NovelToon NovelToon
Yun Ma Yang Menolak Takdir Novel

Yun Ma Yang Menolak Takdir Novel

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi ke Dalam Novel / Identitas Tersembunyi / Kelahiran kembali menjadi kuat / Bepergian untuk menjadi kaya / Mengubah Takdir
Popularitas:10.7k
Nilai: 5
Nama Author: inda

Yun Ma, seorang gadis modern yang sedang menikmati cuti dari pekerjaannya yang melelahkan, tak pernah menyangka kematiannya di dasar sebuah sumur tua justru membawanya ke dunia lain. Saat membuka mata, ia terbangun sebagai Yun Mailan, putri sah Menteri Pendidikan Kekaisaran tokoh utama wanita dalam sebuah novel tragis yang pernah ia baca dan benci.

Dalam cerita asli, Yun Mailan dibenci ayahnya, dimanfaatkan kakaknya, dikhianati tunangannya, difitnah tanpa pembelaan, lalu mati sendirian dalam kehinaan. Mengetahui seluruh alur nasib tersebut, Yun Ma menolak menerima takdir.

Pada malam kebangkitannya, ia melarikan diri dari kediaman keluarga Yun dan membakar masa lalu yang penuh kepalsuan. Bersama pelayan setia bernama Ayin, Yun Mailan memulai hidup baru dari nol.

Berbekal pengetahuan masa depan, tekad kuat untuk bertahan hidup, dan sebuah liontin peninggalan ibunya yang menyimpan kekuatan tersembunyi, Yun Mailan bersumpah untuk bangkit. Suatu hari, ia akan kembali bukan sebagai korban

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon inda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22

Lonceng Pasar Agung berdentang tiga kali.

Suara itu biasanya hanya penanda pergantian jam dagang. Namun hari ini, dentangnya terasa berbeda. Lebih berat. Lebih panjang. Seolah memberi isyarat bahwa sesuatu sedang berubah.

Kerumunan mulai berisik.

Bukan karena teriakan, tapi karena bisik-bisik yang saling menyambung.

“Itu Xuan, kan?”

“Yang katanya membantai desa-desa?”

“Tapi lihat orang-orang di sekitarnya…”

“Yang tua itu menangis.”

Xuan berdiri tanpa ekspresi berlebihan. Ia tidak mengangkat suara. Tidak memanggil perhatian. Ia hanya ada. Dan keberadaannya cukup membuat cerita berjalan sendiri.

Di sudut barat pasar, seorang pria dari Desa Batu Tua duduk di atas peti kayu. Suaranya bergetar, tapi jelas.

“Mereka datang malam hari. Tidak membawa lambang kerajaan. Tapi saat pergi, mereka menyebut nama Xuan.”

Beberapa orang berhenti berjalan.

“Kenapa menyebut namanya?” tanya seorang pedagang.

“Supaya kami membencinya,” jawab pria itu jujur. “Supaya kami percaya dialah pembunuhnya.”

Seorang wanita lain menimpali, “Tapi mata mereka kosong. Mereka bukan tentara. Mereka datang untuk membunuh, bukan berperang.”

Cerita itu menyebar seperti api kecil yang tidak bisa dipadamkan dengan satu ember air.

Di sisi lain pasar, Shen Yu berdiri di antara dua utusan asing. Ia tidak membujuk. Ia hanya mendengarkan, lalu bertanya pelan.

“Kalau benar Xuan sejahat itu, kenapa ia berdiri di sini tanpa pasukan?”

Pertanyaan sederhana. Tapi memukul.

Ye bergerak dari satu warung ke warung lain, sengaja terlihat santai. Namun setiap langkahnya mencatat wajah-wajah yang terlalu tenang, terlalu memperhatikan.

“Mereka mulai gelisah,” gumamnya pada Hui yang berjalan di sampingnya.

Hui menggerakkan telinga. “Aku bisa mencium ketakutan. Bukan dari rakyat.”

“Dari mana?”

“Dari orang-orang yang biasa tidak takut.”

Di Qinghe, tekanan meningkat.

Lingkaran simbol di halaman toko obat bergetar hebat. Garis-garis cahaya di tanah berkedip tidak stabil.

Ayin berlutut di tengahnya, napasnya memburu.

“Kalian ini… benar-benar menyebalkan,” gumamnya sambil menekan telapak tangannya ke tanah.

Tiga bayangan kembali muncul.

Kali ini lebih dekat.

