Kalin Arsila Cayapata gadis 18 tahun yang punya pacar mata duitan, hubungan backstreet dari orangtua membuatnya harus bertemu sang pacar seperti maling, ngendap-ngendap sampai akhirnya dia bertemu denga Raksa Kamaludin, karyawan swasta biasa yang sampai umur 27 tahun belum juga nikah, yanh menyadarkan dia bahwa punya pacar matre itu bukan hanya bikin kantong bolong tapi bikin pengen nonjok.
Happy reading!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reina aka dian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perdebatan Malam Ini
Keadaan yang berbeda menyambut kedatangan Reno yang baru balik ke rumah setelah melewati jam 9 malam.
"Darimana saja kamu, Reno?!" suara ayah Reno yang ternyata sosoknya ada di ruang tamu yang dalam kondisi gelap.
Jadi di rumah Reno, kalau udah jam 9, lampu ruang tamu biasanya dimatikan dan hanya menyisakan lampu teras dan dapur. Sebenernya sih biar ngirit bayar listriknya, karena di rumah ini yang bekerja hanya bapak Reno sedangkan ibunya hanya ibu rumah tangga biasa. Tapi kali ini baru juga jam 8 kurang tapi ruangan sudah gelap. Reno yang tau sosok itu bukan sosok astral pun bersikap biasa.
Dia malah nggak mau jawab pertanyaan ayahnya tadi, kakinya melangkah maju meninggalkan ayahnya yang udah dipuncak kemarahannya pada anak keduanya itu.
"RENO! AYAH SEDANG BICARA!" bentak ayahnya.
Kaki Reno pun nerhenti, dia berbalik.
Ctekkk!
Ayah menekan lampu, supaya semuanya keliatan termasuk anaknya.
Reno yang nggak siap menerima cahaya dengan tiba-tiba pun menutupi matanya dengan punggung tangannya.
"Darimana saja kamu?"
"Ayahhh? ada apa ini ayah?" ibu keluar dari dalam, dan ngeliat dua orang yang lagi di ruang tamu.
"Ibu masuk ke dalam! ini urusan ayah sama Reno," perintah ayah Reno.
Ibu Rini yang orangnya manut pun ngikutin aja apa kata suaminya, ayah Hakim.
"Ya sudah..." bu Rini masuk ke dalam.
"Reno, jawab pertanyaan ayah!" ayah Hakim udah diubun-ubun marahnya.
Reno akhirnya berbalik, dia menatap kedua mata ayah Hakim.
"Reno habis pergi, belajar kelompok," Reno bohong.
"Kerja kelompok apa libur-libur begini? jangan bohong kamu, Reno!"
"Ayah, ayah gimana sih? tadi nanya aku darimana. Giliran dijawab malah nuduh aku bohong? terus maunya ayah gimana? aku emang dimata ayah selalu salah," Reno playing victim.
"Sekarang ayah mau tanya. Kenapa kamu nunggak bayar bimbel? apa ibu nggak ngasih kamu uang? atau kamu nilep uang itu?" ayah Hakim udah nggak basa-basi lagi.
"Nunggak apa? salah orang kali, itu adminnya ngawur. Yang namanya Reno kan banyak. Bisa aja dia salah kirim surat. Reno udah bayar kok, nggak ada itu nunggak-nunggak bimbel!"
"Mungkin yang namanya Reno itu banyak, tapi yang namanya Reno Vadela Hakim itu ya cuma kamu! ayah bukan orang bodoh yang bisa kamu bohongi, Reno! setelah ayah ditelfon dari pihak bimbel, ayah ngecek langsung kesana. Jadi, kemana saja uang yang ayah kasih, hah?" ayah Hakim beneran udah nggak kuat ngadepin Reno yang udah salah tapi mengelak terus-terusan.
Ayah menarik kedua kerah baju anaknya, "Kamu krmanakan uang itu?!"
Reno melepaskan rangan ayahnya dari kerah bajunya, "Aku pinjem! tapi tenang aja, besok juga aku lunasin. Jadi ayah nggak usah terlaku berlebihan," kata Reno.
Plaaakk!!
"Ayah?" suara imut Nadila yang baru masuk membuat ayahnya menengok ke belakang.
"Nadila? kamu sudah selesai ngajinya?" tanya ayah yang menormalkan suaranya. Sementara Reno yang habis digampar langsung masuk ke dalam kamarnya.
"Ayah? ayah kenapa pukul abang?" tanya Nadila polos, dia yang masih pakai mukena dan satu tangan pegang sajadah pun nyium tangan ayahnya.
"Nggak apa-apa. Tadi ada nyamuk di pipi abang, jadi ayah pukul. Biar nyamuknya nggak bikin nyedot darah abang..." ayah Hakim terpaksa berbohong.
"Baru juga ayah mau jemput, udah pulang duluan!"
