NovelToon NovelToon
The Ghost Detective: Sam’S Last Gift

The Ghost Detective: Sam’S Last Gift

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Identitas Tersembunyi / Slice of Life / Persahabatan / TKP / Roh Supernatural
Popularitas:155
Nilai: 5
Nama Author: Phida Lee

Seorang arwah anak yang terlupakan sejak 1987. Seorang detektif perempuan yang bisa melihatnya di tahun 2020. Bersama, mereka memecahkan kasus-kasus mustahil.

Tetapi setiap kebenaran yang mereka ungkap membawa Lisa dan Rhino semakin dekat pada misteri terbesar, identitas Rhino yang sebenarnya. Sebuah rahasia kelam yang, jika terungkap, bisa membebaskannya atau justru memisahkan mereka untuk selamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Phida Lee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26

Matahari di langit Johor Bahru menggantung rendah, namun panasnya sudah membakar kulit seolah tengah hari telah tiba jauh sebelum jarum jam menunjukkan angka dua belas. Butiran-butiran keringat merayap perlahan di pelipis Lisa, menyusuri lekukan rahangnya yang terkencang sebelum jatuh ke tanah aspal yang mengeluarkan asap tipis karena terpapar sinar matahari yang terik. Ia mengusap wajahnya dengan sapu tangan yang sudah basah, menyesali keputusannya mengenakan kemeja katun berwarna biru tua—bahannya kini lengket menempel di punggung dan sisi badan, menyerap kelembapan hingga terasa seperti beban tambahan di pundaknya.

Udara di sekitarnya terasa begitu tebal, sarat dengan kelembapan tropis yang membuat setiap napas terasa berat dan menyengat. Aroma rempah-rempah dari kedai-kedai pinggir jalan menyebar ke segala arah: campuran kunyit yang hangat, ketumbar yang menggairahkan, dan sedikit sentuhan cabai rawit yang menusuk indra penciumannya. Di kejauhan, suara mesin gerinda dari bengkel sepeda motor bergema bersama teriakan pedagang yang menjual buah kelapa muda dengan sedotan plastik bening.

𝘊𝘶𝘢𝘤𝘢 𝘥𝘪 𝘴𝘪𝘯𝘪 𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳-𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘢𝘴𝘶𝘬 𝘢𝘬𝘢𝘭.

Kata-kata itu keluar dari mulutnya dengan nada setengah berbisik. Lisa menoleh ke sekeliling, menyaksikan orang-orang berlalu lalang dengan langkah cepat, sebagian membawa payung lipat sebagai benteng dari matahari yang menyengat, sebagian lagi hanya menerima panasnya dengan tatapan pasrah yang sudah biasa bagi mereka yang tinggal di kawasan tropis. Sementara dirinya—orang Seoul yang terbiasa dengan musim gugur yang sejuk dan musim dingin yang membekukan—hanya merasa seperti ikan yang terlempar ke atas daratan.

"Kau pikir kau saja yang menderita?"

Suara yang terdengar serak menyapa telinganya dari sebelah kanan. Lisa menoleh dan melihat Sam berdiri dengan bahu yang sedikit merosot, tubuhnya menyandar ke tiang lampu jalan sebagai jika mencari sandaran tambahan. Sosok yang biasanya tampak jernih dan jelas kini tampak sedikit buram, seperti fatamorgana yang muncul di atas permukaan aspal yang panas. Ia mengusap lengannya berulang kali dengan gerakan yang tidak sadar, padahal secara fisik tidak ada satu tetes pun keringat yang muncul di kulitnya yang pucat seperti lilin.

Mata Sam menyipit, seolah berusaha menahan silau yang bukan hanya berasal dari sinar matahari, melainkan sesuatu yang lebih dalam lagi. Ekspresinya tampak sangat tidak nyaman; dahinya berkerut, bibirnya sedikit menggigil meskipun hawa sekitarnya terasa seperti oven yang terbuka lebar.

"Aku bisa merasakan suhunya. Bukan hanya panasnya udara—jika aku fokus... rasanya seperti seluruh tubuhku diletakkan di dalam oven besar yang sudah dipanaskan hingga maksimal. Energi di sekitar sini terlalu liar, terlalu membara. Rasanya aku ingin mencair saja dan menyatu dengan trotoar yang panas ini."

