🥈 Juara 2 YAAW priode 1 2024 Genre Pria
"Tolong aku mas...Aakkh sakit sekali."
Jeritan itu terus andrew dengar ketika ia pulang kerumah ayah nya yang di kampung, Semenjak adik tiri nya hilang dan sudah satu tahun tidak di temukan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon novita jungkook, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ayah Nae
Malam di guyur hujan yang sangat lebat, Para warga semua berdiam diri di dalam rumah. Mereka tidak ada satu pun yang pergi kemasjid, Lebih memilih untuk sholat di rumah saja.
Tidak ada yang tahu bahwa Jajak sudah menancap seperti orang orangan wajah dengan mata yang mendelik, Rasa nya sangat tersiksa karena berada dalam ambang kematian.
Antara hidup dan mati, Karena Jajak masih merasa kan sakit yang luar biasa pada tubuh nya. Kayu runcing menembus dari lubang dub*r hingga kemulut. Darah terus saja merembes bersama air hujan membasahi area persawahan.
Kini warga kampung juga mulai was was setelah melihat kematian Delon dan Dery, Gosip tetang hantu Maharani sudah menyebar dengan cepat nya. Banyak cerita dengan berbagai macam versi, Mereka pada dasar kan belum tahu pasti. Apa yang sudah menimpa gadis cantik nan malang itu.
"Kamu saja keluar malam malam ya Nae, Ibu takut." Bu Winar cemas jika Nae putri semata wayang nya sampai mengalami nasib seperti Maharani.
"Iya bu, Tapi kalau di pikir kan. Maharani masih sore pergi kemasjid nya." Sahut Nae.
"Kita kan ndak tau, Apa pas dia pergi kemasjid saat di culik." Ujar bu Winar.
"Kasihan sekali dia! Sungguh biadab orang yang sudah melakukan hal hina itu." Geram Nae.
"Uhuk!"
Pak Keming yang sedang menyantap singkong goreng jadi tersedak mendengar ucapan putri nya, Nae menatap ayah nya tajam karena curiga. Sekarang bukan rahasia lagi, Gosip tentang Maharani yang kata nya di perkosa oleh orang sekampung ini.
"Ayah tidak ikut kan?!" Nae langsung bertanya.
"Ikut apa? Kamu kalau nanya sembarangan saja." Tukas Pak Keming.
"Kami patut curiga kepada setiap pria Ayah, Membayang kan nya saja hati ku sudah hancur! Bagai mana mungkin gadis sekecil Maharani harus melayani orang satu kampung ini." Keluh bu Winar.
"Jadi kamu curiga saja aku! Gila ya kamu bu." Bentak pak Keming.
Bu Winar dan Nae langsung terdiam melihat reaksi pak Keming yang sangat marah, Rasa curiga mereka semakin besar. Karena mereka paham, Pak Keming bukan lelaki yang baik selama ini.
Ia kerap berjudi dan main perempuan di tempat pelacur*n, Jadi mereka wajar saja curiga pada pria tua ini. Namun tidak bisa juga langsung menuduh, Karena bukti yang tidak di miliki.
Greeeeet.
Mendadak mereka di kaget kan dengan dinding rumah yang seperti di cakar dari luar, Bukan hanya satu kali saja bunyi cakaran itu. Melain kan keliling rumah sampai kebelakang.
"Sana lihat bu." Suruh pak Keming malah memerintah istri nya.
"Ayah dong yang lihat, Kenapa malah nyuruh ibu." Kesal Nae.
"Jangan banyak bacot, Cepat lihat sana." Pak Keming mendorong bu Winar keluar rumah.
Hujan yang deras semakin menambah horor nya suasana, Bu Winar melongok kesamping rumah untuk melihat siapa yang sudah menakuti mereka. Namun sama sekali tidak ada orang.
"Mungkin cuma angin saja." Batin bu Winar.
Wusssh.
Ketika akan menutup pintu rumah nya, Mendadak angin kencang membuka kembali pintu. Sampai mengeluar kan suar keras, Buru buru bu Winar menutup pintu lagi.
"Ada apa di luar bu?" Tanya Nae menatap ibu nya yang tampak kaku.