"Ayah kelamaan, lagian tadi Nad pulang sama teman yang lain juga..." kata Nadila yang biasa belajar ngaji sehabis sholat siya di masjid di kompleks mereka. tadinya ayah Hakim mau keluar, tapi ketika ngeliat anak keduanya pulang, dia berubah pikiran. Ayah hakim matikan lampu dan duduk dengan tenang di sofa rumah mereka.
Sedangkan Reno yang udah masuk ke dalam kamar, ngunci pintu dan....
Bughhh!!!
Dia lepas jaket dan banting itu jaket ke lantai saking keselnya.
"Arrrghhh, ini pasti bang Arkan yang ngadu kalau gue lagi ngelayap!" ucap Reno dengan napas setengah ngos-ngosan. Baru inget kalau di saku jaketnya itu ada duit dari Kalin, si jaket yang udah teronggok pun dipungut lagi. Dia kagak sadar kalau utangnya udah kian menggunung.
Satu sudut Reno terangkat ke atas pas cium bau duit, emang nih bocah kecil-kecil udah matre. Suka banget sama duit.
"Gue bakal buktiin kalau tuduhan ayah itu nggak bener!" Reno bergumam sendiri.
Sementara Kalin udah malem tetep aja mantengin hape, berharap Reno nelpon atau minimal kirim chat. Dan beneran iya, Reno nelpon dia.
Kalin yang tau pacarnya nelpon langsung main angkat aja, "Halo..."
"Halooo ayang embee, lo belum tidur?" tanya Reno yang ngeliat saat ini udah jam setengah sepuluh malam.
"Kok lama?" Kalin nanya.
"Apanya?" Reno berusaha selembut mungkin.
"Ngasih kabar sama gue. Emang lo sibuk banget dari siang?" tanya Kalin lagi.
"Ehm, ya! kan aku tadi ngembaliin motor terus langsung ke bengkel. Sambil ngecek lagi apa yang udah diganti, takutnya ada yang kurang pas, Lin..." Reno bohong lagi.
"Terus gimana? uangnya cukup, kan?"
"Untungnya cukup. Makasih ya, Lin. Gue nggak tau kalau pacar gue yang cantik ini nggak mau ngebantu, pasti tuh motor udah berakhir di rongsokan," Reno lebay.
"Dijaga baek-baek tuh motor. Biar jangan disrudug lagi," kata Kalin.
"Iya, siap!" sahut Reno diselingi tawa kecil.
Kalin yang sempat khawatir dengan keadaan Reno pun kini sudah merasa sangat plong. Ternyata pacarnya itu nggak ada apa-apa, cuma sibuk doang ngurusin motor yang penyok. Penyok hasil karangan ceritaa Reno sendiri, padahal mah dia habis nonton sama Melody.
Pokoknya malam itu mereka habiskan dengan telpun sampai kuping panas. Sengaja Reno kasih kata-kata manis, biar Kalin nggak curiga dan nggak banyak tanya tentang apa yang membuatnya sibuk dan lupa ngasih kabar.
"Udah malem, besok kita harus sekolah..." kata reno yang berarti dia mau menyudahi acara telpon-telpon kangennya sama pacarnya.
"Hoaammmph, iya. Gue juga udah ngantuk..." Kalin nguap dan ngeliat waktu nggak kerasa udah hampir menyentuh angka 11 di jam dindingnya.
"Malam ini jangan lupa mimpiin gue, ya?" kata Reno bikin kita pengen nempeleng dia.
"Iya, lo juga. Jangan lupa mimpiin gue..."
"Itu mah udah pasti. Begitu gue merem, seketika itu juga langsung keliatan wajah lo, Lin..." Reno ngibul lagi. Boro-boro mimpi, begitu merem yang ada dia bablas tidur. Nggak ada tuh pakai acara wajah Kalin nongol, kagak adaaaa.
"Halah bokis banget lo!" ucap Kalin, padahal dalam hati mah seneng denger Reno bilang kayak barusan.
"Ya udah, lo duluan yang nutup telponnya..." mata Reno udah kreyap-kreyep, ngantuk.
"Lo duluan aja yang nutup," sahut Kalin.
"Lo aja, Lin. Gue nggak bisa kalau tiba-tiba udah nggak denger suara lo lagi, hampa hidup gue...." Reno setengah merem.
"Ya udah kita nutup telponnya bareng-bareng yah? satu ... dua... tiga!"
"Ih kok belum ditutup sih?!!!" Kalin yang ternyata masih nyambung telponnya sama Reno.
"Ya udah,kali ini kita tutrup bareng-bareng ya? satu .. dua ..."
Tuuuut...tuuuut!
Kali ini Reno duluan yang mutusin sambungan teleponnya.
"Kok dia udah nutup duluan, sih? padahal kan belum juga nyampe hitungan ketiga?" keluh Kalin. Dia pun naikin selimutnya dan naruh hape ke atas nakas. Sekarang dia mencoba buat meremin mata dan tidur, ngelupain alasan kenapa Reno nutup telpon duluan.