Alyssa hidup dalam pernikahan yang hancur bersama Junior, pria yang dulu sangat mencintainya, kini menolaknya dengan kebencian. Puncak luka terjadi ketika Junior secara terang-terangan menolak Niko, putra mereka, dan bersikeras bahwa anak itu bukan darah dagingnya. Di bawah satu atap, Alyssa dan Niko dipaksa berbagi ruang dengan Maureen, wanita yang dicintai Junior dan ibu dari Kairo, satu-satunya anak yang diakui Junior.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melon Milk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
6
Alyssa memaksa dirinya menyelesaikan pengepakan dengan sisa tenaga yang ada, meski pikirannya masih dipenuhi semua kejadian yang baru saja terjadi. Gelombang kesedihan yang ganas naik dari dadanya.
Saat memasukkan barang-barang ke dalam koper, tangannya bergetar. Pakaian-pakaian hadiah dari Junior, foto-foto mereka bersama, dan foto pernikahan ,semua itu mengingatkannya pada masa-masa indah bersama pria yang pertama kali ia cintai
Ia sudah memikirkan perpisahan ini sejak hubungannya dengan Junior mulai retak, tetapi tetap saja ia tak menyangka hari yang paling ia takuti benar-benar datang.
Saat Alyssa menyusun beberapa pakaian favorit Niko ke dalam koper besar. Nyeri di dadanya terasa menusuk di setiap gerakan. Setiap langkahnya di kamar dilakukan dengan hati-hati karena ia melihat anaknya tertidur pulas.
Alyssa sangat terluka memikirkan bahwa Junior-lah yang dulu membangun mimpi-mimpi mereka, namun Junior pula yang menghancurkannya.
Ia tak lagi ingin percaya pada janji. Karena janji memang sering dikhianati.
"Kalau ini satu-satunya jalan," bisiknya. "Kalau di sini cerita kita berakhir, setidaknya rasa sakit ini sampai padamu. Semoga aku pernah berarti bagimu."
Tatapannya tertuju pada barang-barang miliknya dan Niko. Ia perlu seseorang untuk membantu, karena mereka tak mungkin membawa semua ini naik taksi. Mainan Niko saja sudah dua tas. Ia tak tega membuangnya, Niko pasti marah.
Beberapa jam kemudian, rasa lelah mulai terasa. Alyssa meregangkan tubuh dan menguap.
Saat masuk ke kamar mandi untuk mandi, ia menatap cermin, seorang perempuan yang lelah, terluka, dan berusaha bangkit. Di matanya masih ada mimpi, meski perlahan memudar, sebuah pertanyaan besar apakah masih ada harapan baginya dan anaknya.
Keesokan harinya, Alyssa turun bersama Niko untuk makan siang. Meski tak berselera, ia harus makan demi menemani anaknya.
"Sayang, ayo."
"Oke, Mommy."
Niko menggenggam tangan ibunya. Mereka menuju ruang makan. Alyssa mengira mereka hanya berdua di rumah, ia tahu Junior membawa Maureen keluar, namun setibanya di dapur, ia mendapati mereka bertiga sedang makan. Mereka memakan masakan Alyssa.
Ia mengumpat dalam hati.
Tak tahu malu. Maureen tak bisa memasak, namun dengan santainya memakan masakan orang lain. Alyssa hampir ingin mengambil kembali masakan itu dari piring Maureen, tetapi ia masih menghormati makanan.
"Oh, lihat siapa yang datang," Maureen memulai sambil mengunyah daging.
Alyssa menggeleng, lalu mengambil makanan untuk dirinya dan Niko. Toh, ia yang memasak.
"Hai, Kak! Mau coba ini?" Kairo mengangkat kue besar dari piringnya. Alyssa melihat Niko menelan ludah, kue itu favoritnya.
Itu dessert favorit Niko.
Namun ia tak pernah mencicipi kue buatan ayahnya sendiri.
Ia berharap bisa menjadi Kairo, walau sebentar saja.
Bagaimana rasanya punya Daddy?
Bagaimana rasa kue buatan Daddy?
"Kita buat ini buat kamu, sayang. Jangan dibagi ke sembarang orang," ujar Maureen.
Alyssa mencengkeram piringnya. Perempuan itu benar-benar tak punya hati.
"N-Nggak apa-apa, Kai," jawab Niko lirih. Alyssa melihat kecemburuan di mata Niko saat Junior mengusap mulut Kairo.
