Bagi Aluna, Arlan adalah musibah berjalan. Ketua OSIS yang kaku, sok suci, dan hobi memberinya hukuman hanya karena masalah sepele.
Aluna bersumpah tidak akan pernah mau berurusan dengan cowok itu seumur hidupnya. Namun, takdir punya selera humor yang buruk.
Hanya karena gerendel pintu toilet sekolah yang macet dan sebuah aksi penyelamatan yang salah waktu, Aluna dan Arlan terjebak dalam satu bilik yang sama selama tiga puluh menit. Sialnya, mereka tidak ditemukan oleh teman-temannya, melainkan oleh Bu Lastri guru BK paling kejam seantero sekolah.
Tuduhan melakukan hal tidak pantas langsung meledak. Penjelasan mereka dianggap bualan. Dan yang lebih gila lagi, kedua orang tua mereka yang ternyata sahabat lama memutuskan bahwa satu-satunya cara menutupi skandal ini adalah dengan pernikahan.
follow IG author:qilla_kasychan
semoga kalian suka
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kasychan_A.S, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14- belanja
"Bukan cuma ngobrol, dia minta nomor gue," tambah Aluna santai sambil terus berjalan, seolah informasi itu setara dengan kabar harga bakso naik lima ratus rupiah.
Sesya dan Belva mematung selama tiga detik sebelum akhirnya jeritan mereka memecah kebisingan area parkir. "ALUNA!!! LO JANGAN BERCANDA YA!"
"Bodo amat, nggak percaya ya udah,"
Begitu keluar dari area konser, Sesya dan Belva langsung menyeret Aluna ke mall pusat kota yang kebetulan masih buka satu jam lagi. Aluna yang sebenarnya sudah mau copot sendi-sendinya, hanya bisa pasrah ditarik masuk ke toko baju bermerek.
"Al! Liat deh, ini limited edition banget!" Sesya menyerbu rak berisi barisan tas selempang kecil. Ia mengambil satu warna perak metalik dan langsung mencobanya di depan cermin besar. "Gimana? Cocok nggak buat gue pake pas kencan sama masa depan?"
Aluna menyandarkan bahunya di pilar toko, menatap kedua sahabatnya dengan tatapan malas. "Sya, lo mau kencan sama masa depan atau mau jadi astronot pake tas warna gitu?"
Belva tertawa kecil sambil membawa dua pasang sepatu ke arah Aluna. "Daripada lo ngeledek Sesya, mending lo pilih sepatu nih. Tuh liat, sepatu lo udah buluk gara-gara kena injak penonton di depan tadi."
Aluna melirik ke bawah. Benar saja, sepatu kets putihnya sekarang sudah tidak berbentuk karena noda tanah dan bekas injakan ribuan orang. Akhirnya, pertahanan Aluna runtuh juga. Ia mulai ikut memilah-milih barang.
"Oke, oke, gue beli sepatu. Tapi abis itu kita makan ya? Laper banget," ujar Aluna.
Mereka pun berpindah dari satu toko ke toko lain. Di toko baju, Sesya memaksa Aluna mencoba sebuah jaket denim dengan bordir estetik di bagian belakang. "Ini baru gaya! Jangan jaket oversize terus yang dipake, nanti orang-orang ngira lo itu karung berjalan, Al."
"Tapi ini nyaman, Sya!" protes Aluna, meski akhirnya ia tetap membayar jaket denim itu karena diam-diam ia juga menyukainya.
Setelah puas borong baju, Sesya dan Belva menarik Aluna masuk ke sebuah toko kosmetik besar yang lampunya sangat terang benderang. Aroma parfum dan bedak langsung menyerbu indra penciuman Aluna.
"Al, liat deh! Lip tint edisi kolaborasi yang lagi viral ini akhirnya restock!" Sesya langsung menyambar tester dan mengoleskannya ke punggung tangan. "Gila, warnanya cakep banget! Ini kalau lo pake, pucat di muka lo langsung ilang, ganti jadi aura bidadari."
Aluna mendekat, memperhatikan warna merah berry yang mengilap di tangan Sesya. "Sya, gue biasanya cuma pake pelembap bibir doang."
