NovelToon NovelToon
The Ghost Detective: Sam’S Last Gift

The Ghost Detective: Sam’S Last Gift

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Identitas Tersembunyi / Slice of Life
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Phida Lee

Seorang arwah anak yang terlupakan sejak 1987. Seorang detektif perempuan yang bisa melihatnya di tahun 2020. Bersama, mereka memecahkan kasus-kasus mustahil.

Tetapi setiap kebenaran yang mereka ungkap membawa Lisa dan Rhino semakin dekat pada misteri terbesar, identitas Rhino yang sebenarnya. Sebuah rahasia kelam yang, jika terungkap, bisa membebaskannya atau justru memisahkan mereka untuk selamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Phida Lee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34

Di ruang kerja detektif di markas besar kepolisian Kota Seoul, Hwang Hendry melangkah masuk dengan gerak-gerik yang terlihat tidak wajar. Langkah kakinya terasa goyah dan tidak stabil. Matanya kini tampak membengkak dan dibayangi lingkaran hitam pekat di bawahnya—sisa nyata dari trauma yang dialaminya di parkiran bawah tanah beberapa hari yang lalu dan belum sepenuhnya luruh dari ingatannya. Namun, semangat keras kepala seorang detektif senior yang telah menjalani karir selama lebih dari dua dekade telah mengalahkan rasa takut yang masih mengganggunya.

Dengan tangan yang sedikit gemetar akibat ketegangan, ia menyembunyikan sebuah kamera dengan lensa mikroskopis yang kecil dan sulit terlihat di balik tumpukan map berwarna kuning yang menumpuk tidak teratur di tepi meja Lisa Ahn.

"Aku akan membuktikannya." Gumam Hendry sambil menggeser map-map penting dengan hati-hati agar kamera tidak terjatuh, memastikan bahwa lensanya tepat mengarah ke area kerja Lisa yang sering digunakan untuk membuka berkas-berkas penting atau berkomunikasi dengan sesuatu yang tidak bisa ia lihat.

"Insting seorang detektif tidak bisa menggerakkan benda-benda dengan sendirinya, Lisa. Aku sudah terlalu lama bekerja di dunia ini untuk percaya pada omong kosong seperti itu. Tapi lensa ini... tidak akan bisa kau bohongi. Setiap gerakan aneh atau fenomena yang tidak bisa dijelaskan akan tertangkap dengan jelas di sini."

Setelah merasa puas dengan posisi kamera yang telah ditempatkannya, Hendry mundur perlahan ke arah belakang, berhati-hati agar tidak menarik perhatian siapa pun yang mungkin masuk ke ruangan itu. Ia kemudian duduk di mejanya sendiri yang berada tepat di seberang ruangan, hanya dipisahkan oleh beberapa meja kosong dan rak berisi berkas lama.

Ia mengambil sebuah tumpukan berkas yang sudah tidak relevan lagi dengan kasus apa pun, berpura-pura menekuni setiap halamannya dengan serius. Namun sebenarnya, matanya terus-menerus melirik ke arah monitor kecil yang tersembunyi di balik laci mejanya yang sedikit terbuka—monitor yang terhubung dengan kamera mikroskopis yang baru saja ia pasang—menunggu satu saja fenomena anomali tertangkap oleh sensor alat elektronik itu.

Di sisi lain ruangan, Sam yang sejak tadi melayang tenang di bagian atas langit-langit, hanya bisa menggelengkan kepalanya dengan ekspresi jijik dan jengah. Ia telah menyaksikan setiap gerakan Hendry dengan jelas, mulai dari saat ia memasuki ruangan hingga saat ia menyembunyikan kamera kecil itu di belakang tumpukan map Lisa. Ia menatap ke bawah dengan tatapan rasa tidak senang terhadap usaha sia-sia yang dilakukan oleh sang detektif senior.

Sosok transparannya yang biasanya hanya terlihat sebagai bayangan samar kini berpendar dengan sedikit kilau keperakan saat ia melayang perlahan mendekati kamera kecil itu, wajahnya yang tampan kini menunjukkan seringai jenaka yang sedikit berbahaya, ia sudah memiliki rencana khusus untuk menghadapi kecurigaan yang tidak pernah berhenti ini.

