Cerita ini kelanjutan dari( Cinta tuan Dokter yang posesif).
Reihan Darendra Atmaja, dokter muda yang terkenal begitu sangat ramah pada pasien namun tidak pada para bawahannya. Bawahannya mengenal ia sebagai Dokter yang arogan kecuali pada dua wanita yang begitu ia cintai yaitu Mimi dan Kakak perempuannya.
Hingga suatu hari ia dipertemukan dengan gadis barbar. Sifatnya yang arogan seakan tidak pernah ditakuti.
Yuk simak seperti apa kisah mereka!. Untuk kalian yang nunggu kelanjutannya kisah ini yuk merapat!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi Zoviza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21. Meninggal
Suara motor memecah keheningan jalan raya yang cukup sepi. Berhasil mengungguli lawannya tidak lain adalah Zidan adik sepupunya dari atasannya yang tidak ia ketahui sama sekali. Rute yang mereka lewati kali ini adalah rute favoritnya Jessi sejak dulu.
Jessi terpaksa kembali turun ke jalan demi kehidupannya selanjutnya. Namun ia bertekad kalau ini adalah pertama dan terakhirnya ia ikut balapan.
Saatnya si hampir mencapai garis finish ia dikejutkan dengan dua sosok pria yang cukup ia kenali berdiri tidak jauh dari garis finish. Namun ia berusaha untuk tidak mempedulikan karena ia yakin kedua pria itu tidak akan mengenalinya karena ia memakai helm yang menutupi seluruh wajahnya.
"Yeay.... Aku tau kamu pasti akan menang," sorak Alfan menepuk pelan pundak Jessi yang baru saja turun dari motornya.
Jessi hanya mengangguk dan melirik sekilas pada kedua pria yang kini berdiri tidak jauh darinya.
"Mana bayaranku!," ujar Jessi. Iya tidak ingin berlama-lama di sini sebelum kedua pria itu menyadari keberadaannya.
Alfan memberikan segepok uang yang terbungkus kertas kepada Jessi."Jika kamu butuh pekerjaan ini lagi jangan sungkan menghubungiku," ucap Alfan tersenyum lebar ada Jessi.
"Hmm,". angguk Jessi.
"Zidan...," teriak salah satu pria berdiri tidak jauh dari Jessi membuat gadis itu terkejut. Ia melirik pada pria yang baru saja sampai dengan motornya itu dengan kening berkerut.
"Apa-apaan kamu Zidan. Mau cari mati kamu, hah?," ucap pria itu langsung menempeleng kepala Zidan. Pria itu tidak lain adalah Zain, ia ditemani Reihan untuk mendatangi lokasi di mana sang adik ikut balapan.
"Kak... aku--
"Pulang!," teriak Zain dengan tegas.
"Dan setelah ini, semua uangmu Kakak bekukan," ucap Zain dengan tegas dan tidak mau dibantah.
"Tidak bisa begitu dong Kak, itu semua uangku hasil kerja kerasku. Kakak tidak boleh seenaknya membekukan semua fasilitas ku," jawab Zidan yang tidak terima dengan perkataan sang kakak.
"Sejak kapan kamu memiliki uang sendiri, hah?. Hasil kerja kerasmu adalah modal dari papa dan itu artinya uang kamu adalah miliknya Papa, paham," ucap Zain.
"Tapi--
"Jika Papa tahu kelakuanmu seperti ini bukan hanya uang kamu saja yang dibekukan tapi kerjasama kamu dengan perusahaan Uncle Faris bisa dibatalkan Papa secara sepihak," sambung Zain.
"Sekarang ayo masuk!," ujar Zain menunjuk mobilnya.
"Iya...," jawab Zidan dengan raut wajah yang terlihat kesal.
"Ikutan balap modal gaya dong. Menang saja tidak," gerutu Zain.
Sementara Reihan menatap lurus pemenang dari balapan itu. Ia merasa kenal dari helm yang dikenakan orang itu tapi entah dimana ia melihat orang yang memakai helm itu. Dan pria itu mengerutkan keningnya saat orang itu menaiki sepeda motornya. Ia menggeleng pelan, mana mungkin gadis itu ikut balapan. Tapi motor itu persis dengan motor yang dipakai asistennya.
***
Jessi mengendarai motornya dengan kecepatan sedang membela jalanan kota yang mulai terlihat sepi karena ini udah hampir larut malam. Iya sudah mengantongi uang sebesar Rp 25.000.000 dan ini cukup untuknya bertahan hidup hingga bulan depan dan mencari kontrakan setelah ini. Tidak mungkin selamanya ia menumpang di apartemen Atasannya itu. Meski biaya rumah sakit Ibunya sudah ditanggung sepenuhnya oleh keluarga atasannya tapi ia tidak mungkin lepas tanggungjawab begitu saja.Jika nanti ibunya keluar dari rumah sakit, ia akan membutuhkan banyak lagi uang untuk mereka bertahan hidup.