Lisa melihatnya dengan tatapan cemas. Sam adalah makhluk yang tidak bisa dijelaskan dengan logika ilmiah—makhluk antara dunia maya dan nyata yang mampu merasakan getaran energi yang tidak bisa dirasakan oleh manusia biasa. Ia adalah mitra yang tak tergantikan dalam kasus-kasus yang menyentuh alam gaib, namun kerentanannya terhadap lingkungan sekitar seringkali menjadi beban. Lisa mengeluarkan botol air mineral dari tasnya dan memberikan kepada Sam, meskipun tahu bahwa cairan itu tidak akan memberikan manfaat apa-apa bagi dirinya.

"Terima kasih..." Ujar Sam dengan senyum tipis yang tampak terpaksa, lalu menoleh ke arah kejauhan. "Tapi aku butuhkan bukan itu. Aku butuh ketenangan... dan energi di sini benar-benar tidak bisa diredam."

Langkah mereka berlanjut perlahan ke arah Balai Polis daerah yang telah dituju. Gedungnya terlihat sederhana dengan tembok berwarna putih kusam yang mulai mengelupas, namun gerbang masuknya selalu ramai dengan orang-orang yang datang membawa keluhan atau melaporkan kejadian. Seorang petugas berpangkat Inspektur dengan tubuh sedang dan rambut hitam yang sudah mulai memutih di bagian pelipis berdiri di depan pintu masuk, tangan terlipat di depan dada sambil mengamati setiap orang yang lewat dengan tatapan waspada.

Ketika Lisa mendekat, pria itu mengangkat dagunya dan memberikan senyum tipis yang tidak menyentuh mata. Suaranya terdengar dalam dengan aksen lokal yang khas ketika ia berbicara dalam bahasa Inggris.

"Detektif Ahn dari Seoul?" Ujarnya sambil mengeluarkan selembar kertas dari saku baju polisi yang dikenakannya. "Nama saya Razak. Kami sudah menerima memo dari Interpol sejak tiga hari yang lalu. Tapi maaf, Nona—kasus ini sangat sensitif. Firman adalah penduduk lokal yang punya koneksi cukup luas di kalangan bisnis dan pemerintahan daerah. Anda yakin ingin mendatangi rumah lamanya sekarang?"

Lisa menatap mata Inspektur Razak dengan tatapan yang tegas, mengusap lagi keringat yang mulai mengalir kembali ke pelipisnya. Rasa lelah mulai menyusup ke otot-ototnya, namun ia harus mengatasinya. Setiap detik yang terbuang adalah kesempatan bagi pelaku untuk menghilangkan jejak-jejak yang bisa mengungkapkan kebenaran.

"Saya yakin, Inspektur. Kita tidak punya waktu untuk menunda-nunda. Setiap detik yang kita buang adalah kesempatan baginya untuk membersihkan sisa-sisa bukti yang mungkin masih tersisa."

Inspektur Razak mengangguk perlahan, seolah menghargai tekad yang ada di balik kata-kata Lisa. Ia memberikan isyarat dengan tangan agar Lisa dan Sam mengikutinya ke arah belakang balai polis, di mana sebuah mobil patroli sudah siap menunggu. Namun sebelum mereka naik ke dalam mobil, Lisa melihat bagaimana Sam tiba-tiba berhenti berjalan, tubuhnya membeku seperti orang yang tiba-tiba terkena listrik.

Kepala Sam terteleng ke arah kiri, ekspresi wajahnya yang tadinya menunjukkan rasa lelah berubah menjadi tegang luar biasa. Alisnya terangkat tinggi, matanya yang biasanya tampak teduh kini bergerak gelisah dari satu tempat ke tempat lain—menatap ke arah bayangan-bayangan yang terbentuk di bawah pohon beringin besar yang tumbuh di pinggir jalan, lalu ke sudut-sudut lorong yang gelap yang terlihat di antara rerumputan yang tumbuh liar.

"Ada yang bicara, Lisa..." Bisik Sam dengan suara yang bergetar, tangannya mulai menggigil sedikit. "Kau tidak bisa mendengarnya?"

