Bertemu setelah berpisah selama bertahun-tahun. Sahabat yang pernah mengisi ruang di hatinya. Pertemuan yang tak di sangka akan membuat jalan baru dalam kehidupannya yang kelam.
Sosok pria inilah yang dulunya membuat Rindu Nyaman.
Setelah mereka bertemu lagi, kini Ardian ingin mendapatkan Cinta Rindu secara utuh. Setelah dia terlambat menyadari cinta itu. Ardian berusaha untuk membuat Rindu kembali jatuh cinta padanya.
Status dan masalah yang berat, membuat Rindu ragu untuk membuka hatinya kembali.
Akankah persahabatan mereka berubah menjadi hubungan Asmara yang indah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MamGemoy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sakit perut
***
Lima jam waktu berlalu. Mereka pun bubar dan pulang ke rumah masing-masing. Dimas, Dian dan Ardian kembali seperti semula. Bergurau dan bercanda seperti biasa. Hanya karena masalah kecil, persahabatan mereka tidak akan goyah. Kemarahan antara satu dengan yang lainnya hanya bersifat sementara. Selagi ada kata maaf semua masalah bisa segera selesai. Rindu senang telah berhasil menjadi penengah di antara mereka.
"Dim, lo nganter Dian pulang, Rindu biar gue yang nganter," ucap Ardian saat mereka sampai di parkiran.
"Ok. Lo hati-hati bawa motornya, jagain anak orang. Lecet dikit aja Awas Lo!" kata Dimas memperingatkan.
"Iya … udah sana berangkat, lo juga hati-hati nyetirnya," balas Ardian, Dimas mengangguk. Mereka berpamitan satu sama lain.
"Ardi ... kita nggak langsung pulang ya." Rindu tiba-tiba teringat ingin melakukan sesuatu.
"Kamu mau kemana dulu?" tanya Ardian.
"Anterin aku ke toko musik biasa, bisa?"
"Buat kamu apa sih yang gak bisa." Ardian tersenyum manis. Senyum yang membuat hati Rindu selalu berdebar.
"Udah deh, kamu jangan …." Ucapan Rindu terhenti. "Jangan godain aku terus, jangan buat aku semakin sayang sama kamu, bakalan sulit buat aku melepaskan kamu." Sambungnya dalam hati.
"Jangan apa?"
"Jangan nyebelin …!"
"Aku, nyebelin?"
"Banget ... ngapain kamu tadi teriak panggil aku, kan jadi malu!" Rindu pura-pura marah.
"Yah, masih dibahas juga?" Ardian terdiam. "Iya, ya, kenapa aku teriak manggil Rindu?" Pertanyaan yang sama juga ada di benaknya kini. "Aku kesel kamu nggak balas WA aku tadi," jawab Ardian berkilah.
Rindu cemberut. "Nggak balas WA doang, kamu bikin aku malu."
"Udah ... udah, jangan dibahas lagi. Jangan manyun gitu, aku minta maaf ya." Ardian mendekatkan jari kelingking meminta maaf. Rindu terdiam, kemudian mengaitkan kelingking dan memaafkan. "Nahhh ... senyum gitu kan cantik." Puncak kepala Rindu diusapnya.
"Iiiiihhhhh ... dodol resek." Tangan Ardian ditepis, lalu merapikan rambutnya.
Rindu kembali cemberut, hingga Ardian meledakkan tawanya. Rambut panjang Rindu tempat ternyaman untuk dia sentuh, gemas.
"Udah ah ... siini aku pasangin." Ardian mengambil helm dan memasangkan ke kepala Rindu. Seketika pandangan mereka bertemu, terdiam.
Ardian terlihat biasa saja. Namun, menjadi masalah untuk Rindu. Debaran jantungnya begitu cepat, jarak mereka begitu dekat. "Duhhh ... Ardi dengar detak jantung aku nggak nih? Mana kenceng amat bunyinya," batin Rindu, seketika merasakan sesak, napasnya tertahan.
"Ok, udah." Ardian selesai memasangkan.
"Huufftt ... lega, lama-lama bisa jantungan aku, Ardian bahaya banget, untung saja bibir sexy itu nggak kecium, opps." Rindu menggeleng menghilangkan pikiran nakal di kepalanya.
Kulit wajah Rindu terasa panas, dia menekan dada mengurangi debaran jantung yang tanpa permisi menaikkan tempo. Untung Ardian sudah berbalik dan tidak melihat.
***
Hari ini, sepuluh menit lebih lambat dari waktu biasa Rindu sampai di sekolah. Entah kenapa dia terlihat tidak semangat. Untuk bangun dari tempat tidur saja dia enggan. Biasanya Rindu sampai ketika sekolah masih sepi. Bersantai dan bercengkrama dengan temannya sebelum jam pelajaran di mulai. Langkah kaki Rindu lesu seakan tidak bertenaga. Terasa nyeri di bagian bawah perutnya. Rindu mengenyahkan rasa nyerinya dan terus berjalan menuju sekolah.
Tidak jauh di depan, dia melihat Ardian dan Dania berjalan beriringan. Pemandangan setiap hari yang tidak pernah tampak karena selalu dia hindari. Hari ini sepertinya Rindu harus extra sabar. Karena malas bagun pagi ini, membuat dia harus melihat momen tidak mengenakkan.
Rindu mempercepat langkahnya, berusaha mendahului Ardian dan Dania yang berjalan perlahan. Sedikit berlari Rindu meninggalkan kedua sejoli itu yang telah berada di belakangnya. Ardian yang menyadari, heran melihat Rindu melewatinya.