Junior tak berkata apa-apa. Ia membiarkan Maureen memperlakukan mereka seperti itu.
"Jadi, kapan kamu dan anakmu pergi dari sini?" tanya Maureen sambil mengangkat alis.
"Kenapa? Nggak sabar?" Alyssa membalas ketus.
"Iya. Jijik lihat wajahmu," jawab Maureen sambil tersenyum.
"Kalau begitu kamu saja yang pergi. Kalian kan yang numpang," sahut Alyssa.
"Cukup!" Junior membanting meja hingga semua terlonjak.
Maureen menatap Alyssa tajam.
"Statusmu cuma istri di atas kertas. Anakmu bukan darah dagingnya," ejek Maureen. "Apa yang bisa kamu banggakan dibanding Kairo?"
Alyssa tertawa sarkastis. "Lihat wajah Niko. Dia mirip Junior. Mau kamu fitnah bagaimana pun, kebenarannya tetap sama. Lalu kamu? Yakin Kairo anak Junior? Bukankah kamu tidur dengan banyak pria?"
"Diam!" Maureen gemetar.
"ALYSSA!" Junior berteriak dan melempar piring hingga pecah. "Kamu membuat anakku menangis! Kalau aku dengar kamu menghina Maureen lagi--" Ia mencengkeram pergelangan tangan Alyssa hingga makanan di tangannya jatuh. "--Kamu akan merasakan akibatnya."
"Ini kenyataan!" Alyssa menangis. "Niko anakmu!"
"Pergi dari rumah ini sekarang!" Junior meraih ponselnya. "Jemput Alyssa sekarang juga!"
Alyssa menarik tangannya. "Tidak perlu. Aku akan minta dijemput Edgar."
Ia menggandeng Niko dan naik ke atas sambil menelepon Edgar. Begitu diangkat, Alyssa langsung terisak.
"Aku ke sana sekarang. Aku hajar dia!" seru Edgar.
"Mommy, aku benci Daddy," tangis Niko.
Alyssa memeluknya erat. "Jangan bilang begitu, Nak."
Ia mengintip jendela hingga melihat mobil Fortuner Edgar tiba.
"Paman Edgar datang," katanya pada Niko. Mereka berlari keluar.
Alyssa berhenti saat melihat Junior berhadapan dengan Edgar, Maureen di belakang dengan tangan bersedekap.
"Hai!" sapa Edgar ceria.
"Halo, Paman!" Niko memeluk pinggang Edgar. Edgar mengusap kepalanya.
"Jaga baik-baik mereka," ucap Junior dingin.
Edgar tertawa kecil. "Tentu. Lagipula, sekarang aku punya kesempatan."
Kata-kata itu jelas memancing amarah Junior.
"Kamu pura-pura saja. Anak itu hasil hubungan kalian," sahut Maureen.
"Benarkah?" Edgar menunjuk Kairo. "Lalu bagaimana dengan hubunganmu dengan Hans?"
Wajah Maureen pucat.
"Itu semua bohong" Maureen memeluk Junior.
Alyssa tertawa pahit.
"Ambil mereka. Aku tak peduli," kata Junior.
"Oke," jawab Edgar. Ia menggendong Niko. "Aku akan jadi ayah baginya. Aku janji."
Amarah Junior memuncak.
Edgar merangkul Alyssa. "Ayo. Tinggalkan pria yang tak pantas."
Junior hendak menyerang, namun Maureen menahannya.
Di kamar, Edgar memeluk Alyssa. "Sudah cukup. Kamu dan anakmu hanya akan terluka."
Alyssa mengangguk. "Apa yang dia lihat dari perempuan itu?"
"Kamu cantik dan baik. Jangan bandingkan dirimu dengan Maureen," ucap Edgar lembut.
Tanpa Edgar, Alyssa tak tahu apakah ia sanggup melewati ini.
Mereka mengambil barang-barang. Edgar mengangkat yang berat, Alyssa membawa yang ringan sambil menggandeng Niko yang mengisap permen.
Di ruang tamu, Junior dan Maureen masih ada.
"Jangan lihat mereka," bisik Edgar.
Namun Alyssa menoleh.
"Terima kasih atas semuanya, Junior," ucapnya. "Jaga dirimu."
Ia menggandeng Niko keluar.
Di dalam mobil, Alyssa menangis. Edgar memeluknya.
"Semua akan baik-baik saja. Aku ada untukmu dan Niko."