"Pria ini benar-benar tidak kenal lelah, ya?" Bisik Sam yang hanya bisa didengar oleh Lisa, tepat di telinga wanita yang baru saja memasuki ruangan dan duduk dengan tenang di mejanya untuk menyalakan komputer pribadinya.

Ia menyelinap ke belakang kursi Lisa. "Aku pikir dia akan belajar pelajaran dari kejadian di parkiran bawah tanah. Ternyata kecurigaan itu memang lebih kuat daripada rasa takut pada dirinya."

Lisa tersentak kecil mendengar suara Sam yang datang begitu tiba-tiba di dekat telinganya, namun ia segera menenangkan diri dengan menarik napas dalam-dalam agar tidak terlihat mencurigakan atau terkejut di depan kamera tersembunyi yang kehadirannya sudah ia sadari sejak awal melalui bisikan Sam.

"Biarkan saja dia, Sam. Selama dia tidak melakukan sesuatu yang bisa menghalangi pencarian kita di Arsip Nasional atau mengganggu proses penyelidikan kita tentang kasus Samuel Bahng, biarkan dia bermain saja dengan mainan elektroniknya itu. Kita tidak perlu memberikan perhatian lebih dari yang seharusnya pada hal yang tidak penting ini."

Namun, Sam bukan tipe arwah yang bisa tinggal diam dan menerima ketika martabatnya sebagai mitra kerja Lisa terus diusik oleh alat-alat elektronik murahan yang dipakai Hendry. Bagi dia, kecurigaan sang detektif senior sudah sampai pada tahap yang mengganggu kenyamanan dan bahkan bisa membahayakan keamanan mereka berdua jika tidak segera ditangani dengan cara yang tepat.

Sepanjang hari itu, kantor itu terasa begitu gerah dan lembap karena hujan deras yang terus mengguyur kota Seoul dari pagi hingga sore hari, menciptakan lapisan embun yang tebal dan tidak tembus pandang di permukaan kaca jendela besar yang menghadap jalan raya di sisi ruang kerja mereka. Suara tetesan air yang terus menerus mengenai kaca jendela itu terdengar seperti irama yang monoton dan membuat suasana menjadi lebih terasa berat.

Tanpa memberi tahu Lisa terlebih dahulu, Sam melayang perlahan menuju arah jendela kaca yang memburam karena uap air dari luar ruangan. Ia berhenti tepat di depan permukaan kaca yang dingin dan basah, menatap ke luar ke jalan raya yang sudah mulai tergenang air karena hujan yang tidak kunjung berhenti.

Kemudian, ia mulai memusatkan sedikit energinya yang tersisa ke ujung telunjuk kanannya, menciptakan perbedaan suhu yang tajam antara tubuhnya yang dingin dengan permukaan kaca yang lebih hangat akibat udara di dalam ruangan. Dengan gerakan yang lembut dan terkontrol, ia mulai menari perlahan di atas lapisan embun tersebut, menggunakan ujung jarinya untuk menggores permukaan kaca dengan lembut namun cukup kuat agar meninggalkan bekas yang jelas terlihat.

Sementara itu, Hendry yang sudah mulai merasa bosan karena layar CCTV-nya tidak menunjukkan apa pun selain Lisa yang sedang mengetik dengan tenang di depan komputer atau sesekali mengambil cangkir kopi untuk diminum, mendadak membeku di tempatnya saat melihat sesuatu yang bergerak di jendela besar di belakang Lisa.

Matanya yang sudah mulai merasa lelah karena terus memantau layar monitor kecil itu tiba-tiba melebar lebar, dan napasnya terhenti sejenak karena kejutan yang luar biasa. Ia bisa melihat dengan jelas bagaimana garis demi garis mulai terbentuk secara misterius di atas permukaan kaca yang penuh dengan embun itu—tanpa ada tangan yang menyentuhnya, tanpa ada alat apa pun yang digunakan, sebuah tulisan mulai muncul dengan huruf-huruf yang tegas dan rapi, seolah-olah ada jemari tak kasat mata yang kuat dan terampil sedang menekannya dengan lembut namun pasti.

