Follow Instagram Author @tulisan_bee 😘
Session 1 - Xavier - Cassandra [Tamat]
Session 2 - Roman - Alesha [Tamat]
Session 3 - Ongoing
Tiga tahun menjalani pernikahan akhirnya membawa Alesha pada keputusan penting, yaitu meminta perceraian dari sang suami, Roman Alvero.
Apakah keretakan rumah tangga itu akan berakhir di persidangan? Atau mampukah Roman, mempertahankan Alesha sekali lagi?
~Selamat membaca terima kasih sudah mampir~ ♥️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NadiraBee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22. Black Knight (2)
"Aku sungguh takut. Takut tanpa sadar aku berharap padamu." ~Cassandra Aglenia.
.
.
.
Cassandra masuk ke dalam rumah dengan selamat. Menutup pintu kamarnya rapat-rapat, dia tidak ingin ketahuan oleh kedua orang tuanya yang mungkin telah terlelap. Merogoh tasnya, gadis itu mengeluarkan beberapa lembar uang seratus ribuan dari dalam sana. Dia lega sekali malam ini. Akhirnya dia bisa memberikan uang itu pada ibu besok, untuk mengganti uang listrik yang digunakan ayahnya entah untuk apa. Dia menghela napas panjang. Hidupnya harus terus berjalan, meski memang terasa tidak mudah.
Gadis itu meletakkan tasnya di atas meja belajar yang sudah usang, ketika tiba-tiba ponselnya berbunyi pelan. Lelaki itu. Tanpa sadar Cassandra tersenyum, segera mengangkat panggilan dan terhubungan dalam sambungan telepon.
"Ya," katanya cepat.
"Aku sudah di rumah dengan selamat," ujar Xavier senang.
Cassandra melongo.
"Apa rumahmu dekat sini?" tanyanya lugu.
Terdengar suara Xavier tertawa di ujung sana.
"Hei, aku bercanda. Aku masih mengemudi," kata lelaki itu di sela tawanya.
Cassandra mengerucutkan bibirnya.
"Oh begitu," katanya malas. Sepertinya dia harus mulai membiasakan diri untuk menanggapi lelucon tidak lucu yang dilontarkan lelaki itu padanya.
"Jangan menungguku. Tidurlah duluan. Aku pasti akan sampai dirumah dengan selamat."
Cassandra mengangguk pelan.
"Baiklah. Hati-hati," katanya canggung.
Dia tidak pernah sedekat dan seintens ini berhubungan dengan seorang pria. Bahkan saat dia menyadari bahwa dia memiliki ketertarikan pada Arjuna, dia tidak melakukan apapun selain hanya mengagumi lelaki itu dari kejauhan. Namun kini dengan seseorang yang tidak dikenalnya dengan baik, dia sudah menjadi sedekat ini.
"Good night, my love," kata Xavier lembut, menusuk ke dalam hati Cassandra. Dia bisa merasakan dadanya berdesir mendengar kata-kata yang dilontarkan Xavier barusan, yang entah bagaimana membuatnya merasa sedikit tidak karuan.
Tanpa menunggu respon Cassandra, Xavier mematikan telepon itu sepihak. Dia tidak mau mendengar ocehan gadis itu sebab pasti Cassandra akan mengomelinya lagi. Kembali menatap jalanan yang mulai sepi, Xavier menginjak pedal gasnya dan melaju cepat di jalanan ibukota.
***
Yoyo datang dan menghampiri Cassandra dengan tergesa-gesa. Gadis itu sedang menikmati sarapannya di kantin universitas, ketika Yoyo datang dan menepuk pundaknya kencang.
"Cassandra!" teriaknya dengan nada tinggi, membuat beberapa pasang mata melihat ke arah mereka.
Cassandra masih asyik menikmati makanannya, menyuap sesendok penuh gado-gado ke dalam mulut. Yoyo sudah duduk tepat di hadapannya.
"Nape?" tanyanya dengan mulut penuh.
Yoyo mengambil ponselnya, menunjukkan sesuatu pada Cassandra. Cassandra melirik sekilas pada ponsel sahabatnya itu, lalu terbelalak kaget.
"Astaga!" pekiknya tertahan.
Yoyo menarik kembali ponselnya.
"Ini elo, kan?!" tanyanya penasaran, dia menatap Cassandra penuh curiga.
Cassandra meringis pelan.
"Tolong jelaskan kenapa elo bisa sama anak pasca sarjana ini di pesta dan kenapa tangan elo menempel sama tangan dia?!" cerocos Yoyo tak sabaran. Dia meletakkan tangannya di atas meja, menunggu penjelasan.
