Di Jepang modern yang tampak damai, monster tiba-tiba mulai bermunculan tanpa sebab yang jelas. Pemerintah menyebutnya bencana, masyarakat menyebutnya kutukan, dan sebuah organisasi bernama Justice tampil sebagai pahlawan—pelindung umat manusia dari ancaman tak dikenal.
Bagi Shunsuke, atau Shun, dunia itu awalnya sederhana. Ia hanyalah pemuda desa yang hidup tenang bersama orang tuanya. Sampai suatu hari, semua kedamaian itu runtuh. Orang tuanya ditemukan tewas, dan Shun dituduh sebagai pelakunya. Desa yang ia cintai berbalik memusuhinya. Berita menyebar, dan Shun dicap sebagai “Anak Iblis.”
Di ambang kematian, Shun diselamatkan oleh organisasi misterius bernama Nightshade—kelompok yang dianggap pemberontak dan ancaman oleh Justice. Perjalanan Shun bersama Nightshade baru saja dimulai.
PENTING : Cerita ini akan memiliki cukup banyak misteri, jadi bersabarlah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bisquit D Kairifz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ninja
CHAPTER 8
Masih di hari dan malam yang sama.
Di ruang pesta yang riuh, di tengah kerumunan anggota Nightshade yang larut dalam perayaan, Yuzuriha menyusup masuk bukan untuk ikut bersenang-senang. Tujuannya adalah menyerahkan sebuah kotak berisi rekaman CCTV yang membongkar kebusukan seorang pejabat korup kepada seorang ninja bernama Shinji.
Yuzuriha mendekat ke Shinji, menyodorkan kotak itu.
"Yo, Shinji. Ada misi baru untukmu," katanya singkat.
"Apa ini?" tanya Shinji dengan nada datar.
"Seperti biasa... serahkan ke 'dia'," jawab Yuzuriha sebelum berbalik dan menghilang di antara kerumunan.
Tak lama kemudian, Shinji bergerak. Ia meninggalkan Kediaman Nightshade tanpa diantar oleh pengemudi. Di tengah perjalanan, ia merasakan ada tiga sosok mencurigakan yang mengamatinya dari kejauhan.
Shinji mempercepat langkah, bersembunyi di antara rumah-rumah penduduk. Ia memasang telinga, mencoba menangkap percakapan mereka, dan akhirnya ia mendapatkan petunjuk bahwa mereka sedang melakukan transaksi terlarang.
"Bro... ayolah, 10.000 Yen sudah cukup, kan?" kata si pembeli dengan nada memohon.
Si penjual menyilangkan tangan di depan dada. "15.000 Yen, bagaimana?"
"Aaaaa..." Si pembeli tampak berpikir keras. "Baiklah, baiklah... 15.000 Yen."
Si penjual menyerahkan barang yang dimaksud, dan si pembeli pergi dengan tergesa-gesa. Shinji yang merasa penasaran membuntuti si pembeli secara diam-diam.
Di sebuah lorong sepi, Shinji menghadang si pembeli.
Dengan gerakan cepat, Shinji mengarahkan pedang ninjanya ke arah si pembeli.
"Katakan padaku, apa yang baru saja kau beli?" tanyanya dengan suara dingin.
Si pembeli mengangkat kedua tangan. "B-b-bukan sesuatu yang aneh kok! Sungguh!"
Saat si pembeli itu mengedipkan mata beberapa kali, Shinji menghilang dari pandangan. Dalam sekejap mata, ia sudah berada di belakang si pembeli.
Shinji menempelkan pedang ninjanya ke leher si pembeli. "Kau tidak menjawab pertanyaanku."
"Dan... dari nada bicaramu tadi, sepertinya itu sesuatu yang aneh, ya?" Suara Shinji terdengar dingin dan mengintimidasi.
Orang itu terpaksa memberi tahu Shinji yang sebenarnya. Ia membuka bungkus itu, dan terlihatlah obat-obatan terlarang.
"A-a-ampun! Aku membelikan ini untuk temanku! Aku tidak pernah menggunakan barang seperti ini!" Si pembeli bersujud, memohon ampunan.
