Squal dari novel Dosenku sang Casanova dan Istri Simpanan Tuan Jeremy, author Tessa Amelia Wahyudi.
~Aku tidak pernah memilih kepada siapa jatuh cinta, karena itu terjadi begitu saja. Meski mulut berkata tidak, hati tak bisa menolak.
Aku sudah berusaha untuk mengubur dalam-dalam cintaku padamu, Dave. Kenyataannya aku tak bisa!~
Anastasia Laurencia Lemos.
~Aku tidak bohong aku mencintaimu, cinta yang berusaha kusembunyikan dalam setiap sikap dinginku, karena aku tak ingin akhirnya hanya akan menyakitimu.~
David Sanjaya Grey.
***
"Tidak apa-apa kau belum mencintai ku. Tapi, aku akan terus berjuang untuk mendapatkan cintamu, Dave." Kata Ana yakin sembari memandang wajah dingin Dave yang saat ini ada didepannya.
"Silahkan, berjuanglah sampai kau merasa bosan mengejar ku. Karena sampai kapanpun, aku tidak akan pernah bisa mencintai gadis boddoh seperti mu!" Tekan Dave sembari menoyor kening gadis cantik di depannya, tanpa memikirkan perasaan gadis itu.
Yuk simak kelanjutannya,
CEKIDOT
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ana Azzura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jalan Bersama Davio
...✨✨✨...
...🍁Lepaskan daripada memaksakan. Ikhlaskan daripada menyakitkan. Relakan daripada berjuang sendirian.🍁...
...~Anastasia Laurencia Lemos~...
...🥀🥀🥀...
Hari ini adalah hari weekend, Ana sengaja bangun siang untuk memanjakan tubuhnya.
Selama lima hari ini, ia tak bisa istirahat nyenyak karena dihantui pikiran untuk terus belajar, belajar dan belajar.
Maka kali ini ia putuskan untuk merehatkan jiwa dan raganya.
Rasanya lelah raga ini tak sebanding dengan lelah di hatinya. Hati yang selalu mengharapkan pria dingin berhati batu. Tak pernah sekalipun menoleh perjuangannya dalam mengejar cintanya.
Sebenarnya Ana lelah, sangat lelah bahkan. Terbesit rasa untuk menyerah. Tapi ia tak akan berhenti sampai disini. Dia masih ingin memperjuangkannya sekali lagi.
Ya, sekali lagi. Jika memang sekali lagi Dave tak melihat kearahnya, dengan berat hati Ana harus melepasnya dengan seikhlas hati.
Terlalu erat menggenggam pisau, pada akhirnya dia lah yang terluka. Maka sudah seharusnya ia melepaskan, membiarkan Dave untuk mencari kebahagiaan menurut versinya.
Tok ... tok ... tok.
"Sayang! Bangun ..!" Seperti biasa, mom Jenni berteriak keras untuk membangunkan putri gadisnya.
"Sayang ..!"
Masih tak ada sahutan dari dalam, mom Jenni menghela nafas panjang kemudian membuka pintu kamar yang ternyata tidak dikunci.
"Ya ampun, Anaaa...!" Teriak mom Jenni saat melihat anaknya masih nyaman terlelap ditemani bantal dan selimut tebalnya.
"Ini sudah siang, kamu masih terlelap astagaa..!" Mom Jenni menggeleng-gelengkan kepala sembari menarik selimut putih yang dipakai Ana untuk membalut tubuhnya.
"Mommy apaan sih! Ana masih ngantuk!" Bibirnya mencebik, dua kelopak matanya yang masih terpejam erat seakan ada lem yang merekatkan matanya. Ia menarik kembali selimut yang berhasil mom Jenni lepaskan.
"Bangun Ana! Mentang-mentang weekend jadi pemalas! Mommy nggak suka lihat putri mommy jadi pemalas seperti ini." Mommy Jenni kesal karena Ana tak kunjung bangun. Bahkan ia kembali terlelap setelah selimutnya berhasil dipakai kembali.
"Anak gadis nggak boleh malas! Nanti jodohnya hilang dipatok ayam. Ayo bangun!" Mom Jenni menarik satu tangan Ana supaya terbangun.
"Issh ... mommy! Iya, iya ... Ana bangun..!" Dengan mata terpejam, Ana bangkit dari tidurnya kemudian menyandarkan kepalanya di headboard ranjang.
"Bagus, cepetan mandi. Dibawah ada anak dari tuan Ello yang menunggu mu." Tutur mom Jenni sebelum keluar kamar.
"Ingat! Jangan tidur lagi!" Imbuhnya.
Mata Ana langsung terbuka lebar dengan wajah berbinar. "Dave ada disini?? Dia sedang menunggu ku?? Aaaaaaa...! Aku senang...!" Jerit Ana dalam hati.
Andai dikamar ini tidak ada mommy nya, Ana pasti sudah berteriak keras kegirangan.
"Iya, mom. Ana nggak tidur lagi. Sekarang mom keluar dulu. Nanti Ana menyusul." Usir Ana pada sang Mommy.
Mom Jenni hanya mendengus kesal sembari menatap sengit anaknya. "Dasar anak nggak ada akhlak! Udah dibangunin malah diusir!"
Ana hanya cengengesan melihat Mommy nya yang memasang wajah suram. "Sorry mi, tapi kalo mommy masih disini terus ... yang ada Ana nggak jadi-jadi mau mandi karena kelamaan debat sama mommy."
