Ria, seorang gadis yang harus menanggung aib kedua orangtuanya seumur hidupnya. Lahir sebagai anak haram. Di belenggu sangkar emas dalam genggaman Ayahnya, di siksa lahirnya, dan di cabik batinnya. Ria terpaksa menikah dengan Pria dingin tak berperasaan bernama Arya. fisik Ria tidak terluka bersama Arya, namun batin Ria semakin tersiksa. Sampai ajal menjemput Ria, Arya baru tahu apa arti kehilangan cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yun Alghff, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Serangan Fitnah
Langkah kaki Ria yang tadinya ringan mendadak terhenti di depan pintu putar gedung kantor. Lobi yang biasanya hanya diisi oleh karyawan yang terburu-buru, kini sesak oleh kilatan lampu kamera dan kerumunan wartawan infotainment. Di tengah kerumunan itu, berdiri Soraya dengan gaun desainer yang mencolok, memegang sebuah map berwarna biru dengan raut wajah yang dibuat seolah-olah penuh keprihatinan.
"Saya hanya ingin menyelamatkan perusahaan ini dan putra tiri saya!" seru Soraya di depan mikrofon yang dijulurkan para wartawan.
Ria menarik napas dalam, mencoba menenangkan jantungnya yang mulai berpacu. Ia tidak berbalik arah. Dengan kepala tegak, ia melangkah masuk, membelah kerumunan.
"Ah, ini dia orangnya!" Soraya menunjuk ke arah Ria dengan dramatis. "Ria, syukurlah kau datang. Aku di sini untuk mengungkapkan kebenaran demi kebaikanmu juga."
Siska, yang entah bagaimana bisa berada di samping Soraya setelah dipecat, tersenyum licik. Soraya membuka map tersebut dan mengangkat selembar kertas tinggi-tinggi agar tertangkap kamera.
"Ini adalah hasil tes laboratorium terbaru milik Ria," teriak Soraya. "Dia menderita ketidakstabilan mental yang parah akibat efek samping pengobatan pasca-koma. Dia menderita skizofrenia akut yang bisa membahayakan rekan kerjanya. Semua prestasi yang dia tunjukkan di kantor ini hanyalah hasil dari manipulasi dan delusi!"
Dengungan kaget terdengar dari arah rekan-rekan kerja Ria yang menonton dari kejauhan. Fitnah ini sangat keji; menyerang kesehatan mental berarti menghancurkan kredibilitas profesional Ria secara permanen.
Ria berdiri mematung. Untuk sesaat, memori tentang ruang ICU yang dingin dan rasa takut akan kegilaan menyergapnya. Namun, sesuatu yang lain bangkit dalam dirinya. Jika Ria yang dulu akan menangis atau pingsan, Ria yang sekarang justru merasakan dingin yang luar biasa di kepalanya—sebuah kemarahan yang terkendali.
Soraya mendekat, berbisik tepat di telinga Ria sehingga hanya dia yang bisa mendengar. "Kembalilah ke lubangmu, jalang kecil. Kau tidak pantas berada di dunia profesional. Kau hanyalah pasien gila yang beruntung."
Ria menoleh, menatap mata Soraya dengan pandangan yang sangat tenang—begitu tenang hingga Soraya justru merasa ngeri. Ria tidak berteriak. Ia justru mengambil mikrofon dari salah satu wartawan dengan gerakan yang sangat anggun.
"Terima kasih atas 'perhatiannya', Tante Soraya," ujar Ria, suaranya terdengar sangat jernih di seluruh lobi. "Namun, sepertinya Tante lupa bahwa setiap laboratorium medis memiliki kode verifikasi digital. Dan dokumen yang Ibu pegang..."
Ria meraih kertas itu dari tangan Soraya yang terkejut. Ria menunjuk ke arah logo di pojok kanan atas.
"Laboratorium ini sudah tutup sejak dua tahun lalu. Dan dokter yang menandatangani ini, dr. Alexandre, adalah dokter yang lisensinya dicabut karena kasus pemalsuan dokumen medis bulan lalu. Apakah Tante tidak melakukan riset sebelum mencoba menghancurkan saya?"
Wartawan mulai berbisik-bisik, mengarahkan kamera mereka ke detail kertas tersebut. Wajah Soraya mulai berubah pucat.
"Bukan hanya itu," lanjut Ria, kini menatap langsung ke kamera. "Saya baru saja mendapatkan sertifikat kesehatan mental dari rumah sakit pusat kemarin sebagai syarat promosi jabatan saya. Jika Anda ingin bermain dengan isu kesehatan, mari kita lakukan di depan meja hukum. Karena menyebarkan data medis palsu dan fitnah di depan publik adalah tindak pidana serius."
Sesuatu dalam diri Ria benar-benar telah berubah. Ia tidak lagi butuh pelukan Arya untuk merasa aman. Ia menemukan kekuatan dalam suaranya sendiri. Di depan semua orang, ia merobek kertas palsu itu menjadi dua dan menjatuhkannya di depan sepatu mahal Soraya.
"Silakan pergi dari kantor saya, Nyonya Soraya. Sebelum saya memanggil tim hukum untuk menyeret Anda keluar dengan borgol."
Soraya gemetar karena amarah dan rasa malu yang luar biasa saat para wartawan mulai melontarkan pertanyaan tajam padanya. Sementara itu, rekan-rekan kantor Ria mulai bertepuk tangan, terkesan dengan ketenangan luar biasa dari pimpinan tim mereka yang baru.