"Aduh, Aluna Sayang... ini itu biar lo itu tambah cantik," timpal Belva sambil sibuk memilih-milih cushion. "Sini, gue cariin yang sesuai sama skin tone lo."
Aluna hanya bisa pasrah saat Belva mulai menepuk-nepuk spons ke pipinya, sementara Sesya sibuk memakaikan berbagai macam produk di wajah Aluna. Mereka mencoba segala hal, mulai dari eyeliner yang katanya tahan air mata, blush on warna peach yang bikin pipi merona alami, sampai masker wajah yang baunya seperti cokelat.
"Nah, cakep kan! Liat di cermin," perintah Sesya.
Aluna menatap pantulan dirinya. Memang benar, sedikit sentuhan makeup bikin dia kelihatan lebih hidup, apalagi setelah tiga hari terkapar sakit. Akhirnya, Aluna ikut terbawa suasana. Ia mengambil satu lip tint, satu mascara, dan beberapa bungkus sheet mask untuk stok di rumah.
"Oke, fiks! Kita harus beli ini semua!" seru Sesya semangat sambil membawa keranjang belanjaan mereka ke kasir.
Antrean kasir ternyata cukup panjang karena banyak yang memanfaatkan diskon malam. Sambil menunggu, mereka bertiga asyik mencoba tester parfum yang ada di rak dekat antrean. Aluna menyemprotkan satu parfum beraroma kayu cendana bercampur vanila.
Setelah semua belanjaan dimasukkan ke dalam bagasi motor dan beberapa paper bag besar dicantolkan di gantungan depan, mereka bertiga bersiap untuk tancap gas. Aluna memakai helmnya, mengunci talinya sampai bunyi klik, lalu menyalakan mesin Scoopy-nya.
"Gila, belanjaan gue banyak banget sampai sempit kaki gue," seru Sesya sambil berusaha menyeimbangkan motornya yang penuh tentengan.
"Makanya jangan maruk! Ayo, jangan sampai kemaleman!" balas Belva yang sudah lebih dulu menarik gas motornya.
Mereka bertiga membelah jalanan kota yang mulai lengang. Angin malam yang dingin menusuk pori-pori, tapi adrenalin habis belanja dan nonton konser bikin mereka nggak kedinginan. Di bawah lampu jalanan yang kuning keemasan, mereka konvoi dengan Formasi Belva di depan sebagai penunjuk jalan, sementara Aluna dan Sesya mengekor di belakang.
"WOOOO! BEBAS!" teriak Sesya tiba-tiba sambil sedikit menambah kecepatan, membuat rambutnya yang menyembul dari balik helm berkibar tertiup angin.
Aluna tertawa kecil di balik kaca helmnya. Ia sesekali melirik ke arah kaca spion, memastikan tidak ada yang tertinggal. Di salah satu lampu merah yang sedang sepi, mereka berhenti berjajar. Sesya menoleh ke arah Aluna sambil menaik-turunkan alisnya.
"Al, tadi pas di konser lo beneran nggak deg-degan pas Rayyan minta nomor?" tanya Sesya setengah berteriak di tengah deru mesin motor mereka.
"Gue pusing, Sya! Mana kepikiran deg-degan," jawab Aluna jujur.
"Halah, bohong banget! Itu kalau gue, udah pingsan di tempat!" timpal Belva sambil tertawa.
Lampu berubah hijau. Mereka kembali memacu motor. Perjalanan menuju The Last Bean melewati area perkantoran yang sudah sepi, memberikan sensasi night ride yang sangat menyenangkan. Aluna menikmati momen ini momen di mana ia tidak perlu memikirkan poin pelanggaran, tugas Sejarah, atau wajah kaku Arlan.
"Woi, Al! Tunggu!" teriak Sesya kaget melihat Aluna mendadak ngebut.
Mereka akhirnya sampai di parkiran The Last Bean. Kafe itu berdiri gagah dengan pencahayaan yang sangat estetik di antara bangunan lainnya. Aluna memarkirkan motornya dengan mulus, lalu melepas helm sambil menyisir rambutnya dengan jari.
