Diambang putus asa karena ditinggal sang kekasih saat hamil, Evalina Malika malah dipertemukan dengan seorang pria misterius. Adam Ardian Adinata mengira gadis itu ingin loncat dari pinggir jembatan hingga berusaha mencegahnya. Alih-alih meninggalkan Eva, setelah tahu masalah gadis itu, sang pria malah menawarinya sejumlah uang agar gadis itu melahirkan bayi itu untuknya. Sebuah trauma menyebabkan pria ini takut sentuhan wanita. Eva tak langsung setuju, membuat pria itu penasaran dan terus mengejarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ingflora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12. Makan Siang Bersama Ibu Hamil
"Eh, tapi sekarang Kak Adam terlihat berbeda." Shanti yang duduk di samping Adam menyentuh lengan pria itu yang berada di atas meja.
Seketika Adam menarik lengannya dengan kasar. Wajahnya berubah dingin. "Bukankah kamu tahu, aku tak suka disentuh?"
Shanti seketika salah tingkah. "I-itu ...."
"Eh, Shanti mungkin lupa," ucap Lindon cepat untuk menyelamatkan keadaan.
"Tapi aku lihat Kakak bisa gandengan dengan Eva," ujar Shanti membela diri.
"Begini?" Adam mencontohkan dengan memegang tangan Eva. "Ini aku yang pegang bukan dia!"
Shanti jadi merasa bersalah. Ia tak tahu kalau trauma Adam masih belum juga sembuh. "Maaf aku ...."
"Sudahlah. Aku jadi kehilangan selera makanku. Maaf aku pamit." Adam berdiri dan menarik Eva pergi.
"Tunggu! Adam!"
Adam tak menoleh panggilan Lindon. Eva sempat menoleh tapi tetap mengikuti gerak langkah Adam.
Lindon jadi kesal sendiri. "Kalau bukan karena dia bosku, sudah lama kutendanng dia," gumamnya sambil merengut. "Sering kalo dia sedang kesal dia tidak mengindahkan panggilanku. Padahal aku lebih tua darinya. Benar-benar tak tahu sopan santun!" Ia bermonolog. Diliriknya Shanti yang duduk disampingnya. "Kenapa kamu sampai lupa akan masalah ini?"
"Aku tidak tahu, Daddy. Aku pikir trauma kak Adam sudah sembuh, tapi ternyata begitu ya ...." Shanti ikut bergumam.
"Kamu harus minta maaf, Shanti, pada Adam. Jangan sampai Adam jadi antipati padamu."
Shanti menatap ke jendela kaca yang besar. Ia melihat Adam kembali ke mobilnya bersama Eva. "Iya, Daddy."
Eva yang dibawa masuk ke dalam mobil, mulai ikut bicara. "Pak, kenapa jadi tiba-tiba gak jadi makan?"
Adam mengitari mobil untuk masuk dari sisi yang satunya. Setelah menutup pintu, barulah kemudian ia menjawab, "untuk apa makan bersama mereka kalau mereka sebenarnya ingin tanya-tanya. Yang ada nanti kita salah menjawab dan mereka tau apa yang terjadi. Aku tidak mau mengambil risiko itu." Terangnya.
"Tapi tidak sopan 'kan, tidak menjawab panggilan orang yang lebih tua?" Eva menasehati.
Adam tampak kesal. "Jangan mengajariku apa yang baik bagiku. Aku tahu itu!"
"Lalu, kenapa tidak dikerjakan!?" Eva seakan menantang Adam.
Barata yang sedang menyupir, melirik kaca spion di atasnya. Ia sedikit tersenyum. "Berani juga gadis ini pada Pak Adam. Mmh ... lawan yang bagus. Gak aneh mereka bisa menikah, tapi kenapa mereka tidak tidur di kamar yang sama ya," batinnya.
"Eva, kalau kamu tidak tahu apa-apa, jangan asal komentar!" Adam semakin dongkol dan memalingkan wajahnya ke jendela.
"Padahal aku lapar. Bapak makan somayku banyak sekali," keluh gadis itu.
Mobil mulai keluar dari perparkiran. Adam menoleh ke arah Eva. "Ya udah, kita ke mal saja bagaimana?"
"Gak mau ah! Jauh. Aku laparnya, sekarang! Aku maunya makan, sekarang!" Eva kini merengut dengan dahi berkerut.
"Tapi di sini, kita mau makan di mana? Aku tak mau pergi ke tempat tadi dan bertemu dengan mereka lagi," protes Adam.
Eva melihat ke luar lewat jendela kaca. "Ah, itu saja!" Ia menunjuk pedagang yang berjualan dipinggir jalan. "Aku mau sate ayam!"
Adam melihatnya. "Eh, Eva ...." Pria itu meraih tangan istrinya. "Itu kotor."
Gadis itu berpaling. "Kata siapa? Pokoknya aku mau itu!" Eva merengut. "Aku sudah lapar." Ia mengusap perutnya.
Adam melihat ke arah perut Eva. Ia menghela napas dan melirik Barata di depan. "Barata, putar balik! Parkir di dekat tempat sate ayam tadi."
"Baik, Pak." Barata memutar mobil kembali ke arah sebaliknya dan parkir di bahu jalan tak jauh dari tempat sate ayam itu berada.
Adam melirik Eva. Ia masih menggenggam jemari tangan gadis itu. "Tapi ini tidak gratis." Ia mendekatkan wajahnya pada telinga Eva dan berbisik. "Nanti malam aku ingin mengelus bayiku."