C-a-r-i k-e-r-j-a-a-n l-a-i-n, S-e-n-i-o-r.

Setiap huruf muncul dengan jelas dan mudah dibaca, bahkan hingga akhir kalimat yang terdengar seperti pesan yang penuh dengan ejekan namun juga sedikit ancaman. Wajah Hendry yang tadinya sudah cukup pucat kini semakin pucat pasi. Pena yang sebelumnya ia pegang erat di tangannya jatuh dengan suara berdenting yang jelas terdengar di tengah kesunyian ruangan, menghantam permukaan lantai beton yang keras sebelum berguling ke arah sudut ruangan.

Ia berdiri dengan tergesa-gesa, kaki-kakinya terasa lemas seperti jeli dan hampir tidak bisa menopang berat tubuhnya. Monitor CCTV yang ia banggakan sebagai alat pembuktian tadi mendadak kehilangan fungsinya—apa gunanya merekam aktivitas di meja Lisa jika ancaman dan ejekan itu tertulis dengan jelas di jendela yang tepat berada di depan matanya?

"Ahn Lisa..." Ia menunjuk dengan jari yang gemetar ke arah jendela itu. "Kau... kau lihat jendela itu? Kau tidak bisa bilang tidak melihatnya! Itu bukan pola acak dari embun, tapi itu tulisan! Itu jelas-jelas sebuah kalimat yang menyuruhku mencari kerjaan lain! Dia... sesuatu yang ada di sini itu sedang menertawakanku!"

Lisa menoleh perlahan ke arah jendela seperti yang diharapkan, wajahnya menunjukkan ekspresi yang dibuat-buat seolah benar-benar terkejut dan tidak percaya. Ia menahan tawa dengan susah payah, menggigit bibir bawahnya agar tidak terlihat tersenyum.

Ia menatap tulisan di kaca yang sudah mulai mencair dan meninggalkan jejak tetesan air yang meluncur ke bawah permukaan kaca seperti air mata yang mengejek terhadap usaha sia-sia Hendry. "Lihat apa, Senior? Saya tidak melihat apa-apa selain pola embun yang agak aneh di kaca jendela. Mungkin itu hanya akibat perbedaan suhu antara dalam dan luar ruangan yang membuat embun membentuk pola seperti itu. Atau mungkin angin kencang yang bertiup di luar telah membuatnya terlihat seperti ada tulisan di sana."

"Itu tulisan! Itu jelas-jelas sebuah kalimat yang ditulis dengan huruf kapital!"

"Dia menyuruhku cari kerjaan lain! Dan aku bisa merasakan kehadirannya di dekatku sekarang juga! Dia... dia sedang meniup tengkukku dengan udara yang sangat dingin!"

Sam yang sebenarnya sedang berada tepat di belakang Hendry hanya terkekeh pelan mendengar keluhan sang detektif senior itu, sengaja menghembuskan embusan angin es yang berasal dari tubuhnya ke arah tengkuk pria itu dengan lembut agar bisa dirasakan dengan jelas. Ia mendekat sedikit ke telinga Hendry, dan suara bisikannya terdengar seperti desis angin yang mengerikan namun tidak bisa dipahami maknanya oleh pria itu.

"Dia benar, Senior. Detektif hantu memang jauh lebih hebat darimu dalam hal mengumpulkan bukti dan memberikan peringatan. Jika kamu masih ingin terus mengganggu kita, aku akan memberikan kejutan yang jauh lebih menyakitkan daripada tulisan di kaca jendela itu."

Tanpa menunggu lebih lama atau memberikan kesempatan bagi Lisa untuk mengatakan apa pun, Hendry dengan tergesa-gesa menyambar jaketnya yang tergantung di sandaran kursinya dan berlari keluar ruangan dengan langkah yang terburu-buru tanpa menoleh lagi. Bunyi pintu ruangan yang ditutup dengan keras menggema di seluruh ruangan, meninggalkan monitor CCTV-nya yang masih menyala sia-sia di belakang laci mejanya yang belum tertutup rapat.

