Terlahir dengan kutukan yang memakan usia, Boqin Tianzun terpaksa menempuh jalan berdarah demi melawan waktu yang kian menipis. Di tengah pengkhianatan keluarga dan dunia yang memuja kekuatan, ia merajut rencana keji untuk merangkak ke puncak tertinggi.
Bagi sang iblis berbakat, nyawa hanyalah pion catur dan cinta hanyalah teknik manipulasi, kecuali untuk satu jiwa yang tersisa. Di ambang batas kematian, ia bersumpah akan menaklukkan takdir dan menghancurkan siapa pun yang menghalangi langkahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18: Jaring Laba-Laba dan Kehormatan yang Terkoyak
Sari pati Rumput Roh Sembilan Jiwa mulai meresap ke dalam tubuh Sua Mei. Cahaya biru tipis menyelimuti kulitnya, perlahan membasuh luka-luka lama dan menghangatkan meridiannya yang sempat membeku. Boqin Tianzun memperhatikan dengan napas tertahan sampai warna di pipi Sua Mei kembali merona.
Namun, ketenangan itu tidak berlangsung lama. Suara derap langkah sepatu bot yang berat mengguncang paviliun.
"Boqin Tianzun! Keluar kau!" teriak Tetua Wu, penjaga Taman Terlarang. Di belakangnya berdiri beberapa penegak hukum sekte dengan wajah murka. "Kau telah mencuri pusaka sekte yang seharusnya hanya digunakan untuk kepentingan perang! Kau pikir perlindungan ayahmu bisa membuatmu lolos dari hukum ini?!"
Boqin berdiri perlahan. Ia tidak menoleh ke arah pintu. Matanya tetap tertuju pada Sua Mei yang kini bernapas dengan teratur. Di dalam kepalanya, roda gigi strategi mulai berputar. Kemarahan para Tetua adalah ancaman, namun bagi Boqin, itu adalah peluang.
"Kalian ingin bermain hukum?" batin Boqin dingin. "Maka aku akan menghancurkan fondasi tempat kalian berpijak."
Boqin keluar menemui para Tetua. Alih-alih melawan, ia justru menunjukkan wajah yang ketakutan namun tetap sombong, sebuah akting sempurna untuk memancing amarah mereka lebih dalam.
"Tetua Wu, Ayahku sudah memberiku izin penuh. Jika kau keberatan, bicaralah padanya." ucap Boqin dengan nada yang sengaja dibuat meremehkan.
"Lancang! Ayahmu tidak berhak memberikan pusaka itu tanpa persetujuan dewan!" raung Tetua Wu.
Pertengkaran itu memanas. Boqin Ming, sang Pemimpin Sekte, segera tiba di lokasi. Seperti dugaan Boqin, ayahnya langsung membela senjata kesayangannya. Terjadilah adu mulut hebat antara Boqin Ming dan para Tetua.
Boqin Tianzun berdiri di bayang-bayang, memperhatikan keretakan yang mulai menganga di antara kepemimpinan sekte. Sedikit dorongan lagi, dan kalian akan saling mencabik tenggorokan, pikirnya.
Rencana besar Boqin dimulai malam itu. Ia tahu bahwa Boqin Yan, saudaranya yang kini dilanda frustrasi karena melihat kebangkitan Boqin Tianzun. selalu melarikan diri ke kedai arak di pinggiran paviliun dalam.
Boqin Tianzun mendekati Yan yang sedang mabuk berat. Ia tidak memukulnya, melainkan menuangkan arak dengan wajah prihatin.
"Kakak Yan," bisik Boqin lembut. "Ayah sudah tidak memedulikanmu. Han sudah cacat. Satu-satunya caramu untuk kembali berkuasa adalah dengan menikahi Lin Xia. Jika kau mendapatkan dukungan ayahnya yang merupakan Tetua Agung, bahkan Ayah tidak bisa menyentuhmu."
Yan yang otaknya sudah tumpul karena alkohol menatap Boqin dengan mata merah. "L-Lin Xia mencintaimu, bodoh! Dia tidak akan mau melihatku!"
"Siapa bilang kau butuh persetujuannya?" Boqin menyodorkan sebuah bubuk halus ke dalam cangkir Yan. "Ini adalah Bubuk Mimpi Surgawi. Berikan ini padanya, dan dia akan melihatmu sebagai orang yang paling dia cintai di dunia ini. Malam ini, dia akan menunggumu di Paviliun Teratai."
Boqin Yan, yang didorong oleh rasa iri dan mabuk, menyambar bubuk itu. Ia tidak tahu bahwa bubuk itu bukanlah obat cinta, melainkan afrodisiak (perangsang) yang sangat kuat yang akan menghilangkan kesadaran siapa pun yang menghirupnya.
Boqin Tianzun kemudian menemui Lin Xia. Dengan wajah penuh kekhawatiran, ia meminta Lin Xia menunggunya di Paviliun Teratai karena ada hal penting yang ingin ia sampaikan tentang penyakitnya.
"Datanglah, Lin Xia. Hanya kau yang bisa kupercayai." ucap Boqin sambil menggenggam tangannya.
Lin Xia, yang sudah buta karena cinta, menyanggupinya tanpa curiga.
Malam itu, Boqin Tianzun berdiri di atas atap paviliun, memperhatikan dari kegelapan saat Yan yang bernafsu masuk ke dalam paviliun tempat Lin Xia menunggu. Boqin tidak merasakan rasa bersalah sedikit pun karena telah mengorbankan wanita yang mencintainya. Baginya, Lin Xia hanyalah pion untuk memicu perang.
"Besok pagi, saat Tetua Agung menemukan putrinya dinodai oleh putra Pemimpin Sekte yang mabuk, tidak akan ada lagi perdamaian di Sekte Giok." gumam Boqin.
Ia berbalik dan berjalan kembali ke sisi Sua Mei. Ia telah membakar sumbu ledakan yang akan menghancurkan hubungan ayahnya dengan dewan Tetua. Di tengah abu kehancuran itu nanti, ia akan mengambil semua sumber daya yang tersisa untuk menyembuhkan Sua Mei sepenuhnya dan semakin menjadi kuat.
Di dalam hatinya ia berkata"Jika kau tidak dapat mengalahkan musuhmu dari luar, maka kalahkan mereka dari dalam."