Shinji terdiam, menatap obat-obatan itu dengan seksama. Seperti yang ia duga, obat itu bukanlah obat-obatan terlarang biasa.
Shinji mengambil bungkus obat itu. "Ini... obat yang dibuat dari Ten."
Shinji terkejut. Ini adalah pertama kalinya ia melihat obat yang dibuat dari energi Ten.
Ia menarik si pembeli untuk berdiri. "Katakan padaku, siapa yang menjual obat ini?"
Si pembeli tidak bisa memberitahukannya, karena ia telah diancam untuk tidak memberi tahu siapa pun nama si penjual itu.
Shinji tidak memaksa, karena sepertinya si pembeli tidak berbohong. Namun, seekor tikus mendekati obat yang tergeletak di bawah, dan memakannya begitu saja.
Tiba-tiba, tikus itu tumbuh menjadi besar dan mengerikan, berubah menjadi makhluk yang dibenci semua orang: monster.
Shinji menarik si pembeli dan berlari ke jalan yang lebih aman. Monster itu mengejar mereka, namun dengan kelincahan seorang ninja, Shinji dengan mudah memenangkan kejar-kejaran itu.
Sesampainya di tempat yang aman dan jauh dari perumahan, Shinji bersiap menghadapi monster itu. Ia menghunus pedang ninjanya.
Di balik maskernya, Shinji tersenyum dan berkata pelan, "Saatnya bermain."
Shinji mengaktifkan Ten. Energi abu-abu mengalir dan menyelimuti tubuhnya, lalu merambat ke pedang ninja yang ia pegang.
Perubahan pada pedang ninjanya tidak terlalu banyak. Hanya bilahnya yang berubah menjadi abu-abu dan tampak sangat tajam.
Monster itu melompat ke arah Shinji, mengangkat lengannya dan mengeluarkan cakar-cakar tajam. Shinji bersiap dan mengambil posisi kuda-kuda. Dalam sekejap mata, Shinji menangkis cakar monster itu.
Ia mendorong monster itu ke atas, lalu kembali memasang kuda-kuda. Energi abu-abu semakin terlihat jelas, menyelimuti pedang ninjanya. Monster itu masih berada di udara.
Saat monster itu semakin dekat dengan Shinji.
"Target sudah memasuki zona," gumam Shinji.
Dalam sekejap mata, ia sudah berada di belakang monster itu. Si pembeli menatap heran, tidak mengerti apa yang dilakukan oleh Shinji.
Namun, tiba-tiba muncul satu goresan di tubuh monster itu. Dari satu goresan, muncul goresan-goresan yang lain, dan seketika tubuh monster itu terbelah menjadi dua.
Seperti biasa, monster itu menghilang perlahan menjadi asap.
Shinji pergi begitu saja, melanjutkan misi yang diberikan oleh Yuzuriha. Shinji kembali kelorong sepi tadi, dan mengambil beberapa obat yang dibuat dari Ten itu.
Ia tiba di tujuan, yaitu di gedung badan keamanan.
Shinji menyelinap masuk ke gedung itu dan sampai di dalam kantor ketua badan keamanan.
Di dalamnya tidak ada siapa-siapa. Shinji berjalan ke meja di depannya, meletakkan kotak itu, dan saat ia berbalik arah...
Muncul ketua badan keamanan.
"Setidaknya ketuk pintu sebelum masuk, Pak Yoshida," kata Shinji dengan nada tenang.
Shinji sama sekali tidak terkejut.
Pria itu bernama Yoshida, ketua badan keamanan negara.
"Seperti biasa, ninja Shinji selalu saja dingin," ucap Yoshida sambil tersenyum tipis.
Ia berjalan ke meja dan mengangkat kotak itu. "Jadi... apa yang kau bawa ini?"
"Aku tidak tahu detailnya... Tapi kata Yuzu, itu sebuah rekaman sampah yang membongkar kebusukan pejabat yang mencuri uang rakyat," jawab Shinji.
Yoshida mengangguk paham dan sedikit tertawa. Shinji pun pergi dari tempat itu.