Cassandra nyengir kuda. Dia tidak tahu harus mulai dari mana untuk menceritakan semuanya.
"Lo dapat ini dari mana?" tanya Cassandra kemudian, dia khawatir jika ada lebih banyak foto mereka yang tersebar. Bisa bahaya karena kenyataannya tidak seperti itu yang terjadi.
"Ini diunggah oleh sebuah akun instagram yang menyoroti anak-anak pewaris perusahaan. Awalnya gue gak percaya itu elo tapi semakin dilihat kok semakin mirip! Lo pacaran sama dia?!" Yoyo semakin bersemangat. Jika memang iya, dia akan jadi sahabat dari calon istri pria kaya raya.
"Mana sini liat lagi," Cassandra mengambil kembali ponsel Yoyo, melihat dengan seksama fotonya dan Xavier malam kemarin.
Dia bahkan tidak sadar seseorang telah mengambil foto itu. Menggeser layar, Cassandra membaca beberapa dari banyaknya komentar di tautan itu.
Yoyo mendekat. "Lo pacaran kan sama dia?!" tudingnya lagi.
Cassandra mencubit lengan Yoyo keras, membuat lelaki gempal itu meringis kesakitan.
"Aw! Apaan sih lo!" gerutunya.
Cassandra mencondongkan badannya, memberi isyarat pada Yoyo untuk mendekat, karena dia akan membisikkan sesuatu.
"Itu semua bohong!" jelasnya.
Dia celingukan sesaat, memastikan tidak ada orang lain di sekitar mereka yang mungkin dapat mendengar percakapan mereka ini.
"Nanti akan gue jelasin sedetail-detailnya. Tapi sekarang gue harus pergi," katanya lugas, bangkit cepat dari kursinya dan berlari kecil dari sana. Meninggalkan Yoyo yang masih terdiam di tempatnya.
***
Cassandra tidak tahu dimana kelas lelaki itu. Apakah dia ada kelas hari ini atau tidak, atau dimana dia bisa menemukan Xavier. Dia harus bertanya sesuatu dan meluruskan masalah foto mereka yang tersebar di dunia jagad maya. Bukankah seharusnya urusan mereka sudah selesai semalam?
Merogoh ponselnya, Cassandra tampak ragu-ragu apakah akan memilih nomor kontak Xavier atau tidak. Dia telah berada di depan gedung pasca sarjana dan sedang celingukan mencari seseorang. Namun sepertinya orang yang dia cari tidak terlihat sedikit pun batang hidungnya.
Setelah menimang beberapa saat, Cassandra akhirnya memutuskan untuk menekan nomor ponsel Xavier. Nada tunggu terdengar di ujung teleponnya.
"Kau sudah merindukanku?" jawab Xavier di sebrang, mengagetkan Cassandra.
"Iya ... eh, tidak!" katanya terbata. Xavier tertawa kecil di ujung sana.
"Aku juga sudah merindukanmu," kata lelaki itu lagi.
Berhentilah berkata yang tidak-tidak. Berhenti membuat jantungku tidak karuan.
Cassandra berdehem pelan. Dia ingin mendengar penjelasan dari pria itu mengapa foto mereka bisa masuk ke dunia maya dan apa tindakan yang bisa Xavier lakukan untuk mengatasi semuanya.
"Ada yang ingin kau katakan?" tanya Xavier di sebrang.
Cassandra menggigit bibirnya, mengumpulkan keberanian.
"Aku melihat foto kita di ...," katanya tertahan.
"Kau sudah melihatnya?" potong Xavier cepat.
Cassandra terperangah.
"Kau sudah tahu?" tanyanya kemudian.
"Berbaliklah!" perintah lelaki itu.
"Apa?" Cassandra bingung.
Panggilan itu telah diputuskan sepihak oleh Xavier. Cassandra mengikuti perintahnya, dia berbalik dan melihat Xavier telah berdiri tidak jauh dari posisinya berdiri. Lelaki itu mengenakan kemeja pink bermotif bintik putih dan celana jeans hitamnya hari ini. Kancingnya dibiarkan terbuka tiga manik paling atas, yang entah bagaimana sukses menambah kemaskulinan pria itu.
Xavier melangkah mendekati Cassandra yang masih melongo, yang dengan jelas melayangkan sorot mata kesal ke arah sang pria tampan.
"Kau di belakangku dari tadi! Menghabiskan pulsaku saja!" gerutu gadis itu bersungut.