Lebih nyata.

“Kau kelelahan,” kata salah satu dari mereka. Suaranya lembut, hampir bersahabat. “Serahkan kunci kota. Kami akan pergi.”

Ayin tertawa pendek. “Kunci kota? Ini bukan gudang beras.”

“Kau tahu maksudku.”

Ayin mendongak. Matanya merah karena lelah, tapi tatapannya tetap keras. “Aku tahu satu hal. Kalian takut padanya.”

Salah satu bayangan menyeringai. “Takut pada Yun Ma?”

“Takut pada pilihannya,” balas Ayin. “Dan sekarang dia memilih Pasar Agung.”

Tekanan mendadak melonjak.

Dinding simbol retak halus.

Ayin menggertakkan gigi. “Kalau mau masuk, masuklah. Tapi kalian tidak akan keluar utuh.”

Kembali ke Pasar Agung.

Xuan akhirnya bergerak.

Bukan ke tengah kerumunan, tapi ke arah sebuah panggung kecil tempat pengumuman dagang biasa dilakukan.

Ia naik tanpa pengawal.

Beberapa orang tersentak. Beberapa mencoba menjauh.

Xuan mengangkat tangan. Bukan isyarat komando, hanya minta waktu.

“Aku tidak datang untuk membela diri,” katanya dengan suara cukup keras untuk didengar orang-orang terdekat.

Kerumunan menahan napas.

“Aku datang untuk mendengarkan. Dan untuk memastikan kalian juga mendengar satu sama lain.”

Ia menoleh ke wanita tua dari Desa Batu Tua. “Ceritakan.”

Wanita itu maju dengan tongkatnya. Langkahnya lambat, tapi suaranya tegas.

“Mereka membunuh anakku,” katanya. “Dan saat pergi, mereka bilang itu perintah kaisar Xuan.”

Beberapa orang menggeram.

Wanita itu melanjutkan, “Tapi Xuan berdiri di sini. Anak-anaknya tidak.”

Sunyi.

“Kalau dia ingin membungkam kami,” lanjutnya, “dia tidak perlu mendengar cerita ini.”

Xuan tidak berkata apa-apa.

Ia hanya berdiri.

Dan untuk pertama kalinya, sebagian kerumunan mulai ragu pada cerita yang selama ini mereka dengar.

Dewan Bayangan tidak tinggal diam.

Di balik kedai teh, dua pria bertukar pandang.

“Mulai sekarang,” kata salah satunya, “gunakan cara lain.”

“Yang mana?”

“Buat kerusuhan.”

Sore itu, teriakan pertama terdengar.

“Pembohong!”

Sebuah batu melayang, jatuh di dekat panggung.

Hui langsung maju selangkah, tapi Ye menahannya. “Tunggu.”

Xuan tetap berdiri.

Batu kedua melayang, kali ini mengenai papan kayu.

“Dia membunuh desa kami!” teriak seseorang.

Yun Ma melangkah ke depan.

“Siapa?” tanyanya tenang.

Orang itu terdiam.

Yun Ma menatap kerumunan. “Siapa yang melihat pasukan Xuan dengan mata sendiri?”

Beberapa orang saling pandang.

“Siapa yang melihat lambang kerajaan?” lanjutnya.

Tidak ada jawaban.

“Kalau kebencian kalian berdiri di atas cerita,” kata Yun Ma, “maka biarkan cerita lain berdiri di sampingnya.”

Seseorang dari belakang berteriak, “Lalu Qinghe? Katanya kota itu penuh sihir gelap!”

Yun Ma menoleh ke arah suara itu. “Qinghe berdiri karena penduduknya memilih melindungi satu sama lain. Bukan karena sihir.”

Shen Yu menyipitkan mata. Ia mengenali suara itu.

“Pemicu,” gumamnya.

Kerusuhan kecil akhirnya pecah.

Bukan karena rakyat, tapi karena beberapa orang sengaja mendorong, memprovokasi, melempar tuduhan kasar.

Namun kali ini, kerumunan tidak langsung mengikuti.

Beberapa pedagang menarik teman mereka. “Tunggu. Dengarkan dulu.”

Seorang penjaga pasar melangkah maju. “Kalau mau ribut, keluar dari area dagang!”

Situasi tidak meledak.

Itu cukup.

Di kejauhan, seseorang menutup jendela dengan kesal.

“Dia bertahan,” gumamnya.

“Tekanan di Qinghe tidak cukup,” sahut yang lain.