Jessi memarkirkan motornya di parkiran khusus motor sesampainya di basement apartemen. Ia melangkah dengan gontai menuju lift yang terhubung dengan basement apartemen menuju lantai dimana unit atasannya itu berada. Ia berharap semoga saja atasannya tidak menyadari dirinya tadi di lokasi balapan karena pria itu menatapnya dengan penuh selidik dari kejauhan.
Sesampainya di unit apartemen yang ia tempati Jessi mengeluarkan uang yang ia dapatkan dari hasil balapan dari tasnya. Gadis itu dengan mata berbinar menatap segepok uang yang ia dapatkan malam ini.
" Maafkan Jessi Bu, yang sudah melanggar janji Jessi sama ibu.Jessi janji ini adalah yang terakhir kalinya Jessi melakukan balapan," lirih Jessi menyesali keputusan yang sudah ia ambil, namun ia butuh uang ini untuk beberapa hari ke depannya.
Ting
082345xxxxxx
📩: Gadis yang malang, Ibumu masuk rumah sakit dan kau malah ikutan balapan liar. Apa jadinya jika Ibumu tahu apa yang kau lakukan ini.
Jessi meremas ponselnya dengan kuat. Ia tahu siapa yang mengiriminya pesan. Dia adalah Kakak dari Papanya yang begitu sangat membencinya dan juga Ibunya.
082345xxxxxx
📩:Kau sangat bar bar, Narendra tidak memiliki keturunan sepertimu yang bersikap bar bar.
✉️: Aku memang bukan keturunan Narendra
Setelah mengirim balasan pesan itu, Jessi menekan tombol blokir. Ia tidak mau lagi berhubungan dengan keluarga Ayah kandungnya itu. Cukup ibunya saja yang menjadi penguatnya saat ini untuk melanjutkan hidup.
Jessi mengganti pakaiannya dan bersiap untuk tidur. Besok ia harus datang lebih awal ke rumah sakit karena ia ingin menemui ibunya terlebih dahulu sebelum bekerja. Kemarin dokter zam sudah melakukan untuk ibunya yaitu dengan menyuntikkan obat untuk memperlancar aliran darah di tubuh Ibunya dan semoga saja besok hari ada perkembangan baik dari ibunya.
Pagi menjelang, Jessi sudah tampak rapi dengan pakaian kerjanya. Rencananya jam makan siang nanti ia akan membeli beberapa potong pakaian untuknya bekerja karena semua pakaiannya di lalap si jago merah. Ia tidak bisa menyelamatkan apapun dari rumahnya karena saat dia datang tapi sudah sangat membesar. Dia juga berencana mencari kos-kosan yang tidak jauh dari rumah sakit agar mempermudahkannya untuk pergi dan pulang kerja.
Sesampainya di rumah sakit jadi langsung menuju ruang perawatan ibunya yang berada di lantai 2. Senyuman terukir dari bibir tipisnya, ia berharap ada keajaiban dari ibunya mau membuka matanya.
Click
Jessi membuka pintu ruangan perawatan sang ibu dan melangkah menghampiri tempat tidur sang Ibu. Gadis itu mengerutkan keningnya Dengan jantung berdegup kencang saat melihat wajah pucat sang Ibu. Ia menyentuh tangan sang ibu yang terasa kaku dan juga dingin. Perlahan Jessi mengecek detak nadi sang Ibu dari pergelangan tangannya untuk memastikan kecurigaannya.
"Tidak...,"geleng Jessi dengan kedua mata yang terlihat berkaca-kaca. Ia tidak lagi merasakan detak nadi sang ibu di bagian tangannya.
" Bu .. jangan tinggalkan Jessi, Bu," ujar Jessi. Tangisannya akhirnya pecah juga, sang ibu sudah tiada dan ia benar-benar kehilangan arah hidupnya setelah ini.
Jessi menekan tombol nurse lalu kembali memeluk sang ibu yang sudah kaku dan tidak bernyawa lagi. Kemarin dokter Zain masih mengatakan jika kondisi ibunya semakin membaik tapi kenapa sekarang Ibunya malah meninggalkannya seperti ini.
Tidak lama Dokter Zain dan dua orang suster memasuki ruangan itu. Pria itu dikejutkan dengan Jessi yang sudah bersimbah air mata memeluk sang ibu.
"Apa yang terjadi Jessi?,". tanya Dokter Zain.
...****************...
Maaf baru up ya. Author sedikit demam, tapi demi kalian autor usahakan untuk up.