Xavier tersenyum kecil.
"Kau mau mengatakan apa?" tanyanya kembali pada pembicaraan mereka sebelumnya.
Cassandra terdiam sesaat. Mengatakannya di telepon saja sudah sulit, apalagi harus mengatakannya tepat di hadapan lelaki ini. Dia menghela napas pendek.
"Itu ... kurasa foto itu perlu dihapus," katanya pelan.
Xavier mengernyitkan dahinya.
"Kenapa?" tanyanya dengan nada cuek.
Lelaki ini mulai lagi, fikir Cassandra dalam hati.
"Kau merasa itu tidak perlu dihilangkan?" tanyanya balik.
"Kau menerima banyak komentar tentang itu, Xavier." Dia melanjutkan kalimatnya.
Xavier menaikkan bahunya.
"Terus?" tanya lelaki itu sangat acuh tak acuh.
Cassandra mengerjapkan mata. Bukan seperti ini pembicaraan yang dia harapkan. Lelaki ini sepertinya memang tidak bisa diajak bicara, entah sesulit apa berbicara serius, sih?
"Jangan memancing kemarahanku, kumohon!" ujar Cassandra dengan nada yang mulai meninggi. Dia tidak ingin melepas amarahnya saat ini.
"Aku tidak melakukannya," kilah Xavier cepat, membuat Cassandra semakin merasakan darahnya mendidih.
"Xavier!" pekiknya tertahan. Rona wajah Cassandra memerah menahan amarah, sorot matanya tajam seperti ingin menerkam Xavier.
Xavier tidak bergeming. Alih-alih takut, dia malah tersenyum.
"Apa sebenarnya yang ingin kau katakan?" tanyanya pelan.
Cassandra mengatur napasnya. Dia akan mencoba bersabar kali ini.
"Kau sudah membaca komentarnya? Mereka membicarakanmu bahwa kau punya selera rendahan. Kau akan hilang pamor nanti," jelas Cassandra.
Xavier masih terdiam.
"Kau harus menghapus foto dan opini itu, sebelum semuanya menjadi tambah runyam!" lanjut Cassandra lagi.
Dia khawatir atas lelaki itu. Begitu banyak komentar tidak baik yang dituliskan orang-orang pada tautan itu. Dia khawatir Xavier bisa terkena dampak dari hal itu. Apalagi dia adalah seorang pewaris perusahaan besar. Dia sungguh harus menjaga citranya, kan?
Cassandra masih menatap Xavier. Matanya menyorotkan rasa khawatir, yang dapat jelas ditangkap oleh lelaki itu.
"Sudah bicaranya?" tanya lelaki itu lembut.
Cassandra mengangguk pelan, seperti bocah kecil.
"Dengarkan aku," kata Xavier lagi. Dia menatap Cassandra lekat, dengan maniknya yang bulat.
"Aku tidak peduli apapun. Omongan mereka tidak akan mempengaruhi reputasiku. Terima kasih sudah mengkhawatirkan aku," lelaki itu mendekat, mempersempit jarak di antara dirinya dan Cassandra.
"Yang seharusnya khawatir itu kau." Xavier tersenyum. Kini dia meletakkan tangannya di pipi kanan gadis itu, mengelusnya lembut. Cassandra refleks mundur beberapa langkah, sebab dia terlalu kaget atas perlakuan Xavier baru saja.
"A ... aku? Oh ... aku sudah biasa dengan itu. Jangan khawatir," katanya berusaha tertawa, namun malah jadi garing. Xavier kembali terkekeh melihat tingkah gadis itu.
"Persiapkan dirimu," katanya sedikit berbisik.
Casssandra membesarkan matanya.
Persiapkan diri? Apa maksud lelaki ini? Apa kami akan bersandiwara lagi? Astaga.
"Persiapkan diri untuk apa?" tanya gadis itu lugu. Dia benar-benar perlu tahu apa yang mungkin terjadi ke depannya.
Xavier kembali melangkah mendekatinya, dengan senyum menyeringai di bibir tipisnya yang berwarna merah muda, kini berdiri persis di hadapan Cassandra. Lelaki itu menunduk pelan, menuju sisi kiri dari Cassandra.
"Mungkin kau akan menjadi Nyonya Xavier Forzano," bisiknya lembut.
.
.
.
🌾Bersambung🌾
~Makasih untuk semua like, vote dan komennya ya kak.. selamat membaca 🙏
modusnya bisa aja bang roman!
atau gabungan di cerita cassandranya ya