Ucapannya pelan tapi membuat Eva sempat merinding. Gadis itu melirik pria itu dengan mata melebar dan mulut terbuka. Tak ada yang bisa ia rasakan selain bingung dengan keinginan pria dewasa itu yang tiba-tiba. Bukankah itu berarti Adam akan mengelus perutnya. Benarkah hanya itu saja?
Adam mengajak Eva turun. Keduanya mendatangi warung sate ayam dan duduk di sana. Karena pembakaran satenya juga di sana, mau tak mau asap pembakaran sate menyebar ke mana-mana.
"Kita jangan duduk di sini, nanti kamu menghirup asap mungkin tidak baik bagi bayimu." Adam mengibas-ngibaskan tangan di depan wajah, menghalau asap yang mendekat. "Duduk di sana saja." Ia menunjuk tempat duduk yang sedikit jauh dari sana.
"Tapi kita mesti pesan dulu, Pak," sahut Eva sebelum pindah.
"Mau pesan apa?" Seorang wanita yang baru saja menyajikan makanan untuk pembeli, mendekat.
"Saya pesan sate ayam dua ya," jawab Adam cepat.
"Pakai lontong?"
Adam menoleh pada Eva.
"Iya, jadi dua. Aku minumnya es jeruk. Bapak apa?"
"Sama saja."
"Oke, pesannya sate ayam dengan lontong dua dan es jeruk dua." Wanita itu mengulang.
"Iya, Mbak. Aku duduk di sana." Eva memberi tahu tempat duduknya.
"Oke, di tunggu ya."
Tempat itu cukup ramai oleh pembeli karena tepat jam makan siang. Bahkan saat Adam dan Eva makan, masih ada saja yang datang untuk makan di sana.
Adam terlihat menikmati makanannya. "Mmh, ternyata enak juga. Tempatnya juga bersih. Aku baru kali ini makan di luar seperti ini." Ia kembali mengambil tusuk sate dan menggigit daging ayam sambil menariknya. Ada bekas bumbu sate yang menempel di dekat mulutnya.
Eva mengambil tisu dan mengusap sisa bumbu kacang yang menempel di sudut mulut Adam dekat kumis dan berewoknya. "Bapak makannya kayak anak kecil." Ia tertawa.
Tentu saja Adam terkejut. Namun ia tahu, Eva tidak menyentuhnya. Gadis itu hanya membersihkan sisa bekas kuah kacang di sudut bibirnya dengan tisu. Namun perhatian yang diberikan gadis itu membuat ia bingung. Dirinya tak menolaknya sama sekali. Ini aneh. Untuk pertama kalinya, ia tidak menolak perhatian seorang wanita. Ada apa dengan dirinya? Bukankah sejak kejadian itu, ia takut disentuh wanita, terutama wanita cantik, tapi ... Eva sama sekali tidak cantik, dia manis. Sempat Adam berhenti sesaat dan menatap gadis itu sebelum ia akhirnya tersadar. Ia berdehem kemudian. "Kamu mau tambah lagi?"
"Boleh?" Mata gadis itu bercahaya.
"Oh, masih lapar. Ayo, pesan saja. Biar kutunggui sampai selesai makan." Adam terkesan gugup.
Eva begitu senang. Ia kemudian memesan kembali sate ayam tapi tanpa lontong.
Ia begitu bahagia bisa mengenal Adam. Di antara begitu banyak orang yang dikenalnya, hanya Adam yang begitu sabar padanya. Bahkan rela melakukan apa pun untuknya walaupun sebenarnya hanya untuk bayi yang dikandungnya. Namun, bagi Eva, sulit mencari orang seperti Adam yang rela melakukan apa pun demi bayinya, padahal itu bukan darrah dagingnya sendiri. "Telat gak papa, ya Pak?"
"Sebenarnya tidak efisien, tapi kali ini aku tidak ingin buru-buru ke kantor. Takutnya kedua orang itu mencariku di sana." Adam melipat tangannya di dadda.
Eva tersenyum dan menikmati makan siangnya dengan nyaman.
***
Eva baru saja mengenakan kerudung instannya, ketika ia mendengar pintu diketuk. Ia membukanya. Ada Adam berdiri di sana.
"Bapak, mau makan? Gak usah dipanggil, ini mau ke sana."
Adam langsung masuk dan menutup pintu, membuat Eva terkejut. "Kamu tidak ingat dengan yang aku bicarakan tadi siang?"
Eva mengernyit dahi. "Apa ya ...."
"Bukankah aku sudah bilang ingin mengusap bayiku?"
Eva terkejut dan menatap Adam. "Jadi dia sungguh-sungguh dengan ucapannya?"
"Ayo duduk di sana."
Jantung Eva seketika berdetak cepat. Ia melangkah bersama Adam ke tempat yang ditunjuk pria itu. Mereka duduk di tepi ranjang.
"Boleh, 'kan?" Mata Adam sudah tertuju pada perut gadis itu di sampingnya.
Bersambung ....
tapi aku nggak mau kalo cuma sekedar like👉🏻👈🏻
semoga semakin semangat updatenya akak othor!!🙏🏼💪🏼💪🏼
lagian siapa juga yang tahu klo Eva istrimu...
makanya dari awal lebih baik jujur,ini pake bilang sodara lagi
padal aku dari kemarin uda ngumpulin bab, biar bisa d baca maraton, taunya pas baca langsung hbis😭😭
"berharap ada adegan kissing nya"
pas scroll eeh malah ketemu iklan habib jaffar, langsung baca istigfar karena tau yg ku pikirkan itu dosaaaaa😭🤣🤣
ini masalahnya di keyboardmu apa emang kebijakan dari mt/nt?
sekedar nanya aja nggak ada maksud lain mak🙏🏼🙏🏼