Bu Winar tidak menjawab pertanyaan anak nya, Ia malah mendatangi pak Keming yang duduk sambil ngopi. Di tarik nya rambut keriting pria itu dengan kencang, Sehingg membuat pak Keming menjerit kaget dan kesakitan.
"Wanita gila! Apa yang kau lakukan?" Bentak pak Keming berusaha melawan.
"Kau harus mati...Mati pokok nya kau harus mati." Bu Winar berkata dengan mata melotot.
"Tolong ayah Nae! Ibu mu kerasukan." Pekik pak Keming menyadari istri nya yang kerasukan.
Setelah menjambak suami nya, Bu Winar menghantam kan kepala pria itu ketembok rumah berulang kali. Sampai kening nya pak Keming mengucur kan darah segar dan sangat banyak.
"Hentikan wanita jahanam!" Pekik pak Keming berusaha melawan.
Namun kekuatan bu Winar sangat sulit untuk di lawan, Pak Keming bukan lah lawan yang sepadan untuk nya.
Kraaak.
"Aarrkk."
Pekik histeris keluar dari mulut pria ini ketika tangan nya di patah kan oleh sang istri, Kini tangan tersebut hanya seperti barang tidak berguna.
"Dengan tangan kotor mu ini, Kau menjamah kau biadab." Sentak Bu Winar dengan mata melotot.
"Rani...Kau maharani." Kaget pak Keming tak percaya.
"Ihihihihi."
Bu Winar tertawa kencang ketika Pak Keming sudah mengenali nya, Ia terbang dan membawa suami nya naik kebubung rumah. Tanpa iba lagi, Di jatuh kan dan terjatuh dengan kepala menghempas duluan.
Braak, Praaak.
Tengkorak pria ini pecah menghantam lantai yang amat keras, Ia meninggal dengan kondisi yang amat memprihatin kan.
Nae yang baru datang lagi sambil membawa pak Nino, Dia tadi bergegas lagi untuk meminta pertolongan. Namun sudah terlambat karena ayah nya sudah meninggal di tangan bu Winar.
"Inalilahi wainalilahirojiun." Pak Nino mengusap wajah nya sendiri.
Sementara itu Bu Winar seperti orang yang terbangun dari mimpi nya, Ia menjerit jerit ketakutan karena berada dalam ketinggian. Bagai mana cara nya untuk turun pun ia tidak tahu, Dan juga tidak ingat pas bisa naik keatas sini.
"Nae!! Tolongin ibu." Pekik bu Winar sangat ketakutan.
"Ibu tunggu di situ dulu, Nae ambil tangga." Nae berlari mengambil tangga.
Untung nya ada Nino juga yang membantu mereka, Kegaduhan ini di dengar oleh para tetangga dan mereka tentu saja kepo untuk melihat. Ada yang beneran kasihan, Ada juga yang menunjukan wajah takut melihat kematian nya Pak Keming.
Gosip tentang Hantu Maharani tentu saja semakin santer terdengar, Tidak sedikit para lelaki yang ketakutan. Sekarang Andrew bisa menilai orang orang yang ketakutan mendengar cerita hantu adik nya.
"Kita harus gerak cepat untuk menghentikan arwah Maharani." Ucap Abah Adi yang sangat cemas.
"Nampak nya mas Andrew tidak berkeinginan yang sama seperti kita Bah." Sahut Lukas.
"Iya, Dia sangat marah dan ingin semua pemerkosa mati." Abah Adi berkata sedih.
"Sebenar nya mereka pantas mati, Kelakuan nya lebih buruk dari binatang." Geram Lukas.
Ia juga ikut marah mendengar semua cerita, Denis sudah di pulang kan dari rumah sakit dan sekarang di urus di rumah sakit. Karena keberadaan Denis yang di rumah sakit malah di ketahui oleh Doli.
Abang Denis berniat membunuh adik nya yang sudah cacat tersebut, Untung ketahuan oleh dokter dan kemudian Abah Adi membawa nya kepadepokan saja. Karena di sini lebih aman.
Doli tidak akan bisa masuk untuk menyakiti Denis, Andrew juga setuju agar Denis tinggal bersama Abah Adi saja untuk sementara.