"Akhirnya sampai! Sumpah, haus banget," ujar Belva sambil turun dari motor.
Aluna berjalan paling depan menuju meja bar. Matanya sempat melirik ke arah sudut favorit di dekat jendela, memastikan tempat itu masih kosong.
"Mbak Aluna. Matcha latte kental, less sugar. Kayak biasanya ya," sahut Doni, barista yang bertugas malam itu, sambil memberikan senyum ramah.
Aluna yang baru saja mau mengeluarkan dompet, langsung tertegun. Ia mengernyitkan dahi, menatap Doni penuh selidik. "Mas Doni kok hafal nama saya? Padahal saya nggak pake seragam atau nametag sekolah sekarang."
Doni terkekeh sambil mulai menuangkan bubuk matcha kualitas premium ke dalam gelas. "Duh, Mbak... saya kan harus hafal pelanggan tetap yang pesenannya paling unik. Apalagi Mbak kalau pesen matcha kan manis banget, padahal kan yang mesen udah manis" goda Doni mengedipkan sebelah matanya bercanda.
Aluna mendengus pelan, menahan tawa sambil geleng-geleng kepala. "Bisa aja Mas Doni. Tapi beneran deh, kok bisa hafal? Perasaan saya jarang ngasih tahu nama kalau ke sini."
Doni terkekeh sambil mulai menuangkan sirup ke dalam gelas. "Duh, Mbak... saya kan harus hafal pelanggan tetap yang pesenannya paling konsisten. Apalagi Mbak kalau pesen matcha kan seleranya manis banget, beda sama pelanggan lain yang biasanya minta pahit. Jadi saya catat aja di sistem kassa biar kalau Mbak datang lagi, tim kita nggak perlu nanya dua kali. Pelayanan prima, Mbak," jawab Doni santai, memberikan alasan profesional yang terdengar masuk akal bagi Aluna.
"Sip, Mbak. Ini pesenannya, silakan dinikmati," tambah Doni sembari menyodorkan nampan berisi tiga minuman yang sudah jadi.
"Wah, pas banget! Udah kering nih kerongkongan gue," seru Sesya sambil menyambar gelas Caramel Macchiato dinginnya yang punya topping karamel melimpah di atasnya.
Belva juga nggak mau kalah, dia langsung meraih gelas Ice Chocolate miliknya. "Sumpah, cokelat di sini emang yang paling juara buat nenangin saraf abis kegencet-gencet penonton konser tadi," gumam Belva sambil menyeruput minumannya dengan wajah sangat puas.
Sesya dan Belva langsung menyenggol bahu Aluna kiri-kanan saat mereka menjauh dari meja bar. "Gila, Al! Lo udah jadi legenda di kafe ini. Sampe barista aja pake gombalan maut karena saking hafalnya sama lo," bisik Sesya dengan nada menggoda.
"Udah ah, ayo ke atas. Kaki gue udah mau copot," ajak Aluna berusaha menyembunyikan senyumnya, meski pipinya sedikit merona karena pujian tak terduga tadi.
Mereka bertiga membawa nampan dan sepiring besar Platter camilan berisi kentang goreng dan sosis ke lantai dua. Aluna langsung mengarah ke area pojok dengan sofa panjang yang paling empuk. Begitu duduk, Aluna membiarkan tubuhnya tenggelam ke dalam empuknya sofa, menikmati hembusan AC yang mendinginkan suhu tubuhnya setelah perjalanan motor tadi.
Suasana di pojokan itu mendadak jadi meriah. Belva mulai mengeluarkan masker wajah dan kosmetik yang tadi mereka beli, menatanya di atas meja seolah sedang pameran mini. Sementara Sesya, dengan semangat empat lima, mulai membuka segel lip tint baru.
"Sini, Al! Kita tes warna ini di lo. Biar lo keliatan lebih cantik lagi, " perintah Sesya sambil memegang dagu Aluna.
Aluna tertawa lepas sambil menyesap matcha-nya yang manis dan lembut di lidah. "Emang gua udah cantik"