Dosen, tampan, muda dan... duda.
Itulah panggilan yang disematkan mahasiswa terhadap Adam. Duda anak satu yang diam-diam menikahi salah satu mahasiswinya, Erica, dengan terpaut usia dua belas tahun.
Kehadiran Mona, mantan istri Adam justru memperkeruh suasana. Ia berusaha menguak masa lalu kelam Adam untuk merebut Adam dalam pelukan Erica.
Menikah dengan duda tidak seperti yang Erica bayangkan. Anak, mantan istri, dan masa lalu Adam selalu membayangi kehidupan Erica.
Mampukah mereka mengarungi kehidupan penuh cinta dengan duri dan bayang-bayang akan mantan istri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riskaapa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Syafiq Lagi Syafiq Lagi
Adam dan Erica melakukan kegiatan sehari-hari seperti biasanya. Seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa dalam rumah tangga mereka. Kasih sayang dan cinta Erica masih tercurah seperti biasa kepada Zhafran. Walau terkadang sekelebat bayangan Mona selalu hadir ketika ia sedang bersama dengan Zhafran.
"Mas, aku bingung harus memanggil Zhafran sebagai adik atau anak," keluh Erica ketika dalam perjalanan menuju kampus.
"Pilih yang paling nyaman untuk mu saja, sayang." Adam menyahuti.
Benar juga apa yang Erica tanyakan. Bahkan Adam tidak pernah terlintas seperti itu sedikit pun.
Erica terdiam dan hening menyelimuti sepasang suami istri yang tengah dalam perjalanan ke kampus itu. Cukup lama sampai suara ponsel Erica memecah keheningan diantara mereka.
"Dari siapa, Ri?" tanya Adam ketika melihat perubahan ekspresi wajah Erica.
Erica tak menyahut. Ia tunjukkan layar ponselnya ke arah Adam. Sontak, Adam segera menepikan mobilnya.
Aku masih memberimu waktu untuk berpikir. Jangan sia-siakan kesempatan ini. Banyak laki-laki yang menginginkanmu. Menantikan jandamu.
"Pesan dari siapa itu, Ri?"
Kilatan amarah tergambar jelas di mata Adam. Bukan marah pada Erica, tapi pada si pengirim pesan dari nomor tidak di kenal itu.
"Sahabatmu, Rey."
Seketika Adam membuka kaca mobil lalu melemparkan ponsel Erica ke luar. Tak lama kemudian sebuah mobil melintas tepat di atas ponsel itu. Mata Erica membulat melihat ponselnya remuk. Layar ponsel itu masih menampilkan tampilan pesan dari Rey, tapi tak lama kemudian sebuah mobil melintas lagi diatasnya. Kini, ponsel itu benar-benar mati.
"Mas, kamu ini apa-apaan?" pekik Erica seraya segera turun dari mobil, tapi pergerakannya di hambat oleh tangan Adam.
"Biarkan saja, Ri, Mas akan ganti ponselmu." Ucapan Adam membuat Erica sedikit lebih tenang. Tenang karena akan mendapat ponsel baru.
Erica menghela napas. "Tapi itu ponsel kesayanganku, Mas."
Mata Erica masih menatap ponselnya yang semakin remuk dilindas mobil silih berganti.
"Kamu kesayangan Mas. Ponsel itu berpotensi besar membuat Mas kehilangan kamu, sayang. Jangan biarkan Rey atau Mona mengganggu kita lagi. Cukup sekali saja Mas menjadi duda."
Erica menyandarkan tubuhnya bersamaan dengan bibirnya yang mulai mengerucut. Rey memang berpotensi besar menghancurkan rumah tangganya, tapi tindakan Adam barusan juga berpotensi menghancurkan rasa nyaman Erica. Sudah menjadi rahasia umum lagi bahwa sebagian besar perempuan lebih menyukai dan senang bersama dengan laki-laki yang sabar dan penyayang, bukan yang arogan apalagi pencemburu. Meski cemburu sering dikaitkan dengan rasa takut kehilangan.