Lisa mengerutkan kening, menoleh ke arah yang ditatap Sam. Ia hanya mendengar suara angin yang berdesir di antara dedaunan pohon, dan suara jauh mesin mobil yang lewat di jalan raya utama. Tidak ada suara lain yang bisa dirasakan oleh telinga manusia biasa.

"Apa maksudmu?" Tanya Lisa dengan suara rendah, tidak ingin menarik perhatian Inspektur Razak yang sudah masuk ke dalam mobil patroli dan sedang menunggu mereka.

"Arwah-arwah di sini... mereka sangat berisik." Sam mencengkeram kedua sisi kepalanya dengan tangan, wajahnya menunjukkan ekspresi kesusahan yang mendalam. "Aku tidak mengerti bahasa yang mereka gunakan. Kata-katanya asing sekali, berputar-putar di dalam kepalaku seperti nyanyian yang rusak atau rekaman yang macet. Tapi rasanya... rasanya sangat pedih. Seolah mereka sedang menangis atas sesuatu yang tidak bisa mereka ubah."

Lisa mendekat dan menepuk bahu Sam dengan lembut, berusaha memberikan rasa tenang meskipun ia sendiri tidak tahu apa yang harus dilakukan. Ia tahu betul bahwa ketika Sam mulai merasakan hal seperti ini, itu berarti ada sesuatu yang tidak baik yang terjadi atau pernah terjadi di sekitar mereka.

Sam memejamkan mata erat-erat, dadanya naik turun dengan napas yang semakin cepat. Di telinganya yang berbeda dari manusia, suara-suara dalam bahasa Melayu kuno dan dialek lokal khas Johor bersahut-sahutan dengan nada yang penuh kesedihan. Jeritan-jeritan yang tidak bisa didengar oleh telinga manusia biasa bergema bersama dengan tangisan yang panjang dan menyakitkan hati. Namun di tengah kebisingan metafisika yang begitu ramai itu, Sam berhasil menangkap satu frekuensi energi yang lebih dominan dari yang lain—sebuah gelombang energi yang pekat dan hitam seperti lumpur malam, datang dengan arah yang jelas dari sebuah rumah kosong yang terletak di ujung jalan.

Rumah itu dikelilingi oleh pagar besi yang sudah berkarat parah, dengan pagar gerbang yang sedikit miring dan tampak sudah tidak digunakan dalam waktu lama. Dinding rumahnya berwarna putih yang sudah menguning dan mengelupas, sementara atapnya tampak miring ke satu sisi seolah tidak mampu menahan beban waktu dan cuaca.

"Di sana." Ujar Sam dengan tangan yang bergetar menunjuk ke arah rumah itu, matanya sudah terbuka namun tampak seperti melihat sesuatu yang tidak bisa dilihat oleh Lisa. "Rumah dengan atap yang miring itu. Aku tidak perlu mengerti bahasa mereka untuk tahu apa yang sedang terjadi atau pernah terjadi di sana. Bau kebenciannya sangat tajam, lebih tajam dari apa pun yang pernah aku rasakan sebelumnya. Rasanya seperti empedu yang tumpah di lantai atau racun yang menyebar di udara."

Tanpa menghiraukan larangan yang mungkin ada di benak Lisa, Sam mulai melangkah mendekati pagar rumah itu. Tubuhnya tampak melayang di atas tanah dengan langkah yang tidak berbunyi, seperti orang yang sedang berjalan di atas awan. Namun ketika jaraknya hanya beberapa meter dari pagar besi berkarat itu, ia tiba-tiba terpental mundur dengan keras, seolah menabrak tembok energi yang tidak terlihat namun sangat panas. Tubuhnya tergoyangkan, dan ia harus menyandarkan diri ke tembok pagar tetangga untuk tidak jatuh.

Sam terengah-engah, wajahnya yang biasanya pucat kini tampak semakin pucat hingga hampir kebiruan. Ekspresi ketakutan yang murni terlihat jelas di matanya—ketakutan yang jarang sekali muncul pada sosok yang telah melihat berbagai hal aneh dan menyeramkan di seluruh dunia.

"Sesuatu yang sangat jahat pernah terjadi di sana. Bukan hanya kematian Siti Aminah yang menjadi alasan kita datang ke sini, tapi sesuatu yang lebih tua—sangat lama sudah ada di sana. Kebencian pelakunya... masih berdenyut kuat di bawah lantai rumah itu, seolah masih hidup dan bernapas."

