenal di kota itu yang teramat mengenaskan.
Beberapa komentar netizen berseliweran, mereka menatap ngeri foto yang di posting di media sosial itu. Ada yang menduga-duga jika Bazoka di bunuh oleh sesama rekan bisnis.
@norma. Dunia bisnis itu kejam guys! Lihat kan, berakhir mati.
@anonim. Mengerikan. Gue kok takut banget ya jadi pengusaha terkenal.
@Deza. orang sombong pantas mati.
Maxtin mematikan api rokoknya. Ia menoleh ke arah Zivaniel yang baru saja masuk ke ruangan kerjanya. Pemuda itu langsung duduk dengan santai.
"Kamu yang membunuhnya?"
Zivaniel mengangguk singkat. Dan Maxtin terkekeh kecil.
"Bagus. Papa suka dengan cara kinerja kamu."
Zivaniel menarik satu sudut bibirnya ke atas. Sebuah senyuman miring terlukis di bibirnya. "Dia banyak mencari tahu, dan aku harus memusnahkan tikus itu."