NovelToon NovelToon
Our Love

Our Love

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Seiring Waktu / Cintapertama
Popularitas:201
Nilai: 5
Nama Author: Uil

silahkan baca

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

23

#Darkness#

Saat yang kutakutkan terjadi

Sepi

Bak berjalan dalam kegelapan

Aku memangil namanya dalam tidurku

Tetapi dia tetap tak membalas itu

Aku kembali lagi berjalan dikekosongan ini

Hampa dan entah kapan akan menjadi sebuah titik

Titik terang dimana semuanya indah

Akankah aku mendapatkan titik itu?

Aku rindu padanya

Namun aku harus melupakannya

-Nita-

Panasnya matahari menembus kaca kamar rawat inap Nita.Dia terbangun dengan keringat yang bercucuran sambil berteriak memanggil nama ditya.Drian yang mendengar teriakan Nita langsung terbangun dan terhentak.Tepat pukul 08.00 WIB.Suasana yang tadinya tenang berubah menjadi tegang.

"Adit.Adityaaaaaa...Dityaaaa.Dityaaaa..jangan pergi..Jangan tinggalin aku."Berkeringat sambil menitihkan air mata.

"Ta..kamu gak apa apa?"Memeluk dan mengelap air mata Nita.

"Gak apa apa.."Memeluk Drian erat.

"Janji ya ian.Jangan tinggalin aku."

"Iya..Cuma maut yang memisahkan kita."

Waktu untuk terapi pelemasan otot dimulai sebentar lagi.Suster demeter dan dokter levin menyiapkan ruangannya.

"Ta..Aku bantu dorong kursi roda kamu ya..."

"Makasih ya ian..Kamu selalu ada untuk aku."Mengenggam tangan kanan Drian.

"Selamat datang, di ruangan terapi.Perkenalkan saya dokter levin.Kamu pasien yang bernama Nita bukan?"Dokter levin fisioterapi.

"Iya dok."

"Saya periksa dulu ya sebelum terapi dilakukan."Dokter levin fisioterapi memeriksa mata dan tekanan darah Nita.

"Sudah dok?"

"Sudah,silahkan mulai terapinya."

"Saya bantu turun dari kursi roda ya teh."Suster Demeter merangkul Nita.

"Iya sus.."

"Saya bantu ya sus."Merangkul pinggang Nita.

"Makasih,atuh ko.Teteh beruntung punya calon suami kaya koko ini."Suster Demeter melihat ke arah Drian.

"Cuma teman kok sus.Kita bukan Couple."Nita dan drian kompak menjawab bersamaan.

"Sahabat atau teman bisa jadi pencarian terakhir kalian atau jodoh kalian."Ledek Suster Demeter.

"Semoga aja begitu."Drian berbicara dalam hati.

"Drian pelan pelan.Kakiku mati rasa."Memegang besi latian jalan sambil menatap mata Drian.

"Teteh tiang pegangannya tolong dipegang erat ya.Koko pegangin punggungnya."

"Baik sus."

"Kita coba jalan pelan pelan ya.Suster deme tolong bikin laporannya."Dokter levin membantu memegangi punggung dan tangan Nita.

"Baik dok."

"Ayo perlahan jalan."Dokter levin jongkok sambil membantu mengayunkan dan meregangkan otot kaki.

"Ayo ta,kamu pasti bisa."

"Uhhh..Sakit dok.."Sambil pelan berjalan dan keringat bercucuran membasahi tubuhnya.

"Kita coba 2putaran dulu ya nita.Habis ini peregangan tangan mencoba menulis huruf sedikit demi sedikit."

"Iya dok.Tapi kakiku mati rasa?"Sambil memandang Drian disisi kirinya.

"Itu wajar karena kamu sempat anfal dan tidak sadarkan diri beberapa jam."

Nita terjatuh dan membuat Drian panik.Drian menitihkan air mata seakan merasakan kesakitan yang dirasakan Nita.

"Ta gak apa apa kan?..Mana yang sakit.."Sambil meneteskan air mata

"Gak apa apa kok ian.Aku baru pernah liat kamu nangis buat aku."Menyeka air mata Drian

"Aku gak nangis kok.Cuma takjub aja liat kamu yang berjuang sembuh."

"Bantu aku berdiri ian.Kakiku mati rasa."

"Iya..pelan pelan ya."memegang pungung Nita

"Iya..Sakit ian.."Berkeringat sambil memegang tangan Drian.

"Hari ini,untuk latihan jalannya sampai disini dulu.Untuk, pasien Nita jangan terlalu dipaksakan.Latihan menulis kembali kita lakukan empat sore.Kamu istirahat dulu ya.Biar suster Deme membantu mengantarkan ke kamar."Dokter levin mengenggam pundak Nita.

"Makasih ya dok."Senyum Nita.

"Sama sama,semoga lekas sehat ya."

"Mari,teh saya antar ke kamar."

"Makasih ya dok."Senyum tulus Drian.

"Sama sama."Dokter levin kembali ke kursinya.

Levin menelepon Micky dokter penangung jawab Nita memberi kabar terbaru tentang perkembangan terapi Nita

Dokter Micky(Ahli paru paru):Gimana vin perkembangannya?

Dokter Levin (Fisioterapi):Masih baru pertama terapi Mick.Belum banyak perkembangan.Cuma dia semangat banget untuk sembuh.Beda sama pasien aku yang biasanya

Dokter Micky(Ahli paru paru):Baguslah kalau begitu vin.Kabarin terus perkembangannya ya.Aku masih harus ke ruang operasi ada pasien kecelakaan.Sudah dulu ya vin

Dokter Levin(Dokter fisioterapi): Baiklah Mick sukses ya

Dokter Micky(Ahli paru paru):Thanks ya

Season ke 2 terapi dimulai.Levin memberikan secarik kertas dan pena untuk melatih keseimbangan Nita

"Coba kamu lihat pena ini.Dan pegang penanya ada dimana dari bagian wajah saya."

"Iya dok."

Dengan telunjuk tangannya Nita memegang pena yang sejajar dengan hidung dokter Levin.Untuk melatih kembali otot mata dan fleksibel tangan.

"Daya penglihatan kamu masi tajam Nita.Sekarang coba kamu mulai menulis apapun yang ingin kamu tulis di secarik kertas itu."

"Iya dok."

Nita mulai menulis 2 huruf namun banyak artinya.Dengan tangan yang gemetaran Nita berusaha menulis.

"Langit Hitam."Tangan yang tremor membuat Nita harus menulis dengan penuh konsentrasi.

:Kenapa kamu menulis itu?"

"Entah mengapa perasaan saya seperti langit kosong yang berwarna hitam dok.Tak tau arah kemana harus berjalan."

"Oke, bisa saya mengerti arti tulisan kamu.Kamu harus terus semangat sembuh ya.Semangat membuka lembaran baru.Kamu beruntung punya lelaki seperti Drian.Dia setia menemanimu dalam suka dan duka."

"Entahlah,dok saya bingung harus apa."

"Hidup itu bagai air ta.Mengalir seiring berjalannya waktu terkadang mulus terkadang penuh rintangan tapi semua akan bermuara pada satu sungai yang membawanya ke laut."Dokter levin mengenggam tangan Nita.

"Iya dokter,makasih untuk mengingatkan saya."

"Sama sama sesi ini sampai disini dulu ya.Kamu harus istirahat lagi."Menulis laporan kesehatan dijurnalnya.

"Makasih ya dok."

Dokter Levin membereskan barangnya dan meninggalkan ruang terapi.Didepan ruangan dokter bertemu Drian.

"Eh,koko habis dari mana?"Sapaan ramah dokter levin.

"Pulang sebentar dok.Oma masakin sesuatu buat Nita."

"Kamu,sayang banget sama cewek yang lagi terapi sama saya ya?"

"Iya dok.Darimana dokter tahu?"

"Eesss...Dokter pernah muda kali.Kalau gitu kamu harus bisa menjawab arti langit hitam yang tadi dia tulis.Jadilah awan putih yang membawa kebahagiaan untuknya.Good luck."Menepuk pundak Drian.

Dokter meninggalkan lorong rumah sakit.menuju parkiran untuk kembali praktek di tempat berikutnya.Drian mencoba menghubungi Ditya lagi namun hasilnya masih sama.

Hanya ada nada:"Nomor yang dituju tidak dapat dihubungi."Drian bersumpah dalam hatinya.Dia akan selalu menjaga tunangan masa kecilnya dan menikahinya seperti janjinya dimasa kecil dulu.

"Hi ta...Liat nih aku bawa apa?"Memperlihatkan tupperware berisi makanan buatan oma.

"Apa itu?"

"Ini masakan oma.Oma bikin special buat kamu biar kamu cepat sembuh."

"Makasih ya.Aku buka ya drian."Membuka kotak makan yang dibawa drian.

"Itu sup asparagus with gingseng merah tradisional korea gingsengnya.Oma kemarin habis rapat sama temen oma yang orang korea.

Dia diberikan oleh oleh gingseng ini untuk pengobatan asma.Karena oma bilang ke om korea kamu sakit asma.Dicoba ya."

"Ya ampun repot repot.Aku makan ya."

"Iya..."

Dengan menatapmu saja aku merasa bahagia semua kenangan masa kecil kita terekam diotakku lagi."Berbicara dalam hati."

"Pedas ya.Tapi enak.Tubuhku jadi hangat ian."

"Iya,berarti obat tradisionalnya manjur ta."

"Iyakah..hehe.."Tersenyum melihat wajah ian.

"Iya..Aku senang lihat kamu tersenyum lagi."

"Aku senyum buat kamu."

Seketika bibir Drian terkunci tak mampu berkata apapun.

"Ian...ian..ian..".Melambaikan tangannya didepan mata Drian.

"Maaf kepikiran sesuatu."

"Akhir akhir ini kamu sering bengong."Memandang Wajah Drian.

"Iyakah..haha..salah lihat kali kamu.."

"Iya.."Membelai rambut Drian.

Drian dengan sigap memeluk Nita dan mencium bibir Nita.Semakin kesini debaran jantung Nita semakin berbeda pada Drian.

"Ehmmm.."Menutup mata dan merasakan hangatnya bibir Drian.

"Ahhhh...I..iya."

Dalam hati berkata."Rasanya panas jantungku seperti meledak."

"Ian aku gak bisa nafas."Memukul mukul punggung drian.

"Maaf aku kelepasan.."

"Iya gak apa apa.."

"Aku sayang kamu.."Memeluk erat.

"Aku juga."

Hari demi hari dilalui mereka berdua dengan bahagia.Sampai akhirnya dokter memperbolehkan Nita pulang ke rumah.

"Selamat ya,Nita hari ini kamu boleh pulang.Stay healty dan bahagia ya."Senyum Dokter Micky.

"Hati-hati dijalan dan selalu berfikiran postif ya Nita."Senyum Dokter Levin.

"Iya dok,makasih ya."

Nita meninggalkan ruang periksa dan bergegas menemui drian.Sementara itu dokter levin dan micky berbincang bincang diruangan itu.

"Hemm..Baru pernah saya menangani pasien seperti dia.Yang tadinya hampir gak ada tapi dapat mujizat bisa kaya sekarang.Saya pikir dia gak akan bertahan hidup lama vin."Dokter Micky merengangkan tangannya ke atas.

"Saya juga berfikir seperti itu.Saya fikir dia akan lumpuh dan menyerah.Tapi Tuhan melihatkan mujizatnya dia masih bisa sembuh sampai seperti saat ini."

"Iya kita harus banyak bersyukur vin sama Tuhan."

"Iya ky, ya sudah aku ada pasien lagi aku duluan ya."Dokter Levin membalikan badannya.

"Iya sukses ya."

"Oke..kamu juga sampai bertemu dilain kesempatan."Dokter Micky membalikan tubuhnya sambil melambaikan tangan.

Drian membantu Nita berkemas dikamar inapnya untuk pulang.Dengan wajah bahagia dan sumringah yang terlihat nyata di wajahnya.

Yuk dukung terus author carany like❣

vote dan selalu fav karyanya

maksih kakak*

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!