Pria di kursi roda itu suami si pemilik tubuhku ini? Tapi kenapa pria itu menatap benci pada tubuh ini?
"Kau keluar penjara dengan selamat, tapi di rumah ini siksaan sebenarnya sudah menunggu mu! Kau mendorongku sampai aku lumpuh, kini giliranmu merasakan neraka di rumah ini!"
Sial! Gue mati di tangan tunangan dan sahabat gue sendiri, kini Roh gue malah kesasar masuk ke tubuh wanita yang dibenci suaminya sendiri!
Apa ada hal yang lebih mengenaskan lagi?!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mulai Bekerja.
Ting... Tong...
Eric melihat dari layar Cctv siapa yang memijit bel rumah, itu adalah Agnes menjemput istrinya. Dia membuka pintu, "Masuklah, istriku sedang bersiap-siap." Eric membuka lebar pintu lalu pergi ke dapur.
Agnes masuk dan duduk di ruang tamu, ia menatap ke sekeliling pojok rumah dengan dua lantai itu.
Eric membawa sandwich di nampan untuk dibagikan pada Agnes. Tadi ia membuatnya selagi Amber membersihkan diri di lantai atas. Ia juga membuat jus apel kesukaan Amber, juga membawa omelet telur gulung buatan istrinya itu. Juga membuat kopi hitam untuknya sendiri.
"Teh sencha kesukaanmu," Eric menaruh cangkir teh dari atas nampan di meja. "Makan juga sandwich ini, kamu pasti belum sarapan."
Tanpa basa basi Agnes mengambil sandwich lalu melahapnya, kemudian meminum teh nya.
"Agnes, kamu sudah datang," Suara Amber terdengar dari atas tangga, Eric menengadahkan kepalanya. Ia seketika berdiri menghampiri Amber di tangga yang sudah berpenampilan kembali dengan pakaian wanita ala kantoran.
Amber menuruni satu persatu anak tangga, setelah sampai di bawah Eric merangkul pinggang istrinya. "Tubuhmu tidak sakit?"
Amber menggeleng, "Anehnya, sangat segar. Obat apa yang sebenarnya diberikan Dokter Swan?"
"Dia bilang sudah mencampurnya dengan obat herbal, entah apa." Eric mengangkat bahunya. "Tapi setiap prajurit yang terluka, dengan obat dari Dokter Swan proses penyembuhan tidak akan lama. Obatnya sangat terkenal luar biasa."
"Hm, begitu. Ayo sarapan, aku sudah telat."
"Ya."
Dengan cepat Amber memakan sarapan yang dibuat Eric dan omelet yang dibuatnya sendiri, lalu meminum jus-nya. " Ini enak Eric, kau bilang akan memasak untuk makan malam. Jadi aku tidak perlu memasak, kan?"
"Ya, untuk makan malam aku akan memasak makanan kesukaanmu."
"Terimakasih," Amber melihat jam di pergelangan tangannya, "Aku harus pergi." ucapnya seraya berjalan ke depan pintu. Agnes sudah menunggu di depan mobil Rolls Royce pemberian Eric untuknya. Pernah terbesit dalam pikirannya, darimana Eric mempunyai banyak uang? Tapi ia segera mengenyahkan pikirannya itu.
Sebelum Amber melangkahkan kakinya keluar pintu, Eric menariknya dalam pelukan. "Eric aku sudah benar-benar telat."
"Jangan nakal, aku tau di Perusahaan Papa banyak pria tampan. Menjauhlah dari mereka, kau hanya diperbolehkan berjarak 1 meter paling dekat. Mengerti."
Amber tersenyum, "Yes, Capt. Dimengerti!" ia lalu mencium bibir Eric sekilas kemudian melanjutkan langkahnya. Saat masuk ke dalam mobil, ia melambaikan tangan dan dibalas oleh Eric.
Eric mengunci pintu, ia membereskan bekas sarapan di meja membawanya ke dapur membersihkan meja dapur dan peralatan kotor dapur lainnya.
Setelah rumah bersih, Eric masuk ke dalam ruangan rahasia. Dia membuka email dari Robbin, lalu membalasnya.
- Jangan ceroboh, aku tau sebentar lagi dia akan datang. Bagaimana dengan pertemuan anggota para wolf dan tamu-tamu yang mereka undang? Eric menekan enter mengirim email-nya.
Kiriman E-mail darinya langsung mendapatkan jawaban.
- Capt, kamu meminta rencana kita berubah, aku akan menyusun kembali. Perihal pertemuan itu akan dilaksanakan sabtu malam, kamu bisa memakai identitas Tuan Velmot. Balas Robbin.
- Bagaimana dengan Delon? Tanya Eric, ia menekan enter.
- Dia sudah pergi bekerja lagi. Mungkin akan bertemu dengan istri Kapten di Perusahaan. Balas Robbin.
- Ok. Clear, close! Eric lalu menutup laptopnya.
***
Di Perusahaan Amber diperkenalkan pada semua karyawan oleh Fania, jabatannya di Perusahaan adalah mengurus pemasaran Perhiasan yang mereka produksi.
"Ini ruanganmu, kak ipar. Jika ada yang kurang, hubungi aku." Ujar Fania.
"Ok, aku rasa cukup. Dokumen apa yang menumpuk di meja?"
Fania berpaling melihat tumpukan dokumen itu, "Kerjaan Kak Delon, tapi belakangan ini dia malas bekerja apalagi memeriksa dokumen-dokumen itu. Sekarang Papa memberikan tugas itu pada kak Katlin."
"Ok, gak masalah." Amber lalu berpaling pada Agnes. "Ah, dia Agnes. Mulai sekarang dia adalah assistenku, Papa sudah memberi ijin."
"Halo, aku Fania."
Agnes hanya mengangguk.
"Agnes, kamu duduklah disana." Amber menunjuk satu meja kosong di ruangan. Hanya ada mereka berdua di ruangan itu.
Agnes menuruti perintah istri sang Kapten, ia duduk dan mulai menyalakan komputer di meja seperti seorang pekerja kantoran biasa.
"Kalau begitu aku pergi, hubungi aku di saluran 3 jika kak Katlin membutuhkan sesuatu."
"Ok."
Setelah kepergian Fania dari ruangannya, Amber memulai pekerjaan. Ia memeriksa setiap dokumen yang menumpuk di atas meja kerjanya satu-persatu.