Nethaniel adalah pria muda tampan, sukses, dan berkarisma. Lahir di tengah keluarga konglomerat dan hidup berkelimpahan. Namun ada yang kurang dan sulit diperoleh adalah pasangan hidup yang tulus mencintainya.
Ketika orang tua mendesak agar segera berkeluarga, dia tidak bisa mengelak. Dia harus menentukan pilihan, atau terima pasangan yang dipilih orang tua.
Dalam situasi terdesak, tanpa sengaja dia bertemu Athalia, gadis cantik sederhana dan menarik perhatiannya. Namun pertemuan mereka membawa Nethaniel pada pusaran konflik batin berkepanjangan dan menciptakan kekosongan batin, ketika Athalia menolaknya.
》Apa yang terjadi dengan Nethaniel dan Athalia?
》Ikuti kisahnya di Novel ini: "I Miss You Because I Love You."
Karya ini didedikasikan untuk yang selalu mendukungku berkarya. Tetaplah sehat dan bahagia di mana pun berada. ❤️ U 🤗
Selamat Membaca
❤️🙏🏻💚
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sopaatta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19. IMU coz ILU
...~•Happy Reading•~...
Ke esokan hari ; Athalia masuk kantor seperti biasa. Dia berusaha semangat, karena pekerjaan menuntut tanggung jawab dan sekaligus merupakan sarana hiburan baginya. Dia bisa mengalihkan perasaan rindu yang tidak terbendung pada sosok yang hampir menguasai dunianya.
Sehingga dia berusaha fokus ekstra kuat, agar suasana hatinya tidak mempengaruhi akal dan pikirannya. Supaya pekerjaan yang dikerjakan tidak sia-sia dan harus diulang karena membuat kesalahan.
Namun sambil bekerja, sesekali dia melihat layar ponsel yang sengaja diletakan di atas meja. Hal itu dilakukan, karena harapan akan ada kabar dari Niel.
Marci dan Sita tidak berkomentar miring melihat wajah Athalia tidak happy. Rasa khawatir tentang masa depan pekerjaan lebih menakutkan dari pada mengusilin Athalia.
Begitu juga dengan Tony, dia tidak bertanya penyebab Athalia tidak ceria seperti biasanya, agar tidak menimbulkan pertanyaan baru dari rekan lain.
Ketika waktu istirahat tiba, Alea mendekati mejanya dan berbisik. "Talia, mau makan di luar? Ada restoran baru, ayam bumbu rujaknya yamiii." Alea sengaja berkata demikian, agar bisa mengalihkan rasa gundah Athalia pada menu baru.
"Makasih, Lea. Aku titip lagi, ya." Ucap Athalia sambil melihat Alea dengan pandangan mohon pengertian. Dia tidak ingin keluar istirahat di luar, agar tidak bertemu rekan dari bagian lain dan harus bercakap-cakap, terutama Hendry.
"Ok. Nanti aku beliin. Ada yang lain lagi?" Tanya Alea, serius.
"Ngga, Lea. Itu saja. Aku bawa minum. Makasih."
"Ok. Hati-hati kerjanya. Jangan pikiranmu ke mana-mana atau bengong. Ayam jago saja bisa ompong, kalau keseringan bengong." Ucap Alea sambil menepuk pundak Athalia.
"Syukurlah, aku bukan ayam jago." Athalia jadi tersenyum.
"Alhamdulillah. Kau masih Talia." Alea merasa lega, karena Athalia masih membalas candaannya seperti biasa.
"Thanks. Sorry, ngga bisa keluar istirahat denganmu." Athalia merasa tidak enak.
"Ngga pa'pa. Yang penting, aku kembali nanti, menu yang kubeli dihabisin." Ucap Alea di sela senyum, senang. Athalia mengangguk meyakinkan sambil memberikan jempol.
~••~
Setelah seharian berkutat dengan pekerjaan dan rasa hati yang berat, tiba waktunya pulang. Athalia tidak bersemangat untuk pulang seperti biasanya, mengingat akan ditunggu oleh Hendry dan mendengar ucapan negatif tentang Niel.
Walau hatinya tidak terima dan kesal pada Hendry, dia tidak bisa hindari atau marah. Dia tidak bisa mengatakan langsung untuk tidak mengganggunya, karena dia tidak tahu siapa Hendry dan apa jabatannya. Jadi dia tidak mau berkonflik dengannya.
"Ayo, sudah waktunya pulang. Tidak selamanya kau akan tinggal di sini untuk menghindari dia." Alea yakin, Athalia sengaja pulang terlambat untuk menghindari Hendry.
"Sebentar, ya, Lea. Aku rapiin ini." Athalia jadi berdiri dan merapikan meja.
"Ok. Tenang saja. Aku bawa motor dan helm gandeng. Kalau dia masih tunggu, kita cuek aja dan bisa kabur." Alea menyemangati Athalia, agar dia tidak cemas dan kepikiran bertemu Hendry.
Jadi menuju lobby, mereka berbicara apa saja, supaya tidak memperhatikan Hendry. Namun ketika selesai tap akses dan keluar, jantung Athalia seakan mau lompat. Dia tertegun dan berdiri diam tanpa bersuara. Sehingga Alea yang sedang berbicara dengannya, jadi menengok karena Athalia tertinggal di belakangnya.