Di kejauhan, di balik pilar lobi, Arya berdiri dengan tangan di saku celananya. Ia datang karena khawatir, namun ia tidak melangkah maju. Ia melihat istrinya telah berubah menjadi sosok yang tak terkalahkan. Namun, ia juga melihat sisi lain Ria; sisi yang lebih dingin, lebih kalkulatif, dan mungkin... sedikit lebih menjauh darinya.
Soraya melangkah keluar dari lobi kantor dengan sisa-mata yang menyala penuh kebencian. Malu yang ia tanggung di depan para wartawan bukanlah akhir, melainkan bensin yang membakar niat jahatnya. Ia masuk ke dalam mobilnya, membanting pintu, dan menatap pantulan dirinya di spion.
"Kau pikir kau sudah menang, Ria?" desis Soraya. "Kau hanya memenangkan pertempuran kecil. Tapi aku punya bom yang akan menghancurkan seluruh duniamu sampai ke akarnya."
Soraya mengambil sebuah flashdisk kecil dari dalam dompetnya. Di dalamnya tersimpan rekaman suara dari dua tahun lalu—sebuah percakapan rahasia di ruang kerja Arya, tepat satu malam sebelum kontrak pernikahan itu ditandatangani.
Soraya tahu bahwa titik lemah Ria saat ini adalah kepercayaan. Ria baru saja membuka hatinya kembali untuk Arya. Ia baru saja mulai percaya bahwa Arya benar-benar mencintainya. Dan bagi Soraya, tidak ada cara yang lebih nikmat untuk menghancurkan seseorang selain dengan menunjukkan bahwa cinta yang mereka miliki hanyalah sebuah skenario bisnis yang dingin.
"Siska," panggil Soraya pada mantan asisten Ria yang kini mengekor di sampingnya. "Kirimkan potongan audio ini ke nomor pribadi Ria. Jangan gunakan akun kita. Gunakan nomor anonim. Pastikan dia mendengarnya saat dia sedang merasa paling bahagia."
Sementara itu, di dalam kantor, Ria disambut seperti pahlawan. Ucapan selamat datang dari rekan kerja yang sebelumnya sinis kini berubah menjadi rasa kagum. Sore itu, Arya mengirimkan pesan bahwa ia akan menjemput Ria dan mereka akan makan malam romantis untuk merayakan keberhasilan Ria membungkam Soraya.
"Aku sangat bangga padamu, Sayang," bisik Arya saat mereka duduk di sebuah restoran mewah yang menghadap kerlip lampu kota. "Kau benar-benar bukan lagi Ria yang dulu."
Ria tersenyum, menyentuh tangan Arya di atas meja. "Aku tidak akan bisa menjadi Ria yang sekarang jika aku tidak 'mati' dan melihat siapa yang benar-benar ada untukku, Mas."
Malam itu terasa sempurna. Arya memberikan sebuah kotak kecil berisi kalung berlian dengan liontin berbentuk sayap—simbol kebebasan Ria. Segalanya terasa seperti mimpi indah yang akhirnya menjadi kenyataan.
Sesampainya di rumah, saat Arya sedang mandi, ponsel Ria yang tergeletak di nakas bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor tidak dikenal. Isinya hanya sebuah file audio berdurasi satu menit dengan teks: “Tanyakan pada suamimu, berapa harga yang sebenarnya dia bayar untuk membeli mu dari ayahmu.”
Ria mengerutkan kening. Dengan perasaan tidak enak, ia memasang earphone dan menekan tombol play.
Suara Arya terdengar di sana, sangat dingin dan tanpa emosi—suara Arya yang dulu sangat ia takuti.
“...Aku tidak peduli jika dia harus menderita di rumah ini. Pernikahan ini hanya transaksi untuk mendapatkan saham perusahaan ayahnya. Segera setelah saham itu berpindah tangan, aku akan membuangnya atau mengirimnya kembali ke rumah ayahnya. Bagiku, Ria hanyalah alat, tidak lebih dari barang pajangan yang bisa diganti kapan saja.”
Darah Ria seolah berhenti mengalir. Suara itu begitu nyata, begitu jelas. Itu adalah suara Arya dua tahun lalu, saat ia menganggap Ria hanyalah sampah yang bisa dibeli dengan uang.
Ria melepaskan earphone-nya dengan tangan gemetar. Kalung sayap yang baru saja dipakaikan Arya di lehernya tiba-tiba terasa seperti rantai yang mencekik.
Pada saat yang sama, Arya keluar dari kamar mandi hanya dengan handuk yang melilit pinggangnya, tersenyum cerah ke arah Ria. "Kenapa belum ganti baju, Sayang? Apa kau sangat suka dengan kalung itu?"
Ria menoleh. Tatapannya yang tadi penuh cinta kini berubah menjadi kosong dan hancur. Ia mengangkat ponselnya dan menekan tombol play di depan wajah Arya.
Suara Arya yang menyebut Ria sebagai "barang pajangan yang bisa dibuang" memenuhi kamar yang sunyi itu. Senyum di wajah Arya seketika lenyap, digantikan oleh pucat yang luar biasa.
"Ria... itu... itu masa lalu. Aku bisa jelaskan," suara Arya terbata, kakinya terasa lemas.
Ria berdiri, air mata jatuh tanpa suara. "Berapa harganya, Mas? Berapa harga yang kau bayar untuk 'barang pajangan' ini?"