Setelah mengantarkan Erica ke kampus, Adam kembali pulang ke rumah karena masa cutinya belum habis. Rasa khawatir menyergapnya. Adam tidak pernah merasa takut kehilangan seperti ini saat bersama dengan Mona. Memang benar, Mona tidak ada apa-apanya dibandingkan Erica.
Gadis itu sungguh istimewa. Berbesar hati menerima anak tiri yang merupakan anak dari hasil perzinahan ayahnya. Jika Adam memposisikan diri sebagai Erica, ia tentu akan marah dan lebih memilih tidak berurusan lagi dengan anak itu.
Sesampainya di rumah, Zhafran menyambut Adam dengan penuh semangat. Kaki kecilnya berlari ke arah Adam, jari mungilnya meraih jemari tangan Adam minta di gendong.
"Papa, ayo kita renang!" ajak Zhafran penuh antusias sembari menunjuk kolam renang.
Adam tersenyum lalu menurunkan Zhafran dari gendongannya.
"Bi, temani Zhafran berenang ya!" titah Adam kepada baby sitter.
"Baik, pak."
Baby sitter berlalu sembari menuntun Zhafran ke kolam renang. Anak itu menoleh ke arah Adam yang mengamatinya dari jauh. Tanpa tersenyum, tanpa mengangguk, tanpa melambaikan tangan, Adam balik kanan ke kamarnya.
Entah apa yang sedang hinggap dalam hati Adam, ia merasa tidak nyaman lagi di panggil Papa oleh Zhafran. Rasa hangat setiap kali bibir kecil itu memanggilnya papa sudah tidak dapat dirasakan lagi. Padahal dari dulu Adam sudah menerka jika Zhafran memang bukan anaknya, tapi perasaan itu baru hadir sekarang.
Mungkin aku sedang kecapean. Menyelesaikan masalah Mona cukup membuatku sensitif. Pikir Adam.
***
"Erica!" Seru Syafiq seraya berlari ke arah Erica dengan senyum di wajahnya.
Erica menghela napas panjang. Syafiq lagi Syafiq lagi. Kenapa laki-laki itu pantang menyerah mendapatkan hatiku? Batin Erica.
"Mau kemana?"
"Pulang."
"Pulang?"
Erica mengangguk malas.
"Kok pulang? Kamu tidak lupa kan sekarang kita akan membahas projects design thinking dengan tim?"
Erica mengerutkan keningnya, tak paham dengan yang dimaksud Syafiq.
"Jangan bilang grup design thinking kamu senyapkan!"
Seketika Erica menampilkan deretan giginya. Tebakan Syafiq benar. Setiap masuk dalam sebuah grup di WhatsApp, pasti langsung Erica senyapkan. Termasuk grup design thinking.
Kali ini giliran Syafiq yang menghela napas. Alih-alih jengkel dengan Erica, yang ada lelaki itu semakin tersenyum lebar melihat gadis pujaannya nyengir kuda.
"Kamu cantik," puji Syafiq tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah Erica.
Meski sudah bersuami, mendapat pujian seperti itu dari laki-laki lain tetap membuat wajah Erica bersemu. Hanya saja tidak disertai dengan kekuatan super yang dapat membuat hatinya dug dug serrr.
"Ponselku rusak, Fiq."
"Kok bisa rusak?"
"Segala sesuatu bisa rusak Fiq, apalagi cuma ponsel," sahut Erica sekenanya.
"Ada kok yang nggak bisa rusak. Cintaku padamu." Syafiq mengerling nakal, membuat Erica memalingkan wajah. Bukan karena malu atau tersipu, tapi karena tidak tahu harus menyahut seperti apa.
"Jadi pergi?" tanya salah satu teman satu tim design thinking mereka, menginterupsi Syafiq yang mulai melancarkan aksinya.
"Jadi," sahut Syafiq, sementara Erica memalingkan wajah menghindari teman-temannya melihat wajahnya yang bersemu merah terkena gombalan Syafiq.
"Gue ada ide! Gimana kalau kita ngerjain projects nya di rumah Erica aja, soalnya kita belum pernah ke rumahnya kan? Lagi pula rumah Erica tidak jauh dari kampus."
