Berawal dari kebohongan yang Hana ciptakan dengan mengaku-ngaku jika Dika adalah kekasihnya, membuat hidup Dika yang awalnya datar berubah menjadi bewarna.
Kebohongan yang diciptakan Hana pun membuat seorang Dika yang terkenal dingin dan kaku terjebak dalam cinta Hana. Rasa cinta pun mengalir begitu saja di hati mereka dan membuat mereka menjalin hubungan hingga tiga tahun lamanya.
Namun akhirnya hubungan yang mereka jalin pun putus begitu saja setelah Hana membuat kebohongan yang baru dan hilang begitu saja.
Enam tahun kemudian Dika dan Hana pun kembali dipertemukan dalam status yang berbeda dan keadaan yang berbeda. Hingga suatu insiden membuat mereka harus terjebak dalam pernikahan yang kembali mengikat cinta mereka yang belum usai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SHy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tidak pernah menyangkal
"Baguslah jika begitu. Dia membuat kami nampak lebih serasi." Balas Hana sambil berjalan menuju teman-teman mereka yang kini tengah berkumpul.
"Hai, Hana. Kenapa kau datang bersama Amel tidak bersama Dika kekasihmu?" Tanya Liza dengan tatapan meremehkan.
Hana menatap Liza dengan tersenyum tipis lalu menatap pada Dika yang nampak tidak perduli dengan ucapan Liza.
"Walau pun aku dan Dika menjalin kasih, bukan berarti aku harus selalu pergi bersamanya bukan? Lagi pula aku lebih memilih pergi bersama sahabatku karena dia juga termasuk orang spesial di hidupku." Balas Hana dengan tenang dan santai.
Amel menarik sebelah bibirnya ke kuping. Ia sungguh tidak menyangka jika Hana dapat membalas ucapan Liza yang sedang mencibirnya dengan tenang.
"Apa benar begitu? Atau Dikanya saja yang tidak ingin pergi bersamamu?" Liza masih berusaha menjatuhkan mental Hana.
Hana menatapa Dika lalu berjalan ke arahnya. "Tentu saja tidak. Dika tadi sempat mengajakku, namun aku menolaknya. Benar begitu kan sayang?" Tanya Hana pada Dika tanpa memperdulikan tatapan tajam Dika. Bukan hanya itu saja, Hana pun tak gentar mengelus lengan Dika yang terbuka dengan jemarinya.
*Lembut sekali kulitnya. *Ucap Hana dalam hati sambil terus mengelus lengan Dika.
Melihat Dika tidak menyangkal ucapan Hana bahkan membiarkan Hana menyentuh kulitnya membuat Liza semakin kepanasan. Dengan wajah jengkel Liza pun pergi meninggalkan mereka begitu saja.
"Dasar dedemit. Kau berusaha mempermalukanku, ya!" Rutuk Hana menatap punggung terbuka Liza yang mulai menjauh darinya.
"Apa kau sudah bisa melepas tanganmu dari lenganku?" Tanya Dika dengan datar.
Hana seketika menjauhkan jemarinya dari lengan Dika. "Emh. Kulkas... aku tidak sengaja." Balasnya dengan tersenyum kaku. Matilah kau Hana. Hana bergidik melihat tatapan tajam Dika padanya saat ini.
"Hana, ayo ke sana saja. Aku ingin mengambil minuman di sana." Ajak Amel lalu menarik tangan Hana menjauh dari Dika. Tak berbeda dengan Hana, Amel pun turut bergidik melihat tatapan tajam Dika.
"Amel pelan-pelanlah! Kau bisa membuatku jatuh jika seperti ini!" Ucap Hana karena Amel menarik tangannya cukup kuat.
Saat sudah berada di dekat tempat minuman, Amel pun melepas cekalan tangannya. "Hana, kau ini berani sekali menyentuh Dika. Apa kau tidak takut jika dia akan marah dan mempermalukanmu!" Sembur Amel merasa gemas dengan tingkah sahabatnya.
"Mau bagaimana lagi. Aku refleks saja melakukannya." Jawaban yang sama seperti tempo hari Hana berikan pada Amel.
"Kau selalu saja berkata seperti itu!" Amel memukul kuat lengan Hana.
"Amel!" Pekik Hana mengelus lengannya yang terasa sakit.
"Kau jangan lagi melakukan hal yang bisa membuat Dika marah, Hana. Kau ini sungguh berani sekali melanjutkan kebohonganmu sampai saat ini." Amel menggelengkan kepalanya melihat tingkah konyol Hana.
"Sudahlah. Lagi pula aku melakukannya karena Dika tidak pernah menyangkal ucapanku bukan? Dengan sikapnya seperti itu menjadi keuntungan bagiku karena aku tidak lagi diganggu oleh Kak Hans dan juga mantan kekasihnya itu." Jelas Hana. Karena sejak kejadian mantan kekasih Hans melabraknya waktu itu, Hans memang selalu berusaha untuk menemuinya walau Hana selalu berusaha menghindarinya.
Amel terdiam dan berpikir. Memang Dika tidak pernah menyangkal sandiwara yang Hana lakukan. Bahkan pria itu seolah membenarkan jika mereka berdua memang benar menjalin kasih.
"Kau terlalu banyak berpikir, Amel. Lebih baik kita segera ke sana karena acara akan dimulai." Ucap Hana sambil mengarahkan pandangan pada temannya yang menjadi pembawa acara sudah nampak ingin membuka acara mereka malam itu.
***
Lanjut? Berikan vote, gift, komen dan likenya dulu yuk 🌹