NovelToon NovelToon
Mafia Jatuh Cinta Pada Gadis Desa

Mafia Jatuh Cinta Pada Gadis Desa

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa pedesaan / Identitas Tersembunyi / Mafia
Popularitas:417
Nilai: 5
Nama Author: indah yuni rahayu

Jovan adalah pewaris mafia paling berbahaya di kota. Luka tembak dan pengkhianatan memaksanya melarikan diri ke sebuah desa terpencil, tempat seorang gadis sederhana bernama Mika menyelamatkan nyawanya.

Dengan identitas palsu sebagai petani buah, Jovan hidup di dunia yang tak pernah ia kenal—tenang, jujur, dan penuh kehangatan.

Di sanalah ia jatuh cinta pada Mika, tanpa ia sadari bahwa cintanya adalah ancaman.

Karena saat masa lalu mengejarnya, Mika bukan hanya gadis desa…dia adalah sandera paling berharga di dunia mafia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indah yuni rahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tekanan Pasar

Hari-hari berikutnya berjalan dengan ritme yang nyaris sama, tapi tidak lagi terasa biasa.

Jovan mulai bangun sebelum matahari terbit. Bukan karena terbiasa dengan desa, melainkan karena tubuhnya menolak tidur terlalu lama di tempat yang belum sepenuhnya ia pahami. Ia duduk di teras, mengamati jalan, mencatat pola.

Pukul lima lewat sedikit, Mika keluar rumah membawa keranjang. Rambutnya diikat rendah, wajahnya masih menyimpan sisa kantuk.

“Kau tidak perlu ikut,” katanya setiap kali.

Dan setiap kali, Jovan tetap berdiri. “Aku tidak ikut ke pasar,” jawabnya. “Hanya sampai kebun.”

Mika tidak membantah lagi.

Di kebun, Mika memanjat pohon jambu air yang batangnya rendah. Tidak tinggi, tidak berbahaya, tapi cukup membuat Jovan refleks berdiri lebih dekat.

“Hati-hati,” katanya.

Mika menoleh dari atas dahan. “Tenang saja. Dari kecil aku sudah naik pohon ini.”

Jovan mengulurkan tangan tanpa sadar, berjaga kalau-kalau Mika terpeleset.

Mika turun, keranjangnya sudah setengah penuh. Ia berhenti sejenak, menyadari jarak mereka yang terlalu dekat.

Untuk sesaat, tidak ada yang bicara.

Angin bergerak pelan. Daun-daun bergesek.

Pak Raka berdehem dari kejauhan.

“Kalau sudah penuh, pulang,” katanya datar.

Mika tersenyum kikuk. Jovan mundur setengah langkah. Tidak ada yang ditegur, tapi semuanya paham.

.

Di pasar, situasi tidak membaik, tapi juga tidak memburuk drastis. Beberapa pembeli mulai kembali. Tidak banyak. Tidak ramai. Seolah mereka sedang menguji antara aman atau belum.

Lapak Mika tidak kosong lagi. Tapi tidak pernah benar-benar penuh.

Itu cukup untuk membuatnya bertahan.

Namun siang itu, bisikan mulai terdengar lebih jelas.

“Katanya orang kota itu bermasalah.”

“Jangan sampai ikut kena.”

“Pak Raka kelihatannya tahu, tapi diam saja.”

Mika mendengarnya.

Jovan juga. Ia berdiri sedikit lebih jauh, tapi tatapannya menyapu pasar seperti kebiasaan lama. Ia melihat satu hal yang tidak disadari orang lain, dua pria yang tidak belanja, tidak berbincang, hanya duduk di ujung warung kopi sejak pagi.

Bukan orang desa.

Mereka tidak melakukan apa-apa. Dan itulah masalahnya.

Sore hari, ketika mereka pulang, Mika tampak lebih pendiam.

“Kau capek?” tanya Jovan.

Mika mengangguk. “Sedikit.”

“Karena pasar?”

Mika tersenyum tipis. “Karena merasa seperti diawasi.”

Jovan berhenti melangkah.

Ia ingin bilang, bukan perasaanmu. Tapi ia tidak jadi mengucapkan itu.

“Aku akan pastikan tidak ada yang menyentuhmu,” katanya akhirnya.

Mika menoleh. “Jangan buat masalah.”

Jovan mengangguk. “Aku janji.”

Janji itu berat. Tapi tulus.

Malamnya, Pak Raka memanggil Jovan ke teras.

“Tekanan tidak akan berhenti,” katanya tanpa basa-basi. “Tapi orang yang menekan biasanya ingin sesuatu.”

“Aku tahu,” jawab Jovan.

Pak Raka menatapnya lama. “Kalau suatu hari kau harus pergi…”

“Aku tidak akan pergi diam-diam,” potong Jovan. “Dan aku tidak akan membawa masalah lebih dekat.”

Pak Raka mengangguk sekali. Tidak ada lagi yang perlu dikatakan.

Di tempat lain, Levis menerima laporan lanjutan.

“Mereka tidak menutup lapak,” kata anak buahnya. “Tidak pindah pasar.”

Levis tersenyum kecil. “Bagus.”

Ia berdiri di depan jendela hotel kecil itu, menatap jalan.

“Naikkan sedikit,” katanya.

“Bukan ancaman. Gangguan.”

“Pasar?”

“Pasar. Selalu pasar,” jawab Levis. “Karena dari sanalah mereka hidup.”

Ia mematikan ponsel.

Belum saatnya menculik.

Belum saatnya menyakiti Pak Raka.

Terlalu cepat.

Ia ingin Jovan merasa, tinggal adalah kesalahan yang manis.

Di Desa Sumberjati.