"Rindu!" Ardian bertindak, tapi Rindu tidak mempedulikannya. Gadis itu terus berjalan cepat. Ardian berlari menyusul, melupakan Dania yang kesal di tinggal sendirian.
"Rin ... tunggu! Kamu kenapa?" Ardian meraih pergelangan tangan Rindu. Tatapan matanya mencari alasan Rindu mengabaikannya.
"Aku ... sakit perut." Rindu membuat alasan, dia menepis tangan Ardian dan berlari pergi dari sana.
Ardian mematung sejenak lalu mengejar Rindu yang telah berlari ke arah toilet. Rindu masuk dengan tergesa-gesa tanpa menyadari Ardian mengikutinya. Dania yang melihat dari kejauhan, menggerutu, marah dan kesal, dia pun masuk ke kelas sendirian.
Hampir sepuluh menit Rindu di dalam. Ardian menunggu dengan sabar, karena ada hal yang akan dibicarakan dengan Rindu. Pria itu mulai cemas, dia mengeluarkan ponsel lalu mengirim pesan whatsapp pada Rindu. Karena tidak ada seorangpun yang keluar dari toilet, yang bisa dia tanyakan.
"Rin, kenapa kamu belum keluar?"
Setelah hampir lima menit Rindu baru membalas.
"Ardi, aku nggak bisa keluar."
"Kenapa? Kamu nggak kenapa-kenapa, kan?"
"Aku nggak gak apa-apa. Cuma nggak bisa keluar sekarang."
Ardian mulai cemas. "Aku masuk ya."
"Eehhh, jangan!"
"Kenapa?"
"Ardi, aku bisa minta tolong?" Malu-malu Rindu memberanikan diri bertanya.
"Apa? Kamu bilang ada apa, aku pasti bantuin kamu."
"Aku datang bulan."
Ardian diam terpaku menatap layar ponselnya. "Apa?" gumamnya.
"Ardi, bisa bantuin aku beli pembalut?" Pesan Rindu selanjutnya pun masuk.
Ardian terperangah, berpikir sejenak. Wajahnya memerah, mencerna isi pesan dari Rindu yang sulit dipahami. "Hahh... Gue beli pembalut? Apa kata orang-orang?"
"Ardi, please."
Dengan berat hati Ardi mengiyakan. Tidak ada cara lain, dia harus membantu. Lonceng masuk sudah berbunyi 5 menit lalu. Tidak ada seorangpun yang bisa dimintai bantuan. Semakin lama berpikir akan semakin terlambat, hari ini jam pelajaran matematika, gurunya sangat galak.
"Ok, kamu tunggu sebentar." Balas Ardian akhirnya.
Tanpa berpikir lagi Ardian berlari ke kantin. Ragu-ragu dia bertanya kepada ibu penjaga kios. Tujuan untuk membeli keperluan wanita membuatnya malu. Sedikit berbisik dia menanyakan ke ibu penjaga kios. Ibu itu senyum melihat tingkah Ardian, lalu segera mengambilkan permintaannya. Tidak lupa ibu itu membungkus dengan kantong plastik hitam agar tidak terlihat yang lain. Anak itu bisa malu besar hanya gara-gara ini.
Setelah itu Ardian kembali berlari ke toilet tempat Rindu berada. Tanpa ragu dia masuk ke dalam karena sudah tidak siapapun di sana. Ardian mengedarkan pandangan mencari keberadaan Rindu di tiap bilik toilet.
"Rin, ini, aku bawakan yang kamu mau."
Rindu membuka pintu sedikit, mengulurkan tangannya menerima barang bawaan Ardian.
"Aku tunggu di luar ya."
Lima menit kemudian Rindu keluar, wajahnya memerah menahan malu. Dia menunduk tak berani menatap mata Ardian. "Kenapa harus hari ini aku datang bulan? Kenapa hanya Ardian yang bisa dimintai bantuan?" batin Rindu.
Sebenarnya karena kepanikkan Rindu tadi menghindari Ardian, kebohongan yang ujungnya menjadi kenyataan. Tanpa berpikir panjang, hanya bisa meminta bantuan Ardian, karena hanya pria itu yang berada di dekatnya.
Perut Rindu kini benar-benar sakit karena nyeri haid pertama. Rindu meringis menunduk memegangi bagian bawah perut, wajahnya memucat. Ardian yang melihat seketika itu jadi panik.
"Rin, heiii kamu kenapa?"
"Perut aku sakit banget."
Ardian menahan tubuh Rindu agar tidak jatuh, lalu menuntunnya duduk di bangku panjang dekat toilet. "Kamu bisa jalan? Aku antar kamu ke UKS ya."
Melihat Rindu kesakitan membuat Ardian kasihan. Rindu mengangguk, dia segera memapah Rindu ke UKS. Rasa canggungnya tadi berganti menjadi cemas dan kasihan.
Setelah Rindu di tangani dokter yang bertugas. Ardian masuk kelas membawa tas Rindu, menyampaikan alasan dia terlambat kepada guru matematika dan memberikan surat izin Rindu dari dokter jaga UKS. Ardian pun selamat dari hukuman.
***
aku tunggu kelanjutannya....
☺️
Bagus.. mudah di pahami...
juga menyentuh...
. selalu semangat untuk kakak author....
semoga karyamu semakin berjaya,...
💪💪💪💪☺️☺️
..