Walau heran, dia tidak jadi bertanya karena Athalia tidak melihat ke arahnya. Dia jadi melihat ke arah tatapan Athalia, agar tahu penyebabnya.
'Oh, dia.' Alea membatin. Dia berbalik dan berjalan cepat mendekati Athalia. "Jangan perdulikan siapa pun. Temui saja dia dan bicara baik-baik. Jangan sampai beberapa hari ini dia sibuk atau ada persoalan lainnya." Alea bicara serius, karena melihat perubahan wajah Athalia.
"Aku pamit duluan." Ucap Alea sambil menepuk bahu Athalia.
Athalia mengangguk pelan dengan perasaan haru yang kental atas nasehat Alea. Dia bisa lihat dari sudut pandang berbeda, agar bisa berpikir positif. "Makasih, Lea. Hati-hati." Athalia memegang tangan Alea sebelum dia meninggalkan lobby.
Athalia kembali melihat Ethan. Sejenak dia tidak mengalihkan matanya dari sosok yang membuat dadanya bergemuruh. Setelah menarik nafas panjang, dia melangkah pelan ke arah Ethan yang sedang berdiri dan sudah melihatnya.
Ethan yang melihat raut wajah dan mata Athalia sudah tergenang, jadi berjalan cepat mendekatinya. "Kita bicara di mobil." Ethan mengerti reaksi Athalia.
"Oh, iya, Mas. Saya kira sedang bermimpi."
"Biasa tidur sambil jalan?" Ethan bercanda untuk mengalihkan perasaan Athalia, karena air matanya hampir tumpah.
Athalia menggeleng untuk mengusir semua keraguan hati setelah mendengar suara Niel. "Mas baik-baik saja?" Athalia tidak tahan bertanya.
"Baik. Seperti yang kau lihat..." Ethan mengajak bicara lain.
Athalia tidak berani protes, hanya mengangguk dengan wajah sedih. "Mari kita keluar." Ajak Ethan, karena mereka sudah mulai jadi perhatian.
Hendry yang hendak menemui Athalia jadi terdiam melihat interaksi Ethan dan Athalia. Dia jadi kesal dan mengepalkan tangan menahan geram. 'Dari mana orang itu? Mengapa tiba-tiba muncul lagi?' Hendry jadi emosi, karena baru mengganti mobil untuk pamer kepada Athalia.
Athalia mengikuti Ethan dalam diam dan berusaha mengendalikan hatinya agar tidak menangis. Dia menunduk saat sopir membuka pintu mobil dan Ethan memintanya masuk.
Tiga hari Ethan harus berada di Singapura untuk menyelesaikan masalah kantor, dia gunakan untuk menguji perasaannya dan juga Athalia dengan tidak menghubungi Athalia.
Setelah mengetahui perasaan Athalia padanya. Hal itu menariknya untuk serius memperhatikan dan memikirkan hubungan mereka.
"Kau baik-baik saja?" Ethan bertanya, setelah duduk di sampingnya dan mobil meninggalkan depan gedung.
Suara Ethan membuat Athalia melihatnya dengan air mata tumpah. Dia tidak mampu menahan rasa hatinya yang sedih, senang, bahagia, haru, bisa bertemu dengan Niel. Dia tidak menjawab, hanya mengangguk.
Ethan jadi merasa bersalah melihat air mata Athalia makin tumpah. Dia mengambil tissu di depan mereka lalu menghapus air matanya.
Kemudian, merai tengkuk Athalia dan mendekatkan wajahnya. "Ada apa? Jangan menangis." Bisik Ethan. Athalia hanya diam sambil mengendalikan perasaannya.
"Kalau begini, kita pacaran saja." Bisik Ethan. Athalia yang sudah meletakan wajahnya di bahu Ethan terdiam dan langsung menekan dadanya.
"Mau pacaran dengan saya?" Bisik Ethan lagi, tanpa berani memeluk. Suara Athalia seakan tersumbat. Dia mengangguk tanpa mengangkat wajahnya dari bahu Ethan.
"Siapa pun saya, tetap mau?" Ethan kembali berbisik. Athalia seakan terhipnotis dengan suasana yang tercipta. Dia hanya bisa mengangguk di sela deraian air mata.
Ethan berubah sikap setelah Athalia setuju berpacaran dengannya. "Coba aku lihat wajahmu." Ethan mengangkat kepala Athalia dari bahu dan melihat matanya.
"Sopir sedang lihat kita. Jangan sampai dia mengira aku menggigit kupingmu." Ethan kembali berbisik dan bercanda, agar bisa menenangkan hati mereka.
"Cukup banjir di jalan saja. Jangan di wajahmu." Ucap Ethan lagi sambil menghapus pipi Athalia dengan jarinya.
Athalia memegang kedua tangan Ethan dengan kedua tangannya dan menekan ke pipinya. Dia ingin memastikan kalau yang terjadi bukan mimpi. Dia telah resmi berpacaran dengan Niel. Bukan hanya teman tapi mesra.
...~•••~...
...~•○♡○•~...