Mata Erica membulat mendengar ide gila Syafiq. Main ke rumah? Oh tidak, rahasianya akan terbongkar!
"E-eh? Kok di rumah aku? Nggak, mmm maksud ku jangan sekarang, soal-"
"Erica," tukas Syafiq. "Diantara anggota tim kita, rumah kamu yang paling dekat. Kamu mau kita kumpul di kosanku yang sempit itu? Nggak bakalan muat, Ri," jelasnya kemudian.
"Lagi pula, aku ingin tahu dimana rumahmu, Ri. Selama ini kamu selalu menolak setiap aku tawari diantar pulang. Aku ingin tahu lebih banyak tentang mu, Ri. Hatimu susah sekali untuk diluluhkan."
Erica terdiam sejenak, berpikir harus mengeluarkan alasan apa agar Syafiq tidak bersikeras untuk mengerjakan projects di rumahnya.
"Di rumah sedang tidak apa siapa-siapa, Fiq."
Mata Syafiq memicing, menyelidiki bola mata Erica untuk mencari kebohongan disana.
"Bohong!"
Dan Syafiq berhasil menemukannya.
"Ayahmu sakit, jadi tidak mungkin tidak ada di rumah."
Baru saja Erica akan mengeluarkan suara, Syafiq sudah lebih dulu berbicara. Membuat Erica mengatupkan bibirnya hingga pipinya menggembung.
"Ayo teman-teman, kita berangkat ke rumah Erica!" Seru Syafiq kepada anggota tim yang lain.
Syafiq tersenyum puas melihat Erica cemberut ke arahnya. Lalu, tangannya terulur untuk mengacak puncak kepala Erica dengan gemas.
"Kamu lucu cemberut kayak gitu!" puji Syafiq seraya mengacak puncak kepala Erica.
Erica segera merogoh tote bag hitam yang menyampir di pundaknya, mencari benda pipih kesayangannya untuk menghubungi Adam mengenai keadaan berbahaya ini. Kalau Syafiq berhasil ke rumah Erica, maka semua rahasianya akan terbongkar. Potret Erica dan Adam dalam balutan pakaian pengantin yang menggantung indah di ruang keluarga akan cukup menjelaskan semuanya.
Seketika Erica membeku ketika menyadari ponselnya telah Adam lemparkan ke jalan raya. Ponselnya yang remuk dilindas tiada ampun oleh mobil yang berbaris melintas kembali terbayang di matanya.
"Erica!" panggil Syafiq seraya melambaikan tangan di depan mulut pintu mobil. "Ayo berangkat, nanti keburu sore."
Erica tersenyum kikuk. Dengan berat ia menyeret kakinya menghampiri Syafiq dan teman-teman yang lain yang juga melambaikan tangan ke arah Erica dengan senyum lebar.
Lihatlah perbuatan mu ini, Mas! Aku tidak bisa mencegah mereka. Batin Erica.
"Kamu tahu alamat rumahku dari siapa, Fiq? Perasaan aku tidak pernah memberi alamat rumahku pada siapapun."
Erica bersuara. Aneh sekali melihat Syafiq yang begitu hapal betul jalan yang Erica lewati untuk sampai ke rumah.
"Dapat dari Pak Adam." Syafiq memamerkan deretan giginya yang rapi dan putih.
"Pak Adam?" Erica mengerutkan keningnya. Bagaimana mungkin Adam memberikan alamat rumah mereka pada Syafiq?
"Belok kiri apa kanan ini Fiq?" tanya lelaki yang berada di bangku kemudi.
"Kiri, belok kiri."
"Kamu kayaknya hapal bener jalan ke rumah Erica. Kamu sering ke rumahnya?" komentar salah satu perempuan yang duduk di samping bangku kemudi.
Seketika Syafiq mengulum senyum. Matanya berkilauan menoleh ke arah Erica yang duduk di samping.
"Masa rumah calon pacar aja nggak tahu," ucap Syafiq, membuat mereka yang ada di dalam mobil itu tertawa geli bercampur jijik.
Adam kamu harus sadar
GDA exrtapartnya Thor rasanya kurang😂😂