Tak sengaja menolong gadis dari tindakan pelecehan, membuat Benedict merasakan debaran tak biasa.
Diusianya hampir tiga puluh tahun, belum pernah merasakan namanya jatuh cinta yang sesungguhnya membuat logikanya tumpul seketika.
Hasrat ingin memiliki semakin besar setiap harinya, namun jabatannya sebagai CEO di negeri nan jauh, membuatnya dilema, apakah harus mengorbankan karirnya atau mengejar gadis pujaannya.
Manakah yang akan dipilih oleh seorang Benedict Johnson Wright?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hermawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
dua puluh dua
Ayudia langsung merebahkan tubuhnya di sofa panjang begitu dirinya memasuki apartemen milik calon suaminya.
Tadi saat ia menunggu angkutan umum, Benedict menghampirinya dan mengajaknya pulang bersama, namun bukannya mengantarkan gadisnya pulang, lelaki itu malah membawanya ke apartemennya.
"Apa kamu lelah ay?"tanya Benedict memberikan air dingin pada gadisnya.
Mendapat pertanyaan dari calon suaminya, Ayudia segera duduk dan langsung meminum hingga habis satu gelas, "nggak kok, cuman pengen rebahan aja,"ucapnya.
"Kamu istirahat di atas aja,"tawar Benedict.
Ayudia bangkit menuju wastafel untuk mencuci tangan dan mengambil air dari dalam kulkas lalu ia membuka tasnya dan mengeluarkan kotak bekalnya, "aku makan dulu,"ujarnya sambil membuka kotak berwarna biru, dengan menu nasi dan ayam rica-rica buatannya.
"Kamu belum makan emang?"Tanya lelaki itu.
"Nggak sempet mas, kamu udah makan belum?"Benedict menggeleng, "doyan pedes kan?"lelaki itu mengangguk, "ya udah sini aku suapi,"ujar Ayu sambil menyodorkan tangannya untuk menyuapi calon suaminya.
Sambil mengunyah Benedict berkata, "kayaknya nggak kenyang deh kalau porsinya cuman segitu buat berdua, mau aku pesankan makanan?"
"Nggak usah, ini udah cukup, abis ini, Ayu numpang mandi sama tidur sebentar ya!" Ujarnya,
Benedict mengangguk, keduanya menghabiskan bekal itu tidak sampai lima menit.
Ayudia langsung mencuci kotak bekalnya setelah makan, "aku pinjem baju kamu ya, aku pengen mandi, gerah banget rasanya,"
"Kamu mau baju yang gimana biar aku ambilkan?"
"Kaos oblong sama celana pendek aja,"
"Ya udah kamu mandi dulu sana,"
Ayudia menuruti lelaki itu untuk mandi terlebih dahulu.
Selesai mandi, Benedict membantu gadisnya mengerikan rambutnya menggunakan hairdryer, "kamu tidur dulu aja, aku mandi dulu ya!" Ucapnya setelah selesai mengeringkan rambut gadisnya.
Sepertinya hari ini benar-benar melelahkan, untuk gadis itu, tak sampai lima menit kepalanya menyentuh bantal diri, ia sudah memasuki alam mimpi.
Benedict yang baru saja mandi, tersenyum melihat calon istrinya sedang tertidur nyenyak di kasurnya, ia menyelimutinya hingga sebatas dada.
Lelaki itu akan mengecek beberapa dokumen yang dikirimkan oleh sekretarisnya melalui email.
Saat langit berubah warna menjadi oranye, pekerjaannya baru selesai, dan gadisnya sedang menuruni tangga sambil menguap lebar.
Benedict tersenyum melihat tingkah calon istrinya, di kepalanya sudah terbayang bagaimana menyenangkannya ketika nanti ia sudah berumah tangga dengan gadis itu.
"Kok udah bangun?"Tanyanya.
Ayudia yang baru saja duduk disamping lelaki itu langsung menyandarkan kepalanya di bahu calon suaminya, "udah mau magrib mas, aku mau pulang,"
Benedict mencium dahi calon istrinya penuh kasih sayang, "aku aja belum peluk kamu hari ini, masa kamu udah mau pulang,"
"Ya udah sini peluk," ujar Ayudia membuka kedua tangannya, bersiap untuk dipeluk lelaki itu.
Tanpa membuang waktu, dengan senang hati, Benedict memeluk gadisnya erat, bahkan ia memindahkan gadisnya di atas pangkuannya.
Benedict mencium bibir gadisnya lembut, tentu saja dibalas oleh gadis di pangkuannya.
Ayudia melepaskan terlebih dahulu tautan bibir itu, ia mengelus rambut calon suaminya, "mas, besok aku mau ke kelurahan, jadi kita nggak usah ketemu dulu ya!"
Benedict mengernyit, "ke kelurahan ngapain?"
"Ya ngurus surat buat nikah lah,"
"Aku lupa bilang kamu, kata Alex, kamu cukup kasih surat pengantar RT RW selain itu sisanya udah diurus orangnya Alex, katanya paling kita tinggal ke puskesmas buat suntik, tadi dia kirim pesan ke aku,"
"Oh ya udah nanti malam, surat pengantarnya aku kasih ke kamu, tapi ingat ya mas, aku nggak mau ada pesta apapun, kita cukup nikah di KUA, disaksikan sama keluarga aku sama keluarga atau temen kamu, terus bagi-bagi besek sama tetangga,"
"Iya ay, kemarin aku udah bilang ke Rama, minta tolong ibunya Rama bikinin nasi kotak buat tetangga kamu,"
"Oh ya terus jangan ada karyawan cafe yang tau,"
"Emang kenapa?"