Lisa hanya bisa menghela napas panjang sambil menggelengkan kepalanya dengan ekspresi antara lelah dan sedikit tersenyum. Ia menatap ke arah pintu yang sudah tertutup sebelum mengalihkan pandangannya ke arah Sam yang kini bersandar santai di bagian atas bingkai jendela, tangan kanannya masih terulur ke depan seperti baru saja selesai menulis sesuatu di sana. Sam bahkan melambaikan tangan kanannya dengan santai ke arah pintu yang telah ditutup sebagai bentuk perpisahan yang penuh dengan ejekan.

"Kau benar-benar keterlaluan, Sam. Kamu tahu kan bahwa dia bisa saja melaporkan ini ke Kapten atau bahkan ke divisi khusus yang menangani kasus-kasus aneh seperti ini? Jika itu terjadi, kita tidak akan bisa lagi bekerja dengan bebas untuk mencari kebenaran tentang masa lalumu."

Sam hanya mengangkat bahu dengan santai sebelum melayang kembali ke sisi meja Lisa dengan tubuh yang sudah kembali menjadi lebih transparan dari biasanya. Wajahnya menunjukkan ekspresi penuh dengan kepuasan karena berhasil mengusir gangguan yang telah mengganggu mereka berdua selama beberapa hari terakhir.

"Dia yang mulai duluan. Aku hanya memberikan tanggapan yang sesuai dengan tingkah lakunya. Selain itu, sekarang dia sudah tahu bahwa kita tidak bisa dianggap remeh begitu saja. Sekarang, bisakah kita kembali fokus pada hal yang benar-benar penting? Yakni kasus Samuel Bahng dan pencarian kita untuk menemukan kebenaran tentang apa yang sebenarnya terjadi pada malam aku meninggal? Aku lebih suka menghabiskan energi dan waktu untuk mencari namaku dan masa laluku daripada mengurusi detektif tua yang penakut itu."

Lisa mengangguk setuju, segera kembali fokus pada layar komputer yang sudah menyala dengan penuh di depannya. Ia tahu bahwa waktu yang mereka miliki sangat terbatas, dan setiap detik yang terbuang adalah kesempatan yang hilang untuk menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang telah mengganggu Sam selama bertahun-tahun.

Dengan masalah dengan Hendry yang sudah selesai untuk saat ini, mereka bisa kembali bekerja dengan tenang dan fokus pada tujuan utama mereka, yaitu menemukan kebenaran tentang kematian Samuel Bahng dan memastikan bahwa orang yang bertanggung jawab akan mendapatkan hukuman yang layak.

.

.

.

.

.

.

.

ㅡ Bersambung ㅡ

1
PengGeng EN SifHa
HENDRY OPO DIBALIK KEMATIAN IKU YA ??
PengGeng EN SifHa
partner terbaik meskipun di anggap gila..
dan bagaimanapun kita memang berdampingan dengan mereka☕️☕️☕️☕️☕️☕️☕️☕️☕️☕️
PengGeng EN SifHa
secercah harapan yg terpatahkan
si kecil nikkey
seruuu suatu saat pasti banyak yg mampir baca thor
PengGeng EN SifHa
Cerita yang sangat amat menyentuh hati...
apakah si SAM korban pembunuhan ?
Phida Lee
Terima kasih kritik dan sarannya kak, baik. 🙏
Zainuri Zaira
sdh bab 7 tp aq blom paham gimna ceritax. terlalu byk kalimat yg ngk di pahami.singkat aj biar kita cpat paham
si kecil nikkey
seruuu bngeettt👍
si kecil nikkey
halo Thor cerita yg seru tapi tolong jangan terlalu bala dg kata2 yg gakmoerlu d bahas, singkat aja yaa spya gak cape bacanya
Phida Lee: Terima kasih kritik dan sarannya kak, baik. 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!