Keesokan harinya, pagi hari.
Shun terbangun dan bingung mengapa ia berada di kamarnya. Ia mencoba mengingat kembali kejadian semalam, dan ternyata ia dibawa oleh Kai ke kamarnya.
Shun menatap foto keluarga di samping tempat tidurnya. Ia mengambil foto itu dan mengelusnya dengan lembut.
"Ayah, Ibu... Shun akan bekerja keras, supaya bisa menemukan orang yang membunuh Ayah dan Ibu," gumamnya lirih.
Namun, tiba-tiba Shun menangis. Ia tidak mengerti mengapa ia menangis. Apakah karena benci? Takut? Shun tidak tahu jawabannya.
Ia hanya tahu bahwa Shun tidak pernah menangis tiba-tiba seperti ini. Shun memeluk erat foto itu, dan air matanya mengalir deras, membasahi tangannya.
Saat ini, perasaan Shun dipenuhi dengan rasa takut tidak bisa menemukan sang pembunuh dan kerinduan yang mendalam kepada ayah dan ibunya.
Enam belas tahun hidup dalam keluarga yang selalu mencintainya, dan tiba-tiba ia dipaksa untuk hidup sendirian.
Shun masih menangis, namun ia sedikit berhenti karena ada suara yang familiar di telinganya.
"Jangan khawatir, ibu selalu ada di sampingmu," suara itu terdengar lembut dan menenangkan.
Kenangan indah saat masih kecil kembali muncul di ingatannya: saat ia pertama kalinya memancing bersama sang ayah, pertama kalinya membantu sang ibu memasak, memancing bersama Paman Jiro, dan mengobrol berdua dengan Sayu.
Kenangan itu membuatnya berhenti menangis dan memutuskan untuk menghadap ke depan.
Namun, saat menatap ke depan, di hadapannya saat ini ada Yuzuriha yang memejamkan mata dan bergumam.
"Jangan khawatir, ibu selalu ada di sampingmu," ucap Yuzuriha sambil menggerakkan kepalanya dengan ekspresi aneh.
"Eh?..." Shun mengelap air matanya. "Y-Yuzu... Kenapa kau di sini?"
"Ehh... Sudah berhenti menangis ya? Jadi kata-kata itu memang ampuh," jawab Yuzuriha sambil tersenyum malu-malu.
"Aku bertanya kenapa kau di sini?" tanya Shun sambil menunjuk Yuzuriha.
Yuzuriha menutup mulutnya dengan tangan. "Aku lewat dari kamarmu, dan tiba-tiba aku mendengar tangisan Shuchan," jelasnya.
Singkatnya, Yuzuriha yang mendengar tangisan Shun memutuskan untuk menyemangati Shun, namun ia tidak tahu kata-kata apa yang tepat untuk diucapkan.
Tiba-tiba, terlintas di pikirannya kata-kata yang biasa diucapkan seorang ibu untuk menenangkan anaknya.
Shun seolah tidak percaya dengan apa yang Yuzuriha lakukan. Ia langsung menyuruh Yuzuriha untuk keluar dari kamarnya, karena Shun ingin mandi.
Saat mandi, Shun terpikir bahwa suara Yuzuriha saat bergumam sangat mirip dengan suara ibunya.
Suara yang hangat, suara yang membuat tenang saat didengar. Begitulah suara ibunya dan Yuzuriha yang baru saja ia dengar.
Setelah mandi, Shun memakai pakaian sehari-harinya: kaus putih polos dan celana panjang hitam. Tentu saja, ia selalu memakai sepatu sneakers kesayangannya.
Shun berjalan menuju ruang Kai. Sesampainya di sana, ia langsung membuka pintu. Dan di dalamnya sudah ada anggota Nightshade lainnya: Yuzuriha, Frederica, dan Shinji.
"A-ada apa ini?" tanya Shun dengan nada terkejut.
Kai menatap Shun dengan kedua tangan di bawah dagu. "Shun... Sepertinya misi pertamamu sebentar lagi akan dimulai."
Misi pertama Shun.