“Naikkan.”

Di Qinghe, salah satu simbol akhirnya pecah.

Cahaya menyembur.

Ayin terlempar ke belakang, membentur dinding toko.

Ia batuk darah.

Bayangan melangkah masuk ke lingkaran.

“Kau kalah,” kata salah satu.

Ayin tersenyum, darah di bibirnya. “Belum.”

Ia menghantam lantai dengan telapak tangannya.

Simbol cadangan menyala.

Ledakan cahaya mendorong bayangan mundur.

“Dia mengajarkanmu terlalu banyak,” geram mereka.

Ayin terengah. “Dan kalian terlalu meremehkan.”

Di Pasar Agung, Yun Ma tersentak.

Xuan langsung menoleh. “Ayin?”

“Dia terluka,” jawab Yun Ma cepat. “Tapi masih berdiri.”

Xuan mengangguk. “Baik.”

Ia menoleh ke Lin Que. “Sekarang.”

Lin Que memberi isyarat.

Dari tiga arah pasar, beberapa orang melangkah maju.

Mereka bukan tentara.

Mereka pedagang, tabib, pengelana.

Namun mereka semua berkata hal yang sama.

“Desaku dibakar.”

“Mereka datang tanpa lambang.”

“Nama Xuan dipakai.”

Suara-suara itu tumpang tindih.

Tidak rapi.

Tidak teratur.

Justru itu yang membuatnya nyata.

Kerumunan bergolak.

Bukan marah.

Tapi sadar.

Di ruang gelap Dewan Bayangan, meja dihantam keras.

“Cukup!” bentak seorang pria.

“Kita kehilangan kendali narasi.”

“Kalau begitu,” kata yang lain pelan, “kita ambil sesuatu yang lebih berharga.”

“Yun Ma?”

“Bukan.”

Ia tersenyum tipis. “Qinghe.”

Malam turun di Pasar Agung.

Api obor menyala.

Xuan berdiri bersama Yun Ma di atap bangunan rendah, memandang pasar yang belum juga tidur.

“Kalau mereka menyerang Qinghe secara terbuka,” kata Xuan, “mereka akan membuka diri.”

Yun Ma mengangguk. “Dan rakyat akan melihat siapa yang benar-benar kejam.”

“Risikonya besar,” lanjut Xuan.

“Ayin tahu itu,” jawab Yun Ma. “Dia memilih bertahan.”

Xuan menatap ke arah timur. “Aku berutang padanya.”

“Kita semua,” sahut Yun Ma.

Di kejauhan, suara langkah cepat terdengar.

Seorang pengintai tiba, napasnya terengah.

“Yang Mulia,” katanya, “pergerakan besar di luar Qinghe. Mereka tidak lagi sembunyi.”

Xuan menarik napas panjang.

“Baik,” katanya akhirnya. “Sekarang giliran mereka membuka kartu.”

Yun Ma mengepalkan tangan. “Dan kali ini, dunia melihat.”

Di Pasar Agung, cerita tidak lagi berbisik.

Ia mulai berbicara keras.

Dan Dewan Bayangan tahu satu hal dengan pasti—

Mereka tidak lagi bertarung di balik gelap.

Mereka bertarung di hadapan semua orang.

Bersambung.

1
Shai'er
💪💪💪💪💪💪💪
Shai'er
👍👍👍👍👍
Shai'er
🙄🙄🙄🙄🙄
Shai'er
💪💪💪💪💪
Cindy
lanjut kak
Shai'er
👍👍👍👍👍👍
Shai'er
😱😱😱😱
Shai'er
💪💪💪💪💪
Shai'er
🤦‍♀️🤦‍♀️🤦‍♀️🤦‍♀️🤦‍♀️
Shai'er
🤧🤧🤧🤧🤧
sahabat pena
bener ternyata mantan ya? mantan yg menyesal dan mengejar masa depan
sahabat pena
siapa itu? apa mantan tunangan nya ya
Naviah
lanjut thor
Shai'er
puyeng 😵‍💫😵‍💫😵‍💫😵‍💫
Shai'er
lha...... kenapa baru sekarang lu ngomong tentang keadilan 😏😏😏
Shai'er
hayoo loh😏😏😏
Shai'er
Ayin💪💪💪
Cindy
lanjut kak
Naviah
ini perang narasi kah 🤔 dan siapa itu Dewan bayangan
Naviah
semangat Ayin bertahan lah🙌
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!