"Mas, kamu tau Ica yang pernah kencan sama kamu beberapa bulan yang lalu? Dia tuh tadi cerita, kalau dia masih suka sama kamu, aku nggak enak lah kalau tiba-tiba kita nikah,"
"Ngapain peduli sama orang lain sih ay,"
"Ya nggak enak aja,"
"Terserah kamu, yang penting kamu bahagia,"
"Terima kasih mas,"ujarnya mengecup bibir lelaki itu, namun saat gadis itu hendak mundur, tengkuknya ditahan oleh Benedict dan langsung lelaki itu ******* bibirnya.
Lagi-lagi hampir Benedict hilang kendali, hendak unboxing calon istrinya.
"Kamu nih, hampir aja kebablasan, udah ya, aku pulang sekarang, aku mau kasih tau bibi Atun, semalam aku pas ke rumah nya beliau lagi nginep di rumah mertuanya di Bogor,"
"Ya udah aku beresin kerjaan aku, terus kamu siap-siap dulu," ucapnya dan dijawab anggukan oleh gadisnya.
Benedict mengantarkan calon istrinya, "Loh mas, kok malah masuk sih, kan biasanya kamu turunin aku dipinggir jalan besar, entar mobil kamu kegores loh, tuh liat banyak mobil yang terparkir dipinggir jalan masuk kan?"Ayudia menunjukan banyak mobil yang terparkir di pinggir jalan masuk ke rumahnya.
"Aku hati-hati kok, kamu tenang aja ay,"ujar Benedict menenangkan gadisnya.
"Tumben-tumbenan juga kamu antar aku sampai ke dalam,"ujarnya heran.
"Aku kan mau kenalan sama Bibi kamu,"
"Kok nggak ngomong sih tadi, seenggaknya biar bibi siap-siap,"
"Kamu kan nggak ngajak aku, ya aku kan inisiatif aja,"
"Jadi kue yang kamu beli tadi buat bibi?"Benedict mengangguk masih memegang stir.
Ayudia menyuruh calon suaminya untuk berhenti ketika sudah hampir masuk gang rumahnya, jarak antara jalan besar menuju gang masuk rumah Ayudia sekitar dua ratus meter.
"Ternyata jauh juga ya dari jalan besar, terus kamu tiap hari pas pulang malem harus jalan jauh sejauh ini?" Tanya Benedict, dan Ayudia hanya mengangguk mengiyakan.
Mereka turun dari mobil, menuju gang kecil yang hanya bisa dilalui dua motor, "mas, kita ke rumah bibi dulu," ujarnya berjalan didepan kekasihnya.
Setelah melewati beberapa rumah yang berdempetan, akhirnya mereka tiba didepan rumah bibi, setelah mengucapkan salam, Ayudia dan Benedict dipersilahkan masuk dan duduk di sofa yang kulitnya sudah ada beberapa yang sobek.
Benedict memperkenalkan diri dan menyebutkan maksud kedatangannya, tentu saja hal itu membuat bibi Atun dan suaminya kaget, "jadi kenapa buru-buru Ayu?"Tanya Bibi heran.
Bukannya Ayudia yang menjawab, Benedict malah angkat bicara, "maaf saya menyela, sejujurnya saya yang menginginkan pernikahan ini dipercepat, jadi mohon anda jangan menyalakan Ayu, kami belum melakukan apapun yang melanggar norma, jadi Bibi dan paman tidak usah khawatir,"
"Bibi agak kaget sih, soalnya pas khitannya si kembar, Ayu bilang belum mau nikah,"
"Kan orang nggak ada yang tau kedepannya bibi,"ujar Ayudia membela diri.
"Sebenarnya tadi siang Bu RT bilang ke bibi, semalam kamu minta surat pengantar kan? Bibi jadi agak sakit hati, keponakan bibi kok nggak ngomong dulu, mau bagaimanapun disini tinggal bibi yang jadi saudara kamu Ayu,"
"Maaf bibi, kemarin Ayu kesini, tapi bibi sedang menginap di Bogor, sebenarnya kedatangan saya kesini selain ingin berkenalan dengan bibi, juga akan mengambil surat pengantar, mau diurus sama teman saya, kebetulan karena status saya WNA, jadi agak susah dalam pengurusannya,"ucap Benedict menyela.
"Oh nak Ben ini bukan WNI ya! Kok bahasa Indonesia nya fasih banget,"ujar paman heran.
"Saya SMP hingga SMA menetap disini,"
"Oh pantas saja lama ya disini,"
Mereka membicarakan perihal acara pernikahan yang akan diadakan itu, bibi meminta untuk diadakan resepsi sederhana di rumah, namun Ayudia menolak dengan alasan tidak mau repot dan harus berhemat.
Namun setelah perdebatan yang cukup alot, akhirnya pendapat bibi yang menang.
Tak lupa saat pembicaraan tadi bude yang sedang berada di kampung diajak berdiskusi melalui panggilan video.
Selesai dari rumah bibi, Ayudia mengajak Benedict untuk mampir ke rumahnya sebentar, dan mereka sempat mengobrol sejenak bersama Anin dan kedua adik kembarnya.
bennnn