"Benar juga. Ya sudah mommy keluar. Awas! jangan tidur lagi!" Tegasnya penuh ancaman.
"Iya mommy ku sayaaanggg...!" Ana berteriak keras agar mommy nya tidak bawel lagi.
Setelah mommy nya benar-benar keluar kamar, Ana segera bangkit dari atas ranjang dengan penuh semangat.
"Kira-kira Dave mengajak ku kemana? Aaaaa...
jangan-jangan Dave mau ngajak aku ngedate, sekarang kan weekend. Waah ... bisa jadi." Dengan semangat empat lima Ana meraih menanggalkan seluruh pakaiannya kemudian mandi.
Tak membutuhkan waktu lama untuk menyelesaikan mandinya, Ana segera ganti baju. Ia sengaja memilih gaun indah untuk bertemu Dave.
Sengaja ingin tampil cantik di depan Dave, meski biasanya pun cantik. Tapi menurutnya kali ini berbeda.
Jika biasanya mereka bertemu saat bekerja, hari ini mereka akan berkencan. Tentu Ana harus berdandan secantik mungkin.
Ia memoleskan make up tipis di wajahnya, memberikan kesan natural namun terlihat sangat anggun dan menawan.
"Selesai." Ana mematut dirinya di depan cermin. Ia tak melihat celah apapun dalam dirinya.
"Kamu cantik Ana." Pujinya pada diri sendiri. Ia tersenyum melihat pantulan wajah nya yang cantik.
Sangat sempurna untuk fisiknya, terlahir dari bibit unggul menjadikan nya sebagai bibit unggul pula.
Semua bagian tubuhnya adalah perpaduan dari fisik mom Jenni dan Alex. Sama-sama cantik dan tampan.
Tapi entah mengapa kecantikan yang dimiliki Ana tak membuat sosok laki-laki yang begitu dicintainya melihat kearahnya.
Bahkan sebutir debu pun ia tak melihat kearahnya. Dave terlalu cuek melihat lingkungan sekitar, ia tak menghiraukan apapun yang bukan untuk keperluan nya.
Andai laki-laki lain yang mendapat perlakuan istimewa dari Ana, Andai laki-laki lain yang dicintai Ana, pasti mereka tak menyia-nyiakan gadis secantik dan menggemaskan seperti nya.
Meski Ana cerewet, tapi dia memiliki hati yang baik, tidak senang melihat orang lain susah karena itulah dia suka menolong.
Tak ingin melihat orang disekitarnya kecewa, maka dia tumbuh menjadi anak penurut. Tak pernah membantah keinginan orang tuanya meski itu terasa berat baginya.
Tap ... tap ... tap.
Ana menuruni tangga dengan hati-hati karena saat ini dia menggunakan heels. Senyum yang sedari tadi menghiasi wajahnya tak pudar sedikitpun.
Namun saat di pertengahan tangga, senyum itu luntur secara perlahan saat melihat sosok yang menunggunya bukan lah orang yang diinginkan.
"Sayang, ayo cepat kita sarapan. Davio sudah lama menunggu mu!" Kata mom Jenni sedikit berteriak.
Ya, orang yang sedang menunggunya adalah Davio kembaran Dave.
Meski tak bersemangat lagi, tapi Ana tetap melanjutkan langkahnya hingga sampai di meja makan.
"Vio, ada apa pagi-pagi keu kesini?" Meski hatinya sakit. Tapi ia mencoba biasa-biasa saja dan menampilkan senyum ceria seperti biasa untuk menyapa Davio.
"Aku sengaja kesini untuk mengajak mu jalan-jalan. Apa kau mau?" Tanya Vio penuh harap, dengan senyum yang menghias dibibir nya.
Ana jadi berpikir dua kali untuk menolak karena tak ingin memudarkan senyum seseorang.
Sebenarnya Ana peka kalau Davio tertarik padanya, sayangnya hati Ana lebih dulu berlabuh pada Dave, si manusia kaku dan dingin berhati batu tetapi tampan dan suka menolong.
Posisi Davio mengingatkan dirinya bahwa mereka tak ada bedanya, mencintai seseorang yang tidak mencintainya.
"It's oke, lagian hari ini aku nggak ada kegiatan." Ana menganggukkan kepala setelah berpikir sejenak. Ia pikir tak ada salahnya untuk menyenangkan hati orang.
"Oke, kalau begitu kita langsung berangkat saja. Sekalian sarapan diluar." Reflek tangan Vio menggenggam tangan Ana untuk mengajaknya keluar.
"Loh nggak sarapan disini aja?" Tawar mom Jenni.
"Nggak perlu Tante, kita sarapan di jalan aja." Kata Davio tetap menampilkan senyum yang seakan tak akan hilang.
"Baiklah, hati-hati dijalan." Mom Jenni mengizinkan mereka keluar.
Mereka berjalan beriringan seperti sepasang kekasih.
...💙💙💙...
...TBC...
See you next chapter 👋🙂
Sempat menduga Dave tp sambil berpikir ga mgkn ga ada background jd dosen kan
Ternyata....oh ternyata dosennya si Edo
Si kutu kupret yg sok cool kepedean hbs kalo Ana bs ditaklukan no...no...no....😛😃
iy aj skeg masih datar muka ny kalau udh jatih cintrong gee berbunga bunga tuuh wajah ketemu ana,,
duduk diem aj anak di bangku meja makan jgn buat gaduh 😒
tpi apapun it aku ttep mampir,,