Lisa menatap rumah tua yang tampak merana di bawah terik matahari. Dinding yang mengelupas dan jendela kayu yang tertutup rapat dengan papan kayu kasar seolah sedang menyembunyikan rahasia yang terlalu berat untuk dipikul. Di bawah kaki kakinya, tanah Johor Bahru yang panas seolah bergetar dengan getaran yang sangat lemah—seolah memberi tahu bahwa apa yang akan mereka temukan di bawah lantai kayu yang lapuk itu mungkin jauh lebih mengerikan daripada potongan tubuh yang ditemukan di dalam koper di Sungai Han beberapa minggu yang lalu.

Kaki Lisa secara tidak sadar mulai bergerak mendekati rumah itu. Tangannya secara naluriah meraba bagian pinggang di mana holster senjata dinasnya biasanya ditempatkan, namun hanya menemukan kain kemeja yang lengket karena keringat. Rasanya begitu telanjang dan tidak berdaya tanpa perlengkapan yang biasa membantunya dalam menjalankan tugas.

𝘛𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘱𝘢-𝘢𝘱𝘢. 𝘒𝘢𝘮𝘶 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘩𝘢𝘥𝘢𝘱𝘪 𝘣𝘢𝘯𝘺𝘢𝘬 𝘩𝘢𝘭 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘦𝘣𝘪𝘩 𝘣𝘶𝘳𝘶𝘬 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘪𝘯𝘪. Bisiknya dalam hati.

"Ayo, Sam. Kita selesaikan ini. Kita harus tahu apa yang benar-benar terjadi di sana—baik kemarin maupun sekarang."

Sam mengangguk perlahan, menutup mata sebentar sebelum membukanya kembali dengan ekspresi yang sudah lebih tenang. Ia mengusap dahinya dengan tangan, lalu melangkah kembali ke arah Lisa dengan langkah yang lebih mantap. Meskipun wajahnya masih menunjukkan rasa tidak nyaman, kini ada tekad yang jelas terlihat di dalam matanya—tekad yang sama dengan Lisa untuk mengungkapkan kebenaran yang telah tersembunyi terlalu lama.

Di kejauhan, matahari mulai sedikit bergeser ke arah barat, namun panasnya tetap sama saja—bahkan mungkin semakin menyengat karena kelembapan yang terus meningkat. Udara terasa semakin tebal, dan aroma rempah dari kedai-kedai pinggir jalan semakin menyengat. Namun Lisa dan Sam tidak lagi memperdulikan hal itu. Kedua pandangan mereka tertuju pada rumah tua di ujung jalan, yang seolah sedang menunggu mereka untuk membuka rahasia yang telah dikubur dalam waktu yang sangat lama.

Inspektur Razak muncul dari arah mobil patroli, wajahnya menunjukkan rasa kebingungan karena melihat kedua orang itu berdiri diam di tengah jalan. Ia mengangkat tangan dan memberitahu mereka untuk segera masuk ke dalam mobil, namun Lisa hanya memberikan isyarat bahwa mereka akan segera menyusul. Ada sesuatu yang harus ia lakukan sebelum mereka benar-benar mulai menyelidiki rumah Firman yang sebenarnya. Ada sesuatu yang harus ia ketahui tentang rumah tua dengan atap miring itu—rumah yang menjadi sumber energi jahat yang begitu kuat hingga bisa dirasakan bahkan dari jarak yang cukup jauh.

Tanpa berkata apa-apa lagi, Lisa melangkah lebih cepat ke arah rumah itu, dengan Sam mengikutinya dari belakang. Langkah mereka terdengar jelas di atas tanah yang keras, menyilang jalanan yang mulai sepi karena sebagian besar orang sudah kembali ke tempat teduh untuk menghindari terik matahari yang semakin menyengat. Di depan mereka, rumah tua itu semakin jelas terlihat—dengan semua keanehan dan misteri yang menyertainya, seolah sedang membuka pelukan untuk menyambut kedatangan mereka dengan rahasia yang siap terungkap.

.

.

.

.

.

.

.

ㅡ Bersambung ㅡ

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!