Mika melipat baju di ruang tengah. Jovan membantunya, kali ini tanpa canggung. Tangan mereka bersentuhan sebentar. Mika tidak menariknya pergi.

Hanya sebentar.

Di luar, suara jangkrik terdengar biasa.

Tapi bagi Jovan, setiap hari seperti ini adalah hitungan mundur.

Dan bagi Levis, itu baru permulaan.

Keesokan harinya.

Pasar berubah tanpa pengumuman.

Tidak ada larangan tertulis. Tidak ada keributan. Tapi orang-orang mulai datang dengan langkah ragu, berhenti sebentar di depan lapak Mika, lalu berpaling seolah lupa apa yang hendak dibeli.

Bukan karena barangnya buruk.

Bukan karena harganya mahal.

Karena nama.

“Katanya lapak itu dekat orang bermasalah,” bisik seorang perempuan pada temannya. Tidak pelan. Tidak keras. Tepat di jarak yang disengaja.

Mika pura-pura tidak dengar. Tangannya tetap menyusun buah. Tapi urat di pergelangan tangannya mengeras sebentar, lalu mengendur.

Jovan berdiri di sisi lain pasar. Tidak dekat. Tidak jauh. Ia melihat pola yang sama seperti hari-hari lama, bukan di desa, tapi di kota seperti orang-orang yang bicara, lalu mundur bersama-sama.

Terarah.

Siang itu, seorang pelanggan lama datang. Membeli sedikit. Sangat sedikit.

“Maaf, Mika,” katanya sambil menunduk. “Bukan aku tidak percaya. Tapi sekarang orang-orang banyak omong.”

Mika tersenyum. “Tidak apa-apa.”

Kalimat itu keluar dengan mudah. Terlalu mudah.

Di jalan pulang, Mika tidak langsung bicara. Ia berhenti di tepi sawah, motor sengaja dituntun, menatap air yang memantulkan cahaya sore.

“Kalau aku tutup lapak sebentar,” katanya akhirnya, “menurutmu… aneh?”

Jovan tidak menjawab cepat.

“Bukan aneh,” katanya pelan. “Tapi itu bukan solusi.”

Mika menoleh. “Aku lelah.”

Jovan mengangguk. “Aku tahu.”

Ia tidak menyentuh Mika. Tidak memeluk. Tidak memberi janji besar. Ia hanya berdiri di sampingnya, sama tinggi dengan bayangan yang jatuh ke air.

Malamnya, Pak Raka memanggil Jovan lebih awal dari biasanya.

“Kau lihat sendiri,” katanya. “Ini bukan kebetulan.”

“Aku tahu siapa yang menggerakkan,” jawab Jovan.

Pak Raka tidak bertanya siapa. Ia hanya menatap lampu.

“Kalau kau bertindak,” kata Pak Raka, “desa ini akan ikut merasakan.”

“Aku tidak akan bertindak,” kata Jovan. “Aku akan menghilangkan alasnya.”

Pak Raka mengangkat kepala. “Tanpa suara?”

“Tanpa suara.”

Keesokan paginya, satu hal kecil terjadi.

Seorang pedagang lain yang biasanya ikut menyebarkan bisik datang ke lapak Mika.

Membeli banyak. Terlalu banyak untuk kebutuhan rumah.

“Kenapa?” tanya Mika, bingung.

Pedagang itu menggaruk tengkuk. “Tadi malam… ada yang datang ke rumah. Bukan mengancam. Hanya mengingatkan.”

“Mengingatkan apa?”

“Kalau pasar ini hidup karena saling jaga.”

Ia pergi tanpa bicara lagi.

Hari itu, dua pelanggan lama kembali. Tidak ramai. Tapi cukup untuk membuat lapak Mika tidak terlihat kalah.

Jovan melihat ke arah warung kopi. Dua pria yang sama tidak ada lagi.

Sore menjelang malam, Mika membereskan lapak dengan gerakan lebih ringan.

“Entah kenapa,” katanya, “hari ini terasa… sedikit lebih lega.”

Jovan mengangguk. “Kadang, tekanan hanya butuh satu titik longgar.”

Mika menatapnya lama. “Kau melakukan sesuatu?”

Jovan menatap jalan. “Aku hanya bicara dengan orang yang suka bicara.” Mika tidak bertanya lagi.

Di kamar, malam itu, Mika mengetuk pintu Jovan. Bukan tergesa. Tidak ragu.

“Terima kasih,” katanya singkat.

Jovan membuka pintu setengah. “Untuk apa?”

Mika tersenyum kecil. “Untuk tidak membuatku takut.”

Ia pergi sebelum Jovan sempat menjawab.

Di luar desa, Levis menerima laporan yang membuatnya terdiam lebih lama dari biasanya.

“Pasar mulai longgar,” kata anak buahnya. “Seperti ada yang memotong jalur.”

Levis tidak marah. Ia justru tersenyum tipis.

“Berarti dia masih Jovan,” katanya. “Belum lupa caranya bermain pelan.”

Ia menutup map.

“Naikkan satu tingkat,” perintahnya. “Bukan ke pasar.”

“Ke mana?”

Levis menoleh ke jendela. “Ke orang yang membuat pasar itu berarti.”

Nama Pak Raka tidak diucapkan. Tapi arahnya jelas.

Dan di Desa Sumberjati, angin malam berembus seperti biasa

tidak membawa suara, tidak membawa kabar, hanya membuat pintu bambu berderit sekali sebelum diam.

1
Mulaini
Semoga aja Leon masih hidup dan mungkin yang terbakar supirnya.
Mulaini
Siapa laki² yang turun dari mobil hitam apakah salah satu musuh Jovan?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!