Profil Karakter Utama
Arkaen "Arka" Malik (30 th): CEO muda dari Malik Group yang terlihat bersih dan filantropis. Namun, di balik itu, ia adalah "Don" dari sindikat The Black King. Dia dingin, penuh perhitungan, dan tidak percaya pada cinta karena trauma masa lalu.
Alea Senja (24 th): Seorang jurnalis investigasi amatir yang cerdas namun sedang kesulitan ekonomi. Dia memiliki sifat yang berani, sedikit lancang, dan tidak mudah terintimidasi oleh kekuasaan Arka.
Alea tidak sengaja memotret transaksi ilegal di pelabuhan yang melibatkan Arka. Alih-alih membunuhnya, Arka menyadari bahwa Alea memiliki kemiripan wajah dengan wanita dari masa lalunya yang memegang kunci brankas rahasia keluarga Malik. Arka memaksa Alea menandatangani kontrak "Pernikahan Bisnis" selama satu tahun demi melindunginya dari kejaran faksi mafia musuh sekaligus menjadikannya alat untuk memancing pengkhianat di perusahaannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon salsabilah *2009, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Badai di Meja Hijau
Udara di dalam aula utama The Obsidian Vault terasa berat oleh aroma cerutu mahal, parfum kelas atas, dan ketegangan yang nyaris bisa disentuh. Cahaya lampu kristal raksasa yang menggantung di langit-langit memantul di atas meja baccarat berlapis beludru hijau, tempat di mana nasib bisa berubah hanya dalam hitungan detik.
Alea—atau kini Madamme Luna—menyesap sampanyenya dengan tenang. Di bawah meja, jemarinya yang lentur menyentuh kuku palsu di jari telunjuk kanan. Sebuah getaran mikro terasa, menandakan bahwa perangkat peretas milik Arka telah tersinkronisasi dengan pengocok kartu elektrik di depan mereka.
"Taruhan Anda, Madamme?" tanya sang dealer dengan wajah tanpa ekspresi.
Alea mendorong tumpukan koin bernilai lima ratus ribu dolar ke arah Player. "Saya merasa malam ini keberuntungan sedang berpihak pada wanita yang tidak takut pada bayang-bayang."
Helena Vance menatap Alea, matanya menyipit. Ia tidak segera bertaruh. Sebaliknya, ia memutar-mutar sebuah koin emas di antara buku jarinya—sebuah kebiasaan yang identik dengan mendiang kakaknya, Elias. "Keberuntungan adalah kata bagi mereka yang tidak punya rencana, Luna. Di kapal ini, hanya ada perhitungan."
Helena mendorong tumpukan koin dua kali lipat ke arah Banker. "Buka kartunya."
Kartu pertama dibuka. Player mendapatkan 4. Banker mendapatkan 2. Kartu kedua dibuka. Player mendapatkan 5, total 9—angka murni. Banker mendapatkan 6, total 8.
"Madamme Luna menang," gumam sang dealer sembari menarik koin ke arah Alea.
"Kerja bagus," suara Arka terdengar sangat halus di anting Alea. "Frekuensi pengocok kartu berhasil kita kacaukan lima milidetik sebelum pembukaan. Helena mulai terlihat gelisah. Teruskan provokasinya."
Alea menyunggingkan senyum kemenangan yang paling menyebalkan yang bisa ia buat. "Ternyata perhitungan Anda malam ini sedikit... meleset, Nona Vance. Mungkin karena Anda terlalu sibuk memikirkan bagaimana cara menyingkirkan saudara Anda sendiri sampai lupa cara menghitung kartu."
Suasana di sekitar meja mendadak dingin. Beberapa pria berjas hitam di belakang Helena meletakkan tangan mereka di balik jas, siap mencabut senjata. Helena mengangkat satu tangan, memberi isyarat agar mereka tetap diam.
"Kau tahu banyak tentang Elias," suara Helena merendah, kini penuh dengan ancaman yang berbahaya. "Siapa kau sebenarnya? Tidak ada janda filantropis di Singapura yang memiliki mata sepertimu. Mata yang penuh dengan rasa lapar akan balas dendam."
"Saya hanya orang yang tahu bahwa Elias menyimpan sebuah catatan," Alea mencondongkan tubuh ke depan, suaranya kini hanya bisa didengar oleh Helena. "Catatan tentang bagaimana Anda mencuci uang Obsidian Circle melalui dana kemanusiaan di Afrika. Bayangkan apa yang akan terjadi jika anggota Lingkaran lainnya tahu bahwa Anda mengambil potongan sepuluh persen untuk kantong pribadi Anda."
Wajah pucat Helena berubah menjadi merah padam. Kemarahannya mulai mengalahkan logika bankirnya. "Berikan aku kartu baru! Taruhan maksimal!" teriak Helena pada dealer.
Permainan berlanjut dengan liar. Alea memenangkan tiga putaran berikutnya secara berturut-turut. Tumpukan koin di depannya kini mencapai nilai jutaan dolar. Helena tampak mulai kehilangan kendali, namun di balik amarahnya, ada sesuatu yang sedang bekerja. Helena bukan orang bodoh.
Tiba-tiba, seorang pria berbisik di telinga Helena. Helena menatap sebuah layar kecil di bawah meja judinya, lalu kembali menatap Alea dengan tatapan yang berubah menjadi seringai kemenangan.
"Permainan selesai, Madamme Luna," ucap Helena tiba-tiba. Ia berdiri, membiarkan kursinya jatuh ke lantai. "Atau harus kupanggil kau... Alea Senja?"
Jantung Alea seolah berhenti berdetak.
"Arka, dia tahu!" bisik Alea panik.
"Sial! Mereka mendeteksi gangguan frekuensi dari kukumu!" suara Arka terdengar mendesak. "Alea, keluar dari sana sekarang! Rio, aktifkan protokol pengalih perhatian!"
"Kau pikir kau sangat cerdas, bukan?" Helena melangkah mengitari meja, mendekati Alea. "Menggunakan teknologi Malik untuk meretas kapal ini. Arkaen pasti sangat putus asa sampai mengirim kekasihnya untuk melakukan pekerjaan bunuh diri ini."
Para pengawal langsung mengepung Alea, menodongkan senjata laras pendek. Tamu-tamu lain mulai berteriak dan berlarian meninggalkan aula.
"Bawa dia ke dek bawah. Aku ingin dia melihat bagaimana aku menenggelamkan harapan Arka satu per satu," perintah Helena.
Tepat saat seorang pengawal hendak mencengkeram lengan Alea, sebuah ledakan keras mengguncang lambung kapal bagian belakang. Kapal super-yacht itu miring ke kiri, membuat lampu-lampu kristal berayun gila dan beberapa orang jatuh tersungkur.
BOOM!
Ledakan kedua terjadi lebih dekat. Asap putih mulai memenuhi aula.
"Sekarang, Alea!" teriak Arka.
Alea tidak membuang waktu. Ia menyambar botol sampanye di atas meja dan menghantamkannya ke kepala pengawal terdekat. Dengan gerakan yang sudah dilatih oleh Arka, ia berguling di lantai, mengambil pistol yang terjatuh, dan melepaskan tembakan ke arah lampu gantung utama.
PYAARR!
Aula menjadi gelap gulita, hanya diterangi oleh lampu darurat berwarna merah yang berkedip-kedip. Di tengah kekacauan itu, Alea berlari menuju pintu keluar dek belakang.
"Tangkap dia! Jangan biarkan dia sampai ke air!" raungan Helena terdengar di tengah kebisingan.
Alea berlari di sepanjang koridor emas yang kini terasa seperti labirin neraka. Peluru-peluru menghantam dinding di sekelilingnya, mengirimkan serpihan marmer yang tajam. Ia sampai di dek luar, angin laut yang kencang langsung menerpa wajahnya. Di kejauhan, ia melihat sebuah kapal motor cepat yang melaju membelah ombak menuju ke arahnya. Itu Arka.
Namun, Helena tidak melepaskannya begitu saja. Ia muncul di balkon dek atas dengan senapan laras panjang. "Kau tidak akan pergi ke mana pun, Alea!"
Helena menarik pelatuk. Peluru mengenai bahu kiri Alea, membuatnya terlempar ke arah pagar pembatas. Alea mengerang kesakitan, tangannya memegangi bahunya yang berdarah.
"Alea!" suara Arka terdengar sangat dekat. Kapal motor itu kini sudah berada tepat di bawah dek. "Lompat, Alea! Sekarang!"
Alea menoleh ke belakang. Helena sedang membidik untuk tembakan kedua. Dengan sisa tenaga yang ada, Alea memanjat pagar dan melemparkan dirinya ke kegelapan laut malam.
Byuurr!
Air laut yang dingin menghantam tubuhnya, membuatnya sesak napas sejenak. Ia mencoba berenang ke permukaan, namun bahunya yang terluka membuatnya sulit bergerak. Tiba-tiba, sebuah tangan kuat menarik kerah gaunnya ke atas.
Arka menarik Alea masuk ke dalam kapal motor. Ia langsung memeluk Alea, menekan luka di bahunya dengan kain bersih. "Aku dapat kau. Aku dapat kau, Sayang."
Rio menginjak gas sedalam mungkin. Kapal motor itu melesat menjauh dari The Obsidian Vault yang kini mulai terbakar di beberapa bagian akibat serangan bahan peledak Rio.
Di atas dek yacht yang terbakar, Helena Vance berdiri menatap mereka dengan kemarahan yang meluap-luap. Ia telah kehilangan jutaan dolar, rahasianya terancam, dan kapalnya rusak. Tapi bagi Helena, ini bukan lagi soal uang. Ini adalah perang pribadi.
Di dalam kapal motor yang melaju kencang, Alea bersandar di dada Arka. Napasnya tersengal, namun tangannya masih menggenggam sesuatu yang ia ambil dari meja Helena saat kekacauan terjadi tadi.
"Arka..." bisik Alea sembari menunjukkan sebuah thumb-drive emas kecil bermotif obsidian. "Aku mengambil ini dari saku jas asistennya saat aku menghantam pengawal tadi. Ini... ini adalah kunci akses ke rekening pusat The Banker."
Arka tertegun, lalu sebuah senyuman bangga muncul di wajahnya yang penuh jelaga. "Kau benar-benar jurnalis yang berbahaya, Alea Senja. Kau tidak hanya merusak pestanya, kau mencuri banknya."
Alea tersenyum getir sebelum kesadarannya mulai memudar karena kehilangan darah. "Kita satu sama, Arka. Kau menyelamatkanku, aku memberimu harta karun."
Kapal motor itu menghilang di balik kegelapan laut Makau, meninggalkan benteng kedua Obsidian Circle yang sedang membara. Namun mereka tahu, Helena Vance tidak akan berhenti sampai ia melihat